Seminar 500 Tahun Disputasi Heidelberg: Salib & Kemuliaan

500 tahun yang lalu Martin Luther mengeluarkan tesis-tesis di Heidelberg yang sangat penting tentang salib sebagai identitas Kristen.

Gereja saat ini perlu disegarkan kembali tentang hal ini, sehingga apa yang menjadi kemuliaannya adalah satu dengan apa yang menjadi kemuliaan Kristus, yaitu salib.

Dalam rangka mengingat kembali moment 500 tahun disputasi Heidelberg, hadiri seminar dengan tema Salib & Kemuliaan:

Pembicara:
Pdt. Billy Kristanto, Ph.D., Th.D.
Pdt. Lay Hendra Wijaya, M.Th.
Pdt. Jimmy Pardede, M.Th.

Waktu & Tempat:
Sabtu, 28 April 2018. Pk. 15.00-19.00 WIB
PASKAL HYPERSQURE C35-37
Bandung

Informasi, hubungi:
022-86060699, 081311200969, 085105071880(WA)

Pendaftaran Online:
https://reformedinjilibandung.com

Iklan

Hati yang takut akan Tuhan

Hati yang takut dan gentar akan menjadikan kita orang yang semakin rendah hati, hormat, dan taat akan pempinan-Nya, bertanggung jawab dalam segala sesuatu kepada-Nya. Seperti Daud yang sudah belajar dari para pendahulunya, kita pun akan belajar dari para pendahulu kita.

Billy Kristanto – Ajarlah Kami Bergumul

Roma 1:18-32

Dari surga Allah menunjukkan murka-Nya terhadap semua dosa dan kejahatan manusia, sebab kejahatan menghalangi manusia untuk mengenal ajaran yang benar tentang Allah. Sebenarnya, apa yang dapat diketahui manusia tentang Allah sudah jelas di dalam hati nurani manusia, sebab Allah sendiri sudah menyatakan itu kepada manusia. Semenjak Allah menciptakan dunia, sifat-sifat Allah dalam keadaan-Nya sebagai Allah dan kuasa-Nya yang abadi, sudah dapat difahami oleh manusia melalui semua yang telah diciptakan. Jadi manusia sama sekali tidak punya alasan untuk membenarkan diri. Manusia mengenal Allah, tetapi manusia tidak menghormati Dia sebagai Allah dan tidak tahu berterima kasih. Sebaliknya manusia memikirkan hal yang sia-sia; hati mereka sudah menjadi gelap. Mereka merasa diri bijaksana, padahal mereka bodoh. Bukannya mereka menyembah Allah yang abadi, melainkan patung-patung yang menyerupai makhluk yang bisa mati, yaitu: manusia, burung, binatang yang berkaki empat, dan binatang yang melata. Oleh sebab itu Allah membiarkan mereka dikuasai oleh keinginan hati mereka untuk berbuat yang bejat, sehingga mereka melakukan hal-hal yang kotor terhadap sama. Mereka mengganti Allah yang benar dengan sesuatu yang palsu. Bukan Pencipta melainkan ciptaan, itulah justru yang disembah dan dilayani oleh mereka. Padahal yang menciptakan itulah yang seharusnya dipuji selama-lamanya! Amin.
Karena manusia berbuat yang demikian, maka Allah membiarkan mereka menuruti nafsu mereka yang hina. Wanita-wanita mereka tidak lagi tertarik kepada laki-laki seperti yang lazimnya pada manusia, melainkan tertarik kepada sesama wanita. Begitu juga dengan para lelaki. Mereka tidak lagi mengadakan hubungan yang wajar dengan wanita, melainkan berahi terhadap sesama lelaki. Laki-laki melakukan perbuatan yang memalukan terhadap sesama laki-laki. Mereka akan menerima pembalasan yang setimpal dengan perbuatan mereka yang jahat itu. Oleh sebab manusia tidak merasa perlu mengenal Allah, maka Allah membiarkan pikiran mereka menjadi rusak, sehingga mereka melakukan hal-hal yang mereka tidak boleh lakukan. Hati mereka penuh dengan semua yang jahat dan tidak benar; penuh dengan keserakahan, kebusukan dan kedengkian; penuh dengan keinginan untuk membunuh, berkelahi, menipu dan dendam. Mereka suka membicarakan orang lain, suka menjelek-jelekan nama orang lain; mereka sombong dan kurang ajar, mereka benci kepada Allah dan suka membual. Mereka pandai mencari cara-cara baru dalam melakukan kejahatan. Mereka melawan orang tua; mereka tidak mau mengerti orang lain; mereka tidak setia dan tidak berperikemanusiaan. Mereka tahu, bahwa menurut hukum Allah, orang yang melakukan semuanya itu patut dihukum mati. Tapi, meskipun demikian mereka tetap melakukannya juga; dan malah menyetujui pula orang lain melakukannya.

Disadur dari Roma 1:18-32

Menerima diri

Daud tidak membuang masa lalunya karena tidak sanggup lagi menghadapinya, melainkan dia berhasil meletakkan masa lalu itu dalam perspektif yang benar. Inilah orang yang jelas akan  identitas dirinya sendiri, yang mengenal diri dengan benar, yang mampu menerima diri sendiri beserta seluruh pengalaman masa lalunya. Masa lalu kita memang tidak mungkin diubah, namun Allah sanggup membuatnya menjadi memori, membentuk, bukan hanya sekadar kenangan indah, melainkan menjadi iman dan kasih kita kepada Tuhan

Billy Kristanto – Ajarlah Kami Bergumul

Kekuatiran

Kekuatiran adalah pikiran yang hadir dalam benak kita sebelum kenyataan yang sesungguhnya hadir dalam benak kita sebelum kenyataan yang sesungguhnya terjadi. Dan celakanya pikiran itu menampakkan diri seolah ia adalah menyempitkan kelimpahan hidup kita, karena di situ kita sudah menempatkan diri ke dalam apa yang belum terjadi, masa kini disempitkan oleh kekuatiran masa depan.

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” – Matius 6:34

sumber: Billy Kristanto – Ajarlah Kami Bergumul