Kitab Wahyu X Avengers: Infinity War

Kalau ada orang bertanya: “Film Avengers: Infinity War, rame ga?”
Saya akan balik bertanya: “kamu nonton 18 film sebelumnya ga?”

Ya, Avengers: Infinity War (AIW) adalah film action yang cukup fenomenal dan spektakuler, tapi ia cuma salah satu bagian dalam satu narasi besar Infinity War yang dimulai sejak 10 tahun lalu. Ada 18 film mendahului cerita AIW ini, sehingga orang yang menonton AIW tanpa mengikuti keseluruhan ceritanya dari awal, akan menemukan AIW sebagai film dar-der-dor yang wah tapi dengan alur cerita yang ga jelas dan ending yang ngegantung.

AIW sebagai bagian dari Marvel Cinematic Universe (MCU)

Membuat character development pada suatu film, memiliki tantangan tersendiri. Oleh sebab itu, pada umumnya film akan menampilkan tidak lebih dari 5-6 tokoh utama. Lebih dari itu, pada umumnya penonton akan cukup kesulitan mendalami masing-masing karakter. Disinilah keistimewaan AIW, AIW memiliki lebih dari 70 tokoh dan hampir semuanya memiliki character development di 18 film sebelumnya. Karakter Tony Stark (Ironman) memiliki 6 film untuk character development, Steve Rogers (Captain America) 5 film, Thor 5 film, Doctor Strange 1 film, Guardian Galaxy 2 film, Black Panther 2 film, Spiderman 1 film (belum termasuk 5 film Spiderman sebelumnya), Hulk 1 film (diperankan oleh Edward Norton). Sehingga, ketika semuanya muncul dalam satu film, penonton — yang memang mengikuti cerita ini sejak awal — telah mengenal masing-masing tokoh ini secara mendalam, penonton akan mengenali setiap konteks dialog dan tindakan masing-masing tokoh dalam relasinya dengan film-film sebelumnya. Ketika kata tesseract disebut, kita akan teringat kepada seluruh cerita Captain America: First Avengers dan Avengers (1); ketika Tony Stark mengatakan “… since New York …” penonton akan diingatkan dengan kejadian invasi di Avengers (1); Ketika Doctor Strange memperkenalkan dirinya kepada Spiderman sebagai “Doctor Strange”, bagi penonton yang belum pernah menonton “Doctor Strange” akan mendapati joke itu terasa kurang lucu 🙂 . Walau penonton awam mungkin bisa waw dengan VFX yang disajikan film ini, mereka tidak akan pernah benar-benar mengerti dan menikmati film ini. Kita tidak akan pernah bisa menikmati AIW terlepas dari bagian-bagian sebelumnya. Kita tidak bisa mengerti AIW jika kita tidak melihatnya sebagai bagian dari narasi lengkap cerita Infinity War.

Membaca Kitab Wahyu

Kalau saya mau umpamakan, menonton AIW itu mirip membaca kitab Wahyu. Kitab Wahyu itu sendiri bukan bagian terpisah, ia adalah salah satu bagian dari narasi besar Alkitab yang menceritakan penciptaan, kejatuhan, penebusan, pemuliaan manusia, dengan Kristus sebagai salah satu tokoh utama dalam kisah itu. Perjanjian Lama (PL) memberikan narasi sejarah yang mempersiapkan kedatangan Kristus, Perjanjian Baru (PB) menceritakan Kristus yang menebus umat-Nya dan diakhir dengan kisah kedatangan-Nya yang kedua — kisah kemenangan-Nya —  yang ditulis di dalam kitab Wahyu.

Kitab Wahyu menjadi kisah end game, seperti AIW bagi Infinity War, demikian juga kitab Wahyu bagi Alkitab. Saya tidak berbicara mengenai perbandingan isi film AIW dengan Alkitab atau mengatakan kalau baca Alkitab itu sama dengan nonton film, tapi yang sama maksudkan adalah — sama seperti nonton AIW — kita tidak mungkin menikmati dan mengerti kitab Wahyu jika kita tidak mengikuti pembacaan 65 kitab sebelumnya. Ketika di kitab Wahyu bercerita tentang “Anak Domba” kita akan diingatkan kepada Kristus sebagai penggenapan anak domba yang dijanjikan dan digambarkan dalam korban Paskah, “tunas Daud telah menang…” mengingatkan kepada Allah yang setia memelihara janji-Nya. Jika kita membaca Wahyu terlepas dari bagian sebelumnya, kita akan menemukan banyak gambaran yang aneh, seperti “binatang bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh…” jika dilepaskan dari konteks sejarah Alkitab akan dimengerti sebagai mahluk mistik super aneh, “tanda 666” akan dikorelasikan dengan chip antikris.

Tentu saja, bukan artinya kalau sudah membaca keseluruhan Alkitab, artinya kita akan langsung bisa mengerti setiap bagian dari kitab Wahyu. Untuk mengerti kitab Wahyu tentu perlu pergumulan dan tuntunan Roh Kudus untuk kita bisa mengerti setiap pesan yang disampaikan di dalamnya. Tapi yang saya ingin sampaikan adalah jangan sampai kita membaca kitab Wahyu terlepas dari 65 kitab sebelumnya dan mencampurkannya dengan fantasi spektakuler yang mitos-mitos dan film-film populer.

Relevansi Dengan Kehidupan Nyata

Setiap nonton film superhero, untuk tokoh yang kita kagumi, kita akan mengidentikan diri kita dengan tokoh tersebut. Tapi, kalau bagaimana pun juga, mereka tetap adalah tokoh fiktif. Tapi, berbeda dengan Alkitab. Alkitab adalah kisah yang sangat relevan dengan hidup kita. Alkitab memberitahukan kepada kita, siapa yang mencipta kita, mengapa kita dicipta, kehancuran manusia karena dosa, rencana penebusan yang di rancangkan Sang Pencipta, pergumulan Tuhan umat-Nya dalam menyatakan rencana-Nya di dunia yang sudah tercemar dosa, dan … pada akhirnya, dalam kitab Wahyu kisah ini ditutup dengan suatu kisah kemenangan dan pemulihan ciptaan.

Tanpa mengerti kemalangan manusia akibat dosa, kita tidak akan mengerti besarnya anugerah keselamatan yang kita terima. Tanpa memiliki pergumulan yang sama dengan umat Tuhan, membaca kitab Wahyu akan memberikan kesan  menakutkan penuh siksaan dan kegentaran penghakiman Allah. Tapi bagi orang percaya turut menanggung pergumulan yang sama dengan umat Tuhan lain dalam menyatakan pekerjaan-Nya di bumi ini dan yang sama-sama menanti kedatangan-Nya, membaca kitab Wahyu akan mencari suatu penghiburan. Kitab Wahyu adalah happy ending yang sejati dimana Kristus, sang tokoh utama dalam kisah Alkitab menang — berbeda dengan AIW, ia adalah kisah fiktif yang tidak memiliki relevansi dengan kehidupan nyata kita — dan kemenangan itu menjadi sungguh-sungguh menjadi pengharapan kita juga. Karena kita percaya, setiap orang yang menerima Dia sebagai Tuhan dan Raja akan berbagian dalam kemenangan itu (amin).

Iklan

“Rasanya ada yang salah…”

Kalau kamu makan dan tersendak, batuk beberapa kali, itu masih bisa dianggap normal. Tapi kalau sampai batuk terus ga berenti-berenti …. kamu akan mulai bertanya-tanya there is something wrong with me.
Tapi kalau kamu melihat melihat lawan jenis, dan muncul ketertarikan, itu masih bisa dianggap normal. Tapi kalau sampai kepikiran dan terbayang-bayang terus, atau muncul sensasi sensual, kamu harus mulai bertanya: “ini tidak wajar, … there is something wrong with me.”

Sexual fantasy, pornography, masturbasi, dan hawa nafsu yang terkendali … bukanlah penyebab, tapi ia ada gejala dari suatu penyakit yang lebih berbahaya. Yaitu penyakit pikiran yang sudah tercemar dosa, ini adalah pencemaran yang mencapai tingkat kronis sehingga ia matanya dibutakan sehingga melihat kotoran terlihat bersih, pandangan yang hanya melihat kenikmatan sesaat yang ada didepan mata, tidak bisa melihat Allah yang murka atas dosa.

Bahaya percabulan seringkali dianggap terlalu ringan karena pelakunya tidak dihadapkan kepada bahaya nampak, tapi kenikmatan yang instan. Tapi, seharusnya, orang percaya bisa melihat bahaya percabulan sebagai suatu bahaya yang sangat mengancap hidup. Dalam Matius 18, Tuhan Yesus mengajar bahwa kalau seseorang tidak memiliki keseriusan seperti mau “mencungkil mata” demi terlepas dari ikatan dosa, ia sangat dekat dengan neraka.

Ini adalah hal penting yang harus kau ingat! Jika kamu mulai menikmati sexual fantasy, menikmati melihat tampilan sensual pria/wanita, menikmati sex yang tidak wajar, itu tidak wajar. Kamu harus katakan ini pada diri: there is something wrong with me. repent! repent! (ada sesuatu yang salah dengan saya. bertobatlah! bertobatlah!)

#blog

Setengah Abad Reformasi: Eben Haizer

“Mudah lupa” — mungkin memang sudah menjadi natur dari manusia. Sehingga, kita mengembangkan suatu tradisi memilih satu hari dalam satu tahun, hari yang dikhususkan untuk mengingat momen penting. Bukan demi momen itu sendiri tapi karena suatu nilai penting yang penting dalam momen tersebut yang perlu wariskan untuk generasi selanjutnya.

Setiap tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia akan mengingat kembali mengingat nilai-nilai perjuangan yang mengantar bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan
Setiap hari ke-14 pada bulan Nissan, orang Yahudi akan merayakan Paskah, untuk mengingat Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan, mengingat janji Allah yang membawa mereka ke tanah perjanjian.
Setiap tanggal 25 Desember, adalah hari yang dipilih oleh orang Kristen untuk mengingat kembali kasih Allah kepada manusia melalui Dia yang rela mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang manusia.

Tapi, adakah orang Kristen yang mengingat 31 Oktober sebagai hari reformasi. Sayangnya, orang lebih mengenal 31 Oktober sebagai hari halloween. Mungkin (semoga saya salah) … 7 dari 10 orang Kristen bahkan tidak tahu apa itu hari reformasi. Memang, kebanyakan orang tidak akan asing dengan nama “Martin Luther”, tapi mengenal Martin Luther sebagai … orang yang menentang kekuasaan gereja pada saat yang telah menyeleweng karena menjual surat penghapusan dosa (indulgensia), titik. Itu sebenarnya hanyalah sepenggal kecil dalam rangkaian gerakan reformasi, yang makna dan pengaruhnya jauh lebih besar dari sekedar Protestanisme vs Katolik. Reformasi memberikan dampak positif dalam perkembangan bidang seni, musik, ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, budaya, dan sosial. (beberapa referensi tambahan mengenai pengaruh reformasi [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8])

Martin Luther menjadi seseorang yang Tuhan bangkitkan untuk menyulut api semangat reformasi orang Kristen untuk mengembalikan kebenaran kembali ke alkitab (sola scriptura), mengembalikan pengertian bahwa sungguh pun keselamatan hanyalah karya Kristus semata (solus Christus) dan bilamana kita bisa menerimanya, itu hanya karena anugerah semata (sola gracia) yang kita hanya bisa terima melalui iman (sola fide). Sehingga dalam kesadaran hidup yang telah menerima anugerah keselamatan itu, orang percaya belajar memberikan segala penghormatan, segala pandangan hidupnya berfokus untuk memuliakan Allah (soli Deo gloria). Suatu api yang menyulut semangat yang mereformasi diri dan masyarakat seluruh orang Kristen di Eropa, sampai ke seluruh dunia, hingga 500 tahun setelah nya (saat ini).

Gereja generasi berikutnya harus mau belajar dari berbagai kesalahan dari generasi sebelumnya, sambil dengan rendah hati senantiasa mau belajar dari berbagai pergumulan generasi sebelumnya dalam memahami kehendak Allah. Dengan demikian, hari reformasi menjadi momen yang kita pilih … untuk merenungkan pekerjaan Tuhan disepanjang sejarah, sambil memungut semangat api perjuangan gereja dalam menyatakan Kristus di bumi ini.

raf,750x1000,075,t,fafafa_ca443f4786.hggu2.jpgKalimat Ecclesia reformata semper reformanda secundum verbum Dei (gereja reformasi, selalu mereformasi diri sesuai dengan Firman Tuhan) menjadi suatu slogan yang identik dengan reformasi dan juga menggambarkan pergumulan dari gereja-gereja reformasi. Gereja reformasi tidak terbatas pada sebuah label/merk/organisasi gereja. Gereja reformasi adalah gereja yang mau terus mereformasi diri agar sesuai dengan Firman Tuhan, seperti yang diperjuangkan oleh para bapa reformator, yang mereka pun belajar dari para bapa-bapa sebelumnya, yang setiap kepada Firman-Nya dan memakai seluruh hidup mereka membawa kabar baik itu, yang mengabarkan Kristus yang mati dan bangkit, Kristus yang adalah Nabi, Imam dan Raja.

Para bapa reformator Luther, Calvin, Zwingli, … hanyalah manusia. Tapi, Allah yang membangkitkan mereka untuk mereformasi gereja adalah Allah yang terus bekerja sampai sekarang mereformasi gereja. Hari ini 31 Oktober 2017, tepat 500 tahun, tepat 1/2 abad, Eben Heizer — sampai di sini TUHAN (masih) menolong kita, gereja Tuhan akan terus berjuang sampai Ia datang kembali. Pertanyaannya adalah, mau kan Anda ikut berbagian dalam pekerjaan-Nya bagi zaman ini?


Beberapa referensi terkait reformasi yang baik saudara baca:

Bolehkan berdoa dengan mengutip “Doa Bapa Kami”?

lords-prayer_825_460_80_c1

Karena itu berdoalah demikian:
Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
(Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)
Mat 6:9-13

Mungkin orang Kristen kurang terbiasa dengan suatu doa yang dihapal, seolah kurang afdol kalau doa itu adalah sesuatu yang dihapal, seolah memberi kesan doa itu tidak berasal dari hati.

Doa Bapa Kami adalah suatu contoh doa yang Tuhan Yesus ajarkan langsung, dan di dalamnya terkandung prinsip penting bagaimana dan apa hal penting yang menjadi dasar doa kita.

  • Pada saat kita memanggil “Bapa kami yang di sorga“, adalah undangan Allah kepada kita untuk datang mendekat (lewat doa) seperti datang kepada seorang ayah, tapi juga dengan suatu sikap hormat yang melebihi dari pada yang kita bisa berikan kepada siapa pun di dunia ini.
  • Pada saat kita mengatakan “Dikuduskanlah nama-Mu“, adakah kita sungguh-sungguh memiliki hati yang ingin nama Tuhan dimuliakan?
  • Pada saat kita mengatakan “datanglah Kerajaan-Mu” Adakah kita sungguh-sungguh memiliki kerinduan kedatangan Tuhan?
  • Pada saat kita mengataakn “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Adakah kita sungguh-sungguh memiliki keinginan Tuhan menyatakan kehendak-Nya?
  • Pada saat kita meminta “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Adakah ia mau sungguh-sungguh menggantungkan hidupmu hari demi hari kepada-Nya?
  • Pada saat kita berkata “ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Adakah kita sudah sungguh-sungguh mengampuni?
  • Dan pada saat kita memohon “janganlan membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat”. Adakah kita sungguh-sungguh berusaha menjauhi pencobaan (atau jangan jangan kita dengan sengaja mencari pencobaan)

Tentu itu cuma penjelasan singkat dari Doa Bapa Kami. Ada banyak buku yang membahas tentang Doa Bapa Kami ini. Karena memang dalam doa yang singkat ini, terkandung suatu pengertian yang sangat dalam. Jadi, ini doa yang sangat baik, tapi seperti halnya doa lain. Doa tanpa disertai hati yang sesuai dengan perkataan doa, adalah sia-sia.

Jadi, hari ini, saat salah seorang anak sekolah minggu saya bertanya: Bolehkan saya berdoa dengan mengutip “Doa Bapa Kami“? Saya jawab: boleh! Asal, setiap kalimat yang diucapkan disertai dengan kesungguhan. Jangan sampai menganggap Doa Bapa Kami sebagai suatu mantra, atau suatu doa yang diucapkan hanya karena tidak tahu mau berdoa apa. Jika tidak siap untuk itu, doa sederhana yang sesuai dengan beban hati, itu lebih baik.

Tentu ini adalah sebuah tulisan dari hasil pembacaan kitab suci dan dan perenungan pribadi. Jika ada pemikiran lain atau tambahan, bisa meninggalkan komentar dibawah.

Para Pendengar Khotbah

Banyak orang mendengar khotbah …
Dari antara mereka yang mendengar, hanya sebagian saja yang mengerti.Dari antara mereka yang mengerti, hanya sebagian saja yang setuju.
Dari antara mereka yang setuju, hanya sebagian saja yang menghidupinya.
Dari antara mereka yang menghidupinya, hanya sebagian saja yang  konsisten.

Kamu … yang mana?

Dibenci tanpa alasan

Tuhan Yesus, pada malam sebelum Ia ditangkap:

Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.

Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku. Sekiranya Aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih bagi dosa mereka! Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku. Sekiranya Aku tidak melakukan pekerjaan di tengah-tengah mereka seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang walaupun mereka telah melihat semuanya itu, namun mereka membenci baik Aku maupun Bapa-Ku. Tetapi firman yang ada tertulis dalam kitab Taurat mereka harus digenapi: Mereka membenci Aku tanpa alasan. Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.”

Yohanes 15:9-27

Memerangi Hawa Nafsu

Pada April 2003, Aron Ralston, seorang pendaki terperangkap dengan tangannya terjepit pada batu diantara tebing-tebing batu di Bluejohn Canyon, Utah. Selama 5 hari Aron berusaha melepaskan diri sementara berjuang melawan dehidrasi dan hipotermia. Menyadari keadaannya, akhirnya Ia memutuskan untuk memotong tangannya sendiri dengan pisau lipat. Drama survival yang dilakukan oleh Aron diangkat ke layar lebar menjadi film 127 hours (2010).

Untuk kelangsungan hidup, Aron sadar bahwa satu-satunya jalan untuk ia bisa lepas dari perangkap ini yaitu dengan memotong tangannya. Ini mengingatkan saya pada pengajaran Tuhan Yesus di Matius 5:28-29 tentang bahaya perangkap dosa:

Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buatlah itu, karena lebih baik bagimu kehilangan satu dari anggota tubuhmu, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Matius 5:28-29

Kata cungkil mata yang dipakai pada ayat diatas menyatakan suatu keseriusan. Dosa adalah hal yang sangat serius dan berbahaya. Begitu serius dan berbahayanya dosa itu sehingga kalau memang perlu potong anggota tubuhmu supaya kamu tidak berdosa itu lebih baik, dari pada kamu harus binasa karena dosa. Ada nasib yang kekal yang kita pertaruhkan dalam apa yang kita lakukan dengan mata kita, dengan pikiran-pikiran dari imajinasi mereka. Jika kita tidak memerangi dosa ini dengan jenis keseriusan yang membuat Anda bersedia mencungkil mata Anda sendiri, Anda akan kehilangan keselamatan.

Kita dibenarkan oleh anugerah hanya melalui iman (Roma 3:28; 4:5; Efesus 2:8-9); dan semua orang yang telah dibenarkan dengan cara demikian akan dimuliakan (Roma 8:30) — Artinya, tidak akan orang yang dibenarkan yang akan terhilang, Meskipun demikian, mereka yang menyerahkan diri kepada percabulan akan terhilang (Galatia 5:21), dan mereka yang meninggalkan pertempuran melawan nafsu akan binasa (Matius 5:30), dan mereka yang tidak mengejar kekudusan tidak akan melihat Tuhan (Ibrani 12:14), dan mereka yang menyerahkan hidup mereka kepada keinginan-keinginan jahat akan menerima murka Allah (Kolose 3:6).

Iman yang benar adalah iman yang juga menguduskan. Ujian apakah kita memiliki jenis iman yang membenarkan adalah apakah iman itu juga merupakan iman yang menguduskan.

(Disadur dari Battling Unbelief, John Piper)