Bersukacita Karena Tuhan

Tuhan paling dimuliakan ketika orang percaya bersukacita karena Tuhan. – John Piper

kalau doa kita sudah jadi beban, pasti ada sesuatu yang salah dalam kerohanian kita.

Kalau saudara tidak lagi bergairah berdoa,
kalau saudara tidak lagi bergairah membaca Firman,
mungkin kedagingan sudah merajarela.

Antonius Stephen Un – Kebaktian Minggu (2011-11-12)

Mengapa kita berdoa

1. kita memuliakan Tuhan ketika berdoa karena belajar merendahkan diri di hadapan Tuhan.
2. karena Tuhan ingin kita bersekutu dengan-Nya.
3. karena melalui doa kita belajar bergantung kepada Tuhan.
4. karena Tuhan Yesus sendiri adalah seorang pendoa syafaat.
5. karena doa adalah belajar menggumulkan hati Tuhan dan hati kita serta hati orang lain yang disucikan. Dalam doa kita mencurahkan isi hati kita kepada hati Tuhan.
6. dalam doa kita belajar jujur kepada Tuhan.
7. dalam doa kita belajar mencintai orang lain.

Sudahkah saudara berdoa hari ini?

(disadur dari Memikirkan Hati Tuhan)

Menyingkap Misteri “666”

(16) Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, (17) dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya.

(18) Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.

Why 13:16-18

Pandangan umum bagi banyak orang ketika mendengar tentang “666” langsung dikaitkan dengan “antikris”, atau bahkan isu populer saat ini, adalah chip yang ditanam di dahi.

Chip atau bukan chip, sebenarnya bukan itu yang penting. Sepanjang kitab Wahyu, Yohanes menggunakan gambaran simbolik mengenai pekerjaan setan. Begitu juga sepanjang pasal 13, jadi adalah ganjil jika hanya ayat 18 yang berbicara tentang “tanda 666” dirtikan secara literal.

Tidak ada hal yang baru dalam kitab Wahyu, kitab Wahyu ditulis sebagai penghiburan kepada orang-orang Kristen yang pada saat itu mengalami penganiayaan, isinya pun dibuat menggunakan gambaran agar bisa dimengerti oleh orang-orang Kristen dimasa itu. Semua simbol yang digunakan dalam kitab Wahyu ini semuanya bisa didapat di perjanjian lama. Begitu juga halnya dengan “666” ini. Ia pernah muncul 1x di 1 Raja-raja 10:14: “Adapun emas, yang dibawa kepada Salomo dalam satu tahun ialah seberat enam ratus enam puluh enam talenta, …”

Selanjutnya, dari pasal 10 tersebut, kita bisa melihat dosa Salomo (mengumpulkan banyak harta [Ulangan 17:16]), yang mengarah kepada kejatuhannya.

Jadi, apa itu 666?

Banyak tafsiran yang menjelaskan tentang 666 ini. Sebagian ada yang menjelaskan 666 ini dengan sistem gematria, namun gambaran secara gematria tidak bisa memberikan suatu gambaran yang konsiten.

Namun dalam kajian teologis, 666 itu lebih sering diartikan sebagai “enam – tiga kali” (6 x 3). “6” digambarkan sebagai usaha iblis untuk mencapai kesempurnaan (7) yang gagal. “3” itu sendiri dalam alkitab sering kali dipakai untuk menggambarkan Keilahian (contoh: Tritunggal).

Dengan demikian, 666 menggambarkan suatu pekerjaan iblis yang berusaha mengimitasi Allah namun gagal, karena Allah berdaulat atas semuanya.

Penderitaan: Kemenangan Orang Percaya

Anagni CathedralPenderitaan senantiasa ada dalam dalam perjalanan kekritenan sejak dulu. Kalau sampai kisah para martir difilmkan, mungkin itu akan menjadi film yang ngga rame, karena sepanjang film kita akan melihat begitu banyak penderitaan dan tak jarang berakhir dengan kematian dan (seolah-olah) unhappy ending. Tapi, bagi orang yang mengerti akan kebenaran kita percaya bahwa orang yang berpegang teguh pada imannya sampai pada kesudahannya adalah sebuah kemenangan.
Bahkan, kalau sampai ada orang yang mengalami penganiayaan karena Tuhan, itu pun adalah kemenangan. Karena itu menandakan bahwa:
  • Iblis tidak bisa mengganggu jiwa, makanya ia mengganggu (menganiaya) tubuh.
  • Iblis tidak bisa mengalahkan Allah, makanya ia hanya bisa melawan Allah dengan cara mengganggu umatNya.
Segala tujuan penganiayaan adalah membuat upaya manusia untuk melawan Allah. Iblis sendiri tidak tertarik dengan membuat manusia menderita. Yang dia inginkan adalah melawan Allah. Jika memang aniaya bisa membuat seseorang menyangkal Tuhan, ia akan melakukannya. Begitu juga sebaliknya, jika kenikmatan bisa membuat manusia menyangkal Allah, ia akan memilih jalan kenikmatan dibanding aniaya.