…setia pada perkara yang kecil

Saul Ditolak Sebagai Raja

image

The Offense of Fearing Men

Saul said to Samuel, “I have sinned; for I have transgressed the commandment of the LORD and your words, because I feared the people and obeyed their voice.” (1 Samuel 15:24)

Why did Saul obey the people instead of God? Because he feared the people instead of God. He feared the human consequences of obedience more than he feared the divine consequences of sin. He feared the displeasure of the people more than the displeasure of God. And that is a great insult to God.

To turn from him out of fear of what man can do is to discount all that God promises to be for those who fear him. It is a great insult. And in such an insult God can take no pleasure.

On the other hand when we hear the promises and trust him with courage, fearing the reproach brought upon God by our unbelief, then he is greatly honored. And in that he has pleasure.

John Piper – The Pleasures of God

Pantekosta, ‘Bahasa Roh’ dan Penginjilan

Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.
(Luk 24:46-49)

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita…”
(Kis 2:1-8)

Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
(Kis 2:41)

Saya tumbuh di lingkungan gereja pantekosta. Menjelang hari pantekosta, doa pencurahan Roh Kudus sudah menjadi “budaya” untuk dilakukan. Itu, hal yang baik. Tapi, saat ini saya mau mengajak kita melihat poin penting dalam peristiwa pantekosta.

Setelah tiga setengah tahun murid-murid bersama-sama dengan Tuhan Yesus, pada saat Tuhan Yesus naik ke Surga, Ia memberikan arahan penting kepada murid-murid-Nya. Sesuatu yang harus mereka lakukan, setelah Ia pergi, yaitu memberitakan injil.

Perintah yang Tuhan Yesus berikan, bukanlah perintah mudah. Tidak ada dukungan dana, tidak ada dukungan pemerintah, yang ada justru sebaliknya, akan ada banyak ancaman dan kesulitan yang dihadapi. Oleh sebab itu, untuk melakukan tugas yang berat ini, Ia menjanjikan seorang penolong, yaitu Roh Kudus. Setelah itu, murid-murid berkumpul menantikan janji itu, dan pada hari yang ke-10, tepat pada hari pantekosta, Ia menggenapkan janji-Nya. Para saat itu Roh Kudus turun, dan kepada murid-murid diberikan karunia untuk ‘berbahasa asing’.

Pada saat itu, orang asing dan orang-orang Israel diaspora yang berada di Yerusalem mendengar para rasul berdoa, berkata-kata dalam bahasa mereka masing-masing. Saat itu, setiap dari mereka dengan bahasa mereka masing-masing mendengar injil dan menjadi percaya.

Jadi, pada peristiwa pantekosta ini, poin pentingnya adalah ada injil yang diberitakan, injil ini bukan saja untuk orang Yahudi, tapi kepada orang yang bukan Yahudi juga. Roh Kudus dicurahkan, ada orang-orang yang bisa mengerti berita injil. Itu sebabnya, alkitab orang Kristen menjadi kitab suci agama yang diterjemahkan ke bahasa asing paling banyak. Banyak para penerjemah mengabdikan hidupnya untuk menerjemahkan alkitab ke bahasa-bahasa suku yang terpencil, yaitu supaya berita injil bisa dimengerti setiap orang, dan melalui setiap pemberitaan injil ini Roh Kudus memberikan pengertian dan iman dalam hati setiap orang yang mau menerimanya.

Oleh sebab itu, mari kita perluas wawasan kita, dan arahkan fokus kita kepada hal yang lebih berarti. Pantekosta, tidak semata-mata pencurahan Roh Kudus dan berbahasa roh, tapi Roh Kudus dicurahkan itu terkait dengan perintah Tuhan Yesus untuk menjadikan semua bangsa murid-Ku. Orang dipenuhi Roh Kudus bukan semata-mata orang yang bisa berbahasa roh, tapi orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang mengalami hidup yang diubah kan, sadar bahwa ini adalah sebuah anugerah yang besar, sehingga tidak mungkin untuk tidak membagikan berita ini kepada orang lain. Orang yang dipenuhi Roh Kudus, tidak mungkin tidak mengabarkan injil.

Tapi, apakah orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus selalu memiliki tanda karunia berbahasa roh? Saya percaya bahwa Roh Kudus memberikan pengertian kepada kebenaran, membawa kita kepada pengenalan akan Kristus. Jika ada orang yang bisa berbahasa roh dan itu bisa berguna untuk pembangunan jemaat, atau memberikan pengertian kebenaran tentang Firman Tuhan, maka saya percaya itu benar. Tapi jika tidak, …

Dalam hukum Taurat ada tertulis: “Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.” Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman. Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila? Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: “Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.” Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.

(1 Kor 14:21-28)

Mengerjakan Panggilan Hidup

Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran. (Mar 5:18-20)

JESÚS CURA AL ENDEMONIADO DE GERASA.- James_TissotKetika Tuhan Yesus berada di Gerasa, ia mengusir setan yang merasuki tubuh seseorang. Setelah orang itu disembuhkan, makan orang itu ingin ikut berserta Tuhan Yesus sebagai murid, tapi Ia tidak memperkenankannya. Ia menyuruh orang itu pulang dan menyaksikan apa yang Tuhan telah lakukan kepadanya.

Melayani Tuhan tidak selalu melayani di gereja, setiap orang yang mengerjakan panggilan yang Tuhan berikan kepadanya, ia sedang melayani Tuhan. Panggilan Tuhan itu bisa berupa pekerjaan kita sebagai guru, karyawan, siswa, ibu rumah tangga, arsitek, petugas kebersihan, atau apapun itu yang Tuhan percayakan kita untuk kerjakan. Oleh sebab itu, orang Kristen harus melakukan pekerjaannya dengan baik, bukan semata untuk mendapat uang atau kedudukan, tapi untuk mengerjakan tugasnya sebagai wakil Allah untuk mengelola dunia ini. Dengan demikian, orang Kristen dalam pekerjaannya harus membawa sifat-sifat Allah (kebaikan, kejujuran, kebenaran, keindahan, keteraturan, …) di dalam pekerjaannya. Orang Kristen tidak boleh menganggap pekerjaannya tidak penting (karena berpikir ini cuma urusan duniawi). Orang Kristen harus melakukan apa yang dipercayakan kepadanya dengan serius supaya apa yang kita kerjakan boleh sungguh-sungguh mempermuliakan nama Tuhan.

Melayani Tuhan tidak selalu melayani di gereja, tapi tetap harus ingat bahwa selama di dunia, kita adalah bagian dari Tubuh Kristus yang kelihatan yang disebut gereja, dan menjadi bagian dari gereja tidak lepas dari tanggung jawab. Tugas dan tanggung jawab itu diantaranya adalah tugas dan tanggung jawab untuk melayani sesama Tubuh Kristus, baik itu dalam bentuk pelayanan dalam ibadah, pelayanan doa, pelayanan pembesukan, konseling, penginjilan, dll. Tugas ini pun tidak kurang penting dibanding pekerjaan keseharian kita di luar gereja.

Dengan demikian, tidak boleh menganggap profesi kita sebagai bagian terpisah dari panggilan hidup kita dalam Tuhan, tapi tidak boleh juga mengabaikan tanggung jawab kita sebagai bagian dari gereja. Berikan porsi takaran prioritas yang benar dalam mengerjakan panggilan kita di gereja dan di pekerjaan, itu tidak mudah, tapi harus dilakukan.

Orang-orang Yerikho yang “Percaya”

dan berkata kepada orang-orang itu: “Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah. Maka sekarang, bersumpahlah kiranya demi TUHAN, bahwa karena aku telah berlaku ramah terhadapmu, kamu juga akan berlaku ramah terhadap kaum keluargaku; dan berikanlah kepadaku suatu tanda yang dapat dipercaya, bahwa kamu akan membiarkan hidup ayah dan ibuku, saudara-saudaraku yang laki-laki dan yang perempuan dan semua orang-orang mereka dan bahwa kamu akan menyelamatkan nyawa kami dari maut.”
(Yos 2:9-13)

Orang Yerikho mendengar kisah tentang Allah Israel yang mengeringkan laut Teberau saat Israel keluar dari Mesir, dan mereka percaya, bahkan mereka gentar. Padahal kejadian itu terjadi 40 tahun sebelumnya. Ironisnya, orang Israel yang melihat langsung peristiwa itu percaya, tapi tidak pernah sungguh-sungguh percaya kepada Allah. Tidak lama setelah mereka menyeberang laut Teberau, orang Israel bersungut-sungut kepada Allah (Kel 16). Bukan saja sekali, tapi sepanjang kitab Keluaran, kita membaca berkali-kali Israel membangkitkan amarah Allah.

Kita membaca kisah ini, kita menghakimi kekerasan hati Israel. Tapi, ada marilah kita renungkan juga, jangan-jangan kita pun seperti itu. Kita sudah banyak mendengar berita tentang injil, tahu kisah-kisah dalam alkitab, tapi kita masih dengan santai bermain-main dengan dosa. Allah begitu sabar kepada Israel, Allah juga begitu sabar kepada kita. Tapi, ingat! Ada waktu yang Tuhan tetapkan, setiap orang akan bertanggungjawab dengan perbuatannya. Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik. (Ams 15:3) Jangan lagi kita bermain-main dengan dosa. Selagi Ia memberi waktu, bertobat! Jangan sampai kita harus mengecap murka-Nya.

Orang Kristen yang Mengejar Hikmat Dunia. Salahkah?

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian.
(Kej 1:26-30)

Bagi sebagian orang Kristen, ada yang membuat pengelompokan ekstrim antara hal duniawi dan hal yang rohani. Hal yang rohani adalah perkara yang dikaitkan dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat, roh, kekal, kudus dan ilahi. Hal duniawi, adalah perkara yang bisa dilihat, fana dan jahat (karena kejatuhan manusia dalam dosa). Perkara yang jasmani memang berbeda dengan perkara yang rohani, tapi orang Kristen seharusnya bisa menemukan jembatan di antara 2 hal ini. Dunia yang jasmani ini adalah dunia yang Allah ciptakan, dan segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Rom 11:36) Dengan demikian, saya percaya bahwa pemisahan secara mutlak antara hidup yang jasmani ini dengan perkara rohani, tidaklah benar.

Saat pertama kali manusia diciptakan, Allah memberikan tugas kepada manusia untuk menaklukkan bumi. Dalam khotbah, ayat ini diartikan bahwa kita, sebagai manusia harus menaklukkan kedagingan kita, jangan sampai keinginan dari tubuh yang sudah jatuh kedalam dosa ini lebih berkuasa atas jiwa kita dan membawa kita jatuh kedalam perbuatan dosa. Hal itu memang benar, tapi saya percaya perintah untuk menaklukkan bumi itu juga bukan saja pada hal yang rohani, tapi juga pada hal yang jasmani, pada dunia yang nyata.

Itu sebabnya, manusia menjadi satu-satunya mahluk yang diberikan begitu banyak hikmat untuk bisa mengelola alam sedemikian rupa dengan cara yang mengagumkan. Semuanya itu adalah untuk mengelola alam yang Allah ciptakan. Dikelola bukan untuk manusia itu sendiri, tapi bagi Allah. Manusia menjadi penguasa atas alam ini adalah sebagai wakil Allah yang menciptakan semuanya ini, jadi sudah seharusnya manusia melakukan segala sesuatunya bagi Dia.

Tapi, karena kejatuhan manusia dalam dosa, manusia terpisah dari Allah. Sehingga manusia gagal mengkaitkan segala apa yang ia lakukan di dunia ini dengan Allah. Manusia mengelola segalanya untuk diri sendiri, untuk kepuasan diri. Itu sebabnya kita melihat ada kerusakan alam yang diakibatkan penambangan sumberdaya alam yang berlebihan, dengan sampah dan pembangunan yang sembarangan, manusia merusak lingkungan karena tidak melihat lagi tugasnya untuk mengelola bumi ini sebagai tugas yang harus ia pertanggungjawabkan kepada-Nya.

Namun, orang percaya seharusnya sadar bahwa keberadaannya adalah untuk Dia, bukan kebetulan, keberadaannya bukan untuk sekedar hidup. Oleh sebab itu, orang percaya dalam segala hal yang dilakukan di dunia ini haruslah dikaitkan dengan Allah. Pekerjaan dan studi kita di dunia ini, harusnya bisa kita kaitkan dengan kehendak-Nya. Panggilan kita di dunia ini bukan hanya untuk melayani di gereja, tapi juga ada mandat budaya yang harus dikerjakan, menyatakan kemuliaan Allah dalam setiap ciptaan-Nya.

Jadi orang Kristen, mencari hikmat dunia. Bolehkah? Harus! Tapi bukan untuk diri, tapi sebagai bagian dari kita melakukan panggilan yang Allah berikan kepada kita. Bukan untuk uang semata, tapi yang terutama adalah untuk menyatakan kemuliaan-Nya dimanapun Ia menempatkan kita.

Ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang jahat, bukan ciptaan Setan, ilmu pengetahuan itu bukan produk dosa, ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang Allah berikan kepada manusia untuk mengelola ciptaan-Nya. Oleh sebab itu, manusia yang menerima ilmu pengetahuan, harus mengusahakannya dengan sungguh-sungguh.

Saya percaya orang Kristen, kuliah tinggi. Bukanlah kejahatan, bukan juga sesuatu yang mutlak jasmani, bukan juga menandakan seseorang itu hidup duniawi. Jadi, apapun profesinya, selama itu adalah adalah panggilan yang Allah berikan buat dia, jika ia harus melakukannya dengan sungguh-sungguh, maka ia sedang melayani Dia.

Tapi saya juga tidak ingin sampai ada pemikiran ekstrim lain, dimana orang lebih mengutamakan belajar dan pekerjaan melampaui tugas dan tanggungjawabnya di dalam jemaat, dalam pelayanan. Jangan terlalu hanyut dalam tugas tanggung jawab di dunia, tapi orang Kristen tubuh yang ada padanya sekarang adalah tubuh yang fana. Orang Kristen suatu kali akan kembali di persekutukan kembali dengan Dia. Itulah  pengharapan sejati orang Kristen. Oleh sebab itu, selain bekerja, orang Kristen juga melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai tubuh Kristus. Menolong sesama, hidup kudus, mengabarkan injil, dan melakukan perintah Bapa.

Kiranya Tuhan memberikan kita hikmat dan kekuatan untuk kita melaksanakan panggilan kita di dunia, dalam perkara yang fana ini, juga dalam perkara yang rohani, sesuai dengan kehendak-Nya. Amin!

Kis 16:31

“Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”  (Kis 16:31)

Paulus mengabarkan Injil di PenjaraDalam satu kelas sekolah minggu yang saya ajar hari ini, seorang bertanya: Apakah masuk ayat di Kis 16:31? Saya cukup mengerti mengapa ia menanyakan pertanyaan ini. Kalau saya bertobat, apakah itu berarti Tuhan (entah kapan) akan mendatangkan pertobatan ke seluruh anggota keluarga saya. Setidaknya, itulah yang saya percaya dulu. Sekarang, kalau saya pikir lagi tentang apa yang saya artikan tentang ayat tersebut, … rasanya jadi seperti ‘buy-one-get-one’, satu orang bertobat, anggota keluarga lain (otomatis) akan bertobat (entah kapan).

Memang kita melihat banyak kesaksian banyak keluarga yang bertobat, yang dimulai dari pertobatan satu orang. Saya percaya, pertobatan satu orang yang sungguh-sungguh akan membawa pertobatan kepada seluruh keluarga. Tapi hendaknya apa yang kita pahami tentang ayat itu kita harus pastikan, jangan sampai (mungkin secara tidak sengaja) sampai ada pengertian seperti ‘buy-one-get-one’.

Kadang orang mengutip Kis 16:31 hanya sebatas satu ayat sehingga kehilangan makna dari konteks peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.
(Kis 16:31-34)

Kalau dibaca lebih lengkap, maka kita melihat bahwa setelah Paulus mengatakan perkataan itu, langkah selanjutnya adalah berita injil diberitakan dan keluarga itu percaya. Anugerah keselamatan itu bukan sesuatu yang automatik diberikan lewat pertobatan satu orang, tapi lewat berita injil. Bahkan orang percaya yang sungguh-sungguh pun, belum tentu bisa memenangkan seisi rumahnya (baca kisah 1 Samuel 8:1-5).

Jadi, adakah Anda rindu keluarga Anda untuk dimenangkan? Beritakan injil! Lewat sikap hidup dan perkataan! Bagaimana caranya? Berdoalah! Kiranya Tuhan memberikan saudara hati dan kesungguhan untuk itu melakukan itu, hikmat, keberanian dan kesempatan untuk mengabarkan injil.

 


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.