Perintah: “Mengabarkan Injil”. Haruskah?

kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” – Kis 1:8

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” – Mat 28:18-20

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. – Mrk 16:15-16

The Great Commission Matthew 28:16-20Mengapa kita harus memberitakan injil? Jawabnya adalah karena Yesus sendiri yang memerintahkannya. Tapi jika Anda menafsirkan bahwa perintah itu hanya diberikan kepada murid-muridnya (bukan untuk kita), maka pertimbangkanlah hal berikut.

Perbuatan baik tidak menyelamatkan (Rom 3:20-22), tapi orang yang sudah diselamatkan tidak mungkin tidak berbuat baik (Yak 2:20-22). Demikian juga dengan menginjili. Masakan orang yang sudah menerima anugerah yang begitu besar, tidak ada dorongan untuk membaginya dengan yang lain?

Tren generasi muda saat ini, senang – sedih … pasti ada dorongan untuk update status di BB/Facebook/twitter (atau apapun itu). Kalau kita menemukan satu tempat makan yang murah dan sangat enak, maka kita akan punya dorongan untuk membagikan informasi itu kepada yang lain. Jadi secara naluriah, manusia memiliki dorongan untuk berbagi.

Ada kebahagiaan yang Anda rasakan ketika Anda bisa berbagi. Saat Anda sedih, biasanya membicarakannya kepada teman Anda akan membantu mengurangi beban perasaan. Ketika Anda menyaksikan film komedi, Anda akan lebih merasa senang bila bisa menyaksikannya dan tertawa bersama dengan orang yang Anda kasihi, karena secara naluriah pun berbagi kesukaan dengan orang lain adalah salah satu bentuk kebahagiaan manusia.

Demikian juga dengan berita injil. Orang yang disadarkan dirinya akan dosanya tapi di saat yang sama juga mengetahui penyelesaian dari masalah dosa itu (yaitu melalui Kristus), tentunya akan menjadi kabar sukacita yang amat besar. Lebih dari sekedar makanan atau perasaan sepele yang di update ke Facebook.

Orang yang sungguh-sungguh percaya Tuhan, sadar akan apa yang sebenarnya ia terima saat ia percaya, akan ada sukacita besar, dan sukacita itu pasti akan mendorong kita untuk membagikannya kepada yang lain.

Jadi, apakah kita harus memberitakan injil?
Ya harus! Bukan karena terpaksa (karena diperintahkan) tapi karena memang ada sukacita yang kita terima, dan kita ingin orang lain juga bisa terimanya. Dan yang terpenting, karena kita tahu itu memperkenankan hati Allah.

Iklan

Lukas 16: Perumpamaan Bendahara yang Tidak Jujur

Perumpamaan tentang “Bendahara yang tidak jujur” dalam Lukas 16 memang cukup unik. Seorang bendahara yang ketahuan telah menghambur-hamburkan harga milik tuannya mendapat vonis diberhentikan dari pekerjaannya. Akhirnya, sebelum ia dipecat, ia memanggil orang-orang yang berhutang kepada tuannya, dan membuat surat hutang baru dengan nilai hutang yang lebih kecil, hal ini dilakukan dengan maksud agar orang-orang tersebut berhutang budi kepada bendahara ini.

Hal yang unik dari perumpamaan ini adalah perkataan tuannya pada ayat 8:

Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang. 

Jika tidak berhati-hati, maka kita akan muncul pemikiran bahwa tindakan menipu itu bisa dibenarkan. Benarkah? Dalam Alkitab TB (terjemahan baru), Perumpamaan ini ditulis di Lukas 16:1-9. Sedangkan ayat 10-18 ditulis dengan perikop Setia dalam perkara yang kecil. Saya rasa, untuk mendapatkan pengertian yang benar mengenai perumpamaan ini adalah dengan mengaitkan kedua bagian ini bersama, sehingga kita membaca perumpamaan ini sampai ayat 18, tidak berhenti pada ayat ke 9.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”  – Luk 16:10-13

Ayat 13, masih berbicara tentang “mamon yang tidak jujur” dengan demikian saya yakin, pembahasan 10-18 masih terkait dengan perumpamaan tersebut; dan sebelumnya.

Setelah perumpaan selesai, ayat 10 berbicara tentang “perkara kecil – perkara besar”. Jadi,  mamon yang tidak jujur adalah harta yang Tuhan percayakan kepada kita. Seperti halnya yang yang dikelola oleh bendahara itu bukan miliknya, demikian juga harta yang kita miliki sesungguhnya bukanlah miliki kita. Apa yang kita punya selayaknya kita gunakan dengan penuh tanggung jawab bukan menghambur-hamburkannya.

Meskipun orang dunia (anak-anak dunia – dalam perumpamaan ini: bendahara yang tidak jujur), menggunakan hartanya dengan cara yang tidak bertanggungjawab, ada kalanya juga mereka menggunakan menggunakan hartanya (apa yang ia punya) untuk sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain atau melakukan sesuatu untuk masa depan mereka. Ini adalah sindiran buat orang-orang kaya disana (maksudnya orang-orang Farisi). Mereka menggunakan hartanya untuk kepentingan diri, dan walaupun sudah mendapat teguran, mereka tidak menanggapinya.  Hal ini dapat dilihat dari narasi di ayat 14 dan reaksinya yang mencemooh Yesus.

Jika ayat 1-9 mengajar tentang menggunakan harta dunia sebagai pengantar 10-13. “Mamon yang tidak jujur” atau harga dunia itu diumpamakan sebagai “perkara-perkaya kecil”. Jika kita tidak mengelola harta (yang kecil) yang Tuhan berikan kepada kita dengan baik, bagaimanakah kita bisa menerima harta yang sejati?

Roh Kudus, Suara Hati Nurani, Dan Setan

Manusia tidak diciptakan sebagai robot. Ia juga tidak dicipta sebagai binatang yang tidak memiliki kebebasan moral. Oleh karena itu, kebebasan yang diberikan kepada manusia menjadi fondasi yang paling penting untuk mendasari kemungkinan kita bermoralitas. – Stephen Tong

temptation-of-christ-1872-resizedAllah menciptakan langit dan bumi; binatang dan tumbuhan. Dan dari seluruh ciptaanNya, Allah menciptakan Manusia sebagai wakilNya untuk mengelola dunia ini. Dengan demikian, segala tindak dan keputusan manusia harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah.

Namun dalam status keberdosaannya, manusia selalu memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa. Maka, disinilah peran hati nurani. Hati nurani adalah wakil Allah untuk menguasai manusia. Hati nurani bukanlah suatu pribadi baru dalam diri manusia, tapi hati nurani adalah bagian dari pribadi manusia. Hal ini menjadikan manusia yang bisa mahluk yang mungkin mengadakan dialog dengan diri sendiri. Memperingatkan dan menegur kita akan dosa. Tidak ada orang yang berbuat dosa tanpa sebelumnya mendapatkan ‘teguran’ dari hati nurani.

Hati Nurani

Hati nurani tidak banyak berbicara dalam aspek lain, tetapi hati nurani secara khusus banyak turut campur dalam aspek moral.

Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela (Roma 2:15)

Lebih lanjut, Dalam surat rasul Paulus ke jemaat di Korintus ada tulis tentang “keberatan hati nurani”. Walau pun manusia belum pernah mendengar tentang 10 hukum taurat, mendengar Firman Tuhan, manusia tetap memiliki hati untuk membedakan hal yang baik dan jahat, menimbang mana yang baik dan tidak.

Seorang yang membunuh, akan ada suara dalam dirinya yang menuduh perbuatannya, membuatnya tidak tenang, gelisah. Tapi, semakin ia sering melakukannya, semakin ia membiasakan dirinya menekan suara hati nuraninya, lama kelamaan suara itu tidak akan terdengar lagi. Bahkan tidak menutup kemungkinan muncul suara-suara yang membenarkan tindakan kita. Dengan demikian, suara hati nurani bukanlah suara yang benar mutlak.

Keberadaan kita dalam dunia tidak menghindarkan kita dari polusi hati nurani. Hal-hal seperti kebudayaan, peraturan agama, kebiasaan orang-orang disekitar kita juga bisa mencemari hati nurani kita. Jadi, siapakah yang dapat menolong dan membereskan kita? Kita berada ditengah-tengah ikatan agama, kebudayaan, ras, tradisi, filsafat, lingkungan, opini umum dan kebiasaan penumpukan dosa kita masing-masing. Hati nurani setiap manusia telah dikotori dan dinajiskan.

Puji Tuhan, Alkitab menjanjikan sesuatu yang sangat penting.

Betapa pentingnya darah Kristus yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup (Ibrani 9:14)

Suara Setan

Hidup sebagai manusia adalah hidup yang tidak boleh dipermainkan. Hidup sebagai manusia adaalh hidup di tengah-tengah Allah dan Setan. – Stephen Tong

Kita tidak menutup mata akan adanya oknum yang memberontak terhadap Allah, yaitu Setan. Salah satu cara setan menyatakan pemberontakannya adalah lewat manusia,  menggoda manusia untuk memberontak dengan tidak taat kepada FirmanNya.

Godaan setan bukanlah sesuatu yang menyeramkan dan menakutkan, tapi juga sesuatu yang indah dan menyenangkan bagi tubuh kita. Bagaimanakah kita bisa mengenal suara setan? Suara setan dapat dilihat dari beberapa gejala:

1. Mengacaukan kebenaran: Membenarkan ajaran yang salah, menyalahkan ajaran yang benar

2. Membuat kita meragukan kebenaran Firman Allah

3. Mencela Tuhan

4. Merayu untuk berbuat dosa

5. Menuduh masa lalu: Suara setan membuat kita tertuduh karena  perbuatan dosa kita, tuduhan yang membuat kita semakin menjauh dari Tuhan (sedangkan suara Roh Kudus menuduh tapi kemudian membawa kita kepada pertobatan)

6. Berusaha mengeraskan hati orang

7. Mengajar untuk tidak mengakui dosa

Suara setan secara keseluruhan mengakibatkan hidup kita akan semakin mirip dengan dia yang najis, tidak suci, jauh dari Tuhan, menghina firman dan mencela, menghina, mengejek Kristus di kayu salib, serta menghindarkan diri dari kekudusan Roh sambil dengan berani memakai nama Roh Kudus.

Roh Kudus

Sifat suara Roh Kudus seluruhnya berlawanan dengan sifat utama suara Setan. Ketika kita berada di dalam prinsip ketaatan kepada firman Tuhan, Roh Kudus justru bersifat menenangkan, bukannya mengacaukan.

Roh Kudus akan memutlakkan yang mutlak dan merelatifkan yang relatif.

Roh Kudus memberikan kekuatan kepada kita untuk hidup taat dan bersyukur, meskipun kita hidup dalam penderitaan. Semua yang disebut suara Roh Kudus harus sesuai dan harmonis dengan prinsip-prinsip yang ada di seluruh Kitab Suci.

Ketika kita sudah jatuh ke dalam dosa, tidak taat kepada-Nya, Ia akan memberikan teguran yang sangat keras, tetapi berbeda dengan Setan yang menghancurkan pengharapan kita, Roh Kudus akan membangkitkan pengharapan bagi kita. Teguran Roh Kudus akan membawa kita kepada pertobatan dan kembali berdamai dengan Allah.

Roh Kudus juga akan menerangi diri kita untuk senantiasa melihat kelemahan diri kita sehingga kita tidak lagi berani bersandar pada diri sendiri, tetapi bersandar pada Tuhan.

Pembaharuan Hati Nurani

Pada akhirnya kita melihat bahwa hati nurani yang rusak dibersikan dengan 3 kekuatan.

1. Firman Allah

Firman Tuhan merupakan faktor yang pertama untuk membersikan kita dari dosa. Firman akan menghindarkan kita dari berbuat dosa (Mazmur 119:9); Taat kepada Firman menuntun kita untuk hidup suci (1 Petrus 1:22; Yohanes 17:17)

2. Darah Kristus

jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. (1 Yoh 1:7)
Pembaharuan hati nurani itu dilakukan dengan membawa terang ke dalam hati kita. Namun persekutuan dengan terang itu tidak dimungkinkan jika Kristus tidak membereskan masalah dosa kita. Dengan demikian, darah Kristus yang tertumpah itu juga yang ikut menyucikan hati nurani kita.

3. Gerakan Roh Kudus

Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. (Kis 15:8-9)

Ketika kita sudah dibersikhan oleh iman, dengan darah Yesus dan oleh Roh Kudus, maka sekarang melalui firman kita dapat megnetahui berbagai tipu daya Setan dan cara Roh Kudus bekerja. Kita jangan pernah berharap dapat hidup sebagai orang Kristen yang bebas dari gangguan suara Setan.

Melalui darah Kristus kita selalu diingatkan akan pengorbanan-Nya dan melalui gerakan Roh Kudus, kita mendapatkan pencerahan yang baru dan itu membuat kita tidak lagi mau menyedihkan hati-Nya sehingga menjadikan diri kita orang Kristen yang sungguh-sungguh dan setia melayani Tuhan.

Ketika Setan sudah mengetahui bahwa ia telah dibuka topengnya dan kita telah mengetahui segala tipuannya, maka ia sekarang akan mengetuk pintu lagi untuk menggangu dan melawan kita. Untuk itu, lebih baik kita tidak membuka pintu dan tidak melawan dia seorang diri. Lebih baik kita berkata kepada Tuhan, “Tuhan, sekarang Setan mengetuk mau menggangu saya, lebih baik bukan saya yang menghadapinya. Saya mohon Tuhan yang menghadapi dia.” Setan tidak pernah takut pada manusia yang bersandar pada dirinya, karena diri manusia, betapapun kuatnya dia, hanya berpengalaman beberapa puluh tahun. Setan sudah berpengalaman ribuan tahun dan sudah menipu berjuta-juta manusia. Itu sebabnya orang Kristen yang sombong, yang tidak bersandar pada Tuhan, tidak bersandar pada Roh Kudus, tetapi hanya bersandar pada diri sendiri, pasti jatuh. Tapi, jika kita taat kepada Tuhan, bagaimanapun juga Tuhan tidak akan melepaskan kita. Ia akan memelihara kita.

Disadur dari buku Stephen Tong – Roh Kudus, Suara Hati Nurani, Dan Setan.

Natal yang seharusnya

Dan apabila kamu tiba di negeri yang akan diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya, maka kamu harus pelihara ibadah ini. Dan apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini?
maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.” Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah.

Keluaran 12:25-27

Hari Raya Roti tidak beragiSelama 430 tahun, bangsa Israel tinggal di Mesir, dan sebagian besar dari waktu mereka di tanah Mesir, mereka menjadi budak. Selama mereka di Mesir, mereka tahu Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub, tapi di sepanjanga 430 tahun itu, belum ada pernyataan khusus Allah bagi bangsa Israel. Hingga genap waktuNya, Allah menyatakan diriNya kepada bangsa Israel. Melalui hambaNya, Musa, Ia menyatakan diriNya sebagai Allah mereka, membebaskan mereka dari perbudakan bangsa Mesir. Dan sebagaimana janjiNya kepada Abraham, juga mau menyatakan kegenapan janjiNya itu kepada keturunan Abraham, Israel.

Allah menunjukkan kuasaNya ditengah-tengah mereka, sehingga bukan saja orang Israel yang melihat kemahakuasaan Allah, tapi bangsa Mesir pun melihat dan mengakui Allah yang disembah bangsa Israel, adalah Allah yang berkuasa.

Tapi mengingat natur manusia yang begitu sering “lupa”, Tuhan mengajar bangsa Israel untuk terus mengingatkan ini kepada keturunan-keturunan mereka. Sehingga, pada saat mereka keluar dari Mesir, mereka menyembelih domba paskah dan mengadakan 7 hari makan roti yang tidak beragi. Hal ini dilakukan terus menerus dan diajarkan terus kepada keturunan mereka. Dan jika anak-anak mereka bertanya, Apakah arti ibadah ini? maka orang tua menjelaskan bahwa dulu, mereka adalah hamba, tapi oleh tangan Tuhan yang berkuasa, Ia memberikan tulah kepada bangsa Mesir dan menyelamatkan mereka.

Tuhan mau bangsa Israel mengingat keadaan mereka dulu, dan mengerti betapa keadaan mereka itu boleh hidup bebas (tidak lagi sebagai budak) adalah anugerah. Bahkan pada Kel 12:19 menyatakan kalau ada orang Israel mengabaikan ini, ia harus disingkirkan. Hal ini menunjukkan betapa besarnya Allah mau bangsa Israel mengerti ini. Ingat keadaan mereka dulu, ingat bahwa segala apa yang mereka terima saat ini (setelah mereka keluar dari Mesir dan tinggal di tanah Kanaan) adalah anugerah.

Jadi, dalam perayaan yang diadakan, bukanlah cuma sekedar ritual yang membedakan bahwa “kita orang Kristen” tapi yang terpenting adalah nilai apa yang harus kita tangkap dalam setiap hari raya. Jikalau kita memperingati suatu hari raya, tanpa menangkap nilainya, pada akhirnya akan menjadi kegiatan yang sia-sia.

Birth of ChristPada saat ini, orang Kristen tidak melakukan perayaan-perayaan dengan cara seperti yang tertulis dalam taurat. Saat ini Orang Kristen secara umum merayakan hari Paskah, dan Natal. Tapi adakah kita merayakan paskah seperti seharusnya? atau natal seperti seharusnya?

Desember ini, biasa kita sudah mulai bisa merasakan suasana natal. Memang kita tahu bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Tapi adalah kesepakatan bersama, orang Kristen menetapkan tanggal 25 Desember untuk mengingat saat dimana Yesus lahir ke dunia. Jadi kalau kita mau merayakan natal, adalah seharusnya pada suasana natal ini kita lebih banyak merenungkan dan mengingat Kristus yang lahir ke dunia. Betapa Ia yang kudus, mau turun ke dunia, meninggalkan segala kemuliaanNya untuk tinggal ditengah manusia yang berdosa. Bahkan lebih dari itu, Ia mau mati buat kita.

Kalau kita luput menangkap makna natal yang sebenarnya, jadinya sia-sia kita merayakan natal. Sayangnya dunia ini justru membuat kita lupa tentang Kristus. Saat yang seharusnya kita bisa pakai untuk mengingat anugerah Allah lewat Kristus, digantikan dengan sosok sinterklas. Dari mulai lagu-lagu natal, hiasan-hiasan natal, kegiatan-kegiatan natal. Dalam suasana natal, kita bisa merasakan suasana yang indah. Tapi ironi nya, justru semuanya itu membuat kita melupakan Kristus.

Maka oleh sebab itu, masuk suasana natal ini, semoga dengan tulisan ini saya bisa mengajak kembali kita merayakan natal dengan cara yang seharusnya. Natal itu adalah kita mengingat kelahiran Kristus (Chris-mast).  Bukan hari ulang tahun Yesus (seperti yang anak-anak sering pikirkan). Tapi ingat Ia, Yang Maha Kudus, mau menyatakan diriNya ditengah kita, dan menyatakan kasihNya — bukan dengan sekedar perkataan, atau perbuatan sedekah, tapi dengan nyawanya sendiri.