7 Mei 2017: KKR Kesaksian – Dr. Christopher Yuan

Sebuah renungan dari kesaksian Dr. Christopher Yuan (perjalanan hidup seorang gay sehingga ia menemukan Tuhan, kisah seorang ibu yang mencari suatu harapan) dan respon Firman Tuhan dari Pdt. Stephen Tong.

  1. Firman Tuhan lebih tajam dari pedang bermata dua, menyatakan keberdosaan kita yang paling tersembunyi, tapi tidak ada dosa yang terlalu besar yang Tuhan tidak bisa ampuni
  2. Kasih Allah yang terbesar Ia nyatakan lewat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus
  3. Kita adalah pendosa, tidak layak menerima belas kasihan-Nya. Tapi, meskipun demikian Ia tetap mengasihi kita tanpa syarat.
  4. Cinta yang tanpa syarat tidak sama tidak berarti Ia setuju tanpa syarat dengan keberdosaan kita. Walaupun Allah mengasihi kita, Ia menginginkan kita untuk hidup suci, sebagaimana Ia juga suci.
  5. Perilaku dan keinginan kita tidak seharusnya menentukan identitas kita, karena kita adalah anak Allah, yang dibeli dengan darah yang Yesus
  6. Kita tidak berdoa untuk memaksa Tuhan mengikuti keinginan kita; kita berdoa untuk mengarahkan keinginan kita dengan-Nya. Doa tidak mengubah Tuhan; doa mengubah kita.
  7. Tuhan menjawab doa kita sesuai dengan kedaulatan-Nya
  8. Tetap bertekun dalam doa (dan puasan) karena ini adalah peperangan untuk memenangkan jiwa.
  9. Jangan cuma jadi orang Kristen yang baik yang hanya berpikir bahwa pergi ke gereja setiap minggu itu cukup; jadilah orang Kristen yang ‘luar biasa’ yang menunjukkan kasih dan kemuliaan Allah melalui hidup kita sehari-hari.
  10. Orang tua, jangan mengajarkan anak-anak Anda untuk menyelesaikan PR dan berhasil di sekolah dan karir lebih dari pada mengajarkan mereka untuk mencintai dan mengikut Kristus.
  11. Orang tua, jangan bertanya “kapan saya bisa mulai mengajarkan seksualitas kepada anak saya?” Tapi, bertanyalah “kapan batas akhir waktu saya harus mengajarkan mengajarkan seksualitas kepada anak saya sebelum dikatakan ‘terlambat’?” Kalau Anda tidak mengajar anak Anda seksualitas sesuai alkitab, dunia akan mengajarkan mereka seksualitas yang diluar alkitab.
  12. Tuhan memberimu bakat. Setan tidak bisa mengambilnya daripada mu, tapi ia mengacaukan mengalihkan pandanganmu kepadanya (membuatmu menggunakan bakat itu untuk dia).
  13. Tuhan tidak pernah berjanji bahwa besok kita akan hidup. Gunakan waktu hidupmu sebaik mungkin dalam melayani Dia, karena jumlah hari hidup kita sudah ditentukan. Lakukan pelayananmu seolah ini adalah ini adalah kali pertama dan terakhir kau melayani-Nya – mohonkan kekuatan kepada-Nya -lakukan dengan segenap hati, pikiran dan kekuatan.
  14. Penguasa dunia in menggunakan kuasa dan kekayana untuk membangun kerajaan-Nya, tapi Tuhan memakai mereka yang rusak, rendah, hati yang bertobat untuk membangun kerajaan-Nya.
“The kingdom of this world is become the kingdom of our Lord and of His Christ, and He shall reign forever and ever. Hallelujah. Amen.” – G.F. Handel

Bolehkan berdoa dengan mengutip “Doa Bapa Kami”?

lords-prayer_825_460_80_c1

Karena itu berdoalah demikian:
Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
(Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)
Mat 6:9-13

Mungkin orang Kristen kurang terbiasa dengan suatu doa yang dihapal, seolah kurang afdol kalau doa itu adalah sesuatu yang dihapal, seolah memberi kesan doa itu tidak berasal dari hati.

Doa Bapa Kami adalah suatu contoh doa yang Tuhan Yesus ajarkan langsung, dan di dalamnya terkandung prinsip penting bagaimana dan apa hal penting yang menjadi dasar doa kita.

  • Pada saat kita memanggil “Bapa kami yang di sorga“, adalah undangan Allah kepada kita untuk datang mendekat (lewat doa) seperti datang kepada seorang ayah, tapi juga dengan suatu sikap hormat yang melebihi dari pada yang kita bisa berikan kepada siapa pun di dunia ini.
  • Pada saat kita mengatakan “Dikuduskanlah nama-Mu“, adakah kita sungguh-sungguh memiliki hati yang ingin nama Tuhan dimuliakan?
  • Pada saat kita mengatakan “datanglah Kerajaan-Mu” Adakah kita sungguh-sungguh memiliki kerinduan kedatangan Tuhan?
  • Pada saat kita mengataakn “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Adakah kita sungguh-sungguh memiliki keinginan Tuhan menyatakan kehendak-Nya?
  • Pada saat kita meminta “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Adakah ia mau sungguh-sungguh menggantungkan hidupmu hari demi hari kepada-Nya?
  • Pada saat kita berkata “ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Adakah kita sudah sungguh-sungguh mengampuni?
  • Dan pada saat kita memohon “janganlan membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat”. Adakah kita sungguh-sungguh berusaha menjauhi pencobaan (atau jangan jangan kita dengan sengaja mencari pencobaan)

Tentu itu cuma penjelasan singkat dari Doa Bapa Kami. Ada banyak buku yang membahas tentang Doa Bapa Kami ini. Karena memang dalam doa yang singkat ini, terkandung suatu pengertian yang sangat dalam. Jadi, ini doa yang sangat baik, tapi seperti halnya doa lain. Doa tanpa disertai hati yang sesuai dengan perkataan doa, adalah sia-sia.

Jadi, hari ini, saat salah seorang anak sekolah minggu saya bertanya: Bolehkan saya berdoa dengan mengutip “Doa Bapa Kami“? Saya jawab: boleh! Asal, setiap kalimat yang diucapkan disertai dengan kesungguhan. Jangan sampai menganggap Doa Bapa Kami sebagai suatu mantra, atau suatu doa yang diucapkan hanya karena tidak tahu mau berdoa apa. Jika tidak siap untuk itu, doa sederhana yang sesuai dengan beban hati, itu lebih baik.

Tentu ini adalah sebuah tulisan dari hasil pembacaan kitab suci dan dan perenungan pribadi. Jika ada pemikiran lain atau tambahan, bisa meninggalkan komentar dibawah.

Ibadah yang ‘memuakkan’

10. Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora!
11. “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” firman TUHAN; “Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai.
12. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku?
13. Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan.
14. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya.
15. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.
Yesaya 1:10-15

Tuhan yang memanggil bangsa Israel menjadi umat-Nya, selama beratus-ratus tahun bersabar mendidik bangsa ini untuk memiliki hidup yang benar sebagai umat-Nya. Ibarat ayah yang sedang mendidik anaknya, seluruh tubuh anak ini pun sudah penuh luka karena didikan sang ayah, tapi tetap anak ini dengan kejahatannya, begitu juga dengan bangsa Israel yang hatinya selalu serong dari pada Tuhan. Sehingga kejahatan mereka sampai pada satu titik dimana bangsa itu disebut seperti “Sodom dan Gomora” (Yesaya 1:10)

Ibadah mereka menjadi sesuatu yang Tuhan benci (ayat 14), Tuhan memalingkan mendengar doa mereka (ayat 15). karena walaupun mereka beribadah, mereka masih mengerjakan kejahatan. Membaca Yesaya 1, menjadi perenungan buat saya. Adakan pelayanan yang kita kerjakan berkenan dihadapan Tuhan? Apakah Tuhan berkenan menerima doa-doa kita? Ataukan Tuhan begitu muak dengan segala doa dan persembahan kita karena Tuhan masih melihat kejahatan dan dosa dalam hidup?

Ada orang-orang yang sedang bergumul dengan dosa, tapi pergumulan itu tanpa kesungguhan untuk menjauhi dosa dan pencobaan, kemudian ia berlutut minta ampun kepada Tuhan. Pembacaan Yesaya 1 ini seharusnya membuat kita merenungkan: “Apakah saya sedang ke ge er dengan berpikir bahwa Tuhan berkenan menerima doa-doa dan ibadah saya? atau … jangan-jangan Dia sudah bosan dengan permintaan maaf saya, muak dengan doa-doa palsu karena tidak pernah disertai dengan tindakan, muak dengan permintaan maaf yang palsu karena tidak pernah disertai dengan kesungguhan menjauhi dosa. Apakah Ia sedang memalingkan wajah-Nya dari pada saya?”

Jangan sampai kita terlalu terlena dengan terus mengingat Tuhan yang Maha Kasih, Tuhan yang selalu menerima doa kita, Tuhan yang selalu mengampuni, tetapi melupakan Tuhan yang juga membenci dosa. Setiap hari kita berdoa, tapi tak pernah sungguh-sungguh mengarahkan hati untuk Tuhan, tak pernah membenci dosa, doa kita bisa jadi menjadi doa-doa yang memuakkan hati Tuhan.

Jadi, jika dalam doa kita berkata: “… ampunilah kami akan kesalahan kami … “ Hendaknya kita bersungguh-sungguh bergumul melawan tabiat perbuatan dosa dalam diri kita. Jika dalam doa kita berkata: “… janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, … “. Hendaknya kita juga bersungguh-sungguh menjauhkan diri dari pencobaan, bukannya terus membiarkan diri menyerah kepada keinginan-keinginan yang berdosa.

Apakah Doa Bisa Membawa Perubahan?

Jika ada orang bertanya: “Apakah doa bisa mempengaruhi pikiran Allah?” Saya akan menjawab “Tidak”. Kemudian, jika orang itu bertanya lagi: “Apakah doa bisa membawa perubahan?” Saya akan menjawab “Ya, tentu saja!”

Alkitab mengatakan bahwa ada ada hal yang Allah telah tetapkan dalam kekekalan. Hal-hal itu akan pasti akan terjadi. Jika Anda berdoa secara pribadi atau bersepakat bersama-sama dengan seluruh orang Kristen di seluruh dunia pun itu, itu tidak akan mengubah ketetapan Allah. Jika kita Kristus untuk tidak datang kembali, Ia tetap akan datang. Mungkin Anda akan bertanya, “Bukankah alkitab berkata bahwa jika dua orang dari padamu sepakat meminta apa pun juga permintaan mereka itu akan dikabulkan? (mengutip Mat 18:19-20). Ya, tapi ayat itu berbicara tentang disiplin gereja bukan permintaan doa. Jadi, kita harus mengambil semua ajaran alkitab tentang doa secara utuh dan bukan sembarang comot ayat yang dilepaskan dari konteksnya.

Ketetapan Allah tidak berubah karena Allah tidak berubah. Segala hal bisa berubah, dan semuanya itu berubah dalam kedaulatan-Nya yang Ia kerjakan lewat berbagai cara. Doa dari umat-Nya adalah salah satu cara Ia menyatakan pekerjaan-Nya ke dunia ini. Jadi, jika Anda bertanya apakah doa membawa perubahan, tanpa keraguan saya akan menjawab “Ya!”

Adalah mustahil untuk mengetahui seberapa besar intervensi Allah secara langsung dan seberapa besar Allah menyatakan pekerjaan-Nya lewat perantaraan manusia. Salah satu contoh favorit yang Calvin sering gunakan untuk menjelaskan ini diambil dari kitab Ayub. Orang Syeba dan Kasdim merampas keledai dan unta Ayub. Mengapa? Karena Setan mempengaruhi mereka untuk melakukan itu. Tapi kenapa? Karena Setan menerima ijin dari Allah untuk mencobai iman Ayub. Mengapa Allah menyetujui hal seperti itu terjadi? Ada 3 alasan: 1. Untuk membungkam fitnah Setan; 2. untuk menyatakan kebenaran Allah; 3. Untuk membenarkan Ayub melawan fitnah Setan.

Sebaliknya, motivasi Setan untuk mempengaruhi orang Syeba dan Kasdim adalah supaya Ayub mengutuki Allah. Tapi, kita bisa memperhatikan bahwa Setan tidak melakukan hal-hal yang supranatural untuk mencapai tujuannya. Setan menggunakan tangan manusia — orang Syeba dan Kasdim yang memang memiliki hati yang jahat — untuk merampas ternak Ayub. Mereka terlibat, tapi juga mereka tidak dipaksa.

Orang Syeba dan Kasdim bebas memilih, tapi buat mereka, dan sama halnya untuk kita, kebebasan selalu berarti kebebasan dalam suatu keterbatasan. Jangan sampai kita salah membedakan antara kebebasan manusia untuk memilih dan otonomi manusia (human autonomy). Pemahaman tentang kedaulatan Allah dengan otonomi manusia selalu bertentangan. Tapi, tidak ada pertentangan antara pemahaman tentang kedaulatan Allah dengan kebebasan manusia.

Jika Orang Syeba dan Kasdim berdoa: “Jangan bawa kami dalam pencobaan, tapi jauhkanlah kami dari yang jahat.” Saya yakin bahwa ternak Ayub akan tetap dirampas, tapi bukan oleh orang Syeba dan Kasdim. Allah bisa menjawab doa mereka, tapi juga bisa menggunakan perantara lain untuk merampas ternak Ayub. Manusia memiliki kebebasan, tapi kebebasan itu adalah kebebasan yang terbatas, dan dalam batasan itu,  doa kita bisa membawa perubahan.

Disadur dari R.C Sproul — Does Prayer Change Things?

Jika Allah Maha Tahu, Mengapa Kita Berdoa?

Saya belum pernah bertemu dengan presiden. Kalau pun saya datang ke istana negara, minta bertemu dengan presiden — hanya sekedar untuk bercakap-cakap atau curhat, belum tentu saya diijinkan untuk menemuinya.

prayerAllah, Ia yang jauh lebih besar dari presiden, mengundang kita untuk datang menghadap hadirat-Nya, untuk bercakap-cakap. Bukankah ini suatu kehormatan yang jauh lebih besar? Dengan demikian, doa itu bukanlah perintah yang semata beban tugas yang harus dikerjakan manusia, tapi doa adalah hak istimewa yang Allah berikan kepada manusia untuk bisa berkomunikasi (commune) dengan Allah.

Mengutip dari tulisan R.C Sproul — Does Prayer Change Things?:

Saya memiliki relasi yang sangat baik dengan istri saya. Saya sering kali tahu apa yang akan istri saya katakan sebelum ia mengatakannya, begitu pula sebaliknya. Tapi, saya tetap ingin mendengarkan ia mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. Demikian juga relasi kita dengan Allah. Kita memiliki suatu hak istimewa dimana kita bisa menyatakan pikiran kita yang terdalam dengan Allah. Tentu, kita bisa berlutut dan diam, lalu membiarkan Allah membaca pikiran kita, kemudian kita menyebut itu sebagai berdoa. Tapi, itu bukan lah suatu suatu persekutuan (communion) dan ini tentunya bukan kominikasi (communication).

Allah yang berdaulat atas seluruh sejarah umat manusia, Ia mengetahui segala hal yang ada didalam hati manusia, Ia juga beranugrah memberikan suatu hak kepada kita bisa mengatakan dengan mulut kita apa yang menjadi keinginan hati kita. Bahkan melalui doa yang kita panjatkan, kita diijinkan melihat Allah menggunakan doa yang kita panjatkan sebagai sarana Ia menyatakan pekerjaan-Nya ditengah-tengah kita.

Kemahatahuan Allah tidak menghilangkan kewajiban kita untuk berdoa, bahkan itu seharusnya menjadikan kita lebih mengagumi-Nya; bukan membatasi doa kita, tapi memperindah ucapan syukur dan pujian yang kita naikan ke hadirat-Nya.

Tuhan memerintahkan kita untuk berdoa (Luk 18:1; Yoh 15:7; 1 Tes 5:17-18). Tapi, lebih dari itu, doa adalah suatu hak yang diberikan kepada orang percaya.  Melalui doa, kita di undangan untuk berbagian dalam pekerjaan yang menyatakan kemuliaan-Nya. Jadi, berhentilah melihat doa sebagai beban.

Martin Luther – Tiga Jam Doa

Seseorang pernah bertanya kepada Martin Luther tentang apa rencananya untuk hari itu. Dia menjawab: Kerja, kerja, dari pagi sampai malam. Bahkan, sangking sibuknya, saya harus memakai 3 jam pertama untuk berdoa.

Kita harus bisa melihat doa sebagai hal yang paling penting dan efisien untuk kita lakukan dalam kita menggunakan waktu.

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. (Yak 5:16)

Mengapa Berdoa Sebelum Makan?

200408-omag-family-pray-600x411Ada anekdot yang mengatakan: “kalau orang Kristen di depannya dikasih piring (isi makanan). langsung otomatis berdoa”. Seringkali doa makan menjadi sesuatu yang “biasa” dan otomatis, sehingga tak jarang ada orang berdoa makan dua kali, lupa kalau dia sudah berdoa.

Ungkapan syukur, baik itu dalam bentuk korban persembahan atau ucapan, sudah ada sejak dulu. Dalam Alkitab, sejak dari kitab Kejadian, kita melihat ada ucapan syukur yang diberikan kepada Tuhan dalam bentuk ucapan maupun korban bakaran; ada ucapan syukur yang diberikan kepada seorang dalam bentuk ucapan terima kasih.

Dalam budaya saat ini pun, kebiasaan mengucapkan terima kasih sudah diajarkan sejak anak mulai belajar bicara. Orang tua akan mengajarkan anaknya untuk mengucapkan terima kasih jika ia menerima sesuatu. Begitu juga saat kita menerima suatu pemberian dari Tuhan. Kita percaya bahwa makanan yang diterima adalah pemberian Tuhan. Walaupun ia bekerja untuk makanan itu, tapi tetap kita percaya bahwa jika bukan Tuhan yang beranugerah, tidak mungkin bisa menikmati makanan. Jadi, jika seorang anak diajari orang tua nya untuk mengucapkan terima kasih setiap menerima sesuatu, masakan kita tidak mengucapkan terima kasih kepada Tuhan?

Oleh sebab itu, saat kita “berterima kasih” dalam doa kita, hati harus pula memiliki pengertian, menyadari dan mengakui bahwa makanan ini dari Tuhan dan saya berterima kasih untuk makanan ini. Dengan demikian, doa makan adalah latihan rutin bagi hati kita untuk bersyukur kepada Tuhan, untuk setiap hal-hal kecil yang diterima. Jangan sampai kita hanya terbiasa mengucap syukur untuk hal-hal besar. Saat menerima kenaikan gaji, kita bersyukur! Kalau kita disembuhkan dari penyakit, kita bersyukur! Kalau kita mendapatkan berkat lebih, ktia bersyukur! Tapi, banyak orang mungkin orang akan jarang bersyukur untuk kesehatan Tuhan berikan pada waktu kita bangun pagi, gaji pas-pasan yang diterima, keselamatan dalam perjalanan pulang pergi kantor, atau makan yang Tuhan ijinkan kita dapat. Dengan demikian, ada makan yang kita bisa nikmati, itu adalah suatu anugerah. Ingat, tidak semua orang menerima anugerah ini. Ada orang-orang yang harus berpuasa, karena tidak bisa mendapatkan makanan, ada orang yang harus berpuasa karena kondisi kesehatan yang tidak memperbolehkannya untuk bisa menikmati makanan.

Setelah berdoa, mengucap syukur untuk makanan. Sikap syukur itu pun harus dinyatakan sejalan cara kita menikmati makanan. Kalau saya memperhatikan dalam suatu resepsi pernikahan. Banyak kali orang mungpang-mungpung ambil makanan pada buffet, berpikir bahwa kalau tidak habis, saya bisa membuangnya (toh ini gratis). Saya rasa ini adalah suatu pemikiran yang salah. Saat kita berdoa, bersyukur untuk makanan, itu berarti kita juga harus belajar menghargai makanan yang diterima. Jangan mengambil makanan atas dasar nafsu lapar atau keserakahan, ambil secukupnya! jangan mungpang-mungpung gratis!

Jika seorang yang mau berjudi, kemudian berdoa meminta kemenangan. Apakah itu benar? Tentu salah!
Jika seorang mendoakan suatu hubungan relasi serius dengan seseorang yang adalah istri/suami orang lain. Apakah itu benar? Tentu salah!
Jika seorang tahu bahwa makanan yang akan dimakan adalah berbahaya. Kemudian kita berdoa meminta Tuhan untuk menjadikan makanan ini sehat bagi tubuh? Inipun salah. Doa makan bukanlah mantra yang berkuasa menjadikan makanan menjadi sehat. Kepada manusia, Tuhan memberikan hikmat. Dengan hikmat ini, manusia harus menimbang, mana yang baik, mana yang tidak baik.

Bagaimana kalau makanan itu sudah dijampi-jampi? atau makanan itu bekas sesajen? Mengenai makanan, rasul Paulus memberikan suatu penjelasan di 1 Kol 10.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain. Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Karena: “bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan.” Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Tetapi kalau seorang berkata kepadamu: “Itu persembahan berhala!” janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani. Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberatan hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu. Mungkin ada orang yang berkata: “Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain? Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang berkata jahat tentang aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur?” Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.
(1 Kol 10:23-33)

Jadi, untuk makanan seperti ini, saya sendiri memilih untuk tidak memakannya. Saya tidak mau mencobai diri dengan menantang kuasa si jahat hanya untuk kenikmatan perut, saya tidak mau untuk kenikmatan yang sedikit ini saya menjadi sandungan buat yang lain. Tapi, kalaupun terpaksa harus (special case only) atau tidak sengaja memakannya, saya percaya itu bukanlah suatu dosa. Lebih dalam lagi soal makan-memakan ini, baca Mar 7:14-23.

Jadi, haruskah orang Kristen berdoa sebelum makan? Harus! Tapi bukan sekedar ritual atau mantra. Doa sebelum makan adalah ucapan syukur kita kepada Tuhan untuk makan yang kita bisa nikmati, latihan rutin bagi orang percaya untuk mensyukuri dan menghargai setiap anugerah yang kita terima dari Tuhan.