Mentalitas “asal jangan salah”

Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
Matius 25: 24-28

Sangat disayangkan kalau sampai banyak orang Kristen memiliki mentalitas “asal jangan salah”, “asal tidak berbuat dosa”. Dalam perumpamaan hamba yang menerima talenta, dosa orang yang menerima satu talenta bukan memboroskan harta, bukan salah bisnis, bukan memukuli hamba lain, bukan cemburu, dia tidak melakukan suatu perbuatan yang salah. Tapi, meskipun demikian, tuannya berkata: hai kamu hamba yang jahat dan malas!

Kekristenan bukanlah suatu tentang hidup “asal tidak melakukan kesalahan”, Kekristenan adalah kehidupan yang aktif menggenapkan kehendak Allah.

Anda tidak berzinah? Anda tidak membunuh? Anda tidak menjalankan bisnis kotor? Itu semua bagus. Tapi hendaklah kita semua tidak merasa puas dengan cuma “asal tidak berbuat dosa”. Melakukan kehendak Allah bukanlah kehidupan pasif yang hanya berpikir asalkan saya tidak berbuat dosa tanpa mau berusaha mengerti apa yang Tuhan mau saya kerjakan lewat hidupnya.

dikutip dari khotbah Pdt. Eko Aria.

Iklan

Bersukacita Karena Tuhan

Tuhan paling dimuliakan ketika orang percaya bersukacita karena Tuhan. – John Piper

kalau doa kita sudah jadi beban, pasti ada sesuatu yang salah dalam kerohanian kita.

Kalau saudara tidak lagi bergairah berdoa,
kalau saudara tidak lagi bergairah membaca Firman,
mungkin kedagingan sudah merajarela.

Antonius Stephen Un – Kebaktian Minggu (2011-11-12)