7 Mei 2017: KKR Kesaksian – Dr. Christopher Yuan

Sebuah renungan dari kesaksian Dr. Christopher Yuan (perjalanan hidup seorang gay sehingga ia menemukan Tuhan, kisah seorang ibu yang mencari suatu harapan) dan respon Firman Tuhan dari Pdt. Stephen Tong.

  1. Firman Tuhan lebih tajam dari pedang bermata dua, menyatakan keberdosaan kita yang paling tersembunyi, tapi tidak ada dosa yang terlalu besar yang Tuhan tidak bisa ampuni
  2. Kasih Allah yang terbesar Ia nyatakan lewat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus
  3. Kita adalah pendosa, tidak layak menerima belas kasihan-Nya. Tapi, meskipun demikian Ia tetap mengasihi kita tanpa syarat.
  4. Cinta yang tanpa syarat tidak sama tidak berarti Ia setuju tanpa syarat dengan keberdosaan kita. Walaupun Allah mengasihi kita, Ia menginginkan kita untuk hidup suci, sebagaimana Ia juga suci.
  5. Perilaku dan keinginan kita tidak seharusnya menentukan identitas kita, karena kita adalah anak Allah, yang dibeli dengan darah yang Yesus
  6. Kita tidak berdoa untuk memaksa Tuhan mengikuti keinginan kita; kita berdoa untuk mengarahkan keinginan kita dengan-Nya. Doa tidak mengubah Tuhan; doa mengubah kita.
  7. Tuhan menjawab doa kita sesuai dengan kedaulatan-Nya
  8. Tetap bertekun dalam doa (dan puasan) karena ini adalah peperangan untuk memenangkan jiwa.
  9. Jangan cuma jadi orang Kristen yang baik yang hanya berpikir bahwa pergi ke gereja setiap minggu itu cukup; jadilah orang Kristen yang ‘luar biasa’ yang menunjukkan kasih dan kemuliaan Allah melalui hidup kita sehari-hari.
  10. Orang tua, jangan mengajarkan anak-anak Anda untuk menyelesaikan PR dan berhasil di sekolah dan karir lebih dari pada mengajarkan mereka untuk mencintai dan mengikut Kristus.
  11. Orang tua, jangan bertanya “kapan saya bisa mulai mengajarkan seksualitas kepada anak saya?” Tapi, bertanyalah “kapan batas akhir waktu saya harus mengajarkan mengajarkan seksualitas kepada anak saya sebelum dikatakan ‘terlambat’?” Kalau Anda tidak mengajar anak Anda seksualitas sesuai alkitab, dunia akan mengajarkan mereka seksualitas yang diluar alkitab.
  12. Tuhan memberimu bakat. Setan tidak bisa mengambilnya daripada mu, tapi ia mengacaukan mengalihkan pandanganmu kepadanya (membuatmu menggunakan bakat itu untuk dia).
  13. Tuhan tidak pernah berjanji bahwa besok kita akan hidup. Gunakan waktu hidupmu sebaik mungkin dalam melayani Dia, karena jumlah hari hidup kita sudah ditentukan. Lakukan pelayananmu seolah ini adalah ini adalah kali pertama dan terakhir kau melayani-Nya – mohonkan kekuatan kepada-Nya -lakukan dengan segenap hati, pikiran dan kekuatan.
  14. Penguasa dunia in menggunakan kuasa dan kekayana untuk membangun kerajaan-Nya, tapi Tuhan memakai mereka yang rusak, rendah, hati yang bertobat untuk membangun kerajaan-Nya.
“The kingdom of this world is become the kingdom of our Lord and of His Christ, and He shall reign forever and ever. Hallelujah. Amen.” – G.F. Handel

Hukum Kelima: Hormatilah Ayahmu dan Ibumu

Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. (Kel 20:12)

parentsBagi orang percaya, menghormati orang tua, bukan sekedar tradisi, etika atau norma sosial. Bagi orang percaya, menghormati orang tua adalah salah satu bagian dari perintah yang Tuhan berikan kepada manusia. Saat perintah ini diberikan dalam taurat, perintah ini disertai juga dengan janji: “supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN …”.

Satu hal penting yang kita perlu pahami dari janji ini adalah menghormati orang tua bukanlah tips untuk panjang umur. Perkataan “lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN” menunjuk pada penyertaan TUHAN. Seperti halnya janji TUHAN untuk “…memberikan negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu…” (Kel 33:3), poin pentingnya bukan pada susu dan madu-nya, tapi pada kelimpahan berkat yang TUHAN janjikan.

Hukum Taurat adalah hal yang sangat penting untuk orang Israel pahami dan lakukan. Musa, pada khotbah terakhir sebelum ia berpisah dengan Israel, Ia memberikan memberikan penekanan penting agar Israel boleh sungguh-sungguh hidup sebagai umat-Nya, supaya Israel pun boleh merasakan damai sejahtera ditempat yang TUHAN telah berikan sebagai orang merdeka.

Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. (Ul 6:1-7)

Dalam pembahasan mengenai hormat kepada orang tua, perintah hormat kepada orang tua selalu dikaitkan dengan perintah kepada orang tua untuk mengajar. Generasi orang-orang yang keluar dari Mesir sadar diri mereka adalah budak dan TUHAN membebaskan mereka keluar dari Mesir. Generasi ini mendapatkan kesempatan melihat kuasa TUHAN dinyatakan. Generasi ini mendapatkan kesempatan melihat tanda besar bahwa TUHAN yang membawa mereka keluar dari Mesir adalah TUHAN yang nyata dan berkuasa, berbeda dengan dewa-dewa yang mereka kenal di Mesir. Tapi, bagaimana dengan generasi berikutnya? Generasi anak-anak mereka, generasi cucu mereka pun tidak boleh sampai melupakan ini. Mereka harus senantiasa mengingat bahwa dulu mereka adalah bangsa budak; TUHAN telah memilih Israel menjadi umat-Nya; hanya oleh anugerah mereka dibebaskan; TUHAN yang Israel sembah adalah TUHAN semesta alam; dan tugas untuk menyaksikan ini diberikan kepada orang tua untuk diajarkan kepada anak-anaknya.

Dengan demikian, para orang tua harus sadar. Saat orang tua mengajar anak-anak mereka untuk menghormati orang tua, setiap mereka juga harus ingat bahwa hak untuk mendapatkan hormat dari anak disertai juga kewajiban untuk mengajarkan mereka untuk melakukan perintah Tuhan, dan mengajarkan mereka untuk memiliki rasa takut akan TUHAN.

Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Ef 6:1-4)

Dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, didalamnya terdapat nasihat terkait dengan kehidupan keluarga. Ef 6:1-4, adalah bagian nasihat kepada anak-anak dan orang tua. Tapi, pada bagian sebelumnya (Ef 5:22-27), rasul Paulus menuliskan nasihat bagi hidup dari pada ayah dan ibu (suami istri). Hidup orang tua sebagai suami istri harus menjadi hidup yang menjadi panutan bagi anak-anaknya.

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
(Eph 5:22-27)

Dalam hal relasi antara ayah dan ibu, harus bisa menjadi contoh yang baik. Seorang istri harus menjadi contoh hidup dalam kebertundukan kepada otoritas kepala keluarga. Disisi lain, seorang suami harus mengasihi istrinya, … bukan dengan sekedar kebaikan, kesetiaan dan cinta kasih … tapi dikatakan bahwa suami harus mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya. Seperti apakah Kristus mengasihi jemaat-Nya? Kristus mengasihi jemaat-Nya sampai Dia mengorbankan diri-Nya sendiri. Kristus menyucikan jemaat-Nya dengan air dan firman, supaya jemaat-Nya boleh dinyatakan kudus dihadapan Bapa. Sesungguhnya, hanya orang tua yang seperti ini, yang layak menuntut hormat dari anak-anaknya.

Hai para orang tua, ingatkanlah hal ini! Saat engkau mendengar perintah hormati ayah-ibumu bagi anak-anakmu, ingatlah bahwa dibaliknya ada tanggung jawab besar yang diemban para orang tua untuk hidup sungguh-sungguh menjadi panutan bagi anak-anaknya; tanggung jawab untuk mengajar jalan kebenaran kepada anak-anaknya; tanggung jawab untuk membimbing anak-anaknya untuk hidup kudus bagi TUHAN.

Anak-anak! bersyukur jikalau kalian memiliki orang tua yang mengajarkan kalian untuk taat beribadah, orang tua yang marah dengan perbuatan dosamu, orang tua yang mengajarkamu untuk takut kepada TUHAN. Sebagai orang muda, seringkali muncul pemikiran “saya benar, papa/mama salah”. Selisih pendapat akan selalu ada, tapi dalam keadaan demikian, ingat! hormatilah orang tua mu. Kadang engkau menemui pemikiran orang tua yang salah, kadang engkau menemui pemikiran saya salah (tapi tidak sadar salah), kadang engkau menemui tidak tahu mana yang benar, kadang engkau menemui orang tua yang benar tapi kita tidak suka dengan caranya menegur. Dalam keadaan itu, firman Tuhan mengingatkan hormatilah ayahmu dan ibumu. Dalam keadaan berselisih pendapat, engkau harus belajar memberi hormat kepada orang tua. Belajar menyatakan ketidaksependapatan dengan cara yang bijak, supaya jangan walaupun engkau benar, tapi karena sikapmu yang menjadi sandungan bagi ayah/ibumu. Orang tuamu tidak selalu benar, orang tuamu mungkin salah, tapi ingat engkaupun tidak selalu benar, engkaupun mungkin salah.