Doa yang sungguh-sungguh

Apa ciri doa yang sungguh-sungguh?

Doa yang sungguh-sungguh bukan ditandai dengan tangisan, bukan dengan indahnya kata-kata.
Doa yang sungguh-sungguh adalah doa yang disertai dengan dorongan hati dan usaha yang sungguh-sungguh seiring dengan doanya.

Iklan

Pertobatan yang Sia-sia

Jika kita ingin meninggalkan dosa tetapi tidak ingin meninggalkan kesenangan akan dosa, kenikmatan akan dosa, atau hal-hal lain dalam dosa yang membuat hidup kita lebih nyaman dan tenang, maka kita sebenarnya belum sungguh-sungguh bertobat. Perlu pengorbanan melepas segala hal yang membuat kita berdosa kepada Tuhan. Semua kecemaran yang mengganggu hubungan kita dengan Tuhan, semua ini harus disingkirkan. Betapa mudahnya mengatakan bertobat tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mau menjauhkan diri dari apa pun yang membuat kita menjadi jauh dari Tuhan. Ini pertobatan yang tidak ada gunanya.

Dikutip dari Reforming Heart – Pertobatan Sejati 

Manusia Dipanggil Bukan (hanya) untuk Diselamatkan

Manusia tidak dipanggil untuk diselamatkan. Manusia diselamatkan untuk mengerjakan sesuatu bagi Tuhan. Karena itu pertanyaan paling dasar bukan “saya sudah selamat atau belum?”, tapi pertanyaan yang justru lebih utama “saya sudah hidup bagi Tuhan atau belum?”.

Bagaimana mungkin hidup bagi Tuhan kalau belum selamat? Tuhan menyelamatkan, Tuhan memberikan penebusan, setelah itu Tuhan menuntut kita untuk hidup bagi Dia. Tuhan tidak menciptakan manusia hanya supaya drama keselamatan dilaksanakan, Tuhan tidak menciptakan manusia hanya untuk membuat mereka dibiarkan jatuh dalam dosa setelah itu ditebus, setelah itu selesai. Tuhan menciptakan manusia untuk menyatakan kemuliaan Tuhan di dunia ini. Itu sebabnya kehidupan manusia yang ada di dunia seharusnya mencerminkan semua sifat Tuhan. 

dikutip & disadur dari http://griibandung.org/reformed-theology/10-hukum-taurat/jangan-mencuri/

Saul: Hati Nurani yang Tumpul

saul-sacrificeSaul tidak setia kepada Tuhan, tetapi perhatikan cara Tuhan memberkati Israel. Dalam ayat 47 dan 48 dicatat bagaimana Saul menaklukkan enam bangsa yang menjadi musuh Israel. Tidak pernah ada satu pun hakim Israel yang pernah melakukan itu. Tidak ada yang tercatat pernah menaklukkan lebih dari dua bangsa. Sebelum Saul, hanya Yosua yang pernah memimpin Israel menaklukkan lebih banyak bangsa ketika Israel masuk ke Kanaan. Jadi bagaimana? Apakah ini berarti Saul tetap diberkati walaupun dia tidak setia kepada Tuhan? Apakah keberdosaan Saul tidak memengaruhi keinginan Tuhan untuk menyertai dan memberkati dia? Harap kita jangan salah membacanya. Bukan Saul yang menjadi alasan penyertaan Tuhan dalam segala kemenangan yang dipimpinnya sebagai raja, tetapi Israellah yang menjadi alasan.

Tuhan mengasihi Israel dan ingin membebaskan mereka dari tangan bangsa-bangsa sekeliling mereka (1 Sam. 9:16). Tuhan mengasihi umat-Nya, dan itulah alasan Tuhan masih memimpin mereka dalam kemenangan demi kemenangan di bawah pimpinan Saul. Kadang pelayan Tuhan bisa salah melihat siapakah yang Tuhan jadikan fokus perhatian-Nya. Sang pelayan merasa Tuhan tetap pimpin meskipun dia sudah jatuh ke dalam dosa. Tetapi bukan dialah alasan Tuhan memberikan pimpinan-Nya. Kalau Tuhan masih memimpin, maka itu disebabkan oleh karena kasih-Nya kepada umat-Nya. Jika seorang raja diberikan kemenangan dalam berperang, atau seorang nabi diberikan kefasihan berbicara, semua karena kasih-Nya bagi umat-Nya. Setiap pelayanan yang diberkati adalah karena umat Tuhan dikasihani oleh Tuhan. Demikian juga Saul. Dia menaklukkan Moab, Amon, Edom, Zoba, Filistin, dan Amalek. Mengapa Tuhan memberikan setidaknya enam kemenangan penting kepada Saul? Karena Tuhan ingin membebaskan umat-Nya. Israellah yang Tuhan kasihi, bukan Saul.

Betapa berbahayanya jika kita berada dalam dosa-dosa kita dan kita tidak mau bertobat karena merasa Tuhan sedang memakai kita. Jika kita tidak sadar bahwa kita perlu bertobat, maka kita tidak akan pernah sungguh-sungguh mencari pengampunan. Dan tanpa mencari pengampunan, bagaimanakah mungkin kita mengalami pengampunan? Bagaimana mungkin Saul merasa perlu bertobat kalau dalam enam pertempuran penting Tuhan selalu memberikan kemenangan? Tuhan memberkati Saul dengan segala yang dia perlukan untuk mempunyai kuasa yang besar. Tuhan juga memberikan kepada dia tentara-tentara yang baik. Bahkan pada akhirnya Tuhan juga memberikan Daud kepada Saul untuk menjadi pemimpin pasukan Saul. Semua ini merupakan tanda bahwa Tuhan memperhatikan Israel. Bahkan dalam 1 Samuel 15:2 Tuhan memerintahkan Saul untuk membasmi orang Amalek sebagai pembalasan dari Tuhan karena orang Amalek memerangi Israel dalam perjalanan mereka dari Mesir ke Kanaan (Kel. 17:8-14). Dan betapa besarnya kekuatan Saul ketika dia akan menaklukkan Amalek. Alkitab mencatat bahwa ada 210.000 orang tentara siap berperang di bawah pimpinan Saul (1Sam. 15:4).

Kekuatan besar ini, sayangnya, membuat Saul tidak merasa perlu menaati Tuhan. Kekuatan besar ini bahkan membuat Saul lebih suka menyenangkan rakyat banyak ini daripada menyenangkan Tuhan Sang Pemilik rakyat banyak ini. Saul menolak Tuhan dengan menolak menaati Dia dengan akurat. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan ingin memusnahkan Amalek sama sekali (Kel. 17:14; 1Sam. 15:3), tetapi Saul tidak membunuh Agag dan sejumlah ternak mereka (ay. 9). Tuhan ingin memunahkan Amalek (dan Dia berhak atas itu karena Dialah Allah yang adil dan yang memiliki kedaulatan atas setiap nyawa manusia), tetapi Saul mengampuni Agag, raja Amalek. Dia membiarkan hidup raja yang Tuhan sudah tetapkan untuk mati. Siapakah hakim atas seluruh dunia? Bukankah Allah? Jika demikian, mengapakah ada seorang manusia yang berani mengubah keputusan Yang Maha Adil dengan menentukan sendiri siapa yang harus dihukum dan siapa tidak? Tindakan inilah yang membuat Tuhan membuang Saul sebagai raja. Tuhan tidak lagi memberi ampun kepada Saul. Demikianlah Tuhan membiarkan Saul di dalam pemberontakannya sambil tetap memberikan kemenangan demi kemenangan bagi Israel melalui Saul. Kemenangan demi kemenangan yang memabukkan Saul sehingga dia tidak sadar kalau dia sudah menyimpang begitu jauh dari Tuhan.

Mari kita berpikir baik-baik:

Apakah pelayanan yang kita kerjakan sepertinya berbuah lebat? Apakah Tuhan menambahkan jumlah orang yang mengikuti kebaktian di gereja tempat kita berbagian dalam pelayanan? Saul mempunyai 210.000 pasukan ketika menaklukkan Amalek. Bukankah ini tandanya Tuhan masih berkenan kepada Saul? Hati-hati! Tuhan sudah tidak berkenan kepada Saul, tetapi Dia masih mengasihi umat-Nya. Bangsa Israel adalah alasan Tuhan juga masih memberikan kesempatan kepada Saul untuk bertobat dan kembali kepada Dia dengan tugas memerangi orang Amalek dengan penyertaan Tuhan yang besar. Saul gagal karena dia tidak sadar kalau dia sudah menyimpang jauh dari Tuhan. Kadang-kadang kita mempunyai pola berpikir yang sangat berbeda dari Tuhan. Kita menafsirkan kesulitan hidup sebagai tanda kutuk dan kita menafsirkan segala kemudahan, kelancaran, dan kesenangan hidup sebagai tanda perkenanan Tuhan. Padahal semua itu bukanlah tanda Tuhan berkenan atau tidak. Tuhan berkenan kepada seseorang jika dia menaati firman-Nya dan hidup dengan tepat sesuai perintah Tuhan. Entah dia kaya atau miskin, tanda sejati diperkenan Tuhan adalah kalau kita mengikuti Dia dengan tepat.

Jikalau Tuhan memberkati pelayanan kita dan gereja kita, ini tidak berarti bahwa kitalah alasan Tuhan memberikan berkatnya. Selidikilah hidup kita dengan sebaik mungkin. Sudahkah kita dengan tepat mengikuti Dia? Saul membunuh hampir semua orang Amalek. Tetapi “hampir semua” tidak sama dengan “semua”. Saul membantai hewan ternak Amalek yang jelek, tetapi menyimpan yang baik (ay. 9) meskipun telah mendengar perintah bahwa Tuhan telah mengkhususkan seluruh ternak Amalek untuk dimusnahkan. Pelanggaran Saul sama seperti ketika Akhan mengambil jubah di Yerikho ketika seluruh harta orang Yerikho seharusnya dimusnahkan (Yos. 6:17; 7:1).

Ketika perasaan hati kita sudah tumpul, kita tidak sadar bahwa kita sebenarnya sudah membuat Tuhan marah. Mungkin kata-kata kita. Mungkin tindakan kita. Semua hal-hal yang sebenarnya menjijikkan bagi Tuhan telah kita kerjakan tanpa merasa bersalah. Celaka kita akan makin bertambah jika ternyata Tuhan tetap memberikan kelimpahan di dalam hidup kita. Tetapi benarkah kelimpahan itu tanda bahwa Tuhan berkenan atas cara hidup kita? Saul sudah menyimpang jauh dari Tuhan, tetapi mungkin dia berpikir, “210.000 pasukan yang menghancurkan banyak kerajaan lain di sekeliling Israel, Tuhan pasti sangat berkenan pada saya! Tidak seorang pun hakim Israel pernah mengalami kemenangan sebanyak saya. Bahkan Samuel pun belum pernah mencicipi kemenangan sebanyak kemenangan saya!” Tetapi Tuhan berkata kalau Dia akan membuang Saul. Tuhan akan membuang kita jika kita terlalu bebal!

Bertobatlah dan miliki kepekaan rohani yang tinggi! Jangan diperdaya oleh nurani kita yang sudah lebih tumpul daripada pedang plastik mainan, tetapi kembalilah kepada firman Tuhan. Apakah hidup kita terus diarahkan untuk mengikuti Tuhan secara tepat? Hati, pikiran, perbuatan, perkataan, dan seluruh hidup, biarlah itu diserahkan kepada Tuhan untuk menaati Dia dengan seakurat mungkin.

Sumber: Reforming Heart – Kejatuhan Final Saul

Daud di Kehila

[1] Diberitahukanlah kepada Daud, begini: “Ketahuilah, orang Filistin berperang melawan kota Kehila dan menjarah tempat-tempat pengirikan.” [2] Lalu bertanyalah Daud kepada TUHAN: “Apakah aku akan pergi mengalahkan orang Filistin itu?” Jawab TUHAN kepada Daud: “Pergilah, kalahkanlah orang Filistin itu dan selamatkanlah Kehila.” [3] Tetapi orang-orang Daud berkata kepadanya: “Ingatlah, sedangkan di sini di Yehuda kita sudah dalam ketakutan, apalagi kalau kita pergi ke Kehila, melawan barisan perang orang Filistin.” [4] Lalu bertanya pulalah Daud kepada TUHAN, maka TUHAN menjawab dia, firman-Nya: “Bersiaplah, pergilah ke Kehila, sebab Aku akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu.” [5] Kemudian pergilah Daud dengan orang-orangnya ke Kehila; ia berperang melawan orang Filistin itu, dihalaunya ternak mereka dan ditimbulkannya kekalahan besar di antara mereka. Demikianlah Daud menyelamatkan penduduk Kehila. (1Sam 23:1-5)

Daud menanyakan haruskah dia membebaskan Kehila? Kehila adalah bagian dari Yehuda yang berada di perbatasan dengan daerah Filistin. Daud menanyakan kepada Allah, haruskah dia menyerang orang Filistin untuk menyelamatkan Kehila? Tuhan mengatakan, “Ya”. Ayat 3 mengatakan bahwa para pengikut Daud protes. Mereka mengatakan bahwa mereka sedang ada dalam masalah besar. Mereka sendiri sedang dikejar-kejar oleh Saul dan bahkan berada dalam bahaya dianggap konspirasi pemberontakan terhadap raja Saul. Respons para pengikutnya ini ternyata membuat Daud cukup goyah. Apa yang dikatakan para pengikutnya itu benar. Siapakah mereka? Kalau Saul saja sangat sulit menaklukkan orang Filistin, berapa besarkah peluang mereka untuk menang? Apalagi status mereka sekarang pun adalah sebagai pelarian yang sedang diburu Saul. Jika mereka benar-benar berperang melawan orang Filistin itu, mereka pasti tidak bisa mengharapkan bala bantuan dari pasukan tentara Israel. Tetapi yang dilakukan Daud adalah mencari kekuatan dari firman Tuhan. Dia tidak percaya demokrasi! Dia percaya perintah Tuhan. Dia tidak percaya suara orang banyak! Dia lebih percaya firman Tuhan. Orang Kristen harus percaya firman Tuhan, bukan pendapat mayoritas. Orang Kristen harus percaya firman Tuhan, bukan kebiasaan-kebiasaan tradisional. Itu sebabnya Daud bertanya lagi kepada Tuhan di ayat 4. Tuhan menjawab, “Bangkitlah! Turunlah ke Kehila! Aku akan memberikan orang-orang Filistin itu ke dalam tanganmu.” Jawaban Tuhan memberikan kekuatan tambahan kepada Daud dengan adanya tambahan kata: “Bangkitlah!” dan kalimat: “Aku akan memberikan orang-orang Filistin itu ke dalam tanganmu.” Tuhan mengerti keraguan Daud, dan karena itu Dia memberikan dorongan dengan kalimat-kalimat tadi kepada Daud. Setelah kedua kalinya Tuhan menjawab, maka Daud pun pergi disertai dengan orang-orangnya ke Kehila dan menghancurkan pasukan Filistin di sana. Bahkan dalam status buronan pun Daud tetap menjalankan tugasnya menaklukkan orang Filistin.

Ada keunikan di dalam kata-kata bahasa Ibrani yang dipakai untuk ayat 5. Ayat ini memulai dengan mengatakan, “Kemudian pergilah Daud dengan orang-orangnya ke Kehila.” Tetapi, walaupun mengatakan Daud dengan orang-orangnya, kata yang dipakai untuk “pergilah” adalah tunggal, bukan jamak. Begitu juga dengan kata “dihalaunya”, “ditimbulkannya kekalahan”, dan “menyelamatkan”, semua memakai kata tunggal. Semua merujuk kepada aksi satu orang, yaitu Daud. Begitu besarnya peran dan pengaruh Daud dalam pertempuran ini sehingga seolah-olah dia memenangkan pertempuran ini sendirian saja. Maka penulis Kitab Samuel sedang mengarahkan pembacanya untuk bersiap melihat tokoh utama, yaitu Daud, makin menjadi sorotan utama. Begitu sentralnya posisi Daud di dalam narasi kitab ini sejak pasal 23 sehingga bahkan kematian Samuel (25:1) pun tidak boleh mengganggu alur narasi Daud. Kematian itu hanya sekilas dikisahkan dan hanya diberikan satu pasal saja agar tidak menyebabkan fokus pembaca beralih dari Daud.

[6] Ketika Abyatar bin Ahimelekh melarikan diri kepada Daud ke Kehila, ia turun dengan membawa efod di tangannya. [7] Kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah masuk Kehila. Lalu berkatalah Saul: “Allah telah menyerahkan dia ke dalam tanganku, sebab dengan masuk ke dalam kota yang berpintu dan berpalang ia telah mengurung dirinya.” [8] Maka Saul memanggil seluruh rakyat pergi berperang ke Kehila dan mengepung Daud dengan orang-orangnya. [9] Ketika diketahui Daud, bahwa Saul berniat jahat terhadap dia, berkatalah ia kepada imam Abyatar: “Bawalah efod itu ke mari.” [10] Berkatalah Daud: “TUHAN, Allah Israel, hamba-Mu ini telah mendengar kabar pasti, bahwa Saul berikhtiar untuk datang ke Kehila dan memusnahkan kota ini oleh karena aku. [11] Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku ke dalam tangannya? Akan datangkah Saul seperti yang telah didengar oleh hamba-Mu ini? TUHAN, Allah Israel, beritahukanlah kiranya kepada hamba-Mu ini.” Jawab TUHAN: “Ia akan datang.” [12] Kemudian bertanyalah Daud: “Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku dengan orang-orangku ke dalam tangan Saul?” Firman TUHAN: “Akan mereka serahkan.” [13] Lalu bersiaplah Daud dan orang-orangnya, kira-kira enam ratus orang banyaknya, mereka keluar dari Kehila dan pergi ke mana saja mereka dapat pergi. Apabila kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah meluputkan diri dari Kehila, maka tidak jadilah ia maju berperang. (1Sam 23:6-13)

Setelah kemenangan yang besar ini ternyata Daud harus kembali menghadapi permasalahan utama, yaitu Saul. Saul kembali menjadi kesulitan besar bagi Daud karena sekarang Saul bersiap mengepung dia di Kehila. Kehila adalah tempat dengan tembok benteng, sehingga kalau saja Saul sempat datang sebelum Daud melarikan diri, maka Daud tidak akan punya peluang selamat. Dia akan terkurung di tengah-tengah kota itu. Coba kita lihat ayat 7. Saul mengatakan bahwa Allah telah menyerahkan Daud ke dalam tangannya. Ini ayat yang benar-benar mengejutkan! Saul benar-benar orang yang tidak tahu diri! Dia tetap merasa Tuhan menyertai dia! Tuhan sudah tidak lagi berfirman kepada dia, lalu Samuel, nabi Tuhan, sudah meninggalkan dia, dan, ini yang paling hebat… dia baru membunuh ratusan orang imam dan keluarganya di Nob… dan Saul masih merasa Allah ada di pihak dia?? Dosa telah benar-benar membutakan mata hati seseorang. Orang berdosa benar-benar tidak sadar kalau Allah sudah membuang dia! Betapa kontrasnya Saul dengan Daud. Saul mengatakan dengan mulutnya bahwa Allah masih menyertai dia.

Bagaimana dengan Daud? Daud memohon pimpinan Tuhan untuk keputusan yang akan dia ambil, dan Tuhan menjawab dia. Daud bertanya tentang kesetiaan orang Kehila. Apakah mungkin orang-orang yang baru saja ditolong oleh Daud ini menyerahkan Daud ke tangan Saul? Ternyata Allah menyatakan bahwa mereka akan menyerahkan Daud ke tangan Saul. Mereka akan membiarkan pahlawan mereka dibunuh untuk keselamatan pribadi mereka. Mereka tidak peduli kalau orang itu mempertaruhkan nyawanya untuk menolong mereka. Mereka hanya tahu kalimat: “yang penting selamat”. Orang-orang yang tidak pernah mengerti semangat berkorban bagi orang lain adalah orang-orang yang sepantasnya diberikan hukuman. Orang Kehila tega menyerahkan Daud demi keamanan mereka. Mereka seolah mengatakan, “daripada bermusuhan dengan Saul lebih baik serahkan saja orang yang baru menyelamatkan kita.”

Mengapa orang Kehila begitu kejam dan tidak tahu berterima kasih? David Tsumura di dalam commentary-nya mengatakan bahwa bagi orang Kehila, Saul lebih menakutkan daripada orang Filistin (NICOT hlm. 556). Orang-orang Filistin hanya menghancurkan hasil panen mereka di tempat-tempat pengirikan (ay. 1). Tetapi Saul membunuh para imam beserta istri dan anak-anak mereka hanya karena salah satu dari mereka pernah bercakap-cakap dengan Daud. Apakah yang akan dilakukan Saul kepada orang-orang Kehila yang baru saja diselamatkan Daud? Bukankah Saul akan menganggap Kehila bersekutu dengan Daud? Apa lagi alasan Daud membahayakan diri menolong mereka kalau bukan karena mereka adalah sekutu Daud? Satu-satunya cara untuk membuat Saul tidak lagi menciptakan teori konspirasi baru adalah dengan menyerahkan Daud. Inilah rencana orang Kehila. Tetapi Tuhan mengetahui rencana itu dan membebaskan Daud dengan memberi peringatan kepada dia. Daud bertanya kepada Tuhan dan Tuhan sekali lagi meluputkan Daud dengan memberikan petunjuk mengenai langkah apa yang harus dia lakukan.

Ayat 13 menyatakan bahwa Daud dan orang-orangnya pergi dengan spontan, seperti orang yang melarikan diri, dari Kehila. Mungkin ini dilakukan supaya Saul menyangka Daud dan pasukannya telah melarikan diri dari Kehila. Mungkin ini salah satu usaha untuk mencegah Saul merancang suatu teori konspirasi lalu membunuh orang-orang Kehila. Ayat 13 juga menyatakan bahwa Daud dan orang-orangnya – yang berjumlah 600 orang – pergi dengan berpencar. Jika di gua Adulam dikatakan pengikut Daud ada 400 orang, dari manakah 200 orang tambahan ini? Mungkin dari orang-orang di sekitar Kehila (atau bahkan mungkin sebagian orang Kehila sendiri) yang begitu terpukau dengan keberanian Daud dan pasukannya. Keberanian selalu menarik orang yang mempunyai semangat yang besar. Demikianlah bagian ini membukakan kepada kita penyertaan Tuhan kepada Daud bahkan dalam keadaan sebagai pelarian. Seorang yang dipilih Tuhan untuk mengerjakan sesuatu tidak harus menunggu jabatan resmi untuk dipakai oleh Tuhan. Daud belum naik takhta tetapi dia sudah mengerjakan pekerjaan bagi seorang raja Israel, yaitu menaklukkan orang Filistin (1Sam. 9:16). Bahkan dalam keadaan sebagai buronan pun dia tetap mengerjakan apa yang menjadi panggilannya ini. Kiranya kita diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk mempunyai hati yang rindu melayani. Meskipun tidak menjabat, tetap melayani. Meskipun dalam keadaan yang jauh dari ideal, tetap berfungsi bagi kerajaan Allah. Jangan tunggu sampai dipercayakan kedudukan sebagai hamba Tuhan baru mulai memberitakan Injil. Jangan tunggu terpilih jadi pengurus dan majelis baru mau mulai melayani. Layanilah Tuhan! Nyatakan panggilanmu di dalam ketaatan meskipun tidak ada kedudukan resmi di mata manusia.

Sumber: Reforming Heart: Kemenangan Daud atas Filistin