Bersukacita Karena Tuhan

Tuhan paling dimuliakan ketika orang percaya bersukacita karena Tuhan. – John Piper

kalau doa kita sudah jadi beban, pasti ada sesuatu yang salah dalam kerohanian kita.

Kalau saudara tidak lagi bergairah berdoa,
kalau saudara tidak lagi bergairah membaca Firman,
mungkin kedagingan sudah merajarela.

Antonius Stephen Un – Kebaktian Minggu (2011-11-12)

Memerangi Hawa Nafsu

Pada April 2003, Aron Ralston, seorang pendaki terperangkap dengan tangannya terjepit pada batu diantara tebing-tebing batu di Bluejohn Canyon, Utah. Selama 5 hari Aron berusaha melepaskan diri sementara berjuang melawan dehidrasi dan hipotermia. Menyadari keadaannya, akhirnya Ia memutuskan untuk memotong tangannya sendiri dengan pisau lipat. Drama survival yang dilakukan oleh Aron diangkat ke layar lebar menjadi film 127 hours (2010).

Untuk kelangsungan hidup, Aron sadar bahwa satu-satunya jalan untuk ia bisa lepas dari perangkap ini yaitu dengan memotong tangannya. Ini mengingatkan saya pada pengajaran Tuhan Yesus di Matius 5:28-29 tentang bahaya perangkap dosa:

Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buatlah itu, karena lebih baik bagimu kehilangan satu dari anggota tubuhmu, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Matius 5:28-29

Kata cungkil mata yang dipakai pada ayat diatas menyatakan suatu keseriusan. Dosa adalah hal yang sangat serius dan berbahaya. Begitu serius dan berbahayanya dosa itu sehingga kalau memang perlu potong anggota tubuhmu supaya kamu tidak berdosa itu lebih baik, dari pada kamu harus binasa karena dosa. Ada nasib yang kekal yang kita pertaruhkan dalam apa yang kita lakukan dengan mata kita, dengan pikiran-pikiran dari imajinasi mereka. Jika kita tidak memerangi dosa ini dengan jenis keseriusan yang membuat Anda bersedia mencungkil mata Anda sendiri, Anda akan kehilangan keselamatan.

Kita dibenarkan oleh anugerah hanya melalui iman (Roma 3:28; 4:5; Efesus 2:8-9); dan semua orang yang telah dibenarkan dengan cara demikian akan dimuliakan (Roma 8:30) — Artinya, tidak akan orang yang dibenarkan yang akan terhilang, Meskipun demikian, mereka yang menyerahkan diri kepada percabulan akan terhilang (Galatia 5:21), dan mereka yang meninggalkan pertempuran melawan nafsu akan binasa (Matius 5:30), dan mereka yang tidak mengejar kekudusan tidak akan melihat Tuhan (Ibrani 12:14), dan mereka yang menyerahkan hidup mereka kepada keinginan-keinginan jahat akan menerima murka Allah (Kolose 3:6).

Iman yang benar adalah iman yang juga menguduskan. Ujian apakah kita memiliki jenis iman yang membenarkan adalah apakah iman itu juga merupakan iman yang menguduskan.

(Disadur dari Battling Unbelief, John Piper)

The Offense of Fearing Men

Saul said to Samuel, “I have sinned; for I have transgressed the commandment of the LORD and your words, because I feared the people and obeyed their voice.” (1 Samuel 15:24)

Why did Saul obey the people instead of God? Because he feared the people instead of God. He feared the human consequences of obedience more than he feared the divine consequences of sin. He feared the displeasure of the people more than the displeasure of God. And that is a great insult to God.

To turn from him out of fear of what man can do is to discount all that God promises to be for those who fear him. It is a great insult. And in such an insult God can take no pleasure.

On the other hand when we hear the promises and trust him with courage, fearing the reproach brought upon God by our unbelief, then he is greatly honored. And in that he has pleasure.

John Piper – The Pleasures of God