Setengah Abad Reformasi: Eben Haizer

“Mudah lupa” — mungkin memang sudah menjadi natur dari manusia. Sehingga, kita mengembangkan suatu tradisi memilih satu hari dalam satu tahun, hari yang dikhususkan untuk mengingat momen penting. Bukan demi momen itu sendiri tapi karena suatu nilai penting yang penting dalam momen tersebut yang perlu wariskan untuk generasi selanjutnya.

Setiap tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia akan mengingat kembali mengingat nilai-nilai perjuangan yang mengantar bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan
Setiap hari ke-14 pada bulan Nissan, orang Yahudi akan merayakan Paskah, untuk mengingat Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan, mengingat janji Allah yang membawa mereka ke tanah perjanjian.
Setiap tanggal 25 Desember, adalah hari yang dipilih oleh orang Kristen untuk mengingat kembali kasih Allah kepada manusia melalui Dia yang rela mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang manusia.

Tapi, adakah orang Kristen yang mengingat 31 Oktober sebagai hari reformasi. Sayangnya, orang lebih mengenal 31 Oktober sebagai hari halloween. Mungkin (semoga saya salah) … 7 dari 10 orang Kristen bahkan tidak tahu apa itu hari reformasi. Memang, kebanyakan orang tidak akan asing dengan nama “Martin Luther”, tapi mengenal Martin Luther sebagai … orang yang menentang kekuasaan gereja pada saat yang telah menyeleweng karena menjual surat penghapusan dosa (indulgensia), titik. Itu sebenarnya hanyalah sepenggal kecil dalam rangkaian gerakan reformasi, yang makna dan pengaruhnya jauh lebih besar dari sekedar Protestanisme vs Katolik. Reformasi memberikan dampak positif dalam perkembangan bidang seni, musik, ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, budaya, dan sosial. (beberapa referensi tambahan mengenai pengaruh reformasi [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8])

Martin Luther menjadi seseorang yang Tuhan bangkitkan untuk menyulut api semangat reformasi orang Kristen untuk mengembalikan kebenaran kembali ke alkitab (sola scriptura), mengembalikan pengertian bahwa sungguh pun keselamatan hanyalah karya Kristus semata (solus Christus) dan bilamana kita bisa menerimanya, itu hanya karena anugerah semata (sola gracia) yang kita hanya bisa terima melalui iman (sola fide). Sehingga dalam kesadaran hidup yang telah menerima anugerah keselamatan itu, orang percaya belajar memberikan segala penghormatan, segala pandangan hidupnya berfokus untuk memuliakan Allah (soli Deo gloria). Suatu api yang menyulut semangat yang mereformasi diri dan masyarakat seluruh orang Kristen di Eropa, sampai ke seluruh dunia, hingga 500 tahun setelah nya (saat ini).

Gereja generasi berikutnya harus mau belajar dari berbagai kesalahan dari generasi sebelumnya, sambil dengan rendah hati senantiasa mau belajar dari berbagai pergumulan generasi sebelumnya dalam memahami kehendak Allah. Dengan demikian, hari reformasi menjadi momen yang kita pilih … untuk merenungkan pekerjaan Tuhan disepanjang sejarah, sambil memungut semangat api perjuangan gereja dalam menyatakan Kristus di bumi ini.

raf,750x1000,075,t,fafafa_ca443f4786.hggu2.jpgKalimat Ecclesia reformata semper reformanda secundum verbum Dei (gereja reformasi, selalu mereformasi diri sesuai dengan Firman Tuhan) menjadi suatu slogan yang identik dengan reformasi dan juga menggambarkan pergumulan dari gereja-gereja reformasi. Gereja reformasi tidak terbatas pada sebuah label/merk/organisasi gereja. Gereja reformasi adalah gereja yang mau terus mereformasi diri agar sesuai dengan Firman Tuhan, seperti yang diperjuangkan oleh para bapa reformator, yang mereka pun belajar dari para bapa-bapa sebelumnya, yang setiap kepada Firman-Nya dan memakai seluruh hidup mereka membawa kabar baik itu, yang mengabarkan Kristus yang mati dan bangkit, Kristus yang adalah Nabi, Imam dan Raja.

Para bapa reformator Luther, Calvin, Zwingli, … hanyalah manusia. Tapi, Allah yang membangkitkan mereka untuk mereformasi gereja adalah Allah yang terus bekerja sampai sekarang mereformasi gereja. Hari ini 31 Oktober 2017, tepat 500 tahun, tepat 1/2 abad, Eben Heizer — sampai di sini TUHAN (masih) menolong kita, gereja Tuhan akan terus berjuang sampai Ia datang kembali. Pertanyaannya adalah, mau kan Anda ikut berbagian dalam pekerjaan-Nya bagi zaman ini?


Beberapa referensi terkait reformasi yang baik saudara baca:

Iklan

Dogmatisme dalam Musik

Di dalam seminar-seminar musik dalam Gerakan Reformed yang pernah saya ikuti ataupun yang saya pimpin, ada satu pertanyaan yang sepertinya hampir pasti ditanyakan: “Kenapa dalam kebaktian, GRII tidak memakai drum?” Pada awalnya saya biasanya menjawab dengan menerangkan struktur di balik penggunaan drum atau latar belakang sejarahnya yang pada akhirnya dikonklusikan sebagai tidak cocok dengan nilai-nilai Biblikal. Namun akhir-akhir ini kalau saya ditanya demikian, saya biasanya bertanya balik: “Menurut Anda, kenapa dalam kebaktian boleh memakai drum?” Boleh tidaknya memakai suatu jenis instrumen atau gaya musik tertentu di dalam suatu kebaktian tidak seharusnya dilakukan hanya karena belum menemukan alasan negatif; penggunaan segala sesuatu untuk memuliakan Tuhan harusnya didasari pada alasan yang positif. Dengan kata lain, mungkin seharusnya kita berusaha untuk bukan hanya puas dalam taraf “why not”, tetapi juga harus secara aktif memikirkan “why yes”.

Sebelum kita melanjutkan, ada baiknya dilakukan sedikit klarifikasi terlebih dahulu. Sekilas, artikel ini sepertinya adalah satu lagi di antara banyak artikel yang ditujukan untuk menyerang keluar atau berbau Reformed vs. Karismatik Radikal, tetapi isu yang saya hendak angkat adalah sebaliknya: saya ingin mengadakan suatu kritik internal. Izinkan saya menanyakan pertanyaan kedua bagi mereka yang berada dalam komunitas GRII: Kalau kita berani untuk mempertanyakan saudara-saudara kita di gereja lain mengapa mereka memakai musik-musik demikian, bukankah seharusnya kita juga berani bertanya kembali pada diri kita mengapa hari ini di GRII kita menggunakan musik hymn dan klasik? Bisakah kita memformulasikan jawaban “why yes” dan bukan hanya “why not”?

Kembali sebentar ke masalah drum di atas, ketika saya berbincang-bincang dengan orang-orang yang pro-drum, saya menemukan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang hatinya jujur ingin memuliakan Tuhan, namun ada satu kategori lain di mana mereka secara umum terkumpul: mereka adalah orang-orang yang memperjuangkan drum simply karena mereka tidak pernah mengerti bahwa ada alternatif lain. Mereka mungkin belum pernah mendengar timpani, atau sudah pernah mendengar tapi belum dibukakan keindahannya. Mereka mungkin pernah mendengar Bach dan Isaac Watts, namun mungkin pada akhirnya tenggelam dalam kebingungan karena tidak mengerti bagaimana menghargai musik-musik seperti itu. Intinya, sebagian besar dari mereka mungkin memilih drum bukan karena mereka memilih, tapi karena mereka tidak punya pilihan.

Tapi kembali ke konteks kita yang berada dalam Gerakan Reformed hari ini, pertanyaannya adalah sebenarnya di manakah letak perbedaan kita dengan mereka? Bagi Saudara-saudara yang menyanyikan lagu hymn setiap minggu, bolehkah saya bertanya mengapa Saudara menyanyikan lagu tersebut? Bagi Saudara-saudara yang datang ke Aula Simfonia Jakarta, sebenarnya apa yang menggerakkan Anda untuk hadir? Menempatkan pertanyaan ini dalam konteks Gerakan kita yang notabene semangatnya adalah untuk kembali kepada Alkitab, apakah cara menggunakan musik dalam gereja kita yang Saudara selama ini berbagian mempunyai dasar Alkitabnya? Ataukah jangan-jangan, saya dan Saudara-saudara juga adalah orang-orang yang tidak mempunyai pilihan?

Seorang penginjil GRII pernah ditanya pertanyaan di atas, dan jawabannya mengungkapkan suatu alasan yang sepertinya lumayan sentral dalam paradigma Gerakan Reformed: “Kalau Saudara bekerja di dalam suatu perusahaan, otomatis Saudara tidak bisa membuat aturan sendiri. Saudara harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh pihak yang berada di atas, otoritas yang berwenang. Kalau pun Saudara adalah bos dari suatu kantor cabang perusahaan tersebut, Saudara tetap terikat dengan aturan-aturan dari kantor pusat. Demikianlah kita di GRII, kita mengikuti apa yang sudah ditetapkan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong.”

Argumentasi di atas adalah suatu argumentasi yang logis, dan argumentasi demikian cukup efektif ketika dipakai dalam konteks yang tepat, misalnya ketika menghadapi jemaat yang memang hendak ngeyel dan sebenarnya juga bukan hendak mencari kebenaran. Tetapi bagi mereka yang dapat duduk tenang ketika membicarakan musik dan rindu untuk mendapatkan kebenaran, sepertinya ada dorongan untuk mencari suatu dasar yang lebih kokoh daripada sekadar jawaban di atas. Jangan salah sangka, mengikuti suatu figur otoritas bukanlah hal yang salah. Konsep pemuridan Alkitab jelas menuntut ketaatan pada otoritas yang Tuhan telah tetapkan dalam gereja-Nya, khususnya bagi mereka yang masih dalam takaran iman yang muda. Tetapi seiring dengan pertumbuhan iman dan pengetahuan, akan datang hari-hari saat sang anak disapih, saat ia mulai berhenti disuapi oleh ibunya, saat ia mulai berganti dari susu ke makanan keras, saat ia meninggalkan rumah ayahnya untuk berdiri sendiri, dan akhirnya saat ia menjadi ayah bagi seorang anak. Saat itu ia mungkin masih dapat bertanya kepada ayahnya, meminta nasehat, tapi tidak diragukan lagi bahwa saatnya akan datang ketika ayahnya tidak lagi dapat membantu dia. Dan ketika saat itu tiba, sang anak sudah harus menemukan sendiri bagi dirinya apa itu kebenaran.

Klarifikasi lagi, yang saya maksudkan bukanlah bahwa Pak Tong salah dalam menetapkan aturan mengenai pemakaian musik dalam GRII. Saya sendiri secara pribadi percaya Pak Tong pasti sudah terlebih dahulu menggumulkan hal ini dan pasti mempunyai alasan mengapa tradisi yang ia pegang ini bisa dinilai sebagai Alkitabiah. Yang saya hendak teriakkan pada kesempatan kali ini adalah bahwa kita perlu bertumbuh dan menemukan bagi diri kita sendiri dasar kebenaran Firman Tuhan dalam penggunaan musik kita. Kita mungkin mempunyai konklusi yang tepat, tetapi apakah kita sudah memiliki argumentasi di balik jawaban tersebut? Kita mungkin sudah berada di jalan yang benar, tetapi bagaimana kita hendak menuntun generasi selanjutnya ke dalam jalan yang sama jikalau kita tidak tahu bagaimana menemukan jalan tersebut? Hari ini Tuhan masih menempatkan figur besar itu untuk menuntun kita, tapi tidak diragukan lagi bahwa keadaan ini tidak akan berlangsung selamanya. Adalah hal yang sangat menyedihkan melihat anak berumur 30 tahun yang tidak bisa mengancingkan bajunya sendiri kehilangan mamanya yang selama ini merawat dia. Saat ini, GRII sudah berdiri lebih dari 21 tahun dan jika Anda bertanya kepada jemaat pertanyaan yang saya ajukan, apakah menurut Anda mereka sudah mengerti dasar kebenaran Firman Tuhan di balik tradisi musik yang selama ini mereka pegang?

Sikap dogmatis dalam tradisi musik kita ini adalah sesuatu yang mengkhawatirkan dan juga berbahaya. Memang mungkin tidak semua dari anggota GRII setuju dengan penggunaan hymn dan musik klasik, tetapi sepertinya ada suatu norma tidak tertulis yang jelas menyatakan tradisi tersebut sebagai salah satu identitas kita yang tidak terlepaskan. Untuk mengusulkan penggunaan gaya musik jazz dalam kebaktian misalnya, hampir pasti akan mendapatkan kecaman berat. Ironisnya, berapa banyak dari pengecam-pengecam itu yang mungkin pada akhirnya juga tidak bisa menjelaskan bukan hanya mengapa musik jazz tidak cocok dipakai dalam kebaktian, tapi juga mengapa musik hymn dan klasik harus diprioritaskan di atas segala jenis musik yang lain?

Sikap yang demikian, mungkin lebih cocok berada dalam aliran gereja yang pernah dikecam habis-habisan oleh para reformator (baca: Gereja Katolik Roma zaman Reformasi) karena berani mensandingkan tradisi secara dogmatis tanpa senantiasa dievaluasi dan direferensikan kembali pada Alkitab. Dan sebaliknya, mungkin justru sikap yang berani mempertanyakan dengan tajam mengapa hari ini kita menggunakan musik yang kita gunakan tidak selalu harus dimengerti sebagai suatu hal yang negatif atau hampir selalu dilabelkan sebagai tindakan yang melanggar “loyalitas” kepada gerakan (tentunya, terlepas dari pertanyaan-pertanyaan ekses yang memang bertujuan bukan untuk mencari kebenaran). Mungkin, justru sikap yang demikian lebih dekat dengan semangat para reformator: semper reformanda dimengerti bukan hanya sebagai sifat menyerang keluar, mereformasi dunia, tetapi justru sebagai suatu sikap senantiasa waspada ke dalam: apakah segala sesuatu yang saya lakukan selama ini benar-benar sesuai dengan Alkitab? Sampai di sini, saya harap saya tidak disalahmengerti, yang saya ingin kritisi bukanlah tradisi kita dalam memakai musik hymn dan klasik, tetapi sifat kita yang cenderung dogmatis dan tidak reformatoris dalam memegang tradisi tersebut. Jika kita memegang tradisi tersebut tanpa mengerti mengapa maka kemungkinan besar kita tidak jauh berbeda dengan orang-orang di luar sana yang selama ini kita kritisi habis-habisan, yang kita sebut sebagai orang-orang yang hidupnya tidak kembali kepada Alkitab.

Kebahayaan Pertama: Faktor Eksternal

Tidak perlu menjadi seorang jenius untuk menerka apa yang kira-kira bisa terjadi dalam masa-masa pasca Pak Tong jika lubang yang menganga ini tidak segera ditambal. Sebuah benteng yang mempunyai tiga sisi tembok yang tahan menghadapi meriam apapun, namun juga mempunyai satu sisi lain yang batunya sudah lapuk, tidak ada gunanya dalam menghadapi serangan musuh. Ini adalah kebahayaan besar yang pertama: Gereja yang dasar Alkitabnya tidak kokoh akan sangat rentan dalam menghadapi serangan dari luar. GRII seringkali mempunyai reputasi sebagai gereja yang terkesan ofensif; gambaran ini boleh dikatakan memang tidak jauh dari kenyataan. Pak Tong sendiri mengatakan Gerakan Reformed Injili bukanlah suatu gerakan yang hanya menjawab tantangan dunia tetapi harus juga menantang dunia. Namun seringkali kalimat tersebut disalahmengerti sama halnya seperti istilah “fighting Reformed” yang seringkali dibaca sebagai “semangat tawuran ala Reformed” di dalam benak beberapa orang. Beberapa kali saya mendapat kabar bahwa ada kritik yang disampaikan dari gereja Reformed kepada gereja-gereja Karismatik yang radikal: “Kalian telah membuat ibadah menjadi night club”.

Yang menarik di sini adalah akhir-akhir ini saya mendapat bahwai arah angin berubah, dengan gereja-gereja Karismatik yang radikal merespons dengan menyerang balik demikian: “Ok, kami mengaku telah membuat ibadah jadi night club, tetapi kalian telah membuat ibadah menjadi concert hall… apa bedanya kalian dengan kami?” Anda mungkin dapat langsung mengatakan bahwa image “concert hall” sepertinya lebih baik daripada “night club”, tetapi sekali lagi, apakah Anda mendapat kebenaran itu dari Alkitab atau keyakinan Saudara adalah keyakinan yang dihasilkan oleh semacam iman buta terhadap tradisi Reformed Injili? Jikalau Anda ingin mengatakan bahwa musik Beethoven atau Chopin (yang adalah notabene musik “sekuler”) lebih pantas dipakai dalam ibadah daripada lagu hip-hop dan R&B, argumentasi apa yang akan Anda pakai untuk mempertanggungjawabkannya? Bukan cerita baru, mendengar banyak orang Reformed mengawali argumentasinya dengan kalimat “kata Pak Tong… Pak Tong pernah bilang begini dan begitu…”. Jikalau level pengertian kita hanya berhenti pada otoritas Pak Tong dan bukan pada Alkitab, apa yang akan menghentikan kita untuk menyeleweng jikalau suatu hari dalam era pasca Pak Tong ada otoritas baru yang naik daun, berkarisma tinggi namun menyesatkan?

Pada hari ini banyak orang dalam GRII menyangka bahwa tantangan musik yang sedang dialami GRII adalah bagaimana membendung pengaruh karismatik radikal; saya hendak mengatakan bahwa tantangan itu sebenarnya hampir nihil di dalam lingkaran komunitas kita. Tuhan memberikan kita figur besar itu sebagai suatu benteng pertahanan yang hampir tak tertembus. Tantangan kita hari ini, menurut saya, adalah bagaimana kita tidak take for granted benteng tersebut dan menggunakan masa-masa “damai” untuk mempersiapkan diri menghadapi musuh yang sudah menunggu saatnya benteng tersebut meninggalkan kita.

Kebahayaan Kedua: Faktor Internal

Kebahayaan besar kedua yang akan dihasilkan oleh sikap dogmatis dalam menggunakan tradisi musik apapun adalah adanya kecenderungan untuk menyalahgunakan tradisi tersebut, yang mungkin pada dirinya sesungguhnya baik. Seorang anak yang tidak mengerti tujuan dan penggunaan suatu alat yang dinamakan oleh orangtuanya dengan nama pisau adalah suatu kebahayaan besar, suatu bom waktu yang hanya tunggu waktu untuk meledak. Anak tersebut mungkin percaya bahwa orangtuanya memakai pisau pasti untuk tujuan yang dapat dipertanggungjawabkan, tapi apa gunanya konklusi tersebut kecuali sang anak juga mempunyai argumentasi di belakangnya? Jika kita tidak mengkritisi sikap kita yang ignorant terhadap alasan utama, tujuan, dan cara penggunaan tradisi musik GRII, ada kebahayaan besar yang suatu hari akan datang (atau mungkin sudah terjadi), dan hal itu tidak harus datang karena serangan musuh dari luar.

Saat ini misalnya, dalam penggunaan musik di dalam Paduan Suara, saya mengamati suatu trend yang tidak sehat mulai muncul: Di dalam latihan-latihannya perhatian yang besar dicurahkan untuk mempelajari not balok, teknik menyanyi, teknik mengucapkan kata-kata dari berbagai bahasa dengan tepat, voice production, dinamika dalam menyanyi, penghayatan, dan sebagainya. Ini semua adalah baik adanya, dan memang merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari kegiatan bermusik. Namun, seringkali dalam latihan-latihan tersebut para choristers sudah lupa (atau bahkan tidak tahu) apa yang namanya memuji Tuhan. Atau, berapa persen waktu yang digunakan untuk misalnya, mempelajari nilai-nilai theologis yang dicerminkan dalam teks lagu maupun musiknya? Meskipun teknik penting, bukankah salah satu dasar utama daya tarik lagu klasik bagi orang Reformed adalah karena musiknya sangat dalam dan akurat dalam mengekspresikan nilai theologisnya? George Frederic Handel, dalam Oratorio Messiah menuliskan suatu lagu yang teksnya diambil dari Roma 10:15 edisi KJV “How beautiful are the feet of them that preached the gospel of peace”. Sekilas kalau Anda ditanya bagaimana akan membuat lagu yang membicarakan teks tersebut, mungkin hampir semua dari kita paling tidak akan menggunakan tangga nada mayor dalam menuliskan lagunya. Tepat bukan, mengekspresikan kata beautiful dengan tangga nada mayor yang terkesan positif dan riang? Namun Handel justru memilih untuk melagukan teks tersebut dengan tangga nada minor, tangga nada yang secara umum diatributasikan dengan perasaan yang lebih negatif, yang membawa kesan menyedihkan. Mengapa demikian? Salah satu interpretasi yang mungkin adalah bahwa Handel sedang ingin menunjukkan bahwa keindahan kaki penginjil bukanlah keindahan semacam kehalusan kaki milik Claudia Schiffer atau Gisele Bündchen. Kaki seorang penginjil mungkin sudah hancur-hancuran karena berjalan tidak henti-hentinya melewati segala medan, menghadapi marabahaya dan berbagai musuh Injil. Tapi kaki yang demikian memancarkan suatu keindahan yang berbeda, yang jauh lebih indah daripada kaki supermodel termahal dunia. Namun berapa banyak kesempatan kita mendengar penjelasan seperti ini ketika kita mempelajari sebuah lagu di paduan suara gereja kita, meskipun oratorio Messiah sudah sangat sering dipentaskan? Jangankan dalam latihan-latihan, kejadian yang masih banyak terjadi entah disadari atau tidak adalah ketika suatu paduan suara menyanyi dalam bahasa asing, kata-katanya tidak dibacakan, ditayangkan, atau dijelaskan?

Fenomena ini tidak berhenti di paduan suara. Kalau kita membicarakan mengenai masalah ibadah hari Minggu, poin yang senantiasa harus ditekankan adalah bagaimana kita beribadah (yaitu, polanya, liturginya, musiknya, khotbahnya) dengan mencerminkan kebenaran Alkitab. Ibadah Reformed adalah suatu ibadah yang mencerminkan pengertian Reformed dalam segala aspeknya. Kedaulatan Allah, Ketergantungan manusia, Fakta Kejatuhan, Penebusan Kristus, Pengharapan Akhir Zaman, Keutamaan Alkitab, dan berbagai hal yang lain harus dinyatakan di dalam suatu kebaktian untuk mengatakan bahwa sebuah ibadah adalah ibadah yang baik. Sesungguhnya ibadah merupakan semacam confession, semacam pengakuan iman kita di hadapan Allah dan di hadapan dunia mengenai siapa Allah kita dan bagaimana kita mengenal Dia. Lagu ibadah menempati posisi yang spesial karena lagu-lagu dalam kebaktian mempunyai porsi yang cukup signifikan dalam menyatakan hal-hal tersebut.

Namun hari ini, berapa banyak dari para liturgis bisa mengatakan bahwa mereka mengerti lagu-lagu yang mereka pakai dalam suatu kebaktian? Berapa banyak yang mempelajari dengan seksama ekspresi iman dari satu ayat ke ayat yang lain? Jika liturgis tidak bisa diharapkan untuk mengenal lagu-lagu yang mereka nyanyikan, bagaimana mungkin jemaat bisa dituntut untuk melakukan hal yang sama? Dalam 1 Korintus 14, Paulus menyatakan bahwa dunia dapat mengenal Allah seperti apa yang kita percaya lewat melihat ibadah kita. Kira-kira Allah seperti apa yang dinyatakan oleh para liturgis dan pianis yang menyanyikan lagu tanpa pengertian? Mungkin, dunia akan mendapati orang Reformed di GRII mempunyai Allah yang tidak terlalu peduli dengan ibadah umat-Nya. Hal ini semakin ironis ketika kita mempertimbangkan unsur historis dari hymn, yang pada awal masa reformatoris digunakan justru untuk menyatakan nyanyian pujian sebagai tanggung jawab dari setiap orang Kristen dan bukan hanya para kaum rohaniawan.

Luther, dalam konsep “imamat rajani”nya menyatakan oleh karena Alkitab mengatakan bahwa setiap orang Kristen adalah hamba Tuhan, maka setiap orang Kristen boleh membaca Alkitab sendiri, boleh berdoa langsung kepada Tuhan (tanpa harus melalui mediator para imam) dan boleh ikut bernyanyi memuji Tuhan. Itulah sebabnya Luther mulai mengadaptasikan musik-musik chant yang selama itu menjadi milik eksklusif para rohaniawan menjadi bentuk sederhana yang bisa dinyanyikan jemaat, cikal bakal tradisi hymn kita hari ini. Maka penggunaan genre hymn dalam beribadah sesungguhnya membawa dengannya suatu kepercayaan bahwa bernyanyi memuji Tuhan adalah tanggung jawab seluruh jemaat. Allah seperti apakah yang dinyatakan oleh tradisi seperti ini? Yang pasti, Allah yang peduli dengan pujian umat-Nya, yang memberikan hak bagi seluruh dari kita untuk memuji Dia. Kembali kepada situasi kita hari ini, sekali lagi mungkin kita memang sudah memiliki konklusi yang tepat, tradisi yang sangat dapat dipertanggungjawabkan. Tapi pertanyaannya, dalam 21 tahun kita menjalani tradisi tersebut apakah kita mengerti argumentasi di belakang semua tradisi itu? Apakah bahkan ada suatu hasrat untuk senantiasa mencoba untuk rediscover kembali akar tradisi kita kepada kebenaran Alkitab? Atau kita sudah menjadi sangat dogmatis, mati di dalam kekakuan kita atau “loyalitas” kita terhadap otoritas Pak Tong? Bukankah Pak Tong sendiri mengatakan tidak boleh ada yang lebih mencintai Pak Tong dibanding mencintai Tuhan dan Firman-Nya?

Panggilan untuk Bertumbuh

Di sini kita harus menyadari bahwa kesalahan seorang murid Tuhan yang paling fatal bukanlah masalah berpengetahuan sedikit; kesalahan yang paling berbahaya adalah ketika kita bertahan dalam suatu level pengetahuan, baik itu sedikit atau banyak. Menjadi seorang anak SD tidak pernah akan dikatakan sebagai suatu dosa, tetapi seorang anak kelas 6 SD yang menolak untuk naik ke SMP dan ingin terus menerus duduk di bangku kelasnya jelas adalah suatu permasalahan besar. Musuh iman bukanlah kecilnya iman, tetapi stagnasi iman. Setiap dari kita harus mengakui bahwa kita hanyalah manusia yang pada dasarnya pasti parsial dan tidak sempurna; manusia memang tidak diciptakan untuk menjadi tidak terbatas. Tetapi manusia juga diciptakan dengan kapasitas untuk bertumbuh seiring dengan berjalannya waktu

Hari ini kita diberikan oleh Tuhan seorang hamba Tuhan yang memang Ia pakai untuk memimpin dan menetapkan suatu standar, guideline yang menjadi suatu rel bagi GRII. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa Tuhan memberikan ini bukan menjadi suatu tujuan akhir, tapi justru sebagai langkah pertama menuju hal-hal yang lebih besar? Stagnasi yang dialami mungkin berakar pada hal ini: pekerjaan Tuhan yang kita lihat terjadi lewat pekerjaan Pak Tong begitu besar dan overwhelming sehingga terkadang tidak terbayangkan bagi kita bahwa di atas langit masih ada langit. Melihat Katedral Mesias, Aula Simfonia Jakarta, dan Museum Sophilia misalnya, siapa yang berani bermimpi untuk suatu hari mengungguli semua itu? Label “orang sombong” akan melekat pada orang tersebut lebih cepat daripada kedipan mata. Tetapi mari kita pikirkan alternatifnya sekarang: Apakah pekerjaan Tuhan, Tuhan Pencipta langit dan bumi, hanya akan berhenti pada level yang demikian? Stagnasi ini dapat dilihat bukan hanya dalam skala besar: mari kita perhatikan kondisi susunan liturgi kita yang pada hari ini sudah menjadi harga mati. Siapa yang berpikiran untuk meng-improve liturgi GRII? Pak Tong sendiri berkali-kali mengingatkan bahwa apa yang ia kerjakan hanya berupa suatu fondasi yang harus dibangun terus-menerus oleh generasi penerusnya. Apakah Anda akan menyebut Elisa sombong karena ia meminta kuasa dua kali lipat dari Elia? Apakah Anda akan mengganggap Yohanes Calvin sebagai pemberontak karena ia membawa arah reformasi melampaui apa yang dikerjakan oleh Martin Luther? Ketika kita bekerja bagi Tuhan, the sky has no limit. Kiranya artikel ini boleh menginspirasi kita untuk senantiasa berjuang untuk mempertanggungjawabkan anugerah yang Tuhan sudah berikan kepada kita. “Yang diberi banyak, dituntut banyak”.

Soli Deo Gloria.

Jethro Rachmadi
Mahasiswa STTRI Internasional

Artikel dikutip dari http://www.buletinpillar.org/artikel/dogmatisme-dalam-musik

Hari Reformasi Gereja

lutherthesesSayang, banyak orang hanya menyenal tanggal 31 Oktober sebagai hari haloween. Padahal orang Kristen seharusnya mengingat tanggal itu sebagai hari reformasi. 31 Oktober 1517 adalah salah satu momen penting dalam perkembangan sejarah gereja. Seperti halnya setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan, mengingat kembali perjuangan mereka yang begitu bersusah payah merebut kemerdekaan, demikian juga dengan 31 Oktober orang Kristen mengingat kembali perjuangan para bapa-bapa reformasi dalam menegakkan kembali doktrin kekristenan yang sudah begitu banyak diselewengkan.

31 Oktober 1517

Pada masa kekristenan mulai berkembang, orang-orang Kristen mengalami banyak tekanan. Tapi ironisnya, setelah akhirnya agama Kristen dijadikan agama negara oleh Kaisar Konstatinopel, disanalah Kekristenan mulai banyak diselewengkan. Kalau dulu, untuk menjadi Kristen orang harus mempertaruhkan nyawanya, pada masa kekaisaran Konstatinopel justru orang ingin menjadi orang Kristen, karena ingin mendapatkan kemudahan. Bahkan orang ingin menjadi “pendeta”, karena pada masa itu, “pendeta” memiliki kuasa yang besar dan harga yang melimpah.

Gereja banyak diselewengkan oleh orang-orang yang mencari keuntungan didalamnya hingga pada puncaknya di tahun 1516-1517, gereja mengajarkan bahwa iman saja, tidak dapat membenarkan manusia; dan hanya iman yang aktif yang dinyatakan dengan amal dan perbuatan baik (fides caritate formata) yang dapat membenarkan manusia. Perbuatan baik yang dimaksud adalah dengan memberikan sumbangan kepada gereja, maka orang tersebut akan mendapatkan surat pengampunan dosa, indulgensia.

Gereja mengajarkan mengenai adanya api penyucian (purgatori), suatu tempat penyucian atau tempat penghukuman sementara. Semua orang (orang percaya dan tidak sekalipun) akan masuk ketempat ini, namun orang percaya tidak akan tinggal selamanya di tempat ini. Indulgensia, memberikan jalan kepada orang percaya sehingga mereka tidak lagi perlu masuk ke dalam purgatori.

Martin Luther mendapati hal ini merupakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran alkitab. Ia memprotes penjualan indulgensi Keberhasilan Indulgensi, dan pada tanggal 31 Oktober 1517, Luther memakukan 95 dalil-nya di pintu gereja Wittenberg, Jerman.

Dari orang yang membaca 95 dalil tersebut kemudian ada yang membacanya dan menyebarkannya, sehingga dalam waktu yang singkat, salinan dari pada 95 dalil tersebut tersebar ke seluruh eropa. Sehingga mempengaruhi dan melahirkan lebih banyak orang lagi untuk menelaah kembali apa yang mereka mengerti tentang kekristenan.

95 dalil Martin Luther

Berikut adalah 95 dalil (95 theses) Martin Luther:

  1. Ketika Tuhan berkata “Bertobatlah” (Mat 4:17) itu berarti orang yang percaya menjalani hidupnya dalam pertobatan.
  2. Seruan tersebut tidak dapat ditafsirkan sebagai suatu acuan kepada sakramen-sakramen penyesalan, yaitu pengakuan dosa dan penguatan yang dilaksanakan oleh rahib.
  3. Walaupun demikian, penyesalan tidak berarti hanya sebatas penyesalan di hati saja; karena penyesalan yang demikian tidaklah berguna jika tidak menghasilkan tanda-tanda jasmani yang nyata dalam berbagai penyangkalan kedagingan.
  4. Hukuman terhadap dosa itu adalah dengan membenci diri, karena inilah pertobatan hati yang sesungguhnya, yang berlangsung terus hingga kita memasuki kerajaan surga.
  5. Paus harus bertindak dan hanya bisa bertindak sesuai hukum (kanon).
  6. Paus tidak dapat mengampuni dosa, tetapi hanya menyatakan dan meneguhkan bahwa seseorang telah diampuni oleh Allah.
  7. Allah tidak pernah mengampuni kesalahan seseorang tanpa, membuatnya menjadi rendah hati taat kepada pendeta, yang adalah wakil-Nya.
  8. Hukum-hukum pertobatan hanya dapat diterapkan kepada mereka yang masih hidup, dan, menurut hukum-hukum itu sendiri, tak ada yang dapat diterapkan kepada orang mati.
  9. Karena itu, Roh Kudus, bertindak melalui paus, menyatakan anugerah kepada kita, dalam hal peraturan-peraturan kepausan selalu gagal diterapkan pada kematian, atau dalam hal sulit lainnya.
  10. Adalah sesuatu yang salah ketika para pendeta menyatakan hilangnya hukuman atas orang mati di api penyucian dosa.
  11. Ketika hukuman yang ditetapkan dengan peraturan gerejawi diubah dan disesuaikan untuk menunjang api penyucian dosa, jelas itu merupakan ilalang yang ditaburkan ketika para kardinal tidur nyenyak.
  12. Dahulu, sanksi-sanksi gerejawi dinyatakan, bukan setelah, melainkan sebelum pengampunan dinyatakan; dan itu dimaksudkan sebagai ujian kesungguhan pertobatannya.
  13. Kematian membebaskan seseorang dari peraturan gerejawi; bahkan orang-orang yang sekarat sudah mati bagi tata gereja dan tidak lagi terikat olehnya.
  14. Orang sekarat yang kurang kasih mempunyai rasa takut yang sangat besar, yang semakin besar seiring dengan berkurangnya kasih.
  15. Ketakutan yang sedemikian ini pada dirinya sendiri sudah cukup, dengan tidak menyebutkan hal lainnya, sebagai hukuman pada api penyucian dosa, karena ketakutan yang demikian tidaklah berbeda jauh dengan ketakutan yang menyebabkan keputusasaan.
  16. Ada perbedaan yang sama antara neraka, api penyucian dosa, dan surga sebagaimana yang ada di antara keputusasaan, ketidaktentuan, dan jaminan.
  17. Sebenarnya, kesakitan jiwa-jiwa dalam api penyucian dosa seharusnya dikurangi dan secara sebanding cinta kasih ditambahkan.
  18. Terlebih lagi, tak dapat dibuktikan, berdasarkan akal budi maupun Kitab Suci, bahwa jiwa-jiwa ini berada di luar adanya jasa baik, atau tak dapat bertumbuh dalam anugerah.
  19. Tidak terbukti juga tampaknya bahwa mereka yakin dan terjamin atas keselamatan, bahkan bila kita sendiri sangat meyakininya.
  20. Karena itu sang paus, dalam hal penghapusan semua hukuman, tidak memaksudkan “semua” dalam arti yang ketat, tapi hanya hukuman yang dijatuhkan oleh dirinya sendiri.
  21. Karena itu mereka yang mengajarkan adanya surat pengampunan dosa bersalah ketika mereka mengatakan bahwa manusia dilepaskan dan diselamatkan dari semua hukuman dosa dengan surat pengampunan dosa sang paus;
  22. Sesungguhnya, ia tak dapat meniadakan kepada jiwa-jiwa di api penyucian dosa hukuman apa pun yang dinyatakan oleh peraturan gerejawi harus diderita dalam kehidupan sekarang ini.
  23. Jikalau pun ada orang yang kepadanya dapat dianugerahkan peniadaan hukuman, itu hanya akan terjadi dalam hal-hal yang paling sempurna, yang teramat jarang.
  24. Karena itu tentunya sebagian besar orang telah tertipu oleh janji muluk pembebasan dari hukuman dosa.
  25. Kekuasaan yang dimainkan paus atas api penyucian dosa secara umum juga dimainkan oleh kardinal dalam keuskupannya dan rahib dalam jemaatnya.
  26. Baik sekali jika paus menganugerahkan pengampunan kepada jiwa-jiwa di api penyucian dosa dengan syafaat bagi mereka, dan tidak dengan kuasa pemegang kunci (yang memang tidak dimilikinya).
  27. Tidak ada otoritas ilahi atas pengajaran bahwa jiwa yang bersangkutan keluar dari api penyucian dosa pada saat uang pembayaran bergemerincing di dasar peti uang pembayaran.
  28. Tentunya mungkin bahwa ketika uang bergemerincing di dasar peti uang ketamakan dan cinta uang bertambah; tapi ketika gereja mempersembahakn syafaat, semuanya bergantung kepada kehendak Allah.
  29. Siapa yang mengetahui kebenaran cerita-cerita aneh St. Senetinus dan St. Paschal tentang apakah semua jiwa yang ada di api penyucian dosa mau ditebus? (Catatan: Paschal I, paus 817-24. Legenda mengatakan bahwa ia dan Severinus berkenan menanggung sakitnya api penyucian dosa bagi orang-orang beriman.)
  30. Tak seorang pun yang mengetahui kesungguhan pertobatannya, apalagi pengampunan keseluruhan dosanya.
  31. Orang yang dengan tulus hati membeli surat pengampunan dosa sedikit sekali, sebagaimana sedikitnya orang yang mengakui dosanya dengan tulus hati.
  32. Setiap orang yang percaya atas keselamatan mereka berdasarkan surat pengampunan dosa, akan dihukum dalam kekekalan, bersama dengan guru-guru mereka.
  33. Kita harus berhati-hati terhadap orang-orang yang mengatakan surat pengampunan dosa dari paus adalah hadiah ilahi yang tak terkira, dan melaluinya manusia didamaikan dengan Allah;
  34. Karena, anugerah yang dinyatakan oleh surat-surat itu hanya berhubungan dengan hukuman-hukuman sakramental “pengakuan dosa” yang ditetapkan oleh manusia semata.
  35. Mengkhotbahkan dan mengajarkan bahwa mereka yang membeli jiwa-jiwa, atau surat pengakuan tidak perlu bertobat dari dosa-dosa mereka, tidak sesuai dengan doktrin Kristen.
  36. Orang Kristen manapun, yang benar-benar bertobat, menikmati pengampunan sepenuhnya dari hukuman dan kesalahan, dan ini diberikan kepadanya tanpa surat pengampunan dosa.
  37. Orang Kristen manapun, hidup maupun mati, turut ambil bagian dalam semua keuntungan Kristus dan Gereja; dan keturutsertaan ini dianugerahkan kepadanya oleh Allah tanpa surat pengampunan dosa.
  38. Namun demikian pengampunan paus tidak dapat dipandang rendah, karena sebagaimana dikatakan, paus menyatakan pengampunan ilahi.
  39. Adalah sangat sulit, bahkan untuk teolog yang paling terpelajar sekalipun, meninggikan surat pengampunan dosa, sementara, pada saat yang sama, mengakui perlunya pertobatan.
  40. Seorang petobat sejati mencari, dan rindu untuk menebus, hukuman dosanya; sedangkan surat pengampunan dosa menumpulkan kesadaran manusia, dan cenderung membuat mereka mencoba mengindari hukumannya.
  41. Surat pengampunan dosa kepausan hanya boleh diajarkan dengan hati-hati, agar jangan orang memperoleh pengertian yang salah, dan menganggapnya lebih penting daripada pekerjaan baik lainnya: kasih.
  42. Orang-orang Kristen seharusnya diajarkan bahwa paus sama sekali tidak memaksudkan pembelian surat pengampunan dosa dimengerti sebanding dengan pekerjaan anugerah.
  43. Orang-orang Kristen seharusnya diajarkan bahwa seseorang yang memberikan kepada orang miskin, atau meminjamkan kepada yang memerlukan, melakukan sesuatu yang lebih baik daripada membeli surat pengampunan dosa.
  44. Karena, oleh karya kasih, kasih itu bertumbuh dan seorang manusia menjadi seseorang yang lebih baik; sedangkan, oleh surat pengampunan dosa, ia tidak menjadi orang yang lebih baik, tetapi hanya lari dari hukuman tertentu.
  45. Orang-orang Kristen seharusnya diajar bahwa ia yang melihat orang yang berkekurangan, tetapi melewatinya walaupun ia membeli surat pengampunan dosa, tidak beroleh apapun dari pengampunan paus, tapi akan menerima murka Allah.
  46. Orang-orang Kristen seharusnya diajar bahwa, kecuali mereka memiliki lebih daripada yang mereka butuhkan, mereka harus membelanjakan hanya untuk kelangsungan rumah tangga mereka, dan tidak sepantasnya memboroskannya dalam surat pengampunan dosa.
  47. Orang-orang Kristen seharusnya diajarkan bahwa mereka seharusnya membeli surat pengampunan dosa secara sukarela, dan bukan dengan terpaksa.
  48. Kepada orang-orang Kristen seharusnya dibuktikan bahwa, dalam menganu-gerahkan surat pengampunan dosa, paus memiliki kepentingan, dan terlebih lagi hasrat, atas doa syafaatnya yang tekun dan bukan atas uang tunai.
  49. Orang-orang Kristen seharusnya diajarkan bahwa surat pengampunan dosa dari paus hanya berguna bila seseorang tidak bergantung padanya, tetapi akan sangat berbahaya bila melaluinya orang kehilangan rasa takutnya akan Allah.
  50. Kepada orang-orang Kristen seharusnya dibuktikan bahwa, bila paus mengetahui adanya pemerasan dalam penjualan surat pengampunan dosa, lebih baik baginya bila Basilika St. Petrus dihancurkan menjadi debu daripada dibangun dengan kulit, daging dan tulang domba.
  51. Kepada orang-orang Kristen seharusnya diperlihatkan bahwa paus bersedia, sebagaimana seharusnya bila memang diperlukan, menjual Basilika St. Petrus, serta memberikan uangnya dan juga uang pribadinya kepada orang banyak yang tertipu dengan membeli surat penghapusan siksa.
  52. Menggantungkan diri pada keselamatan berdasarkan surat penghapusan siksa adalah sia-sia sekalipun para wakil paus, bahkan paus sendiri, menjaminkan jiwanya keabsahan atas surat itu.
  53. Mereka yang melarang Firman Allah dikabarkan sama sekali di beberapa gereja, agar dapat mengabarkan surat penghapusan siksa adalah musuh Kristus dan paus.
  54. Firman Allah didera apabila dalam suatu khotbah waktu yang dialokasikan untuk surat penghapusan siksa sama atau bahkan lebih dibandingkan untuk Firman itu.
  55. Paus tidak dapat mengambil sudut pandang lain selain bahwa jika surat penghapusan siksa (hal yang sangat kecil) dirayakan dengan satu lonceng, perayaan, atau satu upacara, Injil (hal yang sangat besar) haruslah diajarkan sebanding dengan seratus lonceng, seratus perayaan, seratus upacara.
  56. Harta gereja, yang darinya surat penghapusan siksa dibagi-bagikan oleh paus, belum ditetapkan sepenuhnya dan tidak cukup dikenal di antara orang-orang Kristen.
  57. Bahwa harta ini setidaknya bukan harta duniawi nyata karena harta ini tidak demikian saja dibagi-bagikan, tetapi hanya dikumpulkan, oleh banyak pengajar.
  58. Harta itu bukan juga jasa baik Kristus dan orang-orang suci, karena tanpa paus sekalipun, jasa-jasa baik ini selalu mengerjakan karya anugerah dalam pribadi seseorang sambil menyalibkan kedagingan orang itu agar binasa.
  59. St. Laurensia berkata bahwa orang-orang miskin adalah harta gereja, tapi  ia menggunakan istilah tersebut sesuai dengan konteks pengertian zamannya.
  60. Kami tidak asal bicara ketika mengatakan bahwa harta gereja adalah “kunci-kunci gereja” dan itu diurapi atas jasa-jasa baik Kristus.
  61. Karena jelas bahwa kuasa paus pun cukup untuk mengurangi hukuman dan kasus-kasus khusus.
  62. Harta Gereja yang sejati adalah Injil Suci tentang kemuliaan dan anugerah Allah.
  63. Memang harta ini dapat dianggat sangat tidak menyenangkan, karena membuat yang pertama menjadi yang terakhir.
  64. Di sisi lain, harta penyucian dosa menyenangkan, karena membuat yang terakhir menjadi yang pertama.
  65. Karena itu kekayaan injil adalah jejaring yang, pada masa-masa yang lalu, mereka gunakan untuk memancing orang-orang kaya.
  66. Sedangkan kekayaan surat penghapusan siksa adalah jejaring yang mereka gunakan saat ini untuk memancing orang-orang kaya.
  67. Surat-surat penghapusan siksa, yang dipromosikan sebagai berkat terbesar, sebenarnya hanyalah alat untuk mengumpulkan uang.
  68. Bagaimanapun, surat-surat itu tidak dapat dibandingkan dengan anugerah Allah dan kasih sayang yang ditunjukkan di Salib.
  69. Para uskup dan pastor, karena ikatan dinas, diharuskan menerima dengan tulus dan hormat posisinya sebagai agen kepausan surat penghapusan siksa tersebut;
  70. Tapi mereka berada di bawah kewajiban yang jauh lebih besar yang harus ditaati dan dipelihara dengan seksama sehingga orang-orang ini tidak mengajar semau mereka sendiri dan bukannya apa yang ditugaskan paus.
  71. Biarlah orang yang menyangkal khasiat surat penghapusan siksa menjadi kutuk.
  72. Di sisi lain, diberkatilah dia yang berhati-hati terhadap bualan para penjual surat penghapusan siksa tersebut.
  73. Dengan cara yang sama, sang paus dengan baik mengucilkan mereka yang membuat rencana apapun terhadap kerusakan perdagangan surat penghapusan siksa.
  74. Sejalan dengan itu, orang-orang yang menggunakan surat penghapusan siksa berniat merusak kebenaran dan kasih yang kudus terlebih lagi harus dikucilkan.
  75. Bodohlah mereka yang berpikir surat pengampunan dosa dari paus memiliki kuasa yang demikian besar sehingga mereka dapat membebaskan seseorang bahkan bila ia telah melakukan yang tak terampuni dan menghujat ibunda Allah.
  76. Kami menyatakan yang sebaliknya, dan mengatakan bahwa pengampunan paus tidak mampu menghilangkan bahkan dosa yang paling remeh sekalipun selama kesalahan mereka sendiri diperhitungkan.
  77. Pernyataan bahwa St. Petrus sekalipun, jika ia sekarang adalah paus, dapat menganugerahkan karunia yang lebih besar, adalah penghinaan terhadap St. Petrus dan sang paus.
  78. Kami menyatakan yang sebaliknya, dan mengatakan bahwa ia, dan paus yang mana pun juga, memiliki anugerah yang lebih besar, yaitu: Injil, kekuasaan-kekuasaan rohani, karunia menyembuhkan, dsb., sebagaimana dinyatakan dalam I Korintus 12.
  79. Mengatakan bahwa nilai salib sebanding dengan kekuasaan kepausan adalah penghinaan terhadap salib Kristus.
  80. Para uskup, pastor, dan teolog, yang mengizinkan pengajaran semacam itu diberikan kepada umat harus mempertanggungjawabkannya kelak.
  81. Pengajaran tentang surat penghapusan siksa yang tak terkendali ini membuat bahkan orang-orang terpelajar pun sulit menjaga kehormatan paus dari tuduhan-tuduhan dusta, maupun dari kritikan para anggota jemaat yang awam;
  82. Mereka bertanya, misalnya: Kenapa paus tidak melepaskan semua orang dari api penyucian dosa atas nama kasih (hal yang paling suci) dan karena kebutuhan tertinggi jiwa mereka? Secara moral ini akan menjadi yang terbaik dari semua alasan. Sementara itu ia menebus jiwa dengan jumlah yang tak terhingga demi uang, hal yang paling dapat musnah, untuk membangun gereja St. Petrus, tujuan yang sangat sepele.
  83. Dan lagi: Kenapa upacara pemakaman dan peringatan orang-orang mati tetap diadakan? Dan kenapa paus tidak mengembalikan, atau setidaknya mengizinkan pengembalian, uang yang dibayarkan untuk keperluan ini, jika memang berdoa untuk jiwa-jiwa dari orang-orang yang telah meninggal itu salah?
  84. Dan lagi: Tentulah ini suatu jenis kasih sayang yang baru, di pihak Allah dan paus, ketika seorang pendosa, musuh Allah, diizinkan membayar sejumlah uang untuk menebus jiwa seorang saleh, sahabat Allah; sedangkan jiwa orang saleh yang terkasih itu tidak boleh ditebus tanpa pembayaran, walaupun demi cinta kasih dan tidak dapat ditebus semata-mata karena kebutuhannya akan penebusan.
  85. Dan lagi: Kenapa peraturan-peraturan penyesalan dosa, yang tidak dipraktekkan dan telah lama usang dan mati masih digunakan dalam mendenda sejumlah uang melalui surat penghapusan siksa seakan-akan seluruh peraturan itu masih berlaku?
  86. Dan lagi: Penghasilan paus saat ini lebih besar daripada orang kaya yang paling kaya sekalipun; mengapa ia tidak membangun Basilika St. Petrus ini dengan uangnya sendiri, malahan menggunakan uang para anggota jemaat yang miskin?
  87. Dan lagi: Apa yang dikurangi atau ditiadakan oleh paus kepada mereka yang memiliki penyesalan yang sempurna sehingga—atas dasar ketetapan paus—mempunyai hak atas pengampunan yang total?
  88. Dan lagi: Tentunya gereja akan mendapatkan kebaikan yang lebih besar jika paus menganugerahkan pengampunan, tidak sekali, seperti sekarang, tetapi seratus kali sehari, demi kepentingan orang-orang percaya.
  89. Apa yang dicari paus dengan surat penghapusan siksa bukanlah uang, tetapi keselamatan jiwa-jiwa; kalau demikian kenapa ia tidak menangguhkan surat-surat penghapusan siksa yang telah terlebih dulu dikeluarkan, dan tetap segigih sebelumnya?
  90. Pertanyaan-pertanyaan ini serius dan muncul dari kenyataan sehari-hari yang dihadapi orang-orang awam. Dengan menekan mereka menggunakan kekuatan yang ada, dan tidak menanggapinya dengan memberikan argumen, berarti memaparkan gereja dan paus menjadi cemoohan musuh-musuh mereka, dan tidak membahagiakan orang-orang Kristen.
  91. Jika karena itu, surat-surat penghapusan siksa dikhotbahkan sesuai dengan roh dan pikiran paus, segala kesulitan ini akan dengan mudah diatasi, dan bahkan, ditiadakan.
  92. Jauhlah, karena itu, nabi-nabi yang mengatakan kepada umat Kristus, “Damai, damai,” di mana tidak ada damai.
  93. Celakalah, celakalah kepada semua nabi yang mengatakan kepada umat Kristus, “Salib, salib,” di mana tidak ada salib.
  94. Orang-orang Kristen seharusnya didorong untuk giat mengikut Kristus, Kepala mereka, melalui hukuman, kematian, maupun neraka;
  95. Dan dengan demikian yakin untuk memasuki surga melalui penganiayaan, bukannya melalui damai sejahtera yang palsu. (Kis 14:22)

 

Sola Scriptura (hanya kitab suci), menjadi salah satu semboyan reformasi. Ada masa dimana alkitab itu hanya boleh dibaca oleh orang-orang tertentu saja, ada masa dimana orang mengajarkan alkitab hanya untuk kepentingan diri saja. Tapi, reformasi mengajak orang untuk kepada ajaran sesuai dengan alkitab.

Apa yang harus diperingat di 31 Oktober ini?

Sampai saat ini, banyak orang yang menyebarkan ajaran-ajaran yang tidak bertanggung jawab bahkan ada yang memberitakan firman Tuhan untuk kepentingan diri. Tapi melalui semangat reformasi, ada ajakan untuk terus mereformasi diri kembali kepada alkitab dan ajaran yang bertanggung jawab, Sola Scriptura.

Saksi Yehova: Kawankah Atau Lawan?

Seminar dengan tema Saksi Yehova: Kawankah atau Lawan. Diadakan di BTC Pasteur, Balarea Room, pada hari Sabtu, 8 Mei 2010, pukul 16.00 – 21.30, Dengan pembicara Pdt. Aiter, M.Div.

Pertama mendengar rangkaian acara seminar berlangsung 5 jam lebih, (berakhir setengah 10 malam) agak kaget juga. Tapi, buat saya sendiri, saya cukup bisa menikmati acara seminar dengan tema seperti ini, apalagi dengan gaya penyampaian orang-orang reform. Bahasanya agak rumit kadang, kayak kuliah teologi, tapi saya pribadi sudah cukup nyaman dengan itu.

Seminar yang terbagi menjadi 2 sesi ini mengupas banyak tentang pengajaran Saksi Yehova, suatu ajaran yang walau mirip dengan Kristen, tapi jika dikupas lebih dalam justru kita akan tahu bahwa ia berbeda total dengan iman Kekeristenan pada umumnya.

Perbedaannya apa aja? Terlalu banyak rasanya untuk dituliskan. Dari mulai larangan makan darah, larangan hormat bendera, larangan transfusi darah, tidak percaya Allah Tritunggal, tidak percaya neraka, alkitab yang berbeda, bentuk salib, dan banyak lainnya. Tapi yang terpenting adalah mengetahui mengapa Saksi Yehova bisa muncul.

Charles Taze Russell

Cikal bakal dari ajaran Saksi Yehova saat ini berasal dari Siswa-siswa Alkitab yang didirikan Charles Taze Russell (16 Feb 1852  – 31 Okt 1916). Pada masa mudanya, Charles pun adalah seseorang yang senang dalam hal Kekeristenan.

Saat menginjak usia remaja, ia mulai mencari penjelasan rasional akan iman kepercayaannya.

Jika Allah Maha Baik, mengapa ia menciptakan Neraka?

Ia berdikusi dengan orang-orang dilingkungan gerejanya, tapi ia tidak menemukan jawabannya. Untuk memuaskan rasa hausnya itu, akhirnya ia pun coba melihat dari sudut pandang kepercayaan lain, dan filsafat. Rasa hausnya akhirnya dipuaskan saat bertemu kaum Advent, sehingga pada akhirnya ia percaya bahwa: tidak ada neraka.

Dari pemahaman itulah akhirnya berkembang pemahaman-pemahaman lain, sehingga pada akhirnya pemahaman Kekristenan Charles bertolak belakang dengan Kekristenan. Dan dalam kelombok Bible Study (atau biasa kita menyebut kelompok PA) ia mengembangkan kepercayaannya itu

Karena dengan konsep Kekristenannya yang baru ia bisa lebih menjelaskan sesuatunya dengan cara yang lebih rasional, banyak orang percaya. Dan dari kelompok PA itu, secara tidak langsung orang mengangkat dia sebagai pendeta.

Ada orang-orang yang haus akan kebenaran Firman Tuhan, tapi seringkali kita (atau bahkan pihak gereja) mengabaikan mereka. Bila dibiarkan terus menerus, ia tidak mendapatkan jawaban, ditambah lagi kekecewaan yang ia temui dikalangan orang-orang Kristen, besar kemungkinan ia akan murtad. Oleh sebab itu, jangan abaikan mereka yang memiliki pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan iman. Bahkan saat ini, jika mereka bertemu dengan para Saksi Yehova yang bisa memuaskan mereka dengan berbagai penjelasan yang logis, tidak menutup kemungkinan ia bisa meninggalkan iman Kristen.

Kesimpulannya, hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah:

1. Waspadalah dengan ajaran Saksi Yehova ini. Dulu aliran ini dilarang di Indonesia, pada tahun 1996 larangan itu dicabut, dan pada 19 Juli 1996 Saksi Yehova telah mendirikan kantor perwakilan resmi di Indonesia.

Dulu saja, saat mereka masih dilarang, mereka masih tekun memberitakan injil dari rumah ke rumah. Sekarang, setelah keberadaannya disahkan secara hukum di Indonesia, mereka tidak perlu lagi bertindak sembunyi-sembunyi untuk memberitakan injil. Bagaimana dengan kita? Gereja sendiri saat ini jarang menekankan perihal penginjilan. Dan jika kita terus nyaman dengan keadaan ini, rasanya tidak menutup kemungkinan ajaran Saksi Yehova bisa berkembang lebih pesat dari Kekristenan.

2. Belajarlah dari ketekunan mereka. Untuk beberapa hal, orang Kristen mungkin seharusnya malu kepada mereka. Bagi mereka, pengabaran injil merupakan suatu misi utama yang sangat ditekankan. Bahkan ada hukuman bagi mereka yang tidak melaksanakan misi itu. Begitu juga dalam hal mempelajari alkitab. Jika Anda bertemu dengan Saksi Yehova, mungkin Anda akan kagum bagaimana mereka akan bisa hafal begitu banyak ayat, dan begitu terampilnya mereka membuka dan mencari ayat dalam alkitab.

Jadi, apakah yang harus kita lakukan bisa bertemu Saksi Yehova? Menghindar! Tapi, jika memang dalam suatu keadaan Anda harus/perlu menghadapi mereka, perhatikan cara mereka belajar Firman Tuhan. Hal itu akan mempermalukan Anda, melihat mereka yang kita sebut sesat, tapi justru merekalah yang begitu giat memberitakan injil, dan mempelajari Firman Tuhan begitu rupa.