Manfaat doa

Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. (1 Timotius 4:8)

Sebagaimana olah raga itu baik bagi tubuh, begitu juga dengan doa. Ia bagaikan olah raga bagi jiwamu. Manfaat:

  1. Latihan untuk merendahkan diri
  2. Latihan menyangkal diri
  3. Melatih kepekaan hati
  4. Melatih ketekunan
  5. Mengerti isi hati Tuhan

Seringkali kita berdoa sungguh-sungguh hanya untuk memohonkan pertolongan, pengambilang keputusan, atau jika kita dalam suatu masalah yang yang pelik. Jika demikian, secara tidak langsung kita berpikir bahwa untuk masalah kecil kita tidak perlu berdoa. Itulah suatu yang tidak berkenan dihadapan Tuhan. Jika Anda memiliki seorang teman yang hanya datang pada waktu mau minta tolong, apakah menurut Anda itu baik?

Dengan demikian, berdoa bukan tentang meminta dan mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi doa adalah tentang persekutuan dengan Tuhan dan mengerti isi hati Tuhan.

Jadi kita mendapatkan jawaban “Tidak” untuk doa kita, itu berarti, Ia melihat bahwa dengan cara semikianlah nama Tuhan boleh dimuliakan. Namun, jika kita mendapat jawaban “Ya” itu berarti kita (sekedar) bersukacita karena keinginan terkabul, tapi kita harus sungguh-sungguh mencari tahu, apa kehendak dan rencana kemuliaan Tuhan ingin dikerjakan melalui pengabulan doa tersebut.

Jadi …

Buat apa kita berdoa?
Supaya melalui jawaban doa itu nama Tuhan dimuliakan.

Iklan

Pergumulan Ayub

Pernahkan Anda mengalami hal ini:

kau bertobat, meninggalkan hidup lamamu dan senantiasa belajar mengarahkan hidupmu kepada perkara yang kudus.
setiap hari berdoa dan membaca Firman Tuhan.

tapi masalah seolah senantiasa tidak pernah lepas dari hidupmu.
bahkan setiap hari masalah terasa semakin mencekik.
(seolah) setiap janji dalam alkitab itu terasa begitu jauh.

Kau berdoa, berharap temui jalan keluar/pertolongan Tuhan.
Tapi pertolongan (seolah) tak pernah datang.

Setiap hari bertanya: “kapankah pertolonganNya tiba?”

Adakah ini hukuman?
Jika ini hukuman, adakah sesuatu dosa yang belum ku selesaikan?
Adakah suatu anugrah yang terselubung dibalik semua ini.

Mengalami hal tersebut mengingatkan saya pada Ayub.

Ayub dicobai iblis.
Seluruh harta dan keluarganya seolah “dirampas” dari padanya dengan seketika.

Itu menjadi sesuatu yang kualami. Sulit! Namun satu hal yang saya belajar.

40 tahun masa kesukaran, kesukaran terbesar Ayub bukanlah karena kemiskinan, sakit penyakit, kesendirian. Tapi, keadaan dimana seolah-olah Tuhan telah meninggalkannya.

Mungkin dia berdoa setiap hari bertanya “mengapa”. Tapi, selama 40 tahun, Tuhan tidak memberikan jawaban. Yang ada adalah teman-temannya yang menuduh kalau Ayub telah bersalah kepada Tuhan.

Begitu juga dengan Yesus.
Saat Ia menderita diatas salib. Disaat terakhir diatas salib, Ia berseru: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Bapa, mengapa Kau meninggalkan aku?)

Dengan demikian, penderitaan yang terberat itu bukanlah sakit penyakit, kemiskinan atau bahkan penganiayaan. Namun, berada jauh dari hadirat Tuhan itulah kesukaran yang sebenarnya.

Saya percaya, mengikut Tuhan bukan berarti hidup tanpa masalah. Tapi hidup memuliakan Tuhan. Jadi, bila kesukaran diijinkan terjadi dalam hidup kita, biarlah itu menjadi suatu bagian/jalan untuk memuliakan Dia. (Asalkan jangan kita menderita karena dosa.)

Dalam mengikut Tuhan, setiap hari mungkin masalah itu akan selalu ada. Namun, setiap hari juga kita akan merasakan pertolongannya. Sehingga seberat apapun masalah/hari yang kita lewati, dimalam hari kita masih bisa berlutut dan bersyukur: “Terima kasih Tuhan, untuk pimpinanMu yang menolongku melewati hari ini.”

KKR Bandung 2011 – Day 2: Relasi Manusia dengan Sesama

Setelah dihari pertama banyak dibahas bahwa betapa manusia itu lebih mulia dari pada segala materi. Segala yang ada didunia dicipta untuk manusia. Manusia dicipta segambar dengan rupa Allah. Dan tidak seperti binatang, kepada manusia diberikan akal budi dan pengertian untuk mengerjakan dunia ini.

Dengan demikian, manusia lebih tinggi dari pada binatang dan benda apapun. Namun, alkitab mencatat, ada saat dimana manusia lebih rendah & bodoh daripada binatang.

Dengarlah, hai langit, dan perhatikanlah, hai bumi, sebab TUHAN berfirman: “Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku. Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.”

Pada saat Nuh, memberitakan keselamatan kepada orang-orang. Tidak ada yang yang percaya. Setelah 120 tahun Nuh menginjili, akhirnya hanya istri, 3 anaknya beserta mantunya yang diselamatkan. Saat Nuh memanggil orang-orang untuk masuk bahtera yang ia bangun, tidak seorangpun mau masuk. Semua orang menganggapnya sebagai seorang gila. Bahkan binatang-binatang mau masuk bahtera saat Nuh memanggilnya.

Seringkali orang lebih menghargai materi dari pada menghargai sesamanya. Tidak sungkan untuk memanfaatkan/menipu sesamanya untuk mendapatkan materi lebih. Saat itulah manusia dinilai rendah.

Dengan demikian, janganlah kita menilai seseorang hanya karena dia miskin/cacat/bodoh. Orang yang kaya belum tentu ia lebih tinggi dari orang miskin. Dari murid-murid Yesus yang mungkin hampir setiap hari selalu bersama selama 3.5 tahun, didetik-detik terakhir masih saja ada yang berpikir “jasmaniah”, berharap kerajaan Israel dipulihkan, tidak menyadari Kerajaan Sorgawi yang Ia janjikan. Namun, justru orang pertama yang melihat Yesus sebagai Raja Sorgawi adalah seorang penjahat yang disalib bersamaNya.

Orang jahat tidaklah selalu jahat. Seringkali orang jahat yang bertobat bisa lebih rohani dibanding mereka yang bertahun-tahun melayani.

KKR Bandung 2011 – Day 1: Relasi Manusia dengan Dunia

Hari ini adalah hari pertama dari rangkaian KKR Bandung 2011 oleh Pdt. Dr. Stephen Tong. Ada 3 tema utama yang akan menjadi pokok pembahasan:

  1. Relasi manusia dengan dunia
  2. Relasi manusia dengan sesama
  3. Relasi manusia dengan Allah

Relasi Manusia dengan Dunia

Manusia tercipta sesuai dengan gambar Allah, kepadanya juga diberikan suatu karunia untuk berpikir, menimbang dan menyelidik segala sesuatu yang ada di dunia. Bahkan dari segala ciptaan, hanya manusia yang memiliki kemampuan itu.

Matahari, bulan, bintang, binatang, tumbuhan … segala yang di dunia ini tercipta untuk manusia. Untuk dikerjakan, digunakan, diolah, dipelihara dan diselidik.

Jika seseorang menemukan sebuah penemuan baru (listrik misalnya). Apakah listrik itu sebelumnya tidak ada? listrik itu sebelumnya sudah ada, ia hanya diberikan pengetahuan tentang listrik itu.

Dalam setiap ciptaan yang Tuhan ciptakan, ada rahasia yang Ia taruh didalamnya untuk kita selidiki. Pada saat orang menyelidiki, Tuhan bukakan pengetahuan itu sehingga ia yang menyelidiki mengetahui rahasia itu. Orang Yunani menggunakan kata scio (yang berarti “aku tahu”),  diserap kedalam bahasa inggris menjadi science.

Dengan demikian, segala sesuatu yang kita ketahui (atau bahkan miliki) adalah sesuatu yang Tuhan ijinkan untuk kita ketahui. Jadi tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan diri dengan apa yang ia temukan/ketahui. Tapi sebaliknya segala ilmu (science) yang kita terima seharusnya menjadi sesuatu yang membuat kita semakin memuliakan Tuhan.