…setia pada perkara yang kecil

KKR Pemuda 2015

image

KIN Hari #4: Daniel

image

KIN Hari #3: Yusuf – Teladan Hidup Kudus

image

The Fall – KIN Hari #2

image

Saul Ditolak Sebagai Raja

image

The Offense of Fearing Men

Saul said to Samuel, “I have sinned; for I have transgressed the commandment of the LORD and your words, because I feared the people and obeyed their voice.” (1 Samuel 15:24)

Why did Saul obey the people instead of God? Because he feared the people instead of God. He feared the human consequences of obedience more than he feared the divine consequences of sin. He feared the displeasure of the people more than the displeasure of God. And that is a great insult to God.

To turn from him out of fear of what man can do is to discount all that God promises to be for those who fear him. It is a great insult. And in such an insult God can take no pleasure.

On the other hand when we hear the promises and trust him with courage, fearing the reproach brought upon God by our unbelief, then he is greatly honored. And in that he has pleasure.

John Piper – The Pleasures of God

Pantekosta, ‘Bahasa Roh’ dan Penginjilan

Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.
(Luk 24:46-49)

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita…”
(Kis 2:1-8)

Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
(Kis 2:41)

Saya tumbuh di lingkungan gereja pantekosta. Menjelang hari pantekosta, doa pencurahan Roh Kudus sudah menjadi “budaya” untuk dilakukan. Itu, hal yang baik. Tapi, saat ini saya mau mengajak kita melihat poin penting dalam peristiwa pantekosta.

Setelah tiga setengah tahun murid-murid bersama-sama dengan Tuhan Yesus, pada saat Tuhan Yesus naik ke Surga, Ia memberikan arahan penting kepada murid-murid-Nya. Sesuatu yang harus mereka lakukan, setelah Ia pergi, yaitu memberitakan injil.

Perintah yang Tuhan Yesus berikan, bukanlah perintah mudah. Tidak ada dukungan dana, tidak ada dukungan pemerintah, yang ada justru sebaliknya, akan ada banyak ancaman dan kesulitan yang dihadapi. Oleh sebab itu, untuk melakukan tugas yang berat ini, Ia menjanjikan seorang penolong, yaitu Roh Kudus. Setelah itu, murid-murid berkumpul menantikan janji itu, dan pada hari yang ke-10, tepat pada hari pantekosta, Ia menggenapkan janji-Nya. Para saat itu Roh Kudus turun, dan kepada murid-murid diberikan karunia untuk ‘berbahasa asing’.

Pada saat itu, orang asing dan orang-orang Israel diaspora yang berada di Yerusalem mendengar para rasul berdoa, berkata-kata dalam bahasa mereka masing-masing. Saat itu, setiap dari mereka dengan bahasa mereka masing-masing mendengar injil dan menjadi percaya.

Jadi, pada peristiwa pantekosta ini, poin pentingnya adalah ada injil yang diberitakan, injil ini bukan saja untuk orang Yahudi, tapi kepada orang yang bukan Yahudi juga. Roh Kudus dicurahkan, ada orang-orang yang bisa mengerti berita injil. Itu sebabnya, alkitab orang Kristen menjadi kitab suci agama yang diterjemahkan ke bahasa asing paling banyak. Banyak para penerjemah mengabdikan hidupnya untuk menerjemahkan alkitab ke bahasa-bahasa suku yang terpencil, yaitu supaya berita injil bisa dimengerti setiap orang, dan melalui setiap pemberitaan injil ini Roh Kudus memberikan pengertian dan iman dalam hati setiap orang yang mau menerimanya.

Oleh sebab itu, mari kita perluas wawasan kita, dan arahkan fokus kita kepada hal yang lebih berarti. Pantekosta, tidak semata-mata pencurahan Roh Kudus dan berbahasa roh, tapi Roh Kudus dicurahkan itu terkait dengan perintah Tuhan Yesus untuk menjadikan semua bangsa murid-Ku. Orang dipenuhi Roh Kudus bukan semata-mata orang yang bisa berbahasa roh, tapi orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang mengalami hidup yang diubah kan, sadar bahwa ini adalah sebuah anugerah yang besar, sehingga tidak mungkin untuk tidak membagikan berita ini kepada orang lain. Orang yang dipenuhi Roh Kudus, tidak mungkin tidak mengabarkan injil.

Tapi, apakah orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus selalu memiliki tanda karunia berbahasa roh? Saya percaya bahwa Roh Kudus memberikan pengertian kepada kebenaran, membawa kita kepada pengenalan akan Kristus. Jika ada orang yang bisa berbahasa roh dan itu bisa berguna untuk pembangunan jemaat, atau memberikan pengertian kebenaran tentang Firman Tuhan, maka saya percaya itu benar. Tapi jika tidak, …

Dalam hukum Taurat ada tertulis: “Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.” Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman. Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila? Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: “Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.” Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.

(1 Kor 14:21-28)


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.