Pergumulan Ayub

Pernahkan Anda mengalami hal ini:

kau bertobat, meninggalkan hidup lamamu dan senantiasa belajar mengarahkan hidupmu kepada perkara yang kudus.
setiap hari berdoa dan membaca Firman Tuhan.

tapi masalah seolah senantiasa tidak pernah lepas dari hidupmu.
bahkan setiap hari masalah terasa semakin mencekik.
(seolah) setiap janji dalam alkitab itu terasa begitu jauh.

Kau berdoa, berharap temui jalan keluar/pertolongan Tuhan.
Tapi pertolongan (seolah) tak pernah datang.

Setiap hari bertanya: “kapankah pertolonganNya tiba?”

Adakah ini hukuman?
Jika ini hukuman, adakah sesuatu dosa yang belum ku selesaikan?
Adakah suatu anugrah yang terselubung dibalik semua ini.

Mengalami hal tersebut mengingatkan saya pada Ayub.

Ayub dicobai iblis.
Seluruh harta dan keluarganya seolah “dirampas” dari padanya dengan seketika.

Itu menjadi sesuatu yang kualami. Sulit! Namun satu hal yang saya belajar.

40 tahun masa kesukaran, kesukaran terbesar Ayub bukanlah karena kemiskinan, sakit penyakit, kesendirian. Tapi, keadaan dimana seolah-olah Tuhan telah meninggalkannya.

Mungkin dia berdoa setiap hari bertanya “mengapa”. Tapi, selama 40 tahun, Tuhan tidak memberikan jawaban. Yang ada adalah teman-temannya yang menuduh kalau Ayub telah bersalah kepada Tuhan.

Begitu juga dengan Yesus.
Saat Ia menderita diatas salib. Disaat terakhir diatas salib, Ia berseru: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Bapa, mengapa Kau meninggalkan aku?)

Dengan demikian, penderitaan yang terberat itu bukanlah sakit penyakit, kemiskinan atau bahkan penganiayaan. Namun, berada jauh dari hadirat Tuhan itulah kesukaran yang sebenarnya.

Saya percaya, mengikut Tuhan bukan berarti hidup tanpa masalah. Tapi hidup memuliakan Tuhan. Jadi, bila kesukaran diijinkan terjadi dalam hidup kita, biarlah itu menjadi suatu bagian/jalan untuk memuliakan Dia. (Asalkan jangan kita menderita karena dosa.)

Dalam mengikut Tuhan, setiap hari mungkin masalah itu akan selalu ada. Namun, setiap hari juga kita akan merasakan pertolongannya. Sehingga seberat apapun masalah/hari yang kita lewati, dimalam hari kita masih bisa berlutut dan bersyukur: “Terima kasih Tuhan, untuk pimpinanMu yang menolongku melewati hari ini.”

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s