Iman vs Keinginan

Sebut saja, ada suatu hal yang begitu kita yakin untuk kita lakukan. Baik itu dalam hal memilih pekerjaan, membeli suatu barang, pergi ke suatu tempat, memilih paca tr atau mungkin juga memutuskan pacar. Saat itu mungkin kita berdoa. Dan biasanya kita justru berdoa disaat waktunya sudah mepet. Sehingga kitapun merasa butuh jawaban Tuhan secepatnya.

Tentunya Tuhan tidak akan berbicara menggunakan loudspeaker dari surga dan menjawab dengan suaraNya yang lantang. Sesuatu yang diajarkan kepada kita sejak dulu adalah, Tuhan menjawab lewat tanda. Berbicara lewat orang-orang disekitar kita, lewat berbagai hal yang terjadi, lewat FirmatNya, lewat hati kita, sehingga kita boleh diyakinkan akan segala pertanyaan yang dalam pergumulan kita.

Saat kita boleh merasa diyakinkan akan suatu jawaban, bagaimana kita bisa tahu kalau itu sungguh adalah jawabanNya. Bagaimana ita tahu kalau itu bukan manifestasi kengininan kita yang begitu mempengaruhi perasaan kita sehingga mendorong nalar pikiran kita untuk berkata Ya! ?

Sungguhpun, saya menemukan suatu batasan tipis antara jawaban Tuhan dengan kengininan (hal serupa juga yang saya alami saat ini). Saya tidak ingin menjadi seseorang yang mudah menyerah, tapi saya pun tidak ingin memaksakan kehendak saya yang bukan menjadi rencanaNya.

Bila dihadapkan kepada situasi seperti ini, kadang pilihan sederhana pun menjadi sulit. But now, I choose go move on.

Saya akan berusaha menggapai apa yang saya yakini (atau mungkin apa yang saya ingini), tanpa melakukan suatu hal yang berlebihan. Dengan demikian saya memberi tempat kepadaNya untuk ikut campur tangan, memberi pimpinan dalam setiap keputusan. Bila sesuatu yang kurang beruntung terjadi yang menghalangi kita tuntuk terus maju, anggap saja sebagai stop dari Dia. Not this way! Be patient!

Saat Tuhan menjawab doamu, Ia menambah imanmu.
Saat Tuhan belum menjawab doamu, Ia menambahkan kesabaranmu.
Saat Tuhan menjawab TIDAK untuk doamu, Ia tawarkan yang TERBAIK.