Bersaat Teduh

Seorang Kristen, harus punya waktu saat teduh. Tapi, kenapa?

Hanya sebuah pemikiran yang saya renungkan pagi ini. Mengapa saya harus bersaat teduh? Apakah karena kewajiban? Takut Tuhan marah? Menyenangkan hati Tuhan? Membina relasi dengan Allah? Atau mungkin menjadikan ini sebagai kesempatan untuk saya bisa berdoa dan meminta sesuatu kepada Tuhan? Sepenting itukah saat teduh sehingga saya harus belajar untuk bisa melakukannya secara konsisten?

Atau, jangan-jangan secara tidak sadar kita telah menjadikannya sebagai means to gain God’s favor (sarana untuk mendapatkan perkenanan Allah).  Mendekatkan diri kepada Allah supaya saya bisa meminta ampunan atas dosa kesalahan yang saya lakukan hari ini? Atau mungkin cuma karena saya orang Kristen, saya memang harus lakukan ini.

The only person who dares wake up a king at 3:00AM for a glass of water is a child. We have that kind of access. -- Tim KellerSatu hal yang sadari hari ini. Saat teduh seharusnya menjadi saat pembelajaran untuk kita menikmati persekutuan kita dengan Tuhan lewat doa dan Firman-Nya. Semakin menikmati, sehingga waktu saat teduh menjadi waktu yang paling dinantikan setiap harinya dan kita pun akan mempersiapkan waktu terbaik untuk bisa berdoa dan baca Alkitab, dan melihat kesempatan waktu saat teduh itu sebagai keuntungan besar.

Iklan

Teroris: Rela mematikan diri demi mematikan orang lain.

Kristen: Rela mematikan diri demi menghidupkan orang lain

Martin Luther dan Setan

Luther banyak membahas tentang setan, tapi banyak ahli yang menganggap bahwa ini adalah sisa-sisa abad pertengahan yang harus disingkirkan dari pemikiran Luther. Tapi Heiko Oberman, seorang ahli sejarah menyatakan bahwa ini bukan masalah abad pertengahan yang kuno, tapi Luther justru membagikan suatu hal yang penting bagi jaman sekarang. Ini mungkin warisan dari Luther yang harus kita pahami lalu kita gumulkan dan renungkan. supaya jangan kita menjadi orang Kristen yang sudah dihantam modernisme dan menjadi skeptik akan apapun, tentang Tuhan, tentang Kristus dan tentang kuasa gelap.

Ada beberapa poin yang disimpulkan Oberman mengenai pemikiran Luther tentang setan.

Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.
Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara. — Efesus 6:10-20 (TB)

Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu. Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa. Lalu ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu. Tetapi bumi datang menolong perempuan itu. Ia membuka mulutnya, dan menelan sungai yang disemburkan naga itu dari mulutnya. Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus. — Wahyu 12:13-17 (TB)

Oberman menyelidiki bahwa apa yang luther katakan bukanlah dongeng abad pertengahan, tapi adalah apa yang yang Alkitab katakan tentang si setan itu. Dan Luther sangat percaya bahwa kita harus tahu siapa musuh kita itu karena kalau tidak, kita tidak akan pernah benar-benar mengerti bagaimana bergumul di tengah dunia ini. Lanjutkan membaca Martin Luther dan Setan

Kitab Wahyu X Avengers: Infinity War

Kalau ada orang bertanya: “Film Avengers: Infinity War, rame ga?”
Saya akan balik bertanya: “kamu nonton 18 film sebelumnya ga?”

Ya, Avengers: Infinity War (AIW) adalah film action yang cukup fenomenal dan spektakuler, tapi ia cuma salah satu bagian dalam satu narasi besar Infinity War yang dimulai sejak 10 tahun lalu. Ada 18 film mendahului cerita AIW ini, sehingga orang yang menonton AIW tanpa mengikuti keseluruhan ceritanya dari awal, akan menemukan AIW sebagai film dar-der-dor yang wah tapi dengan alur cerita yang ga jelas dan ending yang ngegantung.

AIW sebagai bagian dari Marvel Cinematic Universe (MCU)

Membuat character development pada suatu film, memiliki tantangan tersendiri. Oleh sebab itu, pada umumnya film akan menampilkan tidak lebih dari 5-6 tokoh utama. Lebih dari itu, pada umumnya penonton akan cukup kesulitan mendalami masing-masing karakter. Disinilah keistimewaan AIW, AIW memiliki lebih dari 70 tokoh dan hampir semuanya memiliki character development di 18 film sebelumnya. Karakter Tony Stark (Ironman) memiliki 6 film untuk character development, Steve Rogers (Captain America) 5 film, Thor 5 film, Doctor Strange 1 film, Guardian Galaxy 2 film, Black Panther 2 film, Spiderman 1 film (belum termasuk 5 film Spiderman sebelumnya), Hulk 1 film (diperankan oleh Edward Norton). Sehingga, ketika semuanya muncul dalam satu film, penonton — yang memang mengikuti cerita ini sejak awal — telah mengenal masing-masing tokoh ini secara mendalam, penonton akan mengenali setiap konteks dialog dan tindakan masing-masing tokoh dalam relasinya dengan film-film sebelumnya. Ketika kata tesseract disebut, kita akan teringat kepada seluruh cerita Captain America: First Avengers dan Avengers (1); ketika Tony Stark mengatakan “… since New York …” penonton akan diingatkan dengan kejadian invasi di Avengers (1); Ketika Doctor Strange memperkenalkan dirinya kepada Spiderman sebagai “Doctor Strange”, bagi penonton yang belum pernah menonton “Doctor Strange” akan mendapati joke itu terasa kurang lucu 🙂 . Walau penonton awam mungkin bisa waw dengan VFX yang disajikan film ini, mereka tidak akan pernah benar-benar mengerti dan menikmati film ini. Kita tidak akan pernah bisa menikmati AIW terlepas dari bagian-bagian sebelumnya. Kita tidak bisa mengerti AIW jika kita tidak melihatnya sebagai bagian dari narasi lengkap cerita Infinity War.

Membaca Kitab Wahyu

Kalau saya mau umpamakan, menonton AIW itu mirip membaca kitab Wahyu. Kitab Wahyu itu sendiri bukan bagian terpisah, ia adalah salah satu bagian dari narasi besar Alkitab yang menceritakan penciptaan, kejatuhan, penebusan, pemuliaan manusia, dengan Kristus sebagai salah satu tokoh utama dalam kisah itu. Perjanjian Lama (PL) memberikan narasi sejarah yang mempersiapkan kedatangan Kristus, Perjanjian Baru (PB) menceritakan Kristus yang menebus umat-Nya dan diakhir dengan kisah kedatangan-Nya yang kedua — kisah kemenangan-Nya —  yang ditulis di dalam kitab Wahyu.

Kitab Wahyu menjadi kisah end game, seperti AIW bagi Infinity War, demikian juga kitab Wahyu bagi Alkitab. Saya tidak berbicara mengenai perbandingan isi film AIW dengan Alkitab atau mengatakan kalau baca Alkitab itu sama dengan nonton film, tapi yang sama maksudkan adalah — sama seperti nonton AIW — kita tidak mungkin menikmati dan mengerti kitab Wahyu jika kita tidak mengikuti pembacaan 65 kitab sebelumnya. Ketika di kitab Wahyu bercerita tentang “Anak Domba” kita akan diingatkan kepada Kristus sebagai penggenapan anak domba yang dijanjikan dan digambarkan dalam korban Paskah, “tunas Daud telah menang…” mengingatkan kepada Allah yang setia memelihara janji-Nya. Jika kita membaca Wahyu terlepas dari bagian sebelumnya, kita akan menemukan banyak gambaran yang aneh, seperti “binatang bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh…” jika dilepaskan dari konteks sejarah Alkitab akan dimengerti sebagai mahluk mistik super aneh, “tanda 666” akan dikorelasikan dengan chip antikris.

Tentu saja, bukan artinya kalau sudah membaca keseluruhan Alkitab, artinya kita akan langsung bisa mengerti setiap bagian dari kitab Wahyu. Untuk mengerti kitab Wahyu tentu perlu pergumulan dan tuntunan Roh Kudus untuk kita bisa mengerti setiap pesan yang disampaikan di dalamnya. Tapi yang saya ingin sampaikan adalah jangan sampai kita membaca kitab Wahyu terlepas dari 65 kitab sebelumnya dan mencampurkannya dengan fantasi spektakuler yang mitos-mitos dan film-film populer.

Relevansi Dengan Kehidupan Nyata

Setiap nonton film superhero, untuk tokoh yang kita kagumi, kita akan mengidentikan diri kita dengan tokoh tersebut. Tapi, kalau bagaimana pun juga, mereka tetap adalah tokoh fiktif. Tapi, berbeda dengan Alkitab. Alkitab adalah kisah yang sangat relevan dengan hidup kita. Alkitab memberitahukan kepada kita, siapa yang mencipta kita, mengapa kita dicipta, kehancuran manusia karena dosa, rencana penebusan yang di rancangkan Sang Pencipta, pergumulan Tuhan umat-Nya dalam menyatakan rencana-Nya di dunia yang sudah tercemar dosa, dan … pada akhirnya, dalam kitab Wahyu kisah ini ditutup dengan suatu kisah kemenangan dan pemulihan ciptaan.

Tanpa mengerti kemalangan manusia akibat dosa, kita tidak akan mengerti besarnya anugerah keselamatan yang kita terima. Tanpa memiliki pergumulan yang sama dengan umat Tuhan, membaca kitab Wahyu akan memberikan kesan  menakutkan penuh siksaan dan kegentaran penghakiman Allah. Tapi bagi orang percaya turut menanggung pergumulan yang sama dengan umat Tuhan lain dalam menyatakan pekerjaan-Nya di bumi ini dan yang sama-sama menanti kedatangan-Nya, membaca kitab Wahyu akan mencari suatu penghiburan. Kitab Wahyu adalah happy ending yang sejati dimana Kristus, sang tokoh utama dalam kisah Alkitab menang — berbeda dengan AIW, ia adalah kisah fiktif yang tidak memiliki relevansi dengan kehidupan nyata kita — dan kemenangan itu menjadi sungguh-sungguh menjadi pengharapan kita juga. Karena kita percaya, setiap orang yang menerima Dia sebagai Tuhan dan Raja akan berbagian dalam kemenangan itu (amin).