Kewajiban Memberikan Persembahan ‘Hulu Hasil’

First Fruit OfferingPerjanjian Lama: Sebagai ucapan syukur atas panen yang diperoleh, maka petani Israel menyerahkan sebagian hasil panennya kepada Tuhan. Pada waktu semula mereka persembahkan buah-hasil yang pertama. Di waktu kemudian sering terjadi, bahwa yang mereka persembahkan adalah yang kwalitatif terbaik (gandum, buah anggur, buah jaitun, bulu domba). Bagian panen yang pertama itu disiapkan untuk Bait Suci atau untuk para imam (semacam pajak), terutama pada pesta-pesta panen, namun persembahan ini bukan merupakan pemberian keseluruhan hasil panen tetapi hanya seberkas saja (Imamat 23:10-11, 17). Doa yang diucapkan bersamanya (Ulangan 26:5-10) merupakan suatu ungkapan untuk memuja Tuhan sebagai pemberi tanah yang subur (mengenai peraturan tentang doa itu lihat Bilangan 15:17-21; 18:12-13; Imamat 19:24 dan lain-lain).

Di dalam Perjanjian Baru: Hanya diketahui dalam arti kiasan dan dikaitkan pada Kristus (1 Korintus 15:20,23), pada Roh Tuhan (Roma 8:23) dan pada pengikut Kristus (Roma 16:5; 1 Korintus 16:15; Yakobus 1:18). –> Anak Sulung (lihat di anak-sulung-vt201.html#p389)

Dalam penerapannya dewasa ini di Indonesia terjadi di sebagian gereja-gereja aliran baru / yang merupakan denominasi baru antara tahun 1980an kemari.  Di gereja-gereja ini terdapat penerapan “Persembahan buah sulung” sebagai hal yang wajib dilakukan oleh jemaat yang merupakan “Hasil Pertama Penghasilan” sering diistilahkan sebagai “Buah Sulung” . Saya tidak membicarakan soal kerelaan atau ketidak-relaan memberi persembahan, saya tidak melarang orang memberikan persembahan buah sulung, tetapi ulasan ini membicarakan sisi praktek persembahan buah sulung yang bagi beberapa kalangan ditekankan sebagai suatu kewajiban yang tertulis dalam Alkitab yang didasarkan atas suatu penafsiran yang salah.

Jikalau ada seorang pendeta mewajibkan jemaatnya memberikan PERSEMBAHAN BUAH SULUNG dengan menyatakan bahwa keseluruhan income entah berupa gaji pertama atau profit pertama yang keseluruhannya diharuskan dibayarkan kepada gereja, maka harus ada dasarnya yang dapat dipertanggung-jawabkan dalam ajaran/ khotbahnya itu.

Kita lihat dengan cermat apa yang tertulis dalam Alkitab :

PERSEMBAHAN BUAH SULUNG, merupakan kewajiban dalam ibadah bani Israel, 2 Mitsvot dari 613 Mitsvot menyinggung tentang PERSEMBAHAN BUAH SULUNG, sbb :

MITSVOT ke-472:
MEMBAWA BUAH SULUNG KE TEMPAT KUDUS.

* Keluaran 23:19
“Yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahmu haruslah kaubawa ke dalam rumah TUHAN, Tuhanmu. Janganlah kaumasak anak kambing dalam susu induknya.

MITSVOT ke-560:
MEMBACA BAGIAN TENTANG PERSEMBAHAN BUAH SULUNG

* Ulangan 26:5-10
26:5 Kemudian engkau harus menyatakan di hadapan TUHAN, Tuhanmu, demikian: Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana sebagai orang asing, tetapi di sana ia menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan banyak jumlahnya.
26:6 Ketika orang Mesir menganiaya dan menindas kami dan menyuruh kami melakukan pekerjaan yang berat,
26:7 maka kami berseru kepada TUHAN, Tuhan nenek moyang kami, lalu TUHAN mendengar suara kami dan melihat kesengsaraan dan kesukaran kami dan penindasan terhadap kami.
26:8 Lalu TUHAN membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta mujizat-mujizat.
26:9 Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
26:10 Oleh sebab itu, di sini aku membawa hasil pertama dari bumi yang telah Kauberikan kepadaku, ya TUHAN. Kemudian engkau harus meletakkannya di hadapan TUHAN, Tuhanmu; engkau harus sujud di hadapan TUHAN, Tuhanmu,

Reff : 613 MITSVOT di, 613-mitsvot-vt218.html#p431

Buah Sulung itu dalam ibadah Bani Israel diidentikan dengan Perayaan HARI RAYA BUAH SULUNG, ספירת העומר – SFIRAT HA’OMER yang disebut di Imamat 23. Petunjuk Pelaksanaannya adalah : yang dibawa itu adalah seberkas gandumdan 2 roti sebagai buah sulung :

* Imamat 23:10-11, 17
23:10
LAI TB: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu sampai ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, dan kamu menuai hasilnya, maka kamu harus membawa seberkas hasil pertama dari penuaianmu kepada imam,
KJV: Speak unto the children of Israel, and say unto them, When ye be come into the land which I give unto you, and shall reap the harvest thereof, then ye shall bring a sheaf of the firstfruits of your harvest unto the priest:

23:11
LAI TB: dan imam itu haruslah mengunjukkan berkas itu di hadapan TUHAN, supaya TUHAN berkenan akan kamu. Imam harus mengunjukkannya pada hari sesudah sabat itu.
KJV: And he shall wave the sheaf before the LORD, to be accepted for you: on the morrow after the sabbath the priest shall wave it.

23:17
LAI TB: Dari tempat kediamanmu kamu harus membawa dua buah roti unjukan yang harus dibuat dari dua persepuluh efa tepung yang terbaik dan yang dibakar sesudah dicampur dengan ragi sebagai hulu hasil bagi TUHAN.
KJV: Ye shall bring out of your habitations two wave loaves of two tenth deals; they shall be of fine flour; they shall be baken with leaven; they are the firstfruits unto the LORD.

Dari kutipan ayat diatas, cukup jelas bahwa PERSEMBAHAN BUAH SULUNG adalah seberkas gandum (bukan keseluruhan panen). Jadi, jumlahnya sedikit saja. Perhatikan ayat Imamat 23:10-11, “berkas gandum” itu saking sedikitnya sehingga bisa dikibas-kibaskan oleh Imam.

Kemudian selain dari berkas gandum itu, untuk PERSEMBAHAN BUAH SULUNG umat Israel disuruh membawa 2 roti sebagai “hulu hasil” (Imamat 23:17).

Sekarang bandingkan dengan :
* Roma 11:16
Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus.

Paulus berbicara juga tentang “BUAH SULUNG” itu dalam penggambaran korban Yesus, bahwa 1 orang saja sebagai korban penghapus dosa bagi seluruh dosa umat manusia. Jelas sekali yang penting itu bukan jumlahnya apalagi keseluruhan hasilnya, tapi persembahan sulung merupakan lambang dari sebuah persembahan yaitu dengan memberikan sebagian untuk dikuduskan untuk Tuhan. artinya umat Israel diajar untuk menunjukkan kemauan/intent kalau sudah menguduskan seberkas buah sulungnya itu juga akan menguduskan sisanya untuk Tuhan juga, dan kemudian umatnya sendirilah yang menentukan untuk diapakan sisa dari hasil panennya.
Roma 11:16 memakai istilah “yang sulung” sebagai “shadow image” (melambangkan) dari Yesus Kristus yang dipersembahkan sebagai korban untuk menguduskan sisanya.

Jadi, “Buah Sulung” sama sekali tidak mengartikan mempersembahkan keseluruhan hasil panen/ keseluruhan income dipersembahkan kepada Tuhan. Bahkan ada pendeta yang meminta gaji bulan Januari karena bulan Januari adalah sulung dari setiap tahun. Ini KELIRU!
Jikalau ada ajaran yang mengajarkan persembahan Buah Sulung itu memberikan keseluruhan gaji bagi gereja, adalah suatu ajaran yang didasarkan atas penafsiran Firman Tuhan yang tidak tepat.

Jikalau PERSEMBAHAN BUAH SULUNG yang notebene adalah bagian dari Hukum Taurat, dianggap sebagai suatu kewajiban yang mengikat umat Kristen, hendaknya juga ia mengingat bahwa HUKUM TAURAT ada 613 Hukum!

Dan boleh-boleh saja menggunakan peraturan Taurat dalam ibadah, tetapi peraturannya total ada 613! tidak boleh kurang.

Kalau mengabaikan 1 saja dari semuanya, 612 pelaksanaan Taurat pun tidak bermakna apa-apa, karena ia sudah dianggap bersalah kepada semuanya :

* Yakobus 2:10
Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.

Gereja tertentu pakai Ayat Amsal 3:9-10 dan sebagai dasar untuk persembahan ‘Gaji Bulan Januari’.

* Amsal 3:9-10
3:9 Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,
3:10 maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.

‘Hasil pertama’ atau ‘hasil sulung’ dalam Alkitab lebih sering dimengerti sebagai hasil yang terbaik (Kejadian 4:4, Kejadian 22, 1 Samuel 1, 1 Raja-raja 17), bukan pada keseluruhannya, bahkan pada Imamat 23 Israel hanya diminta seberkas/seikat hasil pertama untuk diserahkan kepada imam.

‘Persembahan buah sulung’ sebenarnya di Perjanjian Lama yg adalah bagian dari Hukum Taurat. Apakah Anda masih di bawah Hukum Taurat? Ataukah di bawah Hukum Kasih Karunia? Mengapa memberikan penekanan pada 1 praktek dari 613 Hukum (Taurat) dan mengabaikan yang lain?

Saya percaya, seluruh harta yang saya punya adalah milik Tuhan. Jikalau Ia meminta seluruh apa yang saya punya saya harus belajar untuk memberikan semuanya. Tapi, selama Tuhan percayakan harta itu ada ditangan saya, saya harus mengelola harta itu sebaik mungkin, menggunakannya dengan penuh tanggung jawab. Termasuk juga pada saat menggunakan harta ini untuk pekerjaan Tuhan, saya harus belajar peka terhadap pimpinan Tuhan untuk bagaimana dan kemana saya harus persembahkan persembahan saya, termasuk juga dalam hal memberikan persembahan buah sulung. Sekali lagi, saya tidak menentang orang untuk memberikan persembahan buah sulung. Kalau seseorang menyadari berkat yang ia terima berasal dari Tuhan, dan rasa syukur yang besar itu mendorong dia dengan rela untuk mempersembahkan seluruhnya buat Tuhan, saya percaya itu menjadi persembahan yang diperkenan Tuhan. Tapi jika seseorang terpaksa harus memberikan persembahan buah sulung hanya sebatas kewajiban gereja, atau hanya karena iming-iming janji lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya — saya kuatir persembahan saudara menjadi suatu ibadah yang sia-sia.

Sebagian besar dikutip dan disadur dari SarapanPagi Biblika – Persembahan Buah Sulung

Bacaan lebih lanjut, juga baca The Way – Persembahan Buah Sulung.

Bolehkan berdoa dengan mengutip “Doa Bapa Kami”?

lords-prayer_825_460_80_c1

Karena itu berdoalah demikian:
Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
(Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)
Mat 6:9-13

Mungkin orang Kristen kurang terbiasa dengan suatu doa yang dihapal, seolah kurang afdol kalau doa itu adalah sesuatu yang dihapal, seolah memberi kesan doa itu tidak berasal dari hati.

Doa Bapa Kami adalah suatu contoh doa yang Tuhan Yesus ajarkan langsung, dan di dalamnya terkandung prinsip penting bagaimana dan apa hal penting yang menjadi dasar doa kita.

  • Pada saat kita memanggil “Bapa kami yang di sorga“, adalah undangan Allah kepada kita untuk datang mendekat (lewat doa) seperti datang kepada seorang ayah, tapi juga dengan suatu sikap hormat yang melebihi dari pada yang kita bisa berikan kepada siapa pun di dunia ini.
  • Pada saat kita mengatakan “Dikuduskanlah nama-Mu“, adakah kita sungguh-sungguh memiliki hati yang ingin nama Tuhan dimuliakan?
  • Pada saat kita mengatakan “datanglah Kerajaan-Mu” Adakah kita sungguh-sungguh memiliki kerinduan kedatangan Tuhan?
  • Pada saat kita mengataakn “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Adakah kita sungguh-sungguh memiliki keinginan Tuhan menyatakan kehendak-Nya?
  • Pada saat kita meminta “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Adakah ia mau sungguh-sungguh menggantungkan hidupmu hari demi hari kepada-Nya?
  • Pada saat kita berkata “ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Adakah kita sudah sungguh-sungguh mengampuni?
  • Dan pada saat kita memohon “janganlan membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat”. Adakah kita sungguh-sungguh berusaha menjauhi pencobaan (atau jangan jangan kita dengan sengaja mencari pencobaan)

Tentu itu cuma penjelasan singkat dari Doa Bapa Kami. Ada banyak buku yang membahas tentang Doa Bapa Kami ini. Karena memang dalam doa yang singkat ini, terkandung suatu pengertian yang sangat dalam. Jadi, ini doa yang sangat baik, tapi seperti halnya doa lain. Doa tanpa disertai hati yang sesuai dengan perkataan doa, adalah sia-sia.

Jadi, hari ini, saat salah seorang anak sekolah minggu saya bertanya: Bolehkan saya berdoa dengan mengutip “Doa Bapa Kami“? Saya jawab: boleh! Asal, setiap kalimat yang diucapkan disertai dengan kesungguhan. Jangan sampai menganggap Doa Bapa Kami sebagai suatu mantra, atau suatu doa yang diucapkan hanya karena tidak tahu mau berdoa apa. Jika tidak siap untuk itu, doa sederhana yang sesuai dengan beban hati, itu lebih baik.

Tentu ini adalah sebuah tulisan dari hasil pembacaan kitab suci dan dan perenungan pribadi. Jika ada pemikiran lain atau tambahan, bisa meninggalkan komentar dibawah.

Para Pendengar Khotbah

Banyak orang mendengar khotbah …
Dari antara mereka yang mendengar, hanya sebagian saja yang mengerti.Dari antara mereka yang mengerti, hanya sebagian saja yang setuju.
Dari antara mereka yang setuju, hanya sebagian saja yang menghidupinya.
Dari antara mereka yang menghidupinya, hanya sebagian saja yang  konsisten.

Kamu … yang mana?

Dibenci tanpa alasan

Tuhan Yesus, pada malam sebelum Ia ditangkap:

Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.

Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku. Sekiranya Aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih bagi dosa mereka! Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku. Sekiranya Aku tidak melakukan pekerjaan di tengah-tengah mereka seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang walaupun mereka telah melihat semuanya itu, namun mereka membenci baik Aku maupun Bapa-Ku. Tetapi firman yang ada tertulis dalam kitab Taurat mereka harus digenapi: Mereka membenci Aku tanpa alasan. Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.”

Yohanes 15:9-27

SPIK #3 – Kristologi: Kristus, Sang Allah, Sang Manusia, Sang Pengantara

“Siapakah Yesus?” Adalah pertanyaan yang banyak orang (rasa) sudah tahu (banyak) jawabannya. Tapi, setelah 2000 tahun orang belajar tentang tema ini, selalu ada hal baru dan kelimpahan setiap kali membaca Alkitab dan mempelajari ‘siapa itu Yesus’. Sabtu, 5 Nopember 2016 – Pk. 9.00. Dalam SEMINAR III, tema KRISTOLOGI, mari belajar bersama tema penting ini.
Bagi warga Bandung dan sekitarnya, bisa mengikuti seminar ini lewat relay yang akan diadakan di Paskal Hypersquare C35.
Yu, mari datang!

Memerangi Hawa Nafsu

Pada April 2003, Aron Ralston, seorang pendaki terperangkap dengan tangannya terjepit pada batu diantara tebing-tebing batu di Bluejohn Canyon, Utah. Selama 5 hari Aron berusaha melepaskan diri sementara berjuang melawan dehidrasi dan hipotermia. Menyadari keadaannya, akhirnya Ia memutuskan untuk memotong tangannya sendiri dengan pisau lipat. Drama survival yang dilakukan oleh Aron diangkat ke layar lebar menjadi film 127 hours (2010).

Untuk kelangsungan hidup, Aron sadar bahwa satu-satunya jalan untuk ia bisa lepas dari perangkap ini yaitu dengan memotong tangannya. Ini mengingatkan saya pada pengajaran Tuhan Yesus di Matius 5:28-29 tentang bahaya perangkap dosa:

Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buatlah itu, karena lebih baik bagimu kehilangan satu dari anggota tubuhmu, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Matius 5:28-29

Kata cungkil mata yang dipakai pada ayat diatas menyatakan suatu keseriusan. Dosa adalah hal yang sangat serius dan berbahaya. Begitu serius dan berbahayanya dosa itu sehingga kalau memang perlu potong anggota tubuhmu supaya kamu tidak berdosa itu lebih baik, dari pada kamu harus binasa karena dosa. Ada nasib yang kekal yang kita pertaruhkan dalam apa yang kita lakukan dengan mata kita, dengan pikiran-pikiran dari imajinasi mereka. Jika kita tidak memerangi dosa ini dengan jenis keseriusan yang membuat Anda bersedia mencungkil mata Anda sendiri, Anda akan kehilangan keselamatan.

Kita dibenarkan oleh anugerah hanya melalui iman (Roma 3:28; 4:5; Efesus 2:8-9); dan semua orang yang telah dibenarkan dengan cara demikian akan dimuliakan (Roma 8:30) — Artinya, tidak akan orang yang dibenarkan yang akan terhilang, Meskipun demikian, mereka yang menyerahkan diri kepada percabulan akan terhilang (Galatia 5:21), dan mereka yang meninggalkan pertempuran melawan nafsu akan binasa (Matius 5:30), dan mereka yang tidak mengejar kekudusan tidak akan melihat Tuhan (Ibrani 12:14), dan mereka yang menyerahkan hidup mereka kepada keinginan-keinginan jahat akan menerima murka Allah (Kolose 3:6).

Iman yang benar adalah iman yang juga menguduskan. Ujian apakah kita memiliki jenis iman yang membenarkan adalah apakah iman itu juga merupakan iman yang menguduskan.

(Disadur dari Battling Unbelief, John Piper)