SPIK #3 – Kristologi: Kristus, Sang Allah, Sang Manusia, Sang Pengantara

“Siapakah Yesus?” Adalah pertanyaan yang banyak orang (rasa) sudah tahu (banyak) jawabannya. Tapi, setelah 2000 tahun orang belajar tentang tema ini, selalu ada hal baru dan kelimpahan setiap kali membaca Alkitab dan mempelajari ‘siapa itu Yesus’. Sabtu, 5 Nopember 2016 – Pk. 9.00. Dalam SEMINAR III, tema KRISTOLOGI, mari belajar bersama tema penting ini.
Bagi warga Bandung dan sekitarnya, bisa mengikuti seminar ini lewat relay yang akan diadakan di Paskal Hypersquare C35.
Yu, mari datang!
Iklan

Memerangi Hawa Nafsu

Pada April 2003, Aron Ralston, seorang pendaki terperangkap dengan tangannya terjepit pada batu diantara tebing-tebing batu di Bluejohn Canyon, Utah. Selama 5 hari Aron berusaha melepaskan diri sementara berjuang melawan dehidrasi dan hipotermia. Menyadari keadaannya, akhirnya Ia memutuskan untuk memotong tangannya sendiri dengan pisau lipat. Drama survival yang dilakukan oleh Aron diangkat ke layar lebar menjadi film 127 hours (2010).

Untuk kelangsungan hidup, Aron sadar bahwa satu-satunya jalan untuk ia bisa lepas dari perangkap ini yaitu dengan memotong tangannya. Ini mengingatkan saya pada pengajaran Tuhan Yesus di Matius 5:28-29 tentang bahaya perangkap dosa:

Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buatlah itu, karena lebih baik bagimu kehilangan satu dari anggota tubuhmu, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Matius 5:28-29

Kata cungkil mata yang dipakai pada ayat diatas menyatakan suatu keseriusan. Dosa adalah hal yang sangat serius dan berbahaya. Begitu serius dan berbahayanya dosa itu sehingga kalau memang perlu potong anggota tubuhmu supaya kamu tidak berdosa itu lebih baik, dari pada kamu harus binasa karena dosa. Ada nasib yang kekal yang kita pertaruhkan dalam apa yang kita lakukan dengan mata kita, dengan pikiran-pikiran dari imajinasi mereka. Jika kita tidak memerangi dosa ini dengan jenis keseriusan yang membuat Anda bersedia mencungkil mata Anda sendiri, Anda akan kehilangan keselamatan.

Kita dibenarkan oleh anugerah hanya melalui iman (Roma 3:28; 4:5; Efesus 2:8-9); dan semua orang yang telah dibenarkan dengan cara demikian akan dimuliakan (Roma 8:30) — Artinya, tidak akan orang yang dibenarkan yang akan terhilang, Meskipun demikian, mereka yang menyerahkan diri kepada percabulan akan terhilang (Galatia 5:21), dan mereka yang meninggalkan pertempuran melawan nafsu akan binasa (Matius 5:30), dan mereka yang tidak mengejar kekudusan tidak akan melihat Tuhan (Ibrani 12:14), dan mereka yang menyerahkan hidup mereka kepada keinginan-keinginan jahat akan menerima murka Allah (Kolose 3:6).

Iman yang benar adalah iman yang juga menguduskan. Ujian apakah kita memiliki jenis iman yang membenarkan adalah apakah iman itu juga merupakan iman yang menguduskan.

(Disadur dari Battling Unbelief, John Piper)

“Kamu harus ke gereja!” (mengapa?)

Seorang teman lama bercerita tentang kesulitan hidupnya. Ia merasa orang-orang disekeliling dia bertindak jahat kepadanya. Sekarang, dia merasa terasing. Dalam percakapan singkat, hal praktis yang saya sarankan kepadanya: kembalilah rajin ke gereja! Dalam nada sinis, dia menjawab: mengapa ke gereja? banyak orang-orang di gereja justru lebih jahat. Orang memiliki pemikiran seperti itu ada 2 kemungkinan. Kemungkinan 1:  dia dikelilingi orang-orang Kristen yang hidupnya belum mengalami pertobatan; Kemungkinan 2: dia menanggapi segala perilaku orang kepadanya dengan cara yang salah.

Saya harus akui, memang kenyataannya tidak semua orang yang ada di gereja itu adalah orang baik. Ada orang yang sudah bertahun-tahun menjadi jemaat, tapi masih memiliki segala sikap dan kebiasaan yang seringkali menjadi sandungan buat orang lain. Ada juga gereja ajarannya tidak setia pada kebenaran Firman. Tapi meskipun demikian, saran saya untuk teman saya ini tetap: datanglah ke gereja! Mengapa? Karena setiap manusia butuh komunitas untuk bertumbuh. Bertumbuh dalam hal kedewasaan mental dan spiritual. Jika ada komunitas diluar gereja yang bisa memenuhi kebutuhan itu, silahkan masuklah dalam kominitas itu. Tapi, jika tidak Anda harus ke gereja, terutama jika Anda adalah orang Kristen. Karena, tidak ada komunitas lain memungkinkan Anda bertumbuh secara mental dan spiritual selain gereja.

Anda datang ke gereja bukan sekedar untuk mendengarkan wejangan tentang kebaikan, tapi di gereja, kita sama-sama belajar tentang Firman Tuhan, bersama-sama dengan jemaat-Nya. Pendidikan moral yang utuh, hanya didapatkan di gereja. Utuh dalam artian bahwa hanya di gereja yang mengajarkan kasih Allah sebagai dasar perbuatan baik (bukan kebaikan itu sendiri, atau karma). Dan lebih dari itu, orang yang berkumpul di gereja diharuskan untuk saling memperhatikan sesamanya. Saya rasa tidak ada komunitas lain yang menawarkan hal-hal tersebut. Jika ada, silahkan bergabung dengan komunitas itu, tapi kalau tidak. Sekali lagi saya akan dorong orang: datanglah ke gereja!

Jikalau seseorang sakit, Ia akan datang ke rumah sakit untuk di obati. Dan rumah sakit, pastilah dipenuhi oleh orang sakit. Begitu pula dengan gereja. Tidak ada manusia yang 100% suci. Orang percaya akan sadar bahwa seluruh hidupnya adalah suatu proses yang berkelanjutan untuk terus disucikan, sampai hingga sempurna nanti pada saat Ia datang untuk yang kedua kali. Untuk itu, mari! dengan rendah hati, mari berkumpul bersama dengan jemaat-Nya, bersama-sama belajar kehendaknya melalui Firman Tuhan, dan saling menguatkan. Datanglah ke gereja!

Mengutip perkataan Morton Kelsey:
“The church is not a museum for the saints, but a hospital for the sinners.”