Bersaat Teduh

Seorang Kristen, harus punya waktu saat teduh. Tapi, kenapa?

Hanya sebuah pemikiran yang saya renungkan pagi ini. Mengapa saya harus bersaat teduh? Apakah karena kewajiban? Takut Tuhan marah? Menyenangkan hati Tuhan? Membina relasi dengan Allah? Atau mungkin menjadikan ini sebagai kesempatan untuk saya bisa berdoa dan meminta sesuatu kepada Tuhan? Sepenting itukah saat teduh sehingga saya harus belajar untuk bisa melakukannya secara konsisten?

Atau, jangan-jangan secara tidak sadar kita telah menjadikannya sebagai means to gain God’s favor (sarana untuk mendapatkan perkenanan Allah).  Mendekatkan diri kepada Allah supaya saya bisa meminta ampunan atas dosa kesalahan yang saya lakukan hari ini? Atau mungkin cuma karena saya orang Kristen, saya memang harus lakukan ini.

The only person who dares wake up a king at 3:00AM for a glass of water is a child. We have that kind of access. -- Tim KellerSatu hal yang sadari hari ini. Saat teduh seharusnya menjadi saat pembelajaran untuk kita menikmati persekutuan kita dengan Tuhan lewat doa dan Firman-Nya. Semakin menikmati, sehingga waktu saat teduh menjadi waktu yang paling dinantikan setiap harinya dan kita pun akan mempersiapkan waktu terbaik untuk bisa berdoa dan baca Alkitab, dan melihat kesempatan waktu saat teduh itu sebagai keuntungan besar.

Iklan

Kitab Wahyu X Avengers: Infinity War

Kalau ada orang bertanya: “Film Avengers: Infinity War, rame ga?”
Saya akan balik bertanya: “kamu nonton 18 film sebelumnya ga?”

Ya, Avengers: Infinity War (AIW) adalah film action yang cukup fenomenal dan spektakuler, tapi ia cuma salah satu bagian dalam satu narasi besar Infinity War yang dimulai sejak 10 tahun lalu. Ada 18 film mendahului cerita AIW ini, sehingga orang yang menonton AIW tanpa mengikuti keseluruhan ceritanya dari awal, akan menemukan AIW sebagai film dar-der-dor yang wah tapi dengan alur cerita yang ga jelas dan ending yang ngegantung.

AIW sebagai bagian dari Marvel Cinematic Universe (MCU)

Membuat character development pada suatu film, memiliki tantangan tersendiri. Oleh sebab itu, pada umumnya film akan menampilkan tidak lebih dari 5-6 tokoh utama. Lebih dari itu, pada umumnya penonton akan cukup kesulitan mendalami masing-masing karakter. Disinilah keistimewaan AIW, AIW memiliki lebih dari 70 tokoh dan hampir semuanya memiliki character development di 18 film sebelumnya. Karakter Tony Stark (Ironman) memiliki 6 film untuk character development, Steve Rogers (Captain America) 5 film, Thor 5 film, Doctor Strange 1 film, Guardian Galaxy 2 film, Black Panther 2 film, Spiderman 1 film (belum termasuk 5 film Spiderman sebelumnya), Hulk 1 film (diperankan oleh Edward Norton). Sehingga, ketika semuanya muncul dalam satu film, penonton — yang memang mengikuti cerita ini sejak awal — telah mengenal masing-masing tokoh ini secara mendalam, penonton akan mengenali setiap konteks dialog dan tindakan masing-masing tokoh dalam relasinya dengan film-film sebelumnya. Ketika kata tesseract disebut, kita akan teringat kepada seluruh cerita Captain America: First Avengers dan Avengers (1); ketika Tony Stark mengatakan “… since New York …” penonton akan diingatkan dengan kejadian invasi di Avengers (1); Ketika Doctor Strange memperkenalkan dirinya kepada Spiderman sebagai “Doctor Strange”, bagi penonton yang belum pernah menonton “Doctor Strange” akan mendapati joke itu terasa kurang lucu 🙂 . Walau penonton awam mungkin bisa waw dengan VFX yang disajikan film ini, mereka tidak akan pernah benar-benar mengerti dan menikmati film ini. Kita tidak akan pernah bisa menikmati AIW terlepas dari bagian-bagian sebelumnya. Kita tidak bisa mengerti AIW jika kita tidak melihatnya sebagai bagian dari narasi lengkap cerita Infinity War.

Membaca Kitab Wahyu

Kalau saya mau umpamakan, menonton AIW itu mirip membaca kitab Wahyu. Kitab Wahyu itu sendiri bukan bagian terpisah, ia adalah salah satu bagian dari narasi besar Alkitab yang menceritakan penciptaan, kejatuhan, penebusan, pemuliaan manusia, dengan Kristus sebagai salah satu tokoh utama dalam kisah itu. Perjanjian Lama (PL) memberikan narasi sejarah yang mempersiapkan kedatangan Kristus, Perjanjian Baru (PB) menceritakan Kristus yang menebus umat-Nya dan diakhir dengan kisah kedatangan-Nya yang kedua — kisah kemenangan-Nya —  yang ditulis di dalam kitab Wahyu.

Kitab Wahyu menjadi kisah end game, seperti AIW bagi Infinity War, demikian juga kitab Wahyu bagi Alkitab. Saya tidak berbicara mengenai perbandingan isi film AIW dengan Alkitab atau mengatakan kalau baca Alkitab itu sama dengan nonton film, tapi yang sama maksudkan adalah — sama seperti nonton AIW — kita tidak mungkin menikmati dan mengerti kitab Wahyu jika kita tidak mengikuti pembacaan 65 kitab sebelumnya. Ketika di kitab Wahyu bercerita tentang “Anak Domba” kita akan diingatkan kepada Kristus sebagai penggenapan anak domba yang dijanjikan dan digambarkan dalam korban Paskah, “tunas Daud telah menang…” mengingatkan kepada Allah yang setia memelihara janji-Nya. Jika kita membaca Wahyu terlepas dari bagian sebelumnya, kita akan menemukan banyak gambaran yang aneh, seperti “binatang bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh…” jika dilepaskan dari konteks sejarah Alkitab akan dimengerti sebagai mahluk mistik super aneh, “tanda 666” akan dikorelasikan dengan chip antikris.

Tentu saja, bukan artinya kalau sudah membaca keseluruhan Alkitab, artinya kita akan langsung bisa mengerti setiap bagian dari kitab Wahyu. Untuk mengerti kitab Wahyu tentu perlu pergumulan dan tuntunan Roh Kudus untuk kita bisa mengerti setiap pesan yang disampaikan di dalamnya. Tapi yang saya ingin sampaikan adalah jangan sampai kita membaca kitab Wahyu terlepas dari 65 kitab sebelumnya dan mencampurkannya dengan fantasi spektakuler yang mitos-mitos dan film-film populer.

Relevansi Dengan Kehidupan Nyata

Setiap nonton film superhero, untuk tokoh yang kita kagumi, kita akan mengidentikan diri kita dengan tokoh tersebut. Tapi, kalau bagaimana pun juga, mereka tetap adalah tokoh fiktif. Tapi, berbeda dengan Alkitab. Alkitab adalah kisah yang sangat relevan dengan hidup kita. Alkitab memberitahukan kepada kita, siapa yang mencipta kita, mengapa kita dicipta, kehancuran manusia karena dosa, rencana penebusan yang di rancangkan Sang Pencipta, pergumulan Tuhan umat-Nya dalam menyatakan rencana-Nya di dunia yang sudah tercemar dosa, dan … pada akhirnya, dalam kitab Wahyu kisah ini ditutup dengan suatu kisah kemenangan dan pemulihan ciptaan.

Tanpa mengerti kemalangan manusia akibat dosa, kita tidak akan mengerti besarnya anugerah keselamatan yang kita terima. Tanpa memiliki pergumulan yang sama dengan umat Tuhan, membaca kitab Wahyu akan memberikan kesan  menakutkan penuh siksaan dan kegentaran penghakiman Allah. Tapi bagi orang percaya turut menanggung pergumulan yang sama dengan umat Tuhan lain dalam menyatakan pekerjaan-Nya di bumi ini dan yang sama-sama menanti kedatangan-Nya, membaca kitab Wahyu akan mencari suatu penghiburan. Kitab Wahyu adalah happy ending yang sejati dimana Kristus, sang tokoh utama dalam kisah Alkitab menang — berbeda dengan AIW, ia adalah kisah fiktif yang tidak memiliki relevansi dengan kehidupan nyata kita — dan kemenangan itu menjadi sungguh-sungguh menjadi pengharapan kita juga. Karena kita percaya, setiap orang yang menerima Dia sebagai Tuhan dan Raja akan berbagian dalam kemenangan itu (amin).

“Rasanya ada yang salah…”

Kalau kamu makan dan tersendak, batuk beberapa kali, itu masih bisa dianggap normal. Tapi kalau sampai batuk terus ga berenti-berenti …. kamu akan mulai bertanya-tanya there is something wrong with me.
Tapi kalau kamu melihat melihat lawan jenis, dan muncul ketertarikan, itu masih bisa dianggap normal. Tapi kalau sampai kepikiran dan terbayang-bayang terus, atau muncul sensasi sensual, kamu harus mulai bertanya: “ini tidak wajar, … there is something wrong with me.”

Sexual fantasy, pornography, masturbasi, dan hawa nafsu yang terkendali … bukanlah penyebab, tapi ia ada gejala dari suatu penyakit yang lebih berbahaya. Yaitu penyakit pikiran yang sudah tercemar dosa, ini adalah pencemaran yang mencapai tingkat kronis sehingga ia matanya dibutakan sehingga melihat kotoran terlihat bersih, pandangan yang hanya melihat kenikmatan sesaat yang ada didepan mata, tidak bisa melihat Allah yang murka atas dosa.

Bahaya percabulan seringkali dianggap terlalu ringan karena pelakunya tidak dihadapkan kepada bahaya nampak, tapi kenikmatan yang instan. Tapi, seharusnya, orang percaya bisa melihat bahaya percabulan sebagai suatu bahaya yang sangat mengancap hidup. Dalam Matius 18, Tuhan Yesus mengajar bahwa kalau seseorang tidak memiliki keseriusan seperti mau “mencungkil mata” demi terlepas dari ikatan dosa, ia sangat dekat dengan neraka.

Ini adalah hal penting yang harus kau ingat! Jika kamu mulai menikmati sexual fantasy, menikmati melihat tampilan sensual pria/wanita, menikmati sex yang tidak wajar, itu tidak wajar. Kamu harus katakan ini pada diri: there is something wrong with me. repent! repent! (ada sesuatu yang salah dengan saya. bertobatlah! bertobatlah!)

#blog

Nasib Orang Berdosa

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan.
Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?
Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” (Lukas 13:1-5)

Jikalau kita menerima kabar kemalangan yang terjadi pada orang lain, apakah yang kita pikirkan? Mulut kita mungkin mengatakan “simpati” pada orang itu, apa yang kita pikirkan? Dengan malu saya harus mengatakan bahwa terkadang saya merasa lega. Lega bukan karena kemalangan itu terjadi pada orang lain, lega karena kemalangan itu tidak terjadi pada saya. Lega, karena tidak mengalami kemalangan memang wajar, tapi celakanya, seringkali perasaan “lega” itu disertai dengan pemikiran “saya masih cukup baik di mata Tuhan, sehingga Ia meluputkan saya dari kemalangan itu”.

Kalau kita percaya bahwa tidak semua kemalangan diakibatkan dosa, tapi kita juga harus ingat kemujuran/berkat/keberuntungan tidak tentu karena sesuatu hal baik yang kita kerjakan. Dalam keadaan mujur, dalam keadaan diberkati, kita pun senantiasa harus mengoreksi diri? Apakah yang Tuhan mau saya kerjakan? Apa yang harus saya lakukan untuk mengerjakan keselamatan yang Ia telah berikan? Adakah dosa yang saya masih belum selesaikan? Apakah saya sudah bertanggungjawab dalam panggilan yang Tuhan sudah berikan? Apakah yang sudah menghidupi setiap Firman yang saya telah terima … pertanyaan-pertanyaan ini tidak boleh berhenti ditanyakan kepada diri sendiri.

Jangan sampai ge-er dengan kemujuran yang kau alami! Kalau kau terus membiarkan diri dalam perbuatan-perbuatanmu yang berdosa, kisah di Lukas 13:1-5 memberikan peringatan keras — kau pun akan binasa dengan cara yang demikian.

Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia. Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, … (2 Petrus 3:14-15)