Adakah “kebohongan yang baik”? (kebohongan putih/white lie)

Pertanyaan dari salah seorang anak sekolah minggu setelah mendengar cerita Rahab dan 2 Pengintai, dari Yosua 2. Kemudian, seorang anak bertanya:

apakah berbohong demi kebaikan itu diperbolehkan?

Jawab: Pertanyaan yang lebih penting adalah apa motivasimu untuk berbohong?

Kalau kau berkata jujur tapi motivasimu jahat, maka kejujuranmu itu pun adalah sesuatu yang salah. Gosip bisa jadi suatu pernyataan jujur yang tidak pada tempatnya. Seseorang dengan ‘jujur’ menceritakan kekurang temannya kepada yang lain hanya untuk menjadikannya bahan obrolan, itu adalah salah. Jujur menceritakan pelanggaran temannya kepada guru atas dorongan iri hati, itu adalah salah. Jadi, jangan kan berbohong, jujur pun kalau motivasinya tidak baik, itu akan menjadi salah.

Dalam khotbah Tuhan Yesus di bukit (Matius 5), Ia mengatakan: “Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,  … Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Perkataan orang percaya, harusnya menjadi perkataan yang bisa dipercaya, sehingga tanpa sumpah pun orang bisa memegang perkataan orang percaya. Jujur seharusnya menjadi sikap penting yang harus dimiliki orang percaya.

Namun, karena kita saat ini hidup ditengah-tengah dunia yang jatuh dalam dosa, seringkali kita dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Pada Perang Dunia 2, di Eropa terjadi banyak genosida orang-orang keturunan Yahudi oleh rezim Nazi. Orang-orang Yahudi diburu dari rumah ke rumah. Beberapa orang Jerman yang simpatik terhadap orang Yahudi mempertaruhkan nyawa mereka dengan menyediakan tempat persembunyian di rumah mereka. Kalau kamu berada dalam posisi sebagai orang Jerman itu, kemudian ada tentara datang untuk memeriksa tentara rumahmu, kemudian bertanya: “Apa kamu menyembunyikan orang Yahudi di rumahmu?” Apa kamu akan berbicara jujur? dengan konsekuensi orang-orang Yahudi di rumahmu akan dibunuh. Atau, berbohong? Dalam keadaan seperti itu, kita dihadapkan pada 2 pilihan sulit, tapi dari 2 pilihan itu, kita pilih pilihan yang ‘lebih baik’ (lesser evil). Dalam keadaan seperti itu, walau berbohong tidak baik, tapi itu jawaban yang lebih baik daripada berbicara jujur dan mengakibatkan orang terbunuh.

Tapi, jangan sampai juga kita menganggap bohong itu menjadi sesuai dengan enteng bisa dilakukan. Seorang anak yang bermain bola, tidak sengaja memecahkan kaca jendela. Ketika pemilih rumah menanyakan: “Apakah kamu memecahkan kaca jendela ini?” Kalau menjawab bohong, kamu bebas dari hukuman. Kalau jawab jujur, kamu pasti dihukum. Jawaban apa yang akan kau pilih? Untuk kasus ini, berbohong tidaklah dibenarkan, karena dengan berbohong berarti kamu lari dari tanggung jawab.

Perbuatan berbohong tidaklah benar. Kejujuran haruslah menjadi karakter penting yang harus dimiliki orang percaya. Tapi, yang juga penting adalah kita memastikan, apa motivasi kita dalam memberikan jawaban.

Iklan