Para Pendengar Khotbah

Banyak orang mendengar khotbah …
Dari antara mereka yang mendengar, hanya sebagian saja yang mengerti.Dari antara mereka yang mengerti, hanya sebagian saja yang setuju.
Dari antara mereka yang setuju, hanya sebagian saja yang menghidupinya.
Dari antara mereka yang menghidupinya, hanya sebagian saja yang  konsisten.

Kamu … yang mana?

Dibenci tanpa alasan

Tuhan Yesus, pada malam sebelum Ia ditangkap:

Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.

Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku. Sekiranya Aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih bagi dosa mereka! Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku. Sekiranya Aku tidak melakukan pekerjaan di tengah-tengah mereka seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang walaupun mereka telah melihat semuanya itu, namun mereka membenci baik Aku maupun Bapa-Ku. Tetapi firman yang ada tertulis dalam kitab Taurat mereka harus digenapi: Mereka membenci Aku tanpa alasan. Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.”

Yohanes 15:9-27

SPIK #3 – Kristologi: Kristus, Sang Allah, Sang Manusia, Sang Pengantara

“Siapakah Yesus?” Adalah pertanyaan yang banyak orang (rasa) sudah tahu (banyak) jawabannya. Tapi, setelah 2000 tahun orang belajar tentang tema ini, selalu ada hal baru dan kelimpahan setiap kali membaca Alkitab dan mempelajari ‘siapa itu Yesus’. Sabtu, 5 Nopember 2016 – Pk. 9.00. Dalam SEMINAR III, tema KRISTOLOGI, mari belajar bersama tema penting ini.
Bagi warga Bandung dan sekitarnya, bisa mengikuti seminar ini lewat relay yang akan diadakan di Paskal Hypersquare C35.
Yu, mari datang!

Memerangi Hawa Nafsu

Pada April 2003, Aron Ralston, seorang pendaki terperangkap dengan tangannya terjepit pada batu diantara tebing-tebing batu di Bluejohn Canyon, Utah. Selama 5 hari Aron berusaha melepaskan diri sementara berjuang melawan dehidrasi dan hipotermia. Menyadari keadaannya, akhirnya Ia memutuskan untuk memotong tangannya sendiri dengan pisau lipat. Drama survival yang dilakukan oleh Aron diangkat ke layar lebar menjadi film 127 hours (2010).

Untuk kelangsungan hidup, Aron sadar bahwa satu-satunya jalan untuk ia bisa lepas dari perangkap ini yaitu dengan memotong tangannya. Ini mengingatkan saya pada pengajaran Tuhan Yesus di Matius 5:28-29 tentang bahaya perangkap dosa:

Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buatlah itu, karena lebih baik bagimu kehilangan satu dari anggota tubuhmu, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Matius 5:28-29

Kata cungkil mata yang dipakai pada ayat diatas menyatakan suatu keseriusan. Dosa adalah hal yang sangat serius dan berbahaya. Begitu serius dan berbahayanya dosa itu sehingga kalau memang perlu potong anggota tubuhmu supaya kamu tidak berdosa itu lebih baik, dari pada kamu harus binasa karena dosa. Ada nasib yang kekal yang kita pertaruhkan dalam apa yang kita lakukan dengan mata kita, dengan pikiran-pikiran dari imajinasi mereka. Jika kita tidak memerangi dosa ini dengan jenis keseriusan yang membuat Anda bersedia mencungkil mata Anda sendiri, Anda akan kehilangan keselamatan.

Kita dibenarkan oleh anugerah hanya melalui iman (Roma 3:28; 4:5; Efesus 2:8-9); dan semua orang yang telah dibenarkan dengan cara demikian akan dimuliakan (Roma 8:30) — Artinya, tidak akan orang yang dibenarkan yang akan terhilang, Meskipun demikian, mereka yang menyerahkan diri kepada percabulan akan terhilang (Galatia 5:21), dan mereka yang meninggalkan pertempuran melawan nafsu akan binasa (Matius 5:30), dan mereka yang tidak mengejar kekudusan tidak akan melihat Tuhan (Ibrani 12:14), dan mereka yang menyerahkan hidup mereka kepada keinginan-keinginan jahat akan menerima murka Allah (Kolose 3:6).

Iman yang benar adalah iman yang juga menguduskan. Ujian apakah kita memiliki jenis iman yang membenarkan adalah apakah iman itu juga merupakan iman yang menguduskan.

(Disadur dari Battling Unbelief, John Piper)

“Kamu harus ke gereja!” (mengapa?)

Seorang teman lama bercerita tentang kesulitan hidupnya. Ia merasa orang-orang disekeliling dia bertindak jahat kepadanya. Sekarang, dia merasa terasing. Dalam percakapan singkat, hal praktis yang saya sarankan kepadanya: kembalilah rajin ke gereja! Dalam nada sinis, dia menjawab: mengapa ke gereja? banyak orang-orang di gereja justru lebih jahat. Orang memiliki pemikiran seperti itu ada 2 kemungkinan. Kemungkinan 1:  dia dikelilingi orang-orang Kristen yang hidupnya belum mengalami pertobatan; Kemungkinan 2: dia menanggapi segala perilaku orang kepadanya dengan cara yang salah.

Saya harus akui, memang kenyataannya tidak semua orang yang ada di gereja itu adalah orang baik. Ada orang yang sudah bertahun-tahun menjadi jemaat, tapi masih memiliki segala sikap dan kebiasaan yang seringkali menjadi sandungan buat orang lain. Ada juga gereja ajarannya tidak setia pada kebenaran Firman. Tapi meskipun demikian, saran saya untuk teman saya ini tetap: datanglah ke gereja! Mengapa? Karena setiap manusia butuh komunitas untuk bertumbuh. Bertumbuh dalam hal kedewasaan mental dan spiritual. Jika ada komunitas diluar gereja yang bisa memenuhi kebutuhan itu, silahkan masuklah dalam kominitas itu. Tapi, jika tidak Anda harus ke gereja, terutama jika Anda adalah orang Kristen. Karena, tidak ada komunitas lain memungkinkan Anda bertumbuh secara mental dan spiritual selain gereja.

Anda datang ke gereja bukan sekedar untuk mendengarkan wejangan tentang kebaikan, tapi di gereja, kita sama-sama belajar tentang Firman Tuhan, bersama-sama dengan jemaat-Nya. Pendidikan moral yang utuh, hanya didapatkan di gereja. Utuh dalam artian bahwa hanya di gereja yang mengajarkan kasih Allah sebagai dasar perbuatan baik (bukan kebaikan itu sendiri, atau karma). Dan lebih dari itu, orang yang berkumpul di gereja diharuskan untuk saling memperhatikan sesamanya. Saya rasa tidak ada komunitas lain yang menawarkan hal-hal tersebut. Jika ada, silahkan bergabung dengan komunitas itu, tapi kalau tidak. Sekali lagi saya akan dorong orang: datanglah ke gereja!

Jikalau seseorang sakit, Ia akan datang ke rumah sakit untuk di obati. Dan rumah sakit, pastilah dipenuhi oleh orang sakit. Begitu pula dengan gereja. Tidak ada manusia yang 100% suci. Orang percaya akan sadar bahwa seluruh hidupnya adalah suatu proses yang berkelanjutan untuk terus disucikan, sampai hingga sempurna nanti pada saat Ia datang untuk yang kedua kali. Untuk itu, mari! dengan rendah hati, mari berkumpul bersama dengan jemaat-Nya, bersama-sama belajar kehendaknya melalui Firman Tuhan, dan saling menguatkan. Datanglah ke gereja!

Mengutip perkataan Morton Kelsey:
“The church is not a museum for the saints, but a hospital for the sinners.”

Ibadah yang ‘memuakkan’

10. Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora!
11. “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” firman TUHAN; “Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai.
12. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku?
13. Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan.
14. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya.
15. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.
Yesaya 1:10-15

Tuhan yang memanggil bangsa Israel menjadi umat-Nya, selama beratus-ratus tahun bersabar mendidik bangsa ini untuk memiliki hidup yang benar sebagai umat-Nya. Ibarat ayah yang sedang mendidik anaknya, seluruh tubuh anak ini pun sudah penuh luka karena didikan sang ayah, tapi tetap anak ini dengan kejahatannya, begitu juga dengan bangsa Israel yang hatinya selalu serong dari pada Tuhan. Sehingga kejahatan mereka sampai pada satu titik dimana bangsa itu disebut seperti “Sodom dan Gomora” (Yesaya 1:10)

Ibadah mereka menjadi sesuatu yang Tuhan benci (ayat 14), Tuhan memalingkan mendengar doa mereka (ayat 15). karena walaupun mereka beribadah, mereka masih mengerjakan kejahatan. Membaca Yesaya 1, menjadi perenungan buat saya. Adakan pelayanan yang kita kerjakan berkenan dihadapan Tuhan? Apakah Tuhan berkenan menerima doa-doa kita? Ataukan Tuhan begitu muak dengan segala doa dan persembahan kita karena Tuhan masih melihat kejahatan dan dosa dalam hidup?

Ada orang-orang yang sedang bergumul dengan dosa, tapi pergumulan itu tanpa kesungguhan untuk menjauhi dosa dan pencobaan, kemudian ia berlutut minta ampun kepada Tuhan. Pembacaan Yesaya 1 ini seharusnya membuat kita merenungkan: “Apakah saya sedang ke ge er dengan berpikir bahwa Tuhan berkenan menerima doa-doa dan ibadah saya? atau … jangan-jangan Dia sudah bosan dengan permintaan maaf saya, muak dengan doa-doa palsu karena tidak pernah disertai dengan tindakan, muak dengan permintaan maaf yang palsu karena tidak pernah disertai dengan kesungguhan menjauhi dosa. Apakah Ia sedang memalingkan wajah-Nya dari pada saya?”

Jangan sampai kita terlalu terlena dengan terus mengingat Tuhan yang Maha Kasih, Tuhan yang selalu menerima doa kita, Tuhan yang selalu mengampuni, tetapi melupakan Tuhan yang juga membenci dosa. Setiap hari kita berdoa, tapi tak pernah sungguh-sungguh mengarahkan hati untuk Tuhan, tak pernah membenci dosa, doa kita bisa jadi menjadi doa-doa yang memuakkan hati Tuhan.

Jadi, jika dalam doa kita berkata: “… ampunilah kami akan kesalahan kami … “ Hendaknya kita bersungguh-sungguh bergumul melawan tabiat perbuatan dosa dalam diri kita. Jika dalam doa kita berkata: “… janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, … “. Hendaknya kita juga bersungguh-sungguh menjauhkan diri dari pencobaan, bukannya terus membiarkan diri menyerah kepada keinginan-keinginan yang berdosa.

Apakah Doa Bisa Membawa Perubahan?

Jika ada orang bertanya: “Apakah doa bisa mempengaruhi pikiran Allah?” Saya akan menjawab “Tidak”. Kemudian, jika orang itu bertanya lagi: “Apakah doa bisa membawa perubahan?” Saya akan menjawab “Ya, tentu saja!”

Alkitab mengatakan bahwa ada ada hal yang Allah telah tetapkan dalam kekekalan. Hal-hal itu akan pasti akan terjadi. Jika Anda berdoa secara pribadi atau bersepakat bersama-sama dengan seluruh orang Kristen di seluruh dunia pun itu, itu tidak akan mengubah ketetapan Allah. Jika kita Kristus untuk tidak datang kembali, Ia tetap akan datang. Mungkin Anda akan bertanya, “Bukankah alkitab berkata bahwa jika dua orang dari padamu sepakat meminta apa pun juga permintaan mereka itu akan dikabulkan? (mengutip Mat 18:19-20). Ya, tapi ayat itu berbicara tentang disiplin gereja bukan permintaan doa. Jadi, kita harus mengambil semua ajaran alkitab tentang doa secara utuh dan bukan sembarang comot ayat yang dilepaskan dari konteksnya.

Ketetapan Allah tidak berubah karena Allah tidak berubah. Segala hal bisa berubah, dan semuanya itu berubah dalam kedaulatan-Nya yang Ia kerjakan lewat berbagai cara. Doa dari umat-Nya adalah salah satu cara Ia menyatakan pekerjaan-Nya ke dunia ini. Jadi, jika Anda bertanya apakah doa membawa perubahan, tanpa keraguan saya akan menjawab “Ya!”

Adalah mustahil untuk mengetahui seberapa besar intervensi Allah secara langsung dan seberapa besar Allah menyatakan pekerjaan-Nya lewat perantaraan manusia. Salah satu contoh favorit yang Calvin sering gunakan untuk menjelaskan ini diambil dari kitab Ayub. Orang Syeba dan Kasdim merampas keledai dan unta Ayub. Mengapa? Karena Setan mempengaruhi mereka untuk melakukan itu. Tapi kenapa? Karena Setan menerima ijin dari Allah untuk mencobai iman Ayub. Mengapa Allah menyetujui hal seperti itu terjadi? Ada 3 alasan: 1. Untuk membungkam fitnah Setan; 2. untuk menyatakan kebenaran Allah; 3. Untuk membenarkan Ayub melawan fitnah Setan.

Sebaliknya, motivasi Setan untuk mempengaruhi orang Syeba dan Kasdim adalah supaya Ayub mengutuki Allah. Tapi, kita bisa memperhatikan bahwa Setan tidak melakukan hal-hal yang supranatural untuk mencapai tujuannya. Setan menggunakan tangan manusia — orang Syeba dan Kasdim yang memang memiliki hati yang jahat — untuk merampas ternak Ayub. Mereka terlibat, tapi juga mereka tidak dipaksa.

Orang Syeba dan Kasdim bebas memilih, tapi buat mereka, dan sama halnya untuk kita, kebebasan selalu berarti kebebasan dalam suatu keterbatasan. Jangan sampai kita salah membedakan antara kebebasan manusia untuk memilih dan otonomi manusia (human autonomy). Pemahaman tentang kedaulatan Allah dengan otonomi manusia selalu bertentangan. Tapi, tidak ada pertentangan antara pemahaman tentang kedaulatan Allah dengan kebebasan manusia.

Jika Orang Syeba dan Kasdim berdoa: “Jangan bawa kami dalam pencobaan, tapi jauhkanlah kami dari yang jahat.” Saya yakin bahwa ternak Ayub akan tetap dirampas, tapi bukan oleh orang Syeba dan Kasdim. Allah bisa menjawab doa mereka, tapi juga bisa menggunakan perantara lain untuk merampas ternak Ayub. Manusia memiliki kebebasan, tapi kebebasan itu adalah kebebasan yang terbatas, dan dalam batasan itu,  doa kita bisa membawa perubahan.

Disadur dari R.C Sproul — Does Prayer Change Things?