Allah menolakmu!

1 Samuel 15:20-26  Lalu kata Saul kepada Samuel: “Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas. Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal.”
Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.”
Berkatalah Saul kepada Samuel: “Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka. Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku; kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN.” Tetapi jawab Samuel kepada Saul: “Aku tidak akan kembali bersama-sama dengan engkau, sebab engkau telah menolak firman TUHAN; sebab itu TUHAN telah menolak engkau, sebagai raja atas Israel.”

Ibrani 12:14-17  Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.
Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

SaulApa pengalaman Anda yang paling menakutkan? Pernah mengalami keadaan yang membawa Anda begitu dekat dengan kematian?
Saya percaya, hal yang paling menakutkan selama di dunia ini adalah ketika Tuhan meninggalkan kita.

Orang melakukan dosa berulang-ulang kali. Setiap melakukan dosa, selalu percaya: “Tuhan mengampuni”.
Kalau Anda sering berpikir seperti itu, Anda harus baca 1 Sam 15:20-26. Saul sudah melanggar perintah Allah, kemudian melalui Samuel, Ia menyatakan bahwa Allah sudah menolak Saul.

Pada saat kita membaca kisah ini, mungkin kita selalu berpikir bahwa kita lebih baik dari Saul, sehingga tidak pernah berpikir bahwa Allah tidak akan meninggalkan kita, kita sering berpikir bahwa pengampunan-Nya akan selalu tersedia.
Kalau Anda berpikir seperti itu, Anda harus bertobat!

Anugerah keselamatan yang Tuhan berikan adalah gratis, tapi bukan murahan. Tidak boleh sampai kita mempermainkan seperti itu. Dengan demikian, haruslah kita berpikir bahwa anugerah itu sebagai sesuatu yang terbatas, tidak boleh disia-siakan.

Mungkin ada perlunya Anda boleh ambil waktu sejenak, membayangkan diri, kita mendapatkan pertanyataan dari Allah bahwa Ia telah menolak kita. Mungkinkah kita merasa biasa? Saya sendiri merasa ngeri kalau sampai mengalami hal seperti itu. Lebih mengerikan lagi saat kita membaca penjelasan di Ibr 12:17. Esau, berbuat kesalahan. Tapi dengan Ia menangis pun, tidak bisa merubah keadaan.

Ketika anak dari buah perzinahan Daud dengan Betsheba terancam kematian. Daud berdoa dengan sungguh dan berpuasa, mohon kesembuhan untuk anaknya. Adakah Daud mendapatkan jawaban “ya” dari doa nya? Tidak! Apakah kita lebih baik dari Daud, sehingga kita dengan berani berpikir “Allah pasti mengampuni”?

Kadang kita terlalu enteng berpikir, bahwa dengan kesungguhan hati bertobat, Tuhan pasti mengampuni. Tuhan Allah yang kita sembah memang adalah Allah yang Maha Mengampuni. Saya harus mengatakan bahwa kita tidak layak memikirkan hal seperti itu pada waktu kita hendak melakukan dosa.

Pada saat iblis menggoda, berusaha menarik kita untuk melakukan dosa. Harus dengan gentar kita berpikir bahwa Ia adalah Allah yang Adil, dan prinsip keadilan-Nya pasti dinyatakan kepada kita. Tuhan tidak saja menghukum orang jahat, tapi orang baik yang berbuat salah pun pasti tidak akan luput dari keadilan-Nya. Jangan berpikir bahwa Ia pasti akan tergerak dengan doa-doa mohon pengampunan kita yang disertai dengan air mata sekali pun. Ingatlah itu! Dengan demikian, kita belajar memelihara kegentaran kita kepada Allah, tidak pernah menganggap enteng keadilan-Nya, tidak menganggap anugerah Allah sebagai sesuatu yang murahan.

Iklan

KKR Regional – Sulawesi Tengah

Sejak saya ikut bersekutu bersama dengan saudara-saudara seiman di GRII, saya mulai banyak belajar pentingnya dan suatu keharusan untuk orang Kristen mengabarkan injil. Bukan untuk tujuan hidup diberkati, tapi atas kesadaran atas hidup yang sudah ditebus.

Berbicara dengan “orang baru” tentang berita injil adalah sesuatu yang asing buat saya. Tapi prinsip yang saya pegang: “Belum mencoba, jangan bilang ngga bisa”.

Bersyukur untuk kesempatan diawal bulan September ini, saya berkesempatan untuk ikut ambil bagian dalam pekabaran injil lewat KKR Regional ke sekolah-sekolah di Sulawesi Tengah, daerah Morowali Utara.

Selama 1 bulan, setiap orang yang ikut ambil bagian dalam KKR Regional ini, di bimbing dengan ketat, dalam hal pengertian doktrin dan cara penyampaian yang benar. Supaya dalam 1x kesempatan siswa-siswa mendengar, setiap orang boleh sungguh menerima berita injil.

Selama 1 minggu disana, bersyukur untuk 11 sekolah yang saya boleh layani. Setiap hari, selalu ada “kesulitan unik” yang dihadapi. Di Beteleme, Kolonendale, Tomata, Lembo Raya, dan Saemba. Ada sekolah-sekolah yang harus ditempuh 1 jam menggunakan ojek, karena tidak memungkinkan untuk dilewati mobil. Tapi oleh kemurahan dan pertolongan Tuhan, bersyukur semua pekerjaan itu bisa diselesaikan.

Aftermath
Sepulang dari Sulawesi. Saya baru sadar. Tadinya saya berpikir, pulang dari KKR, saya bisa bilang: “saya sudah menginjili”. Tapi, sepulang dari sana. Saya justru merasa belum melakukan apa-apa. Pekerjaan Tuhan begitu banyak. Terlalu banyak hal yang masih harus dikerjakan. Tidak mungkin merasa puas “cuma” dengan apa yang telah dilakukan 1 minggu saja.

Saya merasa, saya belum mempersiapkan pelayanan ini dengan baik. Ada banyak kesempatan saya mengabarkan injil, tapi ada banyak kesalahan yang saya lakukan.

Orang bisa saja mendukung pekerjaan Tuhan lewat doa. Tapi, kalau ia tidak pernah mau terlibat langsung dalam pekerjaan pelayanan injil, ada dorongan doa yang kurang. Tapi kalau orang itu pernah terlibat serius secara langsung dalam pekabaran injil. Ia akan memiliki suatu dorongan doa yang beda dengan waktu sebelum ia mengabarkan injil.

Pekerjaan Tuhan begitu banyak dan itu kita akan benar-benar sadari itu kalau kita mau terjun ke dalam pengabaran injil. Jadi jikalau sekarang Anda tahu, tapi sama sekali belum pernah melakukannya. Percayalah, yang Anda tahu belum sungguh-sungguh tahu, sampai Anda sungguh-sungguh melakukannya. Kiranya setiap orang Kristen sadar akan hal ini.