Dosa yang Paling Berbahaya

Dosa akan menghasilkan dosa-dosa lain, dan dosa yang paling parah adalah dosa di dalam hati kita yang membuat kita memercayai diri sendiri bahwa kita tidak berdosa. Dosa yang paling berbahaya adalah dosa yang membuat perasaan berdosa atau bersalah lenyap dari dalam hati. 

dikutip dari Reforming Heart – Daud Terusir

Iklan

Saul Dipilih Menjadi Raja

“Besok kira-kira waktu ini Aku akan menyuruh kepadamu seorang laki-laki dari tanah Benyamin; engkau akan mengurapi dia menjadi raja atas umat-Ku Israel dan ia akan menyelamatkan umat-Ku dari tangan orang Filistin. Sebab Aku telah memperhatikan sengsara umat-Ku itu, karena teriakannya telah sampai kepada-Ku.” (1 Samuel 9:16)

saul__annointedTuhan memperhatikan sengsara umat-Nya karena penindasan orang Filistin. Itulah alasan Dia mengangkat Saul menjadi raja. Kembali kita melihat rencana Tuhan yang dinyatakan selalu mengandung aspek belas kasihan Tuhan. Ya, Dia mengangkat seorang raja untuk membangkitkan suatu dinasti hingga Sang Mesias nanti datang. Ya, Dia juga secara khusus mengizinkan Saul menjadi raja meskipun pada akhirnya dia akan menolak Tuhan, sehingga Israel boleh merasakan bahwa dipimpin oleh seorang raja yang bertipe seperti raja bangsa-bangsa lain sangat bertolak belakang dengan maksud Allah bagi Israel untuk digembalakan oleh raja pilihan Tuhan yang sejati.

Saul adalah tipikal raja dunia, bukan sang gembala yang berjiwa menggembalakan umat Tuhan. Tetapi aspek belas kasihan Tuhan kepada umat-Nya tetap tidak akan lenyap dari setiap hal yang Tuhan kerjakan. Mengapa Dia menebus manusia? Untuk menunjukkan kemuliaan-Nya dan belas kasihan-Nya kepada umat tebusan-Nya. Mengapa Dia menghukum orang-orang fasik? Untuk membalaskan kejahatan mereka yang memakan umat Tuhan seperti roti (Mzm. 53:5), sebab Tuhan mengasihani umat-Nya yang tertindas. Demikian juga dengan peralihan periode dari hakim-hakim kepada raja. Tuhan memanggil raja untuk menjadi alat keadilan-Nya dan pemimpin yang akan membebaskan umat-Nya karena Dia memperhatikan sengsara umat-Nya.

Dengan menyadari hal inilah Samuel melakukan beberapa hal kepada Saul. Yang pertama di dalam ayat 25. Samuel berbicara dengan Saul hingga semalaman. Tentunya Samuel ingin tahu seperti apakah sang raja yang dipilih Tuhan ini? Dia tahu betapa beratnya tugas yang akan Tuhan berikan kepada Saul demi kepentingan umat-Nya. Dia harus tahu seperti apakah orang ini, yang akan diurapinya sebentar lagi. Apakah sanggup menjalankan yang Tuhan percayakan? Mungkin juga dia memberikan beberapa nasihat kepada Saul untuk tetap setia kepada Tuhan.

1 Samuel 10:1 adalah peristiwa pengurapan Saul. Peristiwa yang begitu sederhana tetapi sangat mulia. sederhana karena tidak dilakukan di dalam sebuah perayaan besar yang melibatkan seluruh Israel. Mulia karena seorang agung bernama Samuel dan kata-kata yang diucapkannya kepada Saul. Samuel menyebut Israel sebagai umat Tuhan dan sebagai milik Tuhan sendiri. Tuhan ingin membebaskan Israel. Dengan demikian pemilihan atas Saul ini benar-benar sesuatu yang mulia. Tidak seorang pun memberikan hal yang jelek kepada yang dikasihinya. Demikian juga Tuhan memilih seorang raja yang akan sungguh-sungguh diberikan kuasa oleh Tuhan untuk menjalankan takhta Tuhan.

Saul diurapi supaya dia memimpin Israel untuk menaklukkan musuh-musuhnya. Pekerjaan yang sangat berat dan tidak mungkin dilakukan oleh seorang dari daerah yang kecil dan dari keluarga tanpa pengaruh apa-apa di Israel. Apakah makna pengurapan itu? Pengurapan mempunyai makna diperkenan Tuhan (Mzm. 45:8). Pengurapan juga menjadi tanda bahwa dia dikhususkan oleh Tuhan dan kuasa Roh Tuhan akan menyertai orang tersebut untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Baik imam besar maupun raja harus diurapi terlebih dulu sebelum melakukan tugasnya (Kel. 28:41 dan 1Sam. 9:16). Pengurapan memberikan tanda bahwa pekerjaan orang tersebut, baik imam besar maupun raja, adalah sangat mulia, kudus, dan berat, sehingga tanpa ada pencurahan kuasa dari Roh Kudus pekerjaan tersebut tidak akan terlaksana dengan baik. Pengurapan juga menandakan suatu periode yang khusus dalam kehidupan seseorang, yaitu periode dimulainya seseorang menjalani jabatan itu. Itu sebabnya pengurapan yang hanya secara simbolik tidak akan berguna, tetapi pengurapan yang diikuti dengan perubahan hati, itulah pengurapan yang sejati.

Kita lihat bahwa Tuhan mengubah hati Saul menjadi berani. Keberanian ini tadinya tidak ada di dalam diri Saul, tetapi akan menjadi terlihat di dalam 1 Samuel 11:6-8. Tetapi harap kita perhatikan baik-baik. Roh Kudus bekerja memberikan keberanian kepada Saul, memberikan kemampuan, dan juga memberikan karisma kepada Saul. Tetapi Roh Kudus tidak memberikan kasih setia yang kekal kepada Saul seperti yang diberikan kepada Daud dan kepada anaknya (2 Sam 7:15). Tuhan memperlengkapi orang-orang yang dipanggil-Nya untuk melaksanakan apa yang Tuhan percayakan. Tetapi tanpa adanya kasih setia Tuhan, segala hal yang memperlengkapi itu menjadi sia-sia. Sekarang banyak orang Kristen ingin tanda-tanda mujizat dan kesembuhan. Mereka begitu terpukau dengan segala tanda-tanda seperti itu. Ada juga yang mengharapkan Roh Tuhan memberikan fasih lidah, kemampuan khotbah, kemampuan menjadi pemimpin berkarisma, atau kepandaian serta kemampuan untuk mempunyai banyak pengetahuan, bahkan kuasa. Tetapi sebenarnya kasih setia Tuhanlah yang paling penting. Tanpa itu apakah gunanya semua pemberian Roh Kudus yang lain? Tanpa pekerjaan Roh Kudus yang membuat kita ditebus di dalam Kristus, apakah gunanya kesembuhan, kemampuan melakukan mujizat, atau kemampuan melayani dengan berkuasa, dan segala jenis keahlian lainnya? Dikasihi Tuhan jauh lebih berarti daripada dikagumi manusia!

Meskipun Saul bukanlah raja yang akan setia kepada Tuhan, Tuhan tetap berbelas kasihan kepada Israel, Tuhan memberikan segala hal yang diperlukan Saul untuk menjadi seorang raja yang disegani. Semua kelebihan yang Tuhan berikan kepada Saul adalah demi kepentingan umat-Nya, Israel. Tidak ada satu pun kelebihan yang Tuhan berikan kepada seseorang tanpa dimaksudkan untuk dinikmati oleh umat-Nya. Orang yang pintar, yang berjiwa seni tinggi, yang fasih berkhotbah, semua Tuhan bangkitkan demi kepentingan pertumbuhan rohani umat-Nya. Demikian juga Saul diberikan segala semarak dan keagungan demi kepentingan membebaskan Israel dari musuh-musuhnya. Salah satu tanda yang Tuhan izinkan ada pada Saul adalah kemampuan bernubuat (1Sam. 10:10-11). Harap dipahami bahwa nubuat yang dimaksudkan bukanlah bertingkah laku di luar kesadaran, atau trance, yang lebih mirip aktivitas perdukunan daripada pekerjaan Tuhan. Sekali lagi saya katakan, kehilangan kesadaran atau trance adalah kegiatan dukun, bukan pekerjaan Tuhan! Saul bernubuat bersama para nabi. Ini berarti dia memberikan khotbah dengan berani. Menyatakan kebenaran firman dan peringatan bagi umat Tuhan dengan berapi-api. Inilah pengertian bernubuat (lihat misalnya Yeh. 36:6). Maka orang-orang pun heran dan bertanya-tanya, “apakah Saul juga termasuk golongan nabi?” Ini merupakan pertanyaan pujian. Bukan nabi, tapi kok punya kualitas mirip nabi, ya?

Bagian bacaan kita pada hari ini mengingatkan kembali betapa besar kasih Tuhan bagi umat-Nya. Dia memanggil Saul menjadi raja, memberikan kuasa dan keberanian di dalam hatinya, dan bahkan memberikan kemampuan bernubuat seperti seorang nabi. Semua kualitas ini Tuhan berikan kepada Saul karena Dia mengasihi Israel. Meskipun Dia tahu Saul tidak sungguh-sungguh mau mengikut Tuhan, tetapi Dia tetap memberikan segala yang diperlukan Saul untuk menjadi raja yang berani dan berkuasa demi kepentingan seluruh Israel.

Mari kita merenungkan hal berikut:
1.  Apakah Tuhan memberikan kepada kita kemampuan-kemampuan tertentu? Mungkin ada di antara kita yang sangat fasih berbicara di depan umum. Mungkin ada yang mampu mengorganisir segala sesuatu dengan baik. Mungkin ada yang sangat pandai bermain musik. Mungkin ada yang mempunyai kepandaian berpikir lebih tinggi dari orang lain. Ingatlah bahwa semua kelebihan kita menjadi sia-sia kalau kasih setia Tuhan tidak Tuhan curahkan terlebih dahulu. Puji Tuhan karena kasih setia Tuhan melalui pengorbanan Kristus telah lebih dahulu menjadi milik kita. Biarlah kita tidak menjadi sombong karena segala kelebihan yang Tuhan berikan melainkan biarlah kita selalu rendah hati karena sadar bahwa Tuhan sudah memberikan kasih setia-Nya kepada kita yang tidak layak.

2.  Sudahkah segala kemampuan kita itu dipakai sedemikian rupa sehingga umat Tuhan dapat bertumbuh karenanya? Sudahkah kita pergunakan kelebihan kita untuk melayani Tuhan dan membangun sesama? Mengapa hanya pakai kelebihan itu untuk cari popularitas, pujian sia-sia, atau uang? Tuhan mengasihi umat-Nya dan kelebihan kita adalah salah satu pemberian Tuhan bagi gereja-Nya. Berikanlah kepada gereja Tuhan apa yang Tuhan mau berikan melalui kelebihan-kelebihan kita! (JP)

(Sumber: Reforming Heart – Saul Diurapi)

Yehu yang “Setengah Taat”

Lalu bangkitlah Yehu dan masuk ke dalam rumah. Nabi muda itu menuang minyak ke atas kepala Yehu serta berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Telah Kuurapi engkau menjadi raja atas umat TUHAN, yaitu orang Israel. Maka engkau akan membunuh keluarga tuanmu Ahab dan dengan demikian Aku membalaskan kepada Izebel darah hamba-hamba-Ku, nabi-nabi itu, bahkan darah semua hamba TUHAN. Dan segenap keluarga Ahab akan binasa; dan Aku akan melenyapkan dari pada Ahab setiap orang laki-laki, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel. Dan Aku akan memperlakukan keluarga Ahab sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan sama seperti keluarga Baesa bin Ahia. Izebel akan dimakan anjing di kebun di luar Yizreel dengan tidak ada orang yang menguburkannya.” Kemudian nabi itu membuka pintu, lalu lari. (2 Raj 9:6-10)

Raja Ahab telah menyebabkan Israel berdosa. Sehingga akhirnya Allah mendatangkan hukuman kepada seluruh keturunan Ahab. Untuk mengerjakan tugas ini, Allah memilih Yehu untuk melakukannya.

Setelah Yehu menjadi raja, Ia melakukan apa yang Allah perintahkan kepadanya. Ia membunuh semua keluarga Ahab, sesuai dengan apa yang Ia telah nubuatkan. Lebih dari itu, Yehu juga menghapusnya penyembahan dewa Baal di Israel dengan cara mengumpulkan seluruh nabi dan penyembah Baal dan menumpas mereka semua. (1 Raj 10:18-28)

Demikianlah Yehu memunahkan Baal dari Israel. Hanya, Yehu tidak menjauh dari dosa-dosa Yerobeam bin Nebat, yang mengakibatkan orang Israel berdosa pula, yakni dosa penyembahan anak-anak lembu emas yang di Betel dan yang di Dan.
Berfirmanlah TUHAN kepada Yehu: “Oleh karena engkau telah berbuat baik dengan melakukan apa yang benar di mata-Ku, dan telah berbuat kepada keluarga Ahab tepat seperti yang dikehendaki hati-Ku, maka anak-anakmu akan duduk di atas takhta Israel sampai keturunan yang keempat.” Tetapi Yehu tidak tetap hidup menurut hukum TUHAN, Allah Israel, dengan segenap hatinya; ia tidak menjauh dari dosa-dosa Yerobeam yang mengakibatkan orang Israel berdosa pula. Pada zaman itu mulailah TUHAN menggunting daerah Israel, sebab Hazael mengalahkan mereka di seluruh daerah Israel di sebelah timur sungai Yordan dengan merebut seluruh tanah Gilead, tanah orang Gad, orang Ruben dan orang Manasye, mulai dari Aroer yang di tepi sungai Arnon, baik Gilead maupun Basan. (2 Raj 10:29-33)

Walau Yehu taat menjalankan perintah Allah, Yehu tidak menjauh dari dosa Yerobeam, yaitu menyembah anak lembu emas. Penyembahan terhadap anak lembu emas adalah agama yang dicipkatan Yerobeam, raja Israel atas dasar ketakutannya yang kuatir kalau rakyatnya membelot ke kerajaaan Yehuda, karena mereka harus beribadah ke Yerusalem (1 Raj 12:25-33).

Yehu, dengan tegasnya membasmi seluruh penyembah Baal, tapi saat berhadapan dengan penyembah lembu emas, Ia tetap membuarkannya, karena dengan melarang penyembahan lembu emas, kembali kepada ajaran taurat, berarti orang Israel harus kembali beribadah di Yerusalem (tempat dimana bait Allah berada). Selalu ada kekuatiran kalau rakyatnya akan mencondongkan hatinya kepada kerajaan Yehuda. Oleh sebab itu, Yehu tetap membiarkan Israel menyembah anak lembu emas.

Ini dipandang jahat di hadapan Allah, tapi tetap berkemurahan terhadap Yehu, bahkan meneguhkan dinasti kerajaannya sampai 4 generasi berikutnya. Hal penting yang kita belajar dari hal ini adalah Tuhan beranugrah kepada kita, bukan berarti kita itu berkenan di hadapan Dia.

Saat orang mendapat berkat, banyak orang yang ge-er, berpikir Tuhan berkenan dengan apa yang saya kerjakan, Tuhan berkenan dengan hidup saya, … walau saya adalah manusia yang masih banyak ditandai dengan kekurangan. Diberkati, itu baik! Rendah hati, menyadari kekurangan kita, itu adalah sesuatu yang sangat bait. Tapi, sadar akan kekurangan diri tapi kurang serius dalam pergumulan untuk lepas dari apa yang menjadi kelemahan, itupun salah.

Maka, pada ayat selanjutnya diceritakan bahwa Allah, mulai mengurangi daerah Israel. Sadarkah Yehu bahwa itu terjadi karena sikapnya yang tidak sepenuh hati mengikut Allah?

Pertanyaan serupa, seharusnya ditanyakan kepada kita. Penderitaan memang tidak selalu identik dengan dosa, tapi tidak bisa dipungkiri, kadang Allah pun menggunakan penderitaan dan pukulan untuk menegur kita dari perbuatan dosa kita. Ada kalanya Allah menahan berkat-Nya, karena pengikutan kita yang masih setengah-setengah. Ada kalanya Allah mengambil apa yang ada pada kita, untuk menegur dan menyadarkan kita kepada pergumulan terhadap dosa yang kurang serius, kepada pergumulan terhada dosa yang sudah mulai kita anggap biasa.