Hukum Kelima: Hormatilah Ayahmu dan Ibumu

Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. (Kel 20:12)

parentsBagi orang percaya, menghormati orang tua, bukan sekedar tradisi, etika atau norma sosial. Bagi orang percaya, menghormati orang tua adalah salah satu bagian dari perintah yang Tuhan berikan kepada manusia. Saat perintah ini diberikan dalam taurat, perintah ini disertai juga dengan janji: “supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN …”.

Satu hal penting yang kita perlu pahami dari janji ini adalah menghormati orang tua bukanlah tips untuk panjang umur. Perkataan “lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN” menunjuk pada penyertaan TUHAN. Seperti halnya janji TUHAN untuk “…memberikan negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu…” (Kel 33:3), poin pentingnya bukan pada susu dan madu-nya, tapi pada kelimpahan berkat yang TUHAN janjikan.

Hukum Taurat adalah hal yang sangat penting untuk orang Israel pahami dan lakukan. Musa, pada khotbah terakhir sebelum ia berpisah dengan Israel, Ia memberikan memberikan penekanan penting agar Israel boleh sungguh-sungguh hidup sebagai umat-Nya, supaya Israel pun boleh merasakan damai sejahtera ditempat yang TUHAN telah berikan sebagai orang merdeka.

Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. (Ul 6:1-7)

Dalam pembahasan mengenai hormat kepada orang tua, perintah hormat kepada orang tua selalu dikaitkan dengan perintah kepada orang tua untuk mengajar. Generasi orang-orang yang keluar dari Mesir sadar diri mereka adalah budak dan TUHAN membebaskan mereka keluar dari Mesir. Generasi ini mendapatkan kesempatan melihat kuasa TUHAN dinyatakan. Generasi ini mendapatkan kesempatan melihat tanda besar bahwa TUHAN yang membawa mereka keluar dari Mesir adalah TUHAN yang nyata dan berkuasa, berbeda dengan dewa-dewa yang mereka kenal di Mesir. Tapi, bagaimana dengan generasi berikutnya? Generasi anak-anak mereka, generasi cucu mereka pun tidak boleh sampai melupakan ini. Mereka harus senantiasa mengingat bahwa dulu mereka adalah bangsa budak; TUHAN telah memilih Israel menjadi umat-Nya; hanya oleh anugerah mereka dibebaskan; TUHAN yang Israel sembah adalah TUHAN semesta alam; dan tugas untuk menyaksikan ini diberikan kepada orang tua untuk diajarkan kepada anak-anaknya.

Dengan demikian, para orang tua harus sadar. Saat orang tua mengajar anak-anak mereka untuk menghormati orang tua, setiap mereka juga harus ingat bahwa hak untuk mendapatkan hormat dari anak disertai juga kewajiban untuk mengajarkan mereka untuk melakukan perintah Tuhan, dan mengajarkan mereka untuk memiliki rasa takut akan TUHAN.

Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Ef 6:1-4)

Dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, didalamnya terdapat nasihat terkait dengan kehidupan keluarga. Ef 6:1-4, adalah bagian nasihat kepada anak-anak dan orang tua. Tapi, pada bagian sebelumnya (Ef 5:22-27), rasul Paulus menuliskan nasihat bagi hidup dari pada ayah dan ibu (suami istri). Hidup orang tua sebagai suami istri harus menjadi hidup yang menjadi panutan bagi anak-anaknya.

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
(Eph 5:22-27)

Dalam hal relasi antara ayah dan ibu, harus bisa menjadi contoh yang baik. Seorang istri harus menjadi contoh hidup dalam kebertundukan kepada otoritas kepala keluarga. Disisi lain, seorang suami harus mengasihi istrinya, … bukan dengan sekedar kebaikan, kesetiaan dan cinta kasih … tapi dikatakan bahwa suami harus mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya. Seperti apakah Kristus mengasihi jemaat-Nya? Kristus mengasihi jemaat-Nya sampai Dia mengorbankan diri-Nya sendiri. Kristus menyucikan jemaat-Nya dengan air dan firman, supaya jemaat-Nya boleh dinyatakan kudus dihadapan Bapa. Sesungguhnya, hanya orang tua yang seperti ini, yang layak menuntut hormat dari anak-anaknya.

Hai para orang tua, ingatkanlah hal ini! Saat engkau mendengar perintah hormati ayah-ibumu bagi anak-anakmu, ingatlah bahwa dibaliknya ada tanggung jawab besar yang diemban para orang tua untuk hidup sungguh-sungguh menjadi panutan bagi anak-anaknya; tanggung jawab untuk mengajar jalan kebenaran kepada anak-anaknya; tanggung jawab untuk membimbing anak-anaknya untuk hidup kudus bagi TUHAN.

Anak-anak! bersyukur jikalau kalian memiliki orang tua yang mengajarkan kalian untuk taat beribadah, orang tua yang marah dengan perbuatan dosamu, orang tua yang mengajarkamu untuk takut kepada TUHAN. Sebagai orang muda, seringkali muncul pemikiran “saya benar, papa/mama salah”. Selisih pendapat akan selalu ada, tapi dalam keadaan demikian, ingat! hormatilah orang tua mu. Kadang engkau menemui pemikiran orang tua yang salah, kadang engkau menemui pemikiran saya salah (tapi tidak sadar salah), kadang engkau menemui tidak tahu mana yang benar, kadang engkau menemui orang tua yang benar tapi kita tidak suka dengan caranya menegur. Dalam keadaan itu, firman Tuhan mengingatkan hormatilah ayahmu dan ibumu. Dalam keadaan berselisih pendapat, engkau harus belajar memberi hormat kepada orang tua. Belajar menyatakan ketidaksependapatan dengan cara yang bijak, supaya jangan walaupun engkau benar, tapi karena sikapmu yang menjadi sandungan bagi ayah/ibumu. Orang tuamu tidak selalu benar, orang tuamu mungkin salah, tapi ingat engkaupun tidak selalu benar, engkaupun mungkin salah.

Iklan

Saul: Hati Nurani yang Tumpul

saul-sacrificeSaul tidak setia kepada Tuhan, tetapi perhatikan cara Tuhan memberkati Israel. Dalam ayat 47 dan 48 dicatat bagaimana Saul menaklukkan enam bangsa yang menjadi musuh Israel. Tidak pernah ada satu pun hakim Israel yang pernah melakukan itu. Tidak ada yang tercatat pernah menaklukkan lebih dari dua bangsa. Sebelum Saul, hanya Yosua yang pernah memimpin Israel menaklukkan lebih banyak bangsa ketika Israel masuk ke Kanaan. Jadi bagaimana? Apakah ini berarti Saul tetap diberkati walaupun dia tidak setia kepada Tuhan? Apakah keberdosaan Saul tidak memengaruhi keinginan Tuhan untuk menyertai dan memberkati dia? Harap kita jangan salah membacanya. Bukan Saul yang menjadi alasan penyertaan Tuhan dalam segala kemenangan yang dipimpinnya sebagai raja, tetapi Israellah yang menjadi alasan.

Tuhan mengasihi Israel dan ingin membebaskan mereka dari tangan bangsa-bangsa sekeliling mereka (1 Sam. 9:16). Tuhan mengasihi umat-Nya, dan itulah alasan Tuhan masih memimpin mereka dalam kemenangan demi kemenangan di bawah pimpinan Saul. Kadang pelayan Tuhan bisa salah melihat siapakah yang Tuhan jadikan fokus perhatian-Nya. Sang pelayan merasa Tuhan tetap pimpin meskipun dia sudah jatuh ke dalam dosa. Tetapi bukan dialah alasan Tuhan memberikan pimpinan-Nya. Kalau Tuhan masih memimpin, maka itu disebabkan oleh karena kasih-Nya kepada umat-Nya. Jika seorang raja diberikan kemenangan dalam berperang, atau seorang nabi diberikan kefasihan berbicara, semua karena kasih-Nya bagi umat-Nya. Setiap pelayanan yang diberkati adalah karena umat Tuhan dikasihani oleh Tuhan. Demikian juga Saul. Dia menaklukkan Moab, Amon, Edom, Zoba, Filistin, dan Amalek. Mengapa Tuhan memberikan setidaknya enam kemenangan penting kepada Saul? Karena Tuhan ingin membebaskan umat-Nya. Israellah yang Tuhan kasihi, bukan Saul.

Betapa berbahayanya jika kita berada dalam dosa-dosa kita dan kita tidak mau bertobat karena merasa Tuhan sedang memakai kita. Jika kita tidak sadar bahwa kita perlu bertobat, maka kita tidak akan pernah sungguh-sungguh mencari pengampunan. Dan tanpa mencari pengampunan, bagaimanakah mungkin kita mengalami pengampunan? Bagaimana mungkin Saul merasa perlu bertobat kalau dalam enam pertempuran penting Tuhan selalu memberikan kemenangan? Tuhan memberkati Saul dengan segala yang dia perlukan untuk mempunyai kuasa yang besar. Tuhan juga memberikan kepada dia tentara-tentara yang baik. Bahkan pada akhirnya Tuhan juga memberikan Daud kepada Saul untuk menjadi pemimpin pasukan Saul. Semua ini merupakan tanda bahwa Tuhan memperhatikan Israel. Bahkan dalam 1 Samuel 15:2 Tuhan memerintahkan Saul untuk membasmi orang Amalek sebagai pembalasan dari Tuhan karena orang Amalek memerangi Israel dalam perjalanan mereka dari Mesir ke Kanaan (Kel. 17:8-14). Dan betapa besarnya kekuatan Saul ketika dia akan menaklukkan Amalek. Alkitab mencatat bahwa ada 210.000 orang tentara siap berperang di bawah pimpinan Saul (1Sam. 15:4).

Kekuatan besar ini, sayangnya, membuat Saul tidak merasa perlu menaati Tuhan. Kekuatan besar ini bahkan membuat Saul lebih suka menyenangkan rakyat banyak ini daripada menyenangkan Tuhan Sang Pemilik rakyat banyak ini. Saul menolak Tuhan dengan menolak menaati Dia dengan akurat. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan ingin memusnahkan Amalek sama sekali (Kel. 17:14; 1Sam. 15:3), tetapi Saul tidak membunuh Agag dan sejumlah ternak mereka (ay. 9). Tuhan ingin memunahkan Amalek (dan Dia berhak atas itu karena Dialah Allah yang adil dan yang memiliki kedaulatan atas setiap nyawa manusia), tetapi Saul mengampuni Agag, raja Amalek. Dia membiarkan hidup raja yang Tuhan sudah tetapkan untuk mati. Siapakah hakim atas seluruh dunia? Bukankah Allah? Jika demikian, mengapakah ada seorang manusia yang berani mengubah keputusan Yang Maha Adil dengan menentukan sendiri siapa yang harus dihukum dan siapa tidak? Tindakan inilah yang membuat Tuhan membuang Saul sebagai raja. Tuhan tidak lagi memberi ampun kepada Saul. Demikianlah Tuhan membiarkan Saul di dalam pemberontakannya sambil tetap memberikan kemenangan demi kemenangan bagi Israel melalui Saul. Kemenangan demi kemenangan yang memabukkan Saul sehingga dia tidak sadar kalau dia sudah menyimpang begitu jauh dari Tuhan.

Mari kita berpikir baik-baik:

Apakah pelayanan yang kita kerjakan sepertinya berbuah lebat? Apakah Tuhan menambahkan jumlah orang yang mengikuti kebaktian di gereja tempat kita berbagian dalam pelayanan? Saul mempunyai 210.000 pasukan ketika menaklukkan Amalek. Bukankah ini tandanya Tuhan masih berkenan kepada Saul? Hati-hati! Tuhan sudah tidak berkenan kepada Saul, tetapi Dia masih mengasihi umat-Nya. Bangsa Israel adalah alasan Tuhan juga masih memberikan kesempatan kepada Saul untuk bertobat dan kembali kepada Dia dengan tugas memerangi orang Amalek dengan penyertaan Tuhan yang besar. Saul gagal karena dia tidak sadar kalau dia sudah menyimpang jauh dari Tuhan. Kadang-kadang kita mempunyai pola berpikir yang sangat berbeda dari Tuhan. Kita menafsirkan kesulitan hidup sebagai tanda kutuk dan kita menafsirkan segala kemudahan, kelancaran, dan kesenangan hidup sebagai tanda perkenanan Tuhan. Padahal semua itu bukanlah tanda Tuhan berkenan atau tidak. Tuhan berkenan kepada seseorang jika dia menaati firman-Nya dan hidup dengan tepat sesuai perintah Tuhan. Entah dia kaya atau miskin, tanda sejati diperkenan Tuhan adalah kalau kita mengikuti Dia dengan tepat.

Jikalau Tuhan memberkati pelayanan kita dan gereja kita, ini tidak berarti bahwa kitalah alasan Tuhan memberikan berkatnya. Selidikilah hidup kita dengan sebaik mungkin. Sudahkah kita dengan tepat mengikuti Dia? Saul membunuh hampir semua orang Amalek. Tetapi “hampir semua” tidak sama dengan “semua”. Saul membantai hewan ternak Amalek yang jelek, tetapi menyimpan yang baik (ay. 9) meskipun telah mendengar perintah bahwa Tuhan telah mengkhususkan seluruh ternak Amalek untuk dimusnahkan. Pelanggaran Saul sama seperti ketika Akhan mengambil jubah di Yerikho ketika seluruh harta orang Yerikho seharusnya dimusnahkan (Yos. 6:17; 7:1).

Ketika perasaan hati kita sudah tumpul, kita tidak sadar bahwa kita sebenarnya sudah membuat Tuhan marah. Mungkin kata-kata kita. Mungkin tindakan kita. Semua hal-hal yang sebenarnya menjijikkan bagi Tuhan telah kita kerjakan tanpa merasa bersalah. Celaka kita akan makin bertambah jika ternyata Tuhan tetap memberikan kelimpahan di dalam hidup kita. Tetapi benarkah kelimpahan itu tanda bahwa Tuhan berkenan atas cara hidup kita? Saul sudah menyimpang jauh dari Tuhan, tetapi mungkin dia berpikir, “210.000 pasukan yang menghancurkan banyak kerajaan lain di sekeliling Israel, Tuhan pasti sangat berkenan pada saya! Tidak seorang pun hakim Israel pernah mengalami kemenangan sebanyak saya. Bahkan Samuel pun belum pernah mencicipi kemenangan sebanyak kemenangan saya!” Tetapi Tuhan berkata kalau Dia akan membuang Saul. Tuhan akan membuang kita jika kita terlalu bebal!

Bertobatlah dan miliki kepekaan rohani yang tinggi! Jangan diperdaya oleh nurani kita yang sudah lebih tumpul daripada pedang plastik mainan, tetapi kembalilah kepada firman Tuhan. Apakah hidup kita terus diarahkan untuk mengikuti Tuhan secara tepat? Hati, pikiran, perbuatan, perkataan, dan seluruh hidup, biarlah itu diserahkan kepada Tuhan untuk menaati Dia dengan seakurat mungkin.

Sumber: Reforming Heart – Kejatuhan Final Saul

Daud di Kehila

[1] Diberitahukanlah kepada Daud, begini: “Ketahuilah, orang Filistin berperang melawan kota Kehila dan menjarah tempat-tempat pengirikan.” [2] Lalu bertanyalah Daud kepada TUHAN: “Apakah aku akan pergi mengalahkan orang Filistin itu?” Jawab TUHAN kepada Daud: “Pergilah, kalahkanlah orang Filistin itu dan selamatkanlah Kehila.” [3] Tetapi orang-orang Daud berkata kepadanya: “Ingatlah, sedangkan di sini di Yehuda kita sudah dalam ketakutan, apalagi kalau kita pergi ke Kehila, melawan barisan perang orang Filistin.” [4] Lalu bertanya pulalah Daud kepada TUHAN, maka TUHAN menjawab dia, firman-Nya: “Bersiaplah, pergilah ke Kehila, sebab Aku akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu.” [5] Kemudian pergilah Daud dengan orang-orangnya ke Kehila; ia berperang melawan orang Filistin itu, dihalaunya ternak mereka dan ditimbulkannya kekalahan besar di antara mereka. Demikianlah Daud menyelamatkan penduduk Kehila. (1Sam 23:1-5)

Daud menanyakan haruskah dia membebaskan Kehila? Kehila adalah bagian dari Yehuda yang berada di perbatasan dengan daerah Filistin. Daud menanyakan kepada Allah, haruskah dia menyerang orang Filistin untuk menyelamatkan Kehila? Tuhan mengatakan, “Ya”. Ayat 3 mengatakan bahwa para pengikut Daud protes. Mereka mengatakan bahwa mereka sedang ada dalam masalah besar. Mereka sendiri sedang dikejar-kejar oleh Saul dan bahkan berada dalam bahaya dianggap konspirasi pemberontakan terhadap raja Saul. Respons para pengikutnya ini ternyata membuat Daud cukup goyah. Apa yang dikatakan para pengikutnya itu benar. Siapakah mereka? Kalau Saul saja sangat sulit menaklukkan orang Filistin, berapa besarkah peluang mereka untuk menang? Apalagi status mereka sekarang pun adalah sebagai pelarian yang sedang diburu Saul. Jika mereka benar-benar berperang melawan orang Filistin itu, mereka pasti tidak bisa mengharapkan bala bantuan dari pasukan tentara Israel. Tetapi yang dilakukan Daud adalah mencari kekuatan dari firman Tuhan. Dia tidak percaya demokrasi! Dia percaya perintah Tuhan. Dia tidak percaya suara orang banyak! Dia lebih percaya firman Tuhan. Orang Kristen harus percaya firman Tuhan, bukan pendapat mayoritas. Orang Kristen harus percaya firman Tuhan, bukan kebiasaan-kebiasaan tradisional. Itu sebabnya Daud bertanya lagi kepada Tuhan di ayat 4. Tuhan menjawab, “Bangkitlah! Turunlah ke Kehila! Aku akan memberikan orang-orang Filistin itu ke dalam tanganmu.” Jawaban Tuhan memberikan kekuatan tambahan kepada Daud dengan adanya tambahan kata: “Bangkitlah!” dan kalimat: “Aku akan memberikan orang-orang Filistin itu ke dalam tanganmu.” Tuhan mengerti keraguan Daud, dan karena itu Dia memberikan dorongan dengan kalimat-kalimat tadi kepada Daud. Setelah kedua kalinya Tuhan menjawab, maka Daud pun pergi disertai dengan orang-orangnya ke Kehila dan menghancurkan pasukan Filistin di sana. Bahkan dalam status buronan pun Daud tetap menjalankan tugasnya menaklukkan orang Filistin.

Ada keunikan di dalam kata-kata bahasa Ibrani yang dipakai untuk ayat 5. Ayat ini memulai dengan mengatakan, “Kemudian pergilah Daud dengan orang-orangnya ke Kehila.” Tetapi, walaupun mengatakan Daud dengan orang-orangnya, kata yang dipakai untuk “pergilah” adalah tunggal, bukan jamak. Begitu juga dengan kata “dihalaunya”, “ditimbulkannya kekalahan”, dan “menyelamatkan”, semua memakai kata tunggal. Semua merujuk kepada aksi satu orang, yaitu Daud. Begitu besarnya peran dan pengaruh Daud dalam pertempuran ini sehingga seolah-olah dia memenangkan pertempuran ini sendirian saja. Maka penulis Kitab Samuel sedang mengarahkan pembacanya untuk bersiap melihat tokoh utama, yaitu Daud, makin menjadi sorotan utama. Begitu sentralnya posisi Daud di dalam narasi kitab ini sejak pasal 23 sehingga bahkan kematian Samuel (25:1) pun tidak boleh mengganggu alur narasi Daud. Kematian itu hanya sekilas dikisahkan dan hanya diberikan satu pasal saja agar tidak menyebabkan fokus pembaca beralih dari Daud.

[6] Ketika Abyatar bin Ahimelekh melarikan diri kepada Daud ke Kehila, ia turun dengan membawa efod di tangannya. [7] Kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah masuk Kehila. Lalu berkatalah Saul: “Allah telah menyerahkan dia ke dalam tanganku, sebab dengan masuk ke dalam kota yang berpintu dan berpalang ia telah mengurung dirinya.” [8] Maka Saul memanggil seluruh rakyat pergi berperang ke Kehila dan mengepung Daud dengan orang-orangnya. [9] Ketika diketahui Daud, bahwa Saul berniat jahat terhadap dia, berkatalah ia kepada imam Abyatar: “Bawalah efod itu ke mari.” [10] Berkatalah Daud: “TUHAN, Allah Israel, hamba-Mu ini telah mendengar kabar pasti, bahwa Saul berikhtiar untuk datang ke Kehila dan memusnahkan kota ini oleh karena aku. [11] Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku ke dalam tangannya? Akan datangkah Saul seperti yang telah didengar oleh hamba-Mu ini? TUHAN, Allah Israel, beritahukanlah kiranya kepada hamba-Mu ini.” Jawab TUHAN: “Ia akan datang.” [12] Kemudian bertanyalah Daud: “Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku dengan orang-orangku ke dalam tangan Saul?” Firman TUHAN: “Akan mereka serahkan.” [13] Lalu bersiaplah Daud dan orang-orangnya, kira-kira enam ratus orang banyaknya, mereka keluar dari Kehila dan pergi ke mana saja mereka dapat pergi. Apabila kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah meluputkan diri dari Kehila, maka tidak jadilah ia maju berperang. (1Sam 23:6-13)

Setelah kemenangan yang besar ini ternyata Daud harus kembali menghadapi permasalahan utama, yaitu Saul. Saul kembali menjadi kesulitan besar bagi Daud karena sekarang Saul bersiap mengepung dia di Kehila. Kehila adalah tempat dengan tembok benteng, sehingga kalau saja Saul sempat datang sebelum Daud melarikan diri, maka Daud tidak akan punya peluang selamat. Dia akan terkurung di tengah-tengah kota itu. Coba kita lihat ayat 7. Saul mengatakan bahwa Allah telah menyerahkan Daud ke dalam tangannya. Ini ayat yang benar-benar mengejutkan! Saul benar-benar orang yang tidak tahu diri! Dia tetap merasa Tuhan menyertai dia! Tuhan sudah tidak lagi berfirman kepada dia, lalu Samuel, nabi Tuhan, sudah meninggalkan dia, dan, ini yang paling hebat… dia baru membunuh ratusan orang imam dan keluarganya di Nob… dan Saul masih merasa Allah ada di pihak dia?? Dosa telah benar-benar membutakan mata hati seseorang. Orang berdosa benar-benar tidak sadar kalau Allah sudah membuang dia! Betapa kontrasnya Saul dengan Daud. Saul mengatakan dengan mulutnya bahwa Allah masih menyertai dia.

Bagaimana dengan Daud? Daud memohon pimpinan Tuhan untuk keputusan yang akan dia ambil, dan Tuhan menjawab dia. Daud bertanya tentang kesetiaan orang Kehila. Apakah mungkin orang-orang yang baru saja ditolong oleh Daud ini menyerahkan Daud ke tangan Saul? Ternyata Allah menyatakan bahwa mereka akan menyerahkan Daud ke tangan Saul. Mereka akan membiarkan pahlawan mereka dibunuh untuk keselamatan pribadi mereka. Mereka tidak peduli kalau orang itu mempertaruhkan nyawanya untuk menolong mereka. Mereka hanya tahu kalimat: “yang penting selamat”. Orang-orang yang tidak pernah mengerti semangat berkorban bagi orang lain adalah orang-orang yang sepantasnya diberikan hukuman. Orang Kehila tega menyerahkan Daud demi keamanan mereka. Mereka seolah mengatakan, “daripada bermusuhan dengan Saul lebih baik serahkan saja orang yang baru menyelamatkan kita.”

Mengapa orang Kehila begitu kejam dan tidak tahu berterima kasih? David Tsumura di dalam commentary-nya mengatakan bahwa bagi orang Kehila, Saul lebih menakutkan daripada orang Filistin (NICOT hlm. 556). Orang-orang Filistin hanya menghancurkan hasil panen mereka di tempat-tempat pengirikan (ay. 1). Tetapi Saul membunuh para imam beserta istri dan anak-anak mereka hanya karena salah satu dari mereka pernah bercakap-cakap dengan Daud. Apakah yang akan dilakukan Saul kepada orang-orang Kehila yang baru saja diselamatkan Daud? Bukankah Saul akan menganggap Kehila bersekutu dengan Daud? Apa lagi alasan Daud membahayakan diri menolong mereka kalau bukan karena mereka adalah sekutu Daud? Satu-satunya cara untuk membuat Saul tidak lagi menciptakan teori konspirasi baru adalah dengan menyerahkan Daud. Inilah rencana orang Kehila. Tetapi Tuhan mengetahui rencana itu dan membebaskan Daud dengan memberi peringatan kepada dia. Daud bertanya kepada Tuhan dan Tuhan sekali lagi meluputkan Daud dengan memberikan petunjuk mengenai langkah apa yang harus dia lakukan.

Ayat 13 menyatakan bahwa Daud dan orang-orangnya pergi dengan spontan, seperti orang yang melarikan diri, dari Kehila. Mungkin ini dilakukan supaya Saul menyangka Daud dan pasukannya telah melarikan diri dari Kehila. Mungkin ini salah satu usaha untuk mencegah Saul merancang suatu teori konspirasi lalu membunuh orang-orang Kehila. Ayat 13 juga menyatakan bahwa Daud dan orang-orangnya – yang berjumlah 600 orang – pergi dengan berpencar. Jika di gua Adulam dikatakan pengikut Daud ada 400 orang, dari manakah 200 orang tambahan ini? Mungkin dari orang-orang di sekitar Kehila (atau bahkan mungkin sebagian orang Kehila sendiri) yang begitu terpukau dengan keberanian Daud dan pasukannya. Keberanian selalu menarik orang yang mempunyai semangat yang besar. Demikianlah bagian ini membukakan kepada kita penyertaan Tuhan kepada Daud bahkan dalam keadaan sebagai pelarian. Seorang yang dipilih Tuhan untuk mengerjakan sesuatu tidak harus menunggu jabatan resmi untuk dipakai oleh Tuhan. Daud belum naik takhta tetapi dia sudah mengerjakan pekerjaan bagi seorang raja Israel, yaitu menaklukkan orang Filistin (1Sam. 9:16). Bahkan dalam keadaan sebagai buronan pun dia tetap mengerjakan apa yang menjadi panggilannya ini. Kiranya kita diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk mempunyai hati yang rindu melayani. Meskipun tidak menjabat, tetap melayani. Meskipun dalam keadaan yang jauh dari ideal, tetap berfungsi bagi kerajaan Allah. Jangan tunggu sampai dipercayakan kedudukan sebagai hamba Tuhan baru mulai memberitakan Injil. Jangan tunggu terpilih jadi pengurus dan majelis baru mau mulai melayani. Layanilah Tuhan! Nyatakan panggilanmu di dalam ketaatan meskipun tidak ada kedudukan resmi di mata manusia.

Sumber: Reforming Heart: Kemenangan Daud atas Filistin

Hukum Keempat: Ingat dan Kuduskanlah Hari Sabat

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. (Kel 20:8-11)

Hukum ke-4 dari Taurat adalah perintah Allah kepada manusia untuk menguduskan hari sabat. Apa itu dikuduskan? dikuduskan berarti dikhususkan bagi Tuhan. Menguduskan hari sabat berarti memberikan satu hari khusus bagi Tuhan. Bagaimana caranya? Dengan mengarahkan hati pikiran kita kepada Tuhan.

Sebagai orang Kristen, kita harus mengerti bahwa apapun yang kita lakukan, itu kita lakukan bagi Tuhan. Apapun yang kita lakukan setiap hari tidak mungkin terlepas dari Tuhan sebagai alasan kita melakukan sesuatu. Tapi Tuhan memerintahkan ada satu hari khusus bagi Dia. Kita tidak melakukan pekerjaan, tapi pakai waktu untuk bisa bersekutu dengan Tuhan, memakai waktu untuk mengingat dan mengerti apa yang Tuhan mau bagi hidup kita. Dimana kita bisa melakukan itu? di gereja. Itu sebabnya orang Kristen pergi ke gereja.

Tetaplah ingat dan kuduskanlah hari Sabat, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau lembumu, atau keledaimu, atau hewanmu yang manapun, atau orang asing yang di tempat kediamanmu, supaya hambamu laki-laki dan hambamu perempuan berhenti seperti engkau juga. Sebab haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat. (Ul 5:12-15)

Hari sabat yang kita rayakan setiap minggu menjadi bayangan daripada sabat sejati yang akan kita terima sebagai orang percaya. Dengan demikian, satu hal penting yang perlu diingat, bahwa perintah untuk menguduskan hari sabat, bukan sekedar perintah, tapi adalah sebuah hak istimewa yang diterima oleh orang percaya. Kita percaya, satu kali, ada sabat sejati, dimana kita akan dipersekutukan dengan Allah dalam kekekalan. Saat ini, yang kita bisa lihat hanyalah bayangannya, yaitu sabat yang kita rayakan dalam ibadah minggu. Kita mendengar dan melihat Allah, lewat Firman-Nya, yang disampaikan lewat mimbar gereja.

Pergumulan orang percaya dalam dunia tidak akan pernah berhenti. Dalam pergaulan, dalam pekerjaan. Orang percaya yang terus rindu dipersekutukan dengan Allah, akan mendapati hari sabat ini adalah sebuah penghiburan. Sebuah harapan yang terus menerus diingatkan akan sabat sejati itu. Dari sinilah orang percaya mendapatkan kekuatan.

Jadi, tidak sepantasnya orang percaya melihat hari sabat, waktu ibadah sebagai suatu beban dan pengorbanan semata. Tapi orang percaya harus bisa melihat sabat adalah anugerah yang Tuhan berikan. Dalam penantian akan saat janji-Nya bagi orang percaya, Ia berkenan memberikan cicipan sabat sejati itu, persekutuan kekal dengan Allah, melalui persekutuan orang-orang kudus dan Firman-Nya.