Setengah Abad Reformasi: Eben Haizer

“Mudah lupa” — mungkin memang sudah menjadi natur dari manusia. Sehingga, kita mengembangkan suatu tradisi memilih satu hari dalam satu tahun, hari yang dikhususkan untuk mengingat momen penting. Bukan demi momen itu sendiri tapi karena suatu nilai penting yang penting dalam momen tersebut yang perlu wariskan untuk generasi selanjutnya.

Setiap tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia akan mengingat kembali mengingat nilai-nilai perjuangan yang mengantar bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan
Setiap hari ke-14 pada bulan Nissan, orang Yahudi akan merayakan Paskah, untuk mengingat Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan, mengingat janji Allah yang membawa mereka ke tanah perjanjian.
Setiap tanggal 25 Desember, adalah hari yang dipilih oleh orang Kristen untuk mengingat kembali kasih Allah kepada manusia melalui Dia yang rela mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang manusia.

Tapi, adakah orang Kristen yang mengingat 31 Oktober sebagai hari reformasi. Sayangnya, orang lebih mengenal 31 Oktober sebagai hari halloween. Mungkin (semoga saya salah) … 7 dari 10 orang Kristen bahkan tidak tahu apa itu hari reformasi. Memang, kebanyakan orang tidak akan asing dengan nama “Martin Luther”, tapi mengenal Martin Luther sebagai … orang yang menentang kekuasaan gereja pada saat yang telah menyeleweng karena menjual surat penghapusan dosa (indulgensia), titik. Itu sebenarnya hanyalah sepenggal kecil dalam rangkaian gerakan reformasi, yang makna dan pengaruhnya jauh lebih besar dari sekedar Protestanisme vs Katolik. Reformasi memberikan dampak positif dalam perkembangan bidang seni, musik, ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, budaya, dan sosial. (beberapa referensi tambahan mengenai pengaruh reformasi [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8])

Martin Luther menjadi seseorang yang Tuhan bangkitkan untuk menyulut api semangat reformasi orang Kristen untuk mengembalikan kebenaran kembali ke alkitab (sola scriptura), mengembalikan pengertian bahwa sungguh pun keselamatan hanyalah karya Kristus semata (solus Christus) dan bilamana kita bisa menerimanya, itu hanya karena anugerah semata (sola gracia) yang kita hanya bisa terima melalui iman (sola fide). Sehingga dalam kesadaran hidup yang telah menerima anugerah keselamatan itu, orang percaya belajar memberikan segala penghormatan, segala pandangan hidupnya berfokus untuk memuliakan Allah (soli Deo gloria). Suatu api yang menyulut semangat yang mereformasi diri dan masyarakat seluruh orang Kristen di Eropa, sampai ke seluruh dunia, hingga 500 tahun setelah nya (saat ini).

Gereja generasi berikutnya harus mau belajar dari berbagai kesalahan dari generasi sebelumnya, sambil dengan rendah hati senantiasa mau belajar dari berbagai pergumulan generasi sebelumnya dalam memahami kehendak Allah. Dengan demikian, hari reformasi menjadi momen yang kita pilih … untuk merenungkan pekerjaan Tuhan disepanjang sejarah, sambil memungut semangat api perjuangan gereja dalam menyatakan Kristus di bumi ini.

raf,750x1000,075,t,fafafa_ca443f4786.hggu2.jpgKalimat Ecclesia reformata semper reformanda secundum verbum Dei (gereja reformasi, selalu mereformasi diri sesuai dengan Firman Tuhan) menjadi suatu slogan yang identik dengan reformasi dan juga menggambarkan pergumulan dari gereja-gereja reformasi. Gereja reformasi tidak terbatas pada sebuah label/merk/organisasi gereja. Gereja reformasi adalah gereja yang mau terus mereformasi diri agar sesuai dengan Firman Tuhan, seperti yang diperjuangkan oleh para bapa reformator, yang mereka pun belajar dari para bapa-bapa sebelumnya, yang setiap kepada Firman-Nya dan memakai seluruh hidup mereka membawa kabar baik itu, yang mengabarkan Kristus yang mati dan bangkit, Kristus yang adalah Nabi, Imam dan Raja.

Para bapa reformator Luther, Calvin, Zwingli, … hanyalah manusia. Tapi, Allah yang membangkitkan mereka untuk mereformasi gereja adalah Allah yang terus bekerja sampai sekarang mereformasi gereja. Hari ini 31 Oktober 2017, tepat 500 tahun, tepat 1/2 abad, Eben Heizer — sampai di sini TUHAN (masih) menolong kita, gereja Tuhan akan terus berjuang sampai Ia datang kembali. Pertanyaannya adalah, mau kan Anda ikut berbagian dalam pekerjaan-Nya bagi zaman ini?


Beberapa referensi terkait reformasi yang baik saudara baca:

Iklan

“Kamu harus ke gereja!” (mengapa?)

Seorang teman lama bercerita tentang kesulitan hidupnya. Ia merasa orang-orang disekeliling dia bertindak jahat kepadanya. Sekarang, dia merasa terasing. Dalam percakapan singkat, hal praktis yang saya sarankan kepadanya: kembalilah rajin ke gereja! Dalam nada sinis, dia menjawab: mengapa ke gereja? banyak orang-orang di gereja justru lebih jahat. Orang memiliki pemikiran seperti itu ada 2 kemungkinan. Kemungkinan 1:  dia dikelilingi orang-orang Kristen yang hidupnya belum mengalami pertobatan; Kemungkinan 2: dia menanggapi segala perilaku orang kepadanya dengan cara yang salah.

Saya harus akui, memang kenyataannya tidak semua orang yang ada di gereja itu adalah orang baik. Ada orang yang sudah bertahun-tahun menjadi jemaat, tapi masih memiliki segala sikap dan kebiasaan yang seringkali menjadi sandungan buat orang lain. Ada juga gereja ajarannya tidak setia pada kebenaran Firman. Tapi meskipun demikian, saran saya untuk teman saya ini tetap: datanglah ke gereja! Mengapa? Karena setiap manusia butuh komunitas untuk bertumbuh. Bertumbuh dalam hal kedewasaan mental dan spiritual. Jika ada komunitas diluar gereja yang bisa memenuhi kebutuhan itu, silahkan masuklah dalam kominitas itu. Tapi, jika tidak Anda harus ke gereja, terutama jika Anda adalah orang Kristen. Karena, tidak ada komunitas lain memungkinkan Anda bertumbuh secara mental dan spiritual selain gereja.

Anda datang ke gereja bukan sekedar untuk mendengarkan wejangan tentang kebaikan, tapi di gereja, kita sama-sama belajar tentang Firman Tuhan, bersama-sama dengan jemaat-Nya. Pendidikan moral yang utuh, hanya didapatkan di gereja. Utuh dalam artian bahwa hanya di gereja yang mengajarkan kasih Allah sebagai dasar perbuatan baik (bukan kebaikan itu sendiri, atau karma). Dan lebih dari itu, orang yang berkumpul di gereja diharuskan untuk saling memperhatikan sesamanya. Saya rasa tidak ada komunitas lain yang menawarkan hal-hal tersebut. Jika ada, silahkan bergabung dengan komunitas itu, tapi kalau tidak. Sekali lagi saya akan dorong orang: datanglah ke gereja!

Jikalau seseorang sakit, Ia akan datang ke rumah sakit untuk di obati. Dan rumah sakit, pastilah dipenuhi oleh orang sakit. Begitu pula dengan gereja. Tidak ada manusia yang 100% suci. Orang percaya akan sadar bahwa seluruh hidupnya adalah suatu proses yang berkelanjutan untuk terus disucikan, sampai hingga sempurna nanti pada saat Ia datang untuk yang kedua kali. Untuk itu, mari! dengan rendah hati, mari berkumpul bersama dengan jemaat-Nya, bersama-sama belajar kehendaknya melalui Firman Tuhan, dan saling menguatkan. Datanglah ke gereja!

Mengutip perkataan Morton Kelsey:
“The church is not a museum for the saints, but a hospital for the sinners.”

Mengerjakan Panggilan Hidup

Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran. (Mar 5:18-20)

JESÚS CURA AL ENDEMONIADO DE GERASA.- James_TissotKetika Tuhan Yesus berada di Gerasa, ia mengusir setan yang merasuki tubuh seseorang. Setelah orang itu disembuhkan, makan orang itu ingin ikut berserta Tuhan Yesus sebagai murid, tapi Ia tidak memperkenankannya. Ia menyuruh orang itu pulang dan menyaksikan apa yang Tuhan telah lakukan kepadanya.

Melayani Tuhan tidak selalu melayani di gereja, setiap orang yang mengerjakan panggilan yang Tuhan berikan kepadanya, ia sedang melayani Tuhan. Panggilan Tuhan itu bisa berupa pekerjaan kita sebagai guru, karyawan, siswa, ibu rumah tangga, arsitek, petugas kebersihan, atau apapun itu yang Tuhan percayakan kita untuk kerjakan. Oleh sebab itu, orang Kristen harus melakukan pekerjaannya dengan baik, bukan semata untuk mendapat uang atau kedudukan, tapi untuk mengerjakan tugasnya sebagai wakil Allah untuk mengelola dunia ini. Dengan demikian, orang Kristen dalam pekerjaannya harus membawa sifat-sifat Allah (kebaikan, kejujuran, kebenaran, keindahan, keteraturan, …) di dalam pekerjaannya. Orang Kristen tidak boleh menganggap pekerjaannya tidak penting (karena berpikir ini cuma urusan duniawi). Orang Kristen harus melakukan apa yang dipercayakan kepadanya dengan serius supaya apa yang kita kerjakan boleh sungguh-sungguh mempermuliakan nama Tuhan.

Melayani Tuhan tidak selalu melayani di gereja, tapi tetap harus ingat bahwa selama di dunia, kita adalah bagian dari Tubuh Kristus yang kelihatan yang disebut gereja, dan menjadi bagian dari gereja tidak lepas dari tanggung jawab. Tugas dan tanggung jawab itu diantaranya adalah tugas dan tanggung jawab untuk melayani sesama Tubuh Kristus, baik itu dalam bentuk pelayanan dalam ibadah, pelayanan doa, pelayanan pembesukan, konseling, penginjilan, dll. Tugas ini pun tidak kurang penting dibanding pekerjaan keseharian kita di luar gereja.

Dengan demikian, tidak boleh menganggap profesi kita sebagai bagian terpisah dari panggilan hidup kita dalam Tuhan, tapi tidak boleh juga mengabaikan tanggung jawab kita sebagai bagian dari gereja. Berikan porsi takaran prioritas yang benar dalam mengerjakan panggilan kita di gereja dan di pekerjaan, itu tidak mudah, tapi harus dilakukan.