Anugerah Tuhan Lewat “Tubuh”

Jika malaikat berbuat dosa ia berdosa dalam keadaan rohaniah yang kekal
Jika manusia berbuat dosa ia berdosa dalam keadaan jasmani yang berada kurung waktu
Itulah sebabnya manusia berbeda dengan malaikat.
Perfect_humanDengan demikian, keberadaan manusia dalam bentuk tubuh jasmaniah adalah suatu anugerah, karena jika manusia sudah tidak lagi berada dalam tubuh, tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat. Ia harus berhadapan langsung dengan Allah. Keberadaa manusia dalam bentuk tubuh jasmaniah adalah waktu yang masih Tuhan berikan menyelesaikan dosa-dosanya sebelum ia berhadapan dengan Allah.
.
Selain itu juga, melalui tubuh, Allah menggenapkan rencana keselamatanNya melalui Kristus. Manusia yang seharusnya dihukum, tapi mendapat anugerah. Dengan demikian, manusia bisa menaikan ucapan syukur yang lebih, karena melalui keberadaan kita dalam tubuh, kita bisa mengalami pernyataan kasih Allah berupa penebusan oleh Kristus (yang tidak dialami oleh malaikat).
.
(Catatan diatas adalah catatan singkat pribadi saya dari Eksposisi Ibrani 2 oleh Pdt. Dr. Stephen Tong)

Kesimpulan:

Setelah memahami hal diatas, jangan lagi menganggap tubuh sebagai “penjara bagi jiwa”. Walau dari tubuh kita saat ini kita merasakan berbagai kesukaran, kita mengingat selalui bahwa segala yang kita alami dalam keadaan tubuh ini masih kecil dibanding dengan segala anugerah yang Ia sediakan bagi kita. Seperti pernyataan Paulus:

Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

Filipi 3:7-11

Ingat! Selama Anda masih memiliki nafas hidup, gunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Jangan bermain-main dengan dosa. Bertobat! Pergunakan segala kesempatan yang Tuhan berikan sebaik mungkin untuk kemuliaan NamaNya, karena setelah yang jasmaniah berlalu, hal itulah yang akan tinggal tetap dalam kekekalan.

Respon Terhadap Berkat dan Penderitaan

Dulu,
bila mengalami berkat, saya berpikir: “Puji Tuhan, Tuhan menyertai dan memberkati usaha saya”
bila mengalami masalah, saya berpikir: “Tuhan sedang menegur saya, saya harus koreksi diri”

Sekarang,
bila mengalami berkat, saya berpikir: “Apa yang Tuhan ingin saya kerjakan dengan berkat ini?”
bila mengalami masalah, saya berpikir: “Apa yang Tuhan ingin saya kerjakan kondisi ini?”

(dalam berkat ataupun penderitaan, koreksi diri harus selalu dilakukan, bukan saja hanya dalam penderitaan)

“Aku berbuat baik karena …”

Aku berbuat baik agar …
Tuhan yang melihatku berkenan mencurahkan berkat dan pahalaNya kepadaku.
Supaya aku diberkati, supaya aku dilepaskan dari masalah-masalahku, supaya Ia berkenan mempertemukan aku dengan jodohku, supaya hidupku lancar, supaya aku … masuk surga …

Tidak! hari ini aku belajar, aku berbuat baik yang benar karena itulah yang menyenangkan hatiNya. Dengan menyenangkan hatiNya, aku bisa berada didekat denganNya, hingga hadiratNya boleh memenuhiku. Karena hanya dengan berada didalam hadiratNya, aku boleh mendapatkan sejatinya suatu kebahagiaan.

Kesempatan Melayani

Martha_Bethanien

(7) Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! (8) Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. (9) Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? (10) Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Luk 17:7-10

Ada saat dimana saya lelah melayani. Perselisihan-perselisihan kecil yang terjadi, atau bahkan perkataan tajam yang seringkali terlontar secara tidak sengaja disaat-saat mepet, seringkali menjadi kepahitan-kepahitan kecil tersimpan dalam hati; menumpuk hingga meledak pada suatu ketika. Belum lagi untuk banyak hal-hal yang harus dikorbankan untuk melayani, ada kalanya hal itu membuat saya begitu lelah dalam melayani.

Terkadang saya berpikir untuk ambil cuti dalam melayani dan menjadi jemaat yang duduk manis di setiap kebaktian, tanpa harus dipusingkan dengan berbagai persiapan pelayanan.

Saya mengalami hal itu, dan percayalah! itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Saat saya (di)berhenti(kan) dari pekerjaan saya, saya merasa menjadi sebuah alat yang tidak lagi digunakan. Ambil contoh handphone misalnya; orang menciptakan handphone, setiap komponen yang diletakkan didalamnya pastilah memiliki tujuan, kalau tidak ada gunanya, pastilah akan dicabut. Terlebih lagi Allah yang menciptakan seluruh alam semesta ini, dan kita didalamnya. Allah menciptakan kita sebagai bagian dari semesta yang Ia ciptakan, pastilah memiliki fungsi. Anda bayangkan, apa yang akan terjadi pada kita tidak menjalankan fungsi kita sehingga Ia menilai kita adalah komponen yang tidak berguna?

Saya boleh menyadari betapa besar anugerah yang terima kalau Allah mau memakai kita untuk kemuliaan namaNya. Tapi, kalau pun memang belum saatnya saya boleh melayani, saya berpikir: siapakah saya, sehingga saya boleh merasa berlayak melayani Dia yang Maha Kudus? Dan jika suatu saat Ia berkenan memakai saya menjadi alat kemuliaan bagi namaNya, saya berpikir: siapakah saya, sehingga saya boleh dipakai untuk menjadi alat kemuliaanNya? Apa yang saya lakukan sama sekali tidak sebanding dengan anugerah yang Ia berikan; saya hanya melakukan apa yang saya harus lakukan.

Jadi, bagi yang sedang lelah melayani, ingatlah! Adalah anugerah, kamu boleh dipakai untuk bisa melayaniNya. Jangan sia-siakan! karena akan ada masanya kau tidak akan bisa lagi melayaniNya. Segala talenta yang telah kau terima, adalah sesuatu yang Ia akan tanya kepadamu: “apa yang telah kau kerjakan dengan talenta yang Kuberikan kepadaMu?”

Kekuatiran Orang Kristen

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Filipi 4:4-7

Hati yang penuh kekuatiran

Kekuatiran adalah emosi manusia yang sangat lazim terjadi, tidak ada seseorang pun yang tidak pernah kuatir. Hati yang penuh kekuatiran, diibaratkan seperti orang yang selalu tidak tenang. Ketika belum menikah, kuatir. Sudah menikah, kuatir suami nya baik tidak. Sudah menikah 3 tahun, tetapi belum hamil, kuatir. Setelah hamil, kuatir anaknya nanti jadi apa kalau sudah besar, akan dapat jodoh seperti apa. Jadi, segala keadaan bisa membuat hati dan hidup tidak tenang. Diberi tidak tenang, tidak diberi juga tidak tenang. Apapun kuatir. Susah sekali menjadi Tuhanmu.

Sebenarnya kekuatiran dapat dilihat dalam 2 aspek, yakni positif dan negatif. Positifnya, seseorang yang kuatir setidaknya dia adalah orang yang menaruh hati di dalam hal-hal tertentu yang dia kuatirkan. Selain itu juga, orang yang kuatir adalah orang yang pintar menganalisis dan memperhatikan banyak hal. Orang yang menganalisis lebih jelas, mengetahui lebih jelas, dan dari mengetahui baru bisa kuatir. Negatifnya, kelemahan terbesar orang kuatir adalah terlalu pesimis dan negatif.

Orang yang pesimis selalu melihat kesulitan di dalam setiap kemungkinan, sedangkan orang optimis selalu melihat kemungkinan di dalam setiap kesulitan.

Yesus berkata jangan kuatir akan apa yang kamu makan, minum, pakai. Berimanlah, hai kamu yang kurang imannya!

Dimana kekuatiran bertambah, disitu iman berkurang. Dimana iman berkurang, disitu kekuatiran bertambah.

Jikalau kita setia, jujur, rajin, tekun, da menjalankan tugas kita sebagai manusia dihadapan Tuhan, Tuhan tidak mungkin membuang dan membiarkan kita.

Mengalahkan kekuatiran

Dengan doa, permohonan, dan ucapan syukur, serahkanlah segala kekuatiran kepada Tuhan. Bagaimana caranya? Apakah “serahkan kepada Tuhan” berarti kita tidak lagi bertanggung jawab? Tidak. Kita harus membedakan melarikan diri dari tanggung jawab dengan serahkan kepada Tuhan.

Serahkan kepada Tuhan berarti segala kesulitan yang melampaui kesanggupanku untuk menanggungnya, kuberitahu kepada Tuhan, tetapi kewajiban yang harus saya lakukan tetap saya tanggung di bahu.

Paulus berkata, jangan kuatir akan apapun, serahkan kepada Tuhan dalam doa, permohonan, dan ucapan syukur. Inilah hidup berdoa yang sempurna. Kelemahan kita adalah kehidupan berdoa yang selalu dipenuhi hal yang kedua,doa nya tidak ada, syukurnya tidak ada, yang ada hanya permintaan. Orang yang hanya datang untuk memohon dan meminta sesuatu adalah orang yang egois, dan parahnya setelah ditolong langsung menghilang dan tidak berterima kasih. Tuhan sangat tidak puas dengan orang yang sesudah menerima anugerah tidak mengucap syukur kepada-Nya.

Jadi, bagaimana caranya kita menang atas kekuatiran? Datang kepada Tuhan. Bersukacita dalam Dia, berdoa kepada Dia, beritahukan kepadaNya kebutuhanmu, mohon anugerahNya, dan bersyukurkah kepadaNya atas pertolonganNya.

Orang yang dapat mengalahkan dirinya adalah pemenang sejati. Orang yang tidak dapat mengalahkan dirinya selama-lamanya menjadi budak dari emosi yang salah.

Orang yang telah mengalahkan diri telah membuang ketakutan, kekuatiran, dan segala kemarahan yang tidak diperlukan. Maka penuhlah dengan iman, sukacita, cinta kasih dan pengharapan. Karena dimana ada pengharapan, disitu tidak ada ketakutan. Dimana ada iman, disitu tidak ada kekuatiran. Mari kita hidup dalam emosi yang sehat.

Tuhan memberkati. Amin.

Dikutip dari buku Pengudusan Emosi
Karya Pdt. Dr. Stephen Tong

Mengalami Kasih Tuhan: Kehidupan Jemaat Mula-mula

Paulus Mengajar -- Jemaat Mula-mula

Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira 3000 jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.

Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Kis 2:42-47

Pada saat kegerakan hujan awal terjadi, Roh Kudus bekerja begitu rupa sehingga banyak orang beroleh anugerah; banyak orang boleh mengalami pertobatan yang sungguh. Kisahnya bisa kita baca di Kis 2:41-47.

42: Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

Apa ciri dari orang yang sungguh2 mengalami pertobatan? dari pembacaan ayat 42 kita melihat bahwa mereka selalu bersekutu (beribadah) dan berdoa, tekun mendengarkan pengajaran Firman Tuhan.

Kata tekun menunjukkan, bahwa jemaat melakukan semuanya itu bukan atas dasar ‘paksaan’, karena tidak mungkin ketekunan bisa dihasilkan dari suatu paksaan. Tapi, tekun itu bisa jika ada hati yang sungguh – rindu akan hadirat Tuhan.

44-45: … segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, da selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.

Peduli dengan sesama seiman, kepeduliannya ditunjukan dengan sikap nyata, yaitu rela korbankan harga milik pribadi untuk bisa menolong sesama.

Bagi kita (Anak Sekolah Minggu), bentuk kepedulian itu bisa dilakukan contohnya dengan meluangkan waktu kita untuk mendoakan orang lain, meluangkan waktu untuk mendengarkan masalah yang dihadapi teman kita, atau mungkin bisa menyisihkan sebagian uang jajan kita untuk bisa membantu teman kita yang mengalami kesulitan.

46: Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,

Sikap saling melayani sesama yang mereka lakukan dilakukan dengan sukacita. Jadi, kalau memang anak-anak mau belajar untuk melayani sesama, pastikan anak-anak bisa melakukan itu dengan sukacita. Kalau tidak, senantiasa berdoa kepada Tuhan, agar Ia memampukan kita untuk bisa belajar mengasihi sesama kita (teman), sehingga kita bisa melakuan semuanya itu dengan terpaksa. Dengan demikian, kalaupun orang yang kita layani (sengaja/tidak sengaja) mengecewakan kita atau menyakiti hati kita, kita tidak menyimpan kebencian kepadanya.

47: sambil memuji Allah.

Apakah yang menjadi dasar pelayanan/ibadah/perbuatan baik kita? Apakah karena berharap teman kita bisa membalas perbuatan baik kita? apakah ada sesuatu yang kamu harapkan bisa terima dari temanmu? Baca 1 Yoh 4:19

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. (1 Yoh 4:19)

Puji-pujian kita kepada Tuhan — yang sejati berasal dari hati yang mengasihi Allah. Anak-anak pikir: “bisakah kita sungguh-sungguh memuji seseorang jika kita membenci atau tidak menyukai atau bahkan tidak mengenal orang itu?” Tentu tidak! Kalaupun bisa, pastilah hanya kepura-puraan. Dengan demikian, jikalau di dalam jemaat awal ada pujian bagi Allah, kita bisa melihat bahwa mereka mengalami (secara pribadi) kasih Tuhan dalam hidup mereka.

48: mereka disukai semua orang

Bagaimanakah mereka bisa disukai semua orang? Baca Mat 22:36-40.

“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Mat 22:36-40 menceritakan jawaban Yesus atas pertanyaan orang Farisi yang bertanya tentang hukum yang terutama. Hukum pertama adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, …”. Sebelum Yesus mengatakan hukum ke-2 (mengasihi manusia), Perhatikan kata yang sama dengan itu. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa melakukan hukum ke-2 sama pentingnya dengan melakukan hukum ke-1. Kita setuju bahwa mengasihi Allah adalah yang terutama, tapi bukan berarti kita boleh mengabaikan kasih kita terhadap sesama. Dengan demikian, orang yang mengasihi Allah, ia juga mengasihi sesama.

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

1 Yoh 3:20-21

Dan, tindakan kasih kita terhadap sesama itulah yang menarik orang untuk bisa suka kepada kita. Tapi ingat, jangan dibalik! Jangan kita melakukan sesuatu agar kita disukai orang lain.

Jika orang bisa menyukai kita, maka terjadilah …

47: …tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Orang boleh datang kepada Tuhan. Namun, perlu juga dipahami, bahwa bukan karena orang suka kepada kita semata maka ia boleh datang kepada Tuhan, tapi itu semua karena anugerah Tuhan buat mereka, dan anugerah buat kita, boleh dipakaiNya untuk kita boleh menjadi alatNya.

Membawa jiwa datang kepada Tuhan, itulah yang menjadi salah satu sukacita kita bagi orang Kristen sekaligus juga salah satu tugas penting yang Tuhan berikan kepada kita.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Mat 28:19-20

Demikian, jikalau kita coba buat suatu rangkaian dari cara hidup jemaat mula-mula untuk kita ambil sebagai pelajaran adalah sebagai berikut:

Tekun dalam ibadah dan ada suatu kesenangan/kerinduan untuk selalu mendengarkan Firman. Ketekunan yang lahir dari suatu hati yang telah mengalami kasih Allah. Sehingga, lewat pengalaman kasih itu, mereka bisa membagikan kasih kepada sesamanya dalam bentuk kepedulian dan saling pertolongan dengan suatu dorongan yang murni. Mereka lakukan itu bukan saja kepada jemaat, tapi juga kepada orang-orang diluar jemaat, bukan saja dalam bentuk kepedulian jasmani, tapi juga secara rohani, sehingga banyak orang boleh mengenal Kristus, dan boleh percaya.