Allah yang ‘membatasi diri’

Pada suatu kesempatan, saya mendapat kesempatan untuk berkhotbah bagi anak-anak sekolah minggu, kelas 1-4 SD. Saya sendiri biasa mengajar sekolah minggu untuk kelas SMP & SMA. Tapi untuk berbicara didepan anak SD, tidak mungkin saya samakan dengan cara saya berbicara dengan anak SMP.

Begitu pada saat saya persiapan, saya menyadari banyak kesulitan yang saya temui dalam mempersiapkan bahan. Bahan yang pernah saya sampaikan untuk anak SMP, pada saat saya sampaikan kepada anak SD, saya harus buat penjelasan dengan bahasa yang sederhana dan membatasi lingkup pembahasan, tapi tetap memberikan penekanan pada hal-hal penting. Alur ceritanya pun, saya harus sederhanakan dan susun begitu rupa, agar bisa dipahami anak. Dalam menyampaikan khotbah, bahasa yang saya pakai harus turun level, supaya bisa dipahami anak-anak.

Sulit! Dari sana saya berpikir, … Yesus yang mengetahui semua, manusia yang pengetahuannya terbatas. Yesus datang ke dunia untuk mengajar. Dia yang mengetahui segalanya, harus menyampaikan tentang Kerajaan Sorga dan kehendak Bapa, dengan bahasa manusia yang sangat terbatas.

Bagaimanakah Anda menjelaskan warna biru kepada orang yang buta sejak lahir?
Bagaimanakah Anda menjelaskan rasa manis kepada orang yang tidak punya lidah?
Bagaimanakah Anda menjelaskan musik yang indah kepada orang tuli?
Sulit, dan tidak mungkin! Karena tidak ada padanan yang setara untuk menjelaskan warna biru, rasa manis atau musik yang indah sehingga orang bisa mengerti, hanya dengan deskripsi lisan.

Jesus PreachingBegitu juga ketika Yesus harus menjelaskan tentang Kerajaan Allah. Tidak ada padanan realita pengalaman manusia yang bisa menggambarkan Kerajaan Allah, oleh sebab itu manusia tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. Oleh sebab itu, jika Ia mau menyatakan itu kepada manusia, itu pun suatu anugerah yang besar. Karena kalau bukan Ia yang mau menyatakannya, manusia tidak akan mungkin pernah tahu.

Dalam lingkungan budaya pun kita mengenal banyak perumpamaan. Untuk mengajarkan anak untuk tidak berlambat-lambat, kita mengenal kisah “kelinci dan kura-kura”; Kita mengenal istilah “tong kosong nyaring bunyinya”, untuk menerangkan bahwa orang yang tidak berpengetahuan biasanya banyak bicara; Kita mengenal istilah “anjing dan kucing” untuk menjelaskan orang yang selalu bertengkar. Ada banyak perumpamaan yang kita pakai untuk menyampaikan ide. Dalam perumpamaan ada nilai yang bisa disampaikan dengan cari yang lebih singkat dan mengena, dibanding dengan penjelasan naratif yang panjang.

Karena tidak ada kata yang tepat untuk membuat deskripsi lisan mengenai kehendak Bapa dan Kerajaan Allah, maka Yesus mengajar melalui perumpamaan. Allah rela diri-Nya dijelaskan dengan bahasa manusia yang sangat terbatas, supaya manusia bisa mengenal Dia. Seberapa pun panjang penjelasan yang kita berikan menggunakan kata-kata, saya percaya itu tidak akan pernah bisa sepenuhnya menjelaskan Dia.

Bagi mereka mempelajari bahasa Ibrani & Yunani akan tahu, bahwa Alkitab ditulis dengan bahasa yang sederhana. Firman Tuhan dinyatakan kepada manusia, menggunakan bahasa yang bisa dimengerti manusia. Ia yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya oleh bahasa manusia, rela dibatasi oleh perkataan manusia.  Saya percaya, jika kita menyebut Allah Maha Kasih, Allah Maha Kuasa, Allah yang sempurna itu adalah kata yang masih terlalu dangkal untuk menjelaskan Keagungan-Nya. Tapi, saat ini mungkin itu adalah kata yang tertinggi yang dimiliki manusia, jadi kata itulah kita gunakan untuk menggambarkan Dia.

Saat Firman Tuhan diberitakan melalui tulisan maupun khotbah, kita harus hargai. Saat Firman-Nya dinyatakan lewat perwakilan manusia, itu adalah anugerah. Siapakah sebenarnya pengkhotbah sehingga Ia boleh berkata-kata atas nama Allah? Tapi karena Allah mengasihi manusia, maka Ia rela diri-Nya diwakili oleh manusia, sehingga boleh ada seseorang yang bisa berbicara atas nama-Nya untuk menyatakan kehendak-Nya yang agung menggunakan kata-kata yang terbatas, supaya manusia bisa mengenal Dia.

Oleh sebab itu, kita harus terima dengan serius setiap khotbah yang dinyatakan lewat mimbar, terlebih jika khotbah itu dinyatakan lewat kehidupan hamba Tuhan yang sungguh-sungguh bergumul untuk boleh mengerti kehendak-Nya. Tidak ada perkataan yang bisa menggambarkan dengan sempurna pribadi-Nya, tapi bukan artinya kita harus berhenti dalam usaha kita mengenal Dia melalui Firman. Tapi justru, melalui segala apa yang Ia berikan kepada kita, hikmat, bahasa, pengetahuan, alkitab, khotbah-khotbah yang baik, buku-buku … kita harus gunakan sebaik mungkin. Dalam kita mengenal Dia dalam segala keterbatasan kita, dan menemukan tujuan dan kekuatan untuk menjalani panggilan kita di dunia ini, karena kita boleh melihat pengharapan kekal yang Ia janjikan di kehidupan nanti.

Iklan

Hukum Kesembilan: Jangan Mengucapkan Saksi Dusta Tentang Sesamamu

Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
Kel 20:16

falsetestimony-mathcaddy.comBerbohong adalah salah satu mekanisme mental bertahan hidup manusia secara alami (akibat dosa). Manusia tidak usah diajari berbohong, ia akan berbohong. Karena status keberdosaan manusia, manusia terpisah dari Allah, sehingga mementingkan kepentingan diri. Segala naluri nya pun tertuju untuk mempertahankan diri. Ketika ada debu, dengan cepat mata memberikan refleks tutup mata. Pada saat tangan memengang sesuatu yang panas, secara refleks akan menarik tangan, ketika ada benda asing masuk ke saluran pernafasan, secara refleks kita bersin. Ketika kita melakukan kesalahan, kemudian orang bertanya, “apakah kau lakukan ini?”, maka manusia berpikir: kalau saya berkata jujur, maka saya akan kena hukum. Maka ada suatu dorongan naluriah manusia untuk mengatakan “tidak”. Tapi, kepada manusia Tuhan memberikan hati nurani, sesuatu suara yang menentang naluri tersebut, sehingga manusia tidak semata-mata hidup menuruti naluri biologisnya.

Suatu saat, ada seseorang mengendarai mobil dalam keadaan ngantuk, tidak sengaja orang ini menabrak mobil lain. Pemilik mobil yang ditabrak ini keluar dan marah. Respon yang umumnya orang pikirkan saat menghadapi keadaan ini umumnya adalah berpikir apa kira-kiranya alasan yang saya berikan yang bisa membenarkan saya? Walaupun sudah jelas-jelas ia salah, masih ia mencari alasan untuk membenarkan diri. Saya percaya, ini adalah pemikiran umum banyak orang.

Adam, melanggar perintah Allah dengan memakan buah yang dilarang. Saat Allah meminta pertanggungjawaban Adam, respon pertama Adam adalah menyalahkan Hawa. Saat Allah meminta pertanggungjawaban kepada Hawa, Hawa menyalahkan ular (wujud setan). Naluri untuk melepaskan diri dari kebenaran dengan pemikiran untuk mempertahankan diri, adalah sesuatu yang ada sejak manusia pertama jatuh dalam dosa.

Manusia dicipta menurut rupa dan gambar Allah. Allah kita adalah Allah sumber kebenaran, sehingga walaupun manusia telah jatuh dalam dosa, manusia masih memiliki sepercik sifat ini. Manusia masih diberikan hati nurani. Sesuatu yang menegur kita saat kita berbohong. Cuma manusia yang punya nurani seperti ini, makanya manusia dituntut hidup untuk menyatakan kebenaran-Nya. Oleh sebab itu, manusia harus hidup menyatakan yang benar. Kalau kita bersalah, kita harus berani mengatakan yang sebenarnya. Di hadapan Allah, maupun di hadapan manusia. Jikalau untuk itu, akhirnya ada hukuman yang harus kita tanggung, kita harus berani bayar harga untuk itu.

Jika dikaitkan dengan konteks jaman pada waktu itu adalah jangan sampai orang menggunakan kesaksian palsu untuk mendatangkan hukuman atas seseorang.

Pada zaman dulu, kesaksian orang itu yang berpengaruh. Atas kesaksian 2-3 orang, seseorang bisa kena hukuman mati. Nabot dihukum mati, karena ada orang upahan yang dibayar untuk bersaksi palsu. Oleh sebab itu, Allah memberikan suatu peringatan keras kepada manusia jangan bersaksi dusta. Kesaksian itu harus menyatakan kebenaran, bukan perkara yang palsu untuk kepentingan diri.

Tapi, perlu diperhatikan juga, perkataan jujur pun kalau disampaikan dengan tidak benar, atau dengan niatan yang tidak baik, itu pun salah. Seorang guru yang menemukan anak muridnya sangat bodoh, bukan berarti harus mengatakan kamu bodoh! Kalau memang ia sudah diajar, tapi murid itu tetap tidak bisa, mungkin memang fakta bahwa ia bodoh. Tapi, dengan mengatakan kamu bodoh! apakah itu perkataan yang bermanfaat bagi anak? Tidak! Perkataan seperti itu, akan menjadi perkataan yang menjatuhkan. Orang yang tahu ia bodoh melalui perkataan seperti itu tidak akan membuatnya menjadi giat belajar, tapi akan membuat dia percaya bahwa ia bodoh.

Kejujuran itu harus, tapi pastikan saat kita mengatakannya, kita katakan dengan tujuan membangun, kita kata tanpa ada suatu niatan yang tidak baik. Oleh sebab itu, hendaknya kita jaga perkataan kita. Hendaknya perkataan kita menjadi perkataan yang menjadi berkat untuk orang lain.

Atau mungkin kita mengatakan sesuatu yang (dianggap) benar, tapi kebenaran yang kita ketahui itu ternyata salah. Pada zaman era teknologi yang berkembang sangat cepat, kita begitu mudah untuk masuk kedalam perangkap ini.

Pada saat ini kita mengenal istilah hoax (berita bohong). Ada orang dengan tujuan tertentu, atau mungkin sekedar iseng, membuat suatu berita bohong, kemudian di sebar melalui media sosial. Orang yang menerima berita itu, menganggapnya sebagai suatu kebenaran. Padahal, saya akan katakan bahwa 60%-70% (asumsi pribadi) berita yang disebar lewat broadcast media sosial itu adalah hoax.

Sebagai pengguna media sosial, kita harus belajar berhati-hati dalam menyebarkan berita. Teliti dengan baik, berita yang akan kita sebar. Jika berita itu memang benar, maka pertimbangkan hal ini: apakah berita ini bermanfaat bagi orang lain? Jika itu bukan sesuatu yang bermanfaat, ada baiknya kita tidak ikut menyebar-nyerbarkan informasi seperti itu. Ikut menyebarkan berita-berita seperti ini, maka kita terlibat menyebarkan kebohongan.

Manusia dicipta menurut rupa dan gambar Allah. Allah kita adalah Allah sumber kebenaran. Oleh sebab itu, kepada menusia diberikan suatu hati nurani. Sesuatu yang menegur kita saat kita berbohong. Cuma manusia yang punya nurani seperti ini. Oleh sebab itu, manusia dituntut untuk menyatakan kebenaran. Jangan latih hati nurani untuk terbiasa dengan kebohongan.