…setia pada perkara yang kecil

Orang-orang Yerikho yang “Percaya”

dan berkata kepada orang-orang itu: “Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah. Maka sekarang, bersumpahlah kiranya demi TUHAN, bahwa karena aku telah berlaku ramah terhadapmu, kamu juga akan berlaku ramah terhadap kaum keluargaku; dan berikanlah kepadaku suatu tanda yang dapat dipercaya, bahwa kamu akan membiarkan hidup ayah dan ibuku, saudara-saudaraku yang laki-laki dan yang perempuan dan semua orang-orang mereka dan bahwa kamu akan menyelamatkan nyawa kami dari maut.”
(Yos 2:9-13)

Orang Yerikho mendengar kisah tentang Allah Israel yang mengeringkan laut Teberau saat Israel keluar dari Mesir, dan mereka percaya, bahkan mereka gentar. Padahal kejadian itu terjadi 40 tahun sebelumnya. Ironisnya, orang Israel yang melihat langsung peristiwa itu percaya, tapi tidak pernah sungguh-sungguh percaya kepada Allah. Tidak lama setelah mereka menyeberang laut Teberau, orang Israel bersungut-sungut kepada Allah (Kel 16). Bukan saja sekali, tapi sepanjang kitab Keluaran, kita membaca berkali-kali Israel membangkitkan amarah Allah.

Kita membaca kisah ini, kita menghakimi kekerasan hati Israel. Tapi, ada marilah kita renungkan juga, jangan-jangan kita pun seperti itu. Kita sudah banyak mendengar berita tentang injil, tahu kisah-kisah dalam alkitab, tapi kita masih dengan santai bermain-main dengan dosa. Allah begitu sabar kepada Israel, Allah juga begitu sabar kepada kita. Tapi, ingat! Ada waktu yang Tuhan tetapkan, setiap orang akan bertanggungjawab dengan perbuatannya. Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik. (Ams 15:3) Jangan lagi kita bermain-main dengan dosa. Selagi Ia memberi waktu, bertobat! Jangan sampai kita harus mengecap murka-Nya.

Orang Kristen yang Mengejar Hikmat Dunia. Salahkah?

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian.
(Kej 1:26-30)

Bagi sebagian orang Kristen, ada yang membuat pengelompokan ekstrim antara hal duniawi dan hal yang rohani. Hal yang rohani adalah perkara yang dikaitkan dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat, roh, kekal, kudus dan ilahi. Hal duniawi, adalah perkara yang bisa dilihat, fana dan jahat (karena kejatuhan manusia dalam dosa). Perkara yang jasmani memang berbeda dengan perkara yang rohani, tapi orang Kristen seharusnya bisa menemukan jembatan di antara 2 hal ini. Dunia yang jasmani ini adalah dunia yang Allah ciptakan, dan segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Rom 11:36) Dengan demikian, saya percaya bahwa pemisahan secara mutlak antara hidup yang jasmani ini dengan perkara rohani, tidaklah benar.

Saat pertama kali manusia diciptakan, Allah memberikan tugas kepada manusia untuk menaklukkan bumi. Dalam khotbah, ayat ini diartikan bahwa kita, sebagai manusia harus menaklukkan kedagingan kita, jangan sampai keinginan dari tubuh yang sudah jatuh kedalam dosa ini lebih berkuasa atas jiwa kita dan membawa kita jatuh kedalam perbuatan dosa. Hal itu memang benar, tapi saya percaya perintah untuk menaklukkan bumi itu juga bukan saja pada hal yang rohani, tapi juga pada hal yang jasmani, pada dunia yang nyata.

Itu sebabnya, manusia menjadi satu-satunya mahluk yang diberikan begitu banyak hikmat untuk bisa mengelola alam sedemikian rupa dengan cara yang mengagumkan. Semuanya itu adalah untuk mengelola alam yang Allah ciptakan. Dikelola bukan untuk manusia itu sendiri, tapi bagi Allah. Manusia menjadi penguasa atas alam ini adalah sebagai wakil Allah yang menciptakan semuanya ini, jadi sudah seharusnya manusia melakukan segala sesuatunya bagi Dia.

Tapi, karena kejatuhan manusia dalam dosa, manusia terpisah dari Allah. Sehingga manusia gagal mengkaitkan segala apa yang ia lakukan di dunia ini dengan Allah. Manusia mengelola segalanya untuk diri sendiri, untuk kepuasan diri. Itu sebabnya kita melihat ada kerusakan alam yang diakibatkan penambangan sumberdaya alam yang berlebihan, dengan sampah dan pembangunan yang sembarangan, manusia merusak lingkungan karena tidak melihat lagi tugasnya untuk mengelola bumi ini sebagai tugas yang harus ia pertanggungjawabkan kepada-Nya.

Namun, orang percaya seharusnya sadar bahwa keberadaannya adalah untuk Dia, bukan kebetulan, keberadaannya bukan untuk sekedar hidup. Oleh sebab itu, orang percaya dalam segala hal yang dilakukan di dunia ini haruslah dikaitkan dengan Allah. Pekerjaan dan studi kita di dunia ini, harusnya bisa kita kaitkan dengan kehendak-Nya. Panggilan kita di dunia ini bukan hanya untuk melayani di gereja, tapi juga ada mandat budaya yang harus dikerjakan, menyatakan kemuliaan Allah dalam setiap ciptaan-Nya.

Jadi orang Kristen, mencari hikmat dunia. Bolehkah? Harus! Tapi bukan untuk diri, tapi sebagai bagian dari kita melakukan panggilan yang Allah berikan kepada kita. Bukan untuk uang semata, tapi yang terutama adalah untuk menyatakan kemuliaan-Nya dimanapun Ia menempatkan kita.

Ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang jahat, bukan ciptaan Setan, ilmu pengetahuan itu bukan produk dosa, ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang Allah berikan kepada manusia untuk mengelola ciptaan-Nya. Oleh sebab itu, manusia yang menerima ilmu pengetahuan, harus mengusahakannya dengan sungguh-sungguh.

Saya percaya orang Kristen, kuliah tinggi. Bukanlah kejahatan, bukan juga sesuatu yang mutlak jasmani, bukan juga menandakan seseorang itu hidup duniawi. Jadi, apapun profesinya, selama itu adalah adalah panggilan yang Allah berikan buat dia, jika ia harus melakukannya dengan sungguh-sungguh, maka ia sedang melayani Dia.

Tapi saya juga tidak ingin sampai ada pemikiran ekstrim lain, dimana orang lebih mengutamakan belajar dan pekerjaan melampaui tugas dan tanggungjawabnya di dalam jemaat, dalam pelayanan. Jangan terlalu hanyut dalam tugas tanggung jawab di dunia, tapi orang Kristen tubuh yang ada padanya sekarang adalah tubuh yang fana. Orang Kristen suatu kali akan kembali di persekutukan kembali dengan Dia. Itulah  pengharapan sejati orang Kristen. Oleh sebab itu, selain bekerja, orang Kristen juga melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai tubuh Kristus. Menolong sesama, hidup kudus, mengabarkan injil, dan melakukan perintah Bapa.

Kiranya Tuhan memberikan kita hikmat dan kekuatan untuk kita melaksanakan panggilan kita di dunia, dalam perkara yang fana ini, juga dalam perkara yang rohani, sesuai dengan kehendak-Nya. Amin!

Kis 16:31

“Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”  (Kis 16:31)

Paulus mengabarkan Injil di PenjaraDalam satu kelas sekolah minggu yang saya ajar hari ini, seorang bertanya: Apakah masuk ayat di Kis 16:31? Saya cukup mengerti mengapa ia menanyakan pertanyaan ini. Kalau saya bertobat, apakah itu berarti Tuhan (entah kapan) akan mendatangkan pertobatan ke seluruh anggota keluarga saya. Setidaknya, itulah yang saya percaya dulu. Sekarang, kalau saya pikir lagi tentang apa yang saya artikan tentang ayat tersebut, … rasanya jadi seperti ‘buy-one-get-one’, satu orang bertobat, anggota keluarga lain (otomatis) akan bertobat (entah kapan).

Memang kita melihat banyak kesaksian banyak keluarga yang bertobat, yang dimulai dari pertobatan satu orang. Saya percaya, pertobatan satu orang yang sungguh-sungguh akan membawa pertobatan kepada seluruh keluarga. Tapi hendaknya apa yang kita pahami tentang ayat itu kita harus pastikan, jangan sampai (mungkin secara tidak sengaja) sampai ada pengertian seperti ‘buy-one-get-one’.

Kadang orang mengutip Kis 16:31 hanya sebatas satu ayat sehingga kehilangan makna dari konteks peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.
(Kis 16:31-34)

Kalau dibaca lebih lengkap, maka kita melihat bahwa setelah Paulus mengatakan perkataan itu, langkah selanjutnya adalah berita injil diberitakan dan keluarga itu percaya. Anugerah keselamatan itu bukan sesuatu yang automatik diberikan lewat pertobatan satu orang, tapi lewat berita injil. Bahkan orang percaya yang sungguh-sungguh pun, belum tentu bisa memenangkan seisi rumahnya (baca kisah 1 Samuel 8:1-5).

Jadi, adakah Anda rindu keluarga Anda untuk dimenangkan? Beritakan injil! Lewat sikap hidup dan perkataan! Bagaimana caranya? Berdoalah! Kiranya Tuhan memberikan saudara hati dan kesungguhan untuk itu melakukan itu, hikmat, keberanian dan kesempatan untuk mengabarkan injil.

 

Spiritualitas yang Egois

Kalau saya berjuang mengejar kerohanian supaya masuk surga, berarti pusat daripada kepentingan kerohanian saya adalah untuk diri … Setiap yang orang jadi Kristen hanya demi untuk masuk surga, pasti ke neraka.

Membaca kembali catatan khotbah Pdt. Sucipto, dalam seminar Altruistic Spiritualism, membuat saya kembali merenungkan motivasi daripada kehidupan rohani saya. Saya meluangkan waktu untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan di gereja, belajar mendisiplin diri untuk memiliki waktu doa dan membaca alkitab setiap hari, menyisihkan sebagian uang untuk pekerjaan Tuhan, belajar menyangkal diri dari keinginan-keinginan yang jahat, … untuk apakah? Untuk masuk surga kah? Saya teringat dengan salah satu lirik dalam lagu oleh Ahmad Dhani,

Apakah kita semua, benar-benar tulus menyambah padaNya? Atau mungkin kita hanya, takut pada neraka, dan inginkan surga

Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadaNya? Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau, menyebut namaNya? Bisakah kita semua benar-benar sujud, sepenuh hati? Karena sungguh memang Dia, memang pantas disembah, memang pantas dipuja.

Saat orang mengabarkan injil, berita tentang keselamatan memang menjadi salah satu tema yang disampaikan. Yesus satu-satunya jalan keselamatan, hanya melalui iman kepada-Nya, kita beroleh selamat  – Itu memang benar, tapi kehidupan orang Kristen yang sudah menerima Kristus dan bertobat, pengertiannya akan imannya tidak boleh berhenti pada surga dan neraka saja.

Semakin kita belajar dari Alkitab, melalui pimpinan Roh Kudus, maka kita akan beroleh pengertian lebih mendalam tentang siapa Allah yang kita sembah, apa yang Ia telah lakukan. Melalui kesaksian Alkitab, kita mengerti bahwa Allah adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi, Allah yang maha kuasa, Allah yang adil, Allah yang menyatakan keadilan-Nya dengan cara yang mengerikan. Sehingga memang seharusnya kita memiliki kegentaran kepada-Nya. Tapi, semakin kita membaca, semakin juga kita melihat bahwa Allah yang adil adalah Allah yang menunjukkan kasih-Nya dengan cara jauh melampaui pengertian kita. Dengan demikian, semakin seseorang bertumbuh hidup rohaninya, ia percaya kepada Allah, melakukan perintah-Nya bukan semata-mata takut pada neraka, dan inginkan surga,  tapi ada kasih yang kudus kepada Sang Pencipta yang menjadi pendorong untuk melakukan segala hal sulit, hanya untuk memperkenankan hati-Nya.

Seorang ibu, memberikan larangan kepada anaknya, demi kebaikan anak itu sendiri. Bagi seorang anak yang sikap ibunya itu mungkin dianggap sebagai sikap galak, atau bahkan mungkin dipikir jahat. Tetapi semakin seorang anak memiliki pengertian, semakin ia mengerti bahwa apa yang dilakukan ibunya itu adalah sesuatu yang baik. Dari sana, anak itu mulai mengasihi ibunya, belajar menghormati ibunya walaupun kadang ada hal-hal yang sulit diterima, dan belajar taat. Ia semakin anak itu bertambah besar, ia tidak lagi melakukan perintah ibunya karena takut dihukum, tapi karena ia sadar bahwa ibunya adalah seorang sosok yang patut menerima hormat dan kasih sayangnya. The happy life is this - to rejoice to thee, in thee, and for thee

Seumpama itu pula hubungan kita dengan Allah. Adakah kita beribadah karena takut neraka? Adakah kita beribadah supaya masuk surga? Mari kita renungkan sikap ibadah kita! Memang iman Kristen memberikan jaminan keselamatan, tapi kalau pengertian kita hanya sebatas surga dan neraka, maka kita melewatkan anugerah besar yang ditawarkan iman Kristen. Kalau pengertian kita hanya sebatas surga dan neraka, maka kita menjalani hidup kita penuh dengan ketakutan. Ibadah untuk memperoleh hadiah masuk surga adalah hidup rohani yang egois. Dari iman yang kita beroleh daripada-Nya, mari kita kerjakan itu. Pertumbuhan rohani tidak muncul dengan tiba-tiba, tapi dengan usaha, ketekunan dan penyangkalan diri. Dan dalam segala apa yang kita lakukan untuk mencapai semuanya itu, senantiasa ingat untuk bersandar kepada kuasa dan pertolongan-Nya. Hanya dengan cara demikian, kita beroleh hidup rohani yang semakin bertumbuh dihadapan-Nya.

Apakah tujuan akhir manusia? Jawab: Tujuan akhir manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati (persekutuan dengan) -Nya selama-lamanya. Westminster Shorter Catechism #1

“Guru yang Baik … “

Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.
(Luk 18:18-19)

Seorang muda, seorang pemimpin datang bertanya kepada Yesus dengan kalimat pembuat “guru yang baik …”. Sebelum Yesus menjawab pertanyaannya, Ia memberikan koreksi kepada sebutan itu. Karena dengan ia menyebut Yesus sebagai guru yang baik, menunjukkan ada suatu pemahaman yang salah tentang apa itu baik.

Tidak ada manusia dan bahkan malaikat yang layak menerima sebutan baik, karena baik manusia maupun malaikat tidak memiliki sedikit pun kebaikan dalam dirinya selain dari kebaikan yang dipinjam dari Allah yang adalah sumber kebaikan itu. Dengan demikian, untuk mengatakan bahwa Yesus itu baik, ia juga harus mengakui bahwa Yesus berasal dari Allah. (Calvin Commentary on Mat 19:17).

 

Pengajar x Perkataan yang Sia-sia

Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”  (Mat 12:33-37)

Bagi jemaat yang hidup hanya sebagai jemaat yang duduk manis setiap hari minggu (dan merasa biasa saja). Membaca ayat ini mungkin akan memunculkan pikiran menghakimi orang-orang di gereja yang aktif di pelayanan, tapi memiliki hidup yang tidak beres. Tapi, jika Anda adalah seorang pelayan dan diberikan kesempatan untuk terlibat dalam pelayanan mengajar atau konseling, membaca ayat ini seharusnya menjadi kengerian. Dari kehidupan yang jahat, perkataan baik pun bisa menjadi perkataan yang sia-sia.

Oleh sebab itu, perkataan: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Haruslah menjadi pengingat. Apakah kita adalah orang yang dengan sungguh-sungguh mau hidup sesuai dengan apa yang kita ajarkan? Jika tidak maka setiap perkataan kita akan menjadi perkataan yang sia-sia.

Seorang pengajar yang tidak belum pernah menang dalam pergumulan dalam hal yang ia ajarkan, sebagus apapun perkataannya, kuasanya tidak akan lebih lebih dari orang yang pernah menang dalam pergumulan yang sama, walaupun perkataannya sederhana.

Jadi, bagaimanakah posisi kita sebagai pelayan di hadapan Tuhan? Jika Anda menyadari bahwa Anda adalah pelayan yang dalam posisi demikian Anda harus bertobat.

Bagi kita yang melihat pelayan lain yang berada dalam kondisi itu, tidak selayaknya dengan mudah menggunakan ayat ini untuk menghakimi  orang lain, karena sikap itu adalah sikap yang menyatakan bahwa “saya benar, saya lebih baik dari dia …” (benarkah?) Jika kita melihat sesama pelayan dalam pekerjaan Tuhan memiliki suatu sikap hidup yang berbeda dengan apa yang kita ajarkan, selayaknya kita juga berpikir: apakah jika ada berada pada posisi dia, bisakah saya lebih baik dari apa yang dia lakukan sekarang?

Bagi orang yang belum pernah terlibat sungguh-sungguh dalam pelayanan, mungkin belum bisa sungguh-sungguh mengerti betapa banyak tantangan dan godaan yang dihadapi yang begitu kuat menarik kita kepada dosa. Oleh sebab itu, bagi yang melayani atau pun tidak/belum. Marilah saling mendoakan. Doakan sesama pelayan di gereja, pengajar, konselor di gereja. Supaya boleh sungguh-sungguh Tuhan pimpin hidupnya, sehingga mereka boleh menjalani hidup sesuai dengan apa yang mereka ajarkan.

Seminar Politik RCRS – Peran dan Kesaksian Kekristenan dalam Pemerintahan Masyarakat Majemuk.

seminar politik

“Karakter seseorang itu teruji ketika dia diberikan kekuasaan. … kalau Anda yang baik tidak mau masuk (ke dalam pemerintahan), maka yang berkuasa adalah yang kurang baik” – Ir. Basuki Tjahaja Purnama M.M.

“Semua kuasa dari Allah, berarti Allah lebih tinggi dari pada manusia yang berkuasa. Semua kuasa dari Allah, berarti yang berkuasa harus bertanggung jawab kepada Allah.” – Pdt. Dr. Stephen Tong.

Mari ikuti, Seminar Politik RCRS (untuk umum) – Peran dan Kesaksian Kekristenan dalam Pemerintahan Masyarakat Majemuk.

Pembicara:

  • Prof. James W. Skillen, Ph.D. (Pendiri Center for Public Justice, Maryland, USA)
  • Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. (Gubernur DKI Jakarta)
  • Pdt. Dr. Stephen Tong (Teolog, Filsuf, Budyawan & Pendiri RCRS)

Lokasi:

Sabtu, 17 Januari 2015, pk. 09.30 – 13.00 WIB
Aula John Calvin
Jl. Industri Blok B-14 No. 1, Kemayoran, Jakarta Pusat, Indonesia

Siaran Relay:

Relay (Siaran Langsung Bandung) di:
Paskal Hypersquare Blok C33-37
Pk 09.30-13.00
Biaya: Rp 50.000,00 (umum) & Rp. 25.000,00 (Mahasiswa)
Kontak: 022-86060699


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.