Spiritualitas yang Egois

Kalau saya berjuang mengejar kerohanian supaya masuk surga, berarti pusat daripada kepentingan kerohanian saya adalah untuk diri … Setiap yang orang jadi Kristen hanya demi untuk masuk surga, pasti ke neraka.

Membaca kembali catatan khotbah Pdt. Sucipto, dalam seminar Altruistic Spiritualism, membuat saya kembali merenungkan motivasi daripada kehidupan rohani saya. Saya meluangkan waktu untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan di gereja, belajar mendisiplin diri untuk memiliki waktu doa dan membaca alkitab setiap hari, menyisihkan sebagian uang untuk pekerjaan Tuhan, belajar menyangkal diri dari keinginan-keinginan yang jahat, … untuk apakah? Untuk masuk surga kah? Saya teringat dengan salah satu lirik dalam lagu oleh Ahmad Dhani,

Apakah kita semua, benar-benar tulus menyambah padaNya? Atau mungkin kita hanya, takut pada neraka, dan inginkan surga

Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadaNya? Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau, menyebut namaNya? Bisakah kita semua benar-benar sujud, sepenuh hati? Karena sungguh memang Dia, memang pantas disembah, memang pantas dipuja.

Saat orang mengabarkan injil, berita tentang keselamatan memang menjadi salah satu tema yang disampaikan. Yesus satu-satunya jalan keselamatan, hanya melalui iman kepada-Nya, kita beroleh selamat  – Itu memang benar, tapi kehidupan orang Kristen yang sudah menerima Kristus dan bertobat, pengertiannya akan imannya tidak boleh berhenti pada surga dan neraka saja.

Semakin kita belajar dari Alkitab, melalui pimpinan Roh Kudus, maka kita akan beroleh pengertian lebih mendalam tentang siapa Allah yang kita sembah, apa yang Ia telah lakukan. Melalui kesaksian Alkitab, kita mengerti bahwa Allah adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi, Allah yang maha kuasa, Allah yang adil, Allah yang menyatakan keadilan-Nya dengan cara yang mengerikan. Sehingga memang seharusnya kita memiliki kegentaran kepada-Nya. Tapi, semakin kita membaca, semakin juga kita melihat bahwa Allah yang adil adalah Allah yang menunjukkan kasih-Nya dengan cara jauh melampaui pengertian kita. Dengan demikian, semakin seseorang bertumbuh hidup rohaninya, ia percaya kepada Allah, melakukan perintah-Nya bukan semata-mata takut pada neraka, dan inginkan surga,  tapi ada kasih yang kudus kepada Sang Pencipta yang menjadi pendorong untuk melakukan segala hal sulit, hanya untuk memperkenankan hati-Nya.

Seorang ibu, memberikan larangan kepada anaknya, demi kebaikan anak itu sendiri. Bagi seorang anak yang sikap ibunya itu mungkin dianggap sebagai sikap galak, atau bahkan mungkin dipikir jahat. Tetapi semakin seorang anak memiliki pengertian, semakin ia mengerti bahwa apa yang dilakukan ibunya itu adalah sesuatu yang baik. Dari sana, anak itu mulai mengasihi ibunya, belajar menghormati ibunya walaupun kadang ada hal-hal yang sulit diterima, dan belajar taat. Ia semakin anak itu bertambah besar, ia tidak lagi melakukan perintah ibunya karena takut dihukum, tapi karena ia sadar bahwa ibunya adalah seorang sosok yang patut menerima hormat dan kasih sayangnya. The happy life is this - to rejoice to thee, in thee, and for thee

Seumpama itu pula hubungan kita dengan Allah. Adakah kita beribadah karena takut neraka? Adakah kita beribadah supaya masuk surga? Mari kita renungkan sikap ibadah kita! Memang iman Kristen memberikan jaminan keselamatan, tapi kalau pengertian kita hanya sebatas surga dan neraka, maka kita melewatkan anugerah besar yang ditawarkan iman Kristen. Kalau pengertian kita hanya sebatas surga dan neraka, maka kita menjalani hidup kita penuh dengan ketakutan. Ibadah untuk memperoleh hadiah masuk surga adalah hidup rohani yang egois. Dari iman yang kita beroleh daripada-Nya, mari kita kerjakan itu. Pertumbuhan rohani tidak muncul dengan tiba-tiba, tapi dengan usaha, ketekunan dan penyangkalan diri. Dan dalam segala apa yang kita lakukan untuk mencapai semuanya itu, senantiasa ingat untuk bersandar kepada kuasa dan pertolongan-Nya. Hanya dengan cara demikian, kita beroleh hidup rohani yang semakin bertumbuh dihadapan-Nya.

Apakah tujuan akhir manusia? Jawab: Tujuan akhir manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati (persekutuan dengan) -Nya selama-lamanya. Westminster Shorter Catechism #1

“Guru yang Baik … “

Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.
(Luk 18:18-19)

Seorang muda, seorang pemimpin datang bertanya kepada Yesus dengan kalimat pembuat “guru yang baik …”. Sebelum Yesus menjawab pertanyaannya, Ia memberikan koreksi kepada sebutan itu. Karena dengan ia menyebut Yesus sebagai guru yang baik, menunjukkan ada suatu pemahaman yang salah tentang apa itu baik.

Tidak ada manusia dan bahkan malaikat yang layak menerima sebutan baik, karena baik manusia maupun malaikat tidak memiliki sedikit pun kebaikan dalam dirinya selain dari kebaikan yang dipinjam dari Allah yang adalah sumber kebaikan itu. Dengan demikian, untuk mengatakan bahwa Yesus itu baik, ia juga harus mengakui bahwa Yesus berasal dari Allah. (Calvin Commentary on Mat 19:17).