Hidup Sebagai Umat-Nya

Daud membiarkan relasi pribadinya dengan raja Nahas memengaruhi cara dia mengambil keputusan. Dia tidak lagi meminta pimpinan Tuhan untuk relasinya dengan Nahas. Sebenarnya Daud harus meminta pimpinan Tuhan karena sekarang dia adalah raja Israel. Dulu ketika Daud masih dalam pelarian dia dapat bersahabat dengan siapa pun, termasuk seteru Israel sekalipun. Tetapi ketika dia menjadi raja, seluruh tindakannya akan mewakili seluruh Israel. Sama seperti Daud kita sering kali lupa status kita sebagai orang Kristen. Kita lupa bahwa keputusan dan tindakan kita akan memengaruhi cara orang memandang Kristus dan Gereja-Nya. Kita dengan enteng melakukan apa pun tanpa menghiraukan bahwa cara kita hidup akan membuat orang memuji Tuhan atau menghina Tuhan.

Dikutip dari Reforming Heart – Perang Dengam Amon dan Aram

Daud di Kehila

[1] Diberitahukanlah kepada Daud, begini: “Ketahuilah, orang Filistin berperang melawan kota Kehila dan menjarah tempat-tempat pengirikan.” [2] Lalu bertanyalah Daud kepada TUHAN: “Apakah aku akan pergi mengalahkan orang Filistin itu?” Jawab TUHAN kepada Daud: “Pergilah, kalahkanlah orang Filistin itu dan selamatkanlah Kehila.” [3] Tetapi orang-orang Daud berkata kepadanya: “Ingatlah, sedangkan di sini di Yehuda kita sudah dalam ketakutan, apalagi kalau kita pergi ke Kehila, melawan barisan perang orang Filistin.” [4] Lalu bertanya pulalah Daud kepada TUHAN, maka TUHAN menjawab dia, firman-Nya: “Bersiaplah, pergilah ke Kehila, sebab Aku akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu.” [5] Kemudian pergilah Daud dengan orang-orangnya ke Kehila; ia berperang melawan orang Filistin itu, dihalaunya ternak mereka dan ditimbulkannya kekalahan besar di antara mereka. Demikianlah Daud menyelamatkan penduduk Kehila. (1Sam 23:1-5)

Daud menanyakan haruskah dia membebaskan Kehila? Kehila adalah bagian dari Yehuda yang berada di perbatasan dengan daerah Filistin. Daud menanyakan kepada Allah, haruskah dia menyerang orang Filistin untuk menyelamatkan Kehila? Tuhan mengatakan, “Ya”. Ayat 3 mengatakan bahwa para pengikut Daud protes. Mereka mengatakan bahwa mereka sedang ada dalam masalah besar. Mereka sendiri sedang dikejar-kejar oleh Saul dan bahkan berada dalam bahaya dianggap konspirasi pemberontakan terhadap raja Saul. Respons para pengikutnya ini ternyata membuat Daud cukup goyah. Apa yang dikatakan para pengikutnya itu benar. Siapakah mereka? Kalau Saul saja sangat sulit menaklukkan orang Filistin, berapa besarkah peluang mereka untuk menang? Apalagi status mereka sekarang pun adalah sebagai pelarian yang sedang diburu Saul. Jika mereka benar-benar berperang melawan orang Filistin itu, mereka pasti tidak bisa mengharapkan bala bantuan dari pasukan tentara Israel. Tetapi yang dilakukan Daud adalah mencari kekuatan dari firman Tuhan. Dia tidak percaya demokrasi! Dia percaya perintah Tuhan. Dia tidak percaya suara orang banyak! Dia lebih percaya firman Tuhan. Orang Kristen harus percaya firman Tuhan, bukan pendapat mayoritas. Orang Kristen harus percaya firman Tuhan, bukan kebiasaan-kebiasaan tradisional. Itu sebabnya Daud bertanya lagi kepada Tuhan di ayat 4. Tuhan menjawab, “Bangkitlah! Turunlah ke Kehila! Aku akan memberikan orang-orang Filistin itu ke dalam tanganmu.” Jawaban Tuhan memberikan kekuatan tambahan kepada Daud dengan adanya tambahan kata: “Bangkitlah!” dan kalimat: “Aku akan memberikan orang-orang Filistin itu ke dalam tanganmu.” Tuhan mengerti keraguan Daud, dan karena itu Dia memberikan dorongan dengan kalimat-kalimat tadi kepada Daud. Setelah kedua kalinya Tuhan menjawab, maka Daud pun pergi disertai dengan orang-orangnya ke Kehila dan menghancurkan pasukan Filistin di sana. Bahkan dalam status buronan pun Daud tetap menjalankan tugasnya menaklukkan orang Filistin.

Ada keunikan di dalam kata-kata bahasa Ibrani yang dipakai untuk ayat 5. Ayat ini memulai dengan mengatakan, “Kemudian pergilah Daud dengan orang-orangnya ke Kehila.” Tetapi, walaupun mengatakan Daud dengan orang-orangnya, kata yang dipakai untuk “pergilah” adalah tunggal, bukan jamak. Begitu juga dengan kata “dihalaunya”, “ditimbulkannya kekalahan”, dan “menyelamatkan”, semua memakai kata tunggal. Semua merujuk kepada aksi satu orang, yaitu Daud. Begitu besarnya peran dan pengaruh Daud dalam pertempuran ini sehingga seolah-olah dia memenangkan pertempuran ini sendirian saja. Maka penulis Kitab Samuel sedang mengarahkan pembacanya untuk bersiap melihat tokoh utama, yaitu Daud, makin menjadi sorotan utama. Begitu sentralnya posisi Daud di dalam narasi kitab ini sejak pasal 23 sehingga bahkan kematian Samuel (25:1) pun tidak boleh mengganggu alur narasi Daud. Kematian itu hanya sekilas dikisahkan dan hanya diberikan satu pasal saja agar tidak menyebabkan fokus pembaca beralih dari Daud.

[6] Ketika Abyatar bin Ahimelekh melarikan diri kepada Daud ke Kehila, ia turun dengan membawa efod di tangannya. [7] Kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah masuk Kehila. Lalu berkatalah Saul: “Allah telah menyerahkan dia ke dalam tanganku, sebab dengan masuk ke dalam kota yang berpintu dan berpalang ia telah mengurung dirinya.” [8] Maka Saul memanggil seluruh rakyat pergi berperang ke Kehila dan mengepung Daud dengan orang-orangnya. [9] Ketika diketahui Daud, bahwa Saul berniat jahat terhadap dia, berkatalah ia kepada imam Abyatar: “Bawalah efod itu ke mari.” [10] Berkatalah Daud: “TUHAN, Allah Israel, hamba-Mu ini telah mendengar kabar pasti, bahwa Saul berikhtiar untuk datang ke Kehila dan memusnahkan kota ini oleh karena aku. [11] Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku ke dalam tangannya? Akan datangkah Saul seperti yang telah didengar oleh hamba-Mu ini? TUHAN, Allah Israel, beritahukanlah kiranya kepada hamba-Mu ini.” Jawab TUHAN: “Ia akan datang.” [12] Kemudian bertanyalah Daud: “Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku dengan orang-orangku ke dalam tangan Saul?” Firman TUHAN: “Akan mereka serahkan.” [13] Lalu bersiaplah Daud dan orang-orangnya, kira-kira enam ratus orang banyaknya, mereka keluar dari Kehila dan pergi ke mana saja mereka dapat pergi. Apabila kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah meluputkan diri dari Kehila, maka tidak jadilah ia maju berperang. (1Sam 23:6-13)

Setelah kemenangan yang besar ini ternyata Daud harus kembali menghadapi permasalahan utama, yaitu Saul. Saul kembali menjadi kesulitan besar bagi Daud karena sekarang Saul bersiap mengepung dia di Kehila. Kehila adalah tempat dengan tembok benteng, sehingga kalau saja Saul sempat datang sebelum Daud melarikan diri, maka Daud tidak akan punya peluang selamat. Dia akan terkurung di tengah-tengah kota itu. Coba kita lihat ayat 7. Saul mengatakan bahwa Allah telah menyerahkan Daud ke dalam tangannya. Ini ayat yang benar-benar mengejutkan! Saul benar-benar orang yang tidak tahu diri! Dia tetap merasa Tuhan menyertai dia! Tuhan sudah tidak lagi berfirman kepada dia, lalu Samuel, nabi Tuhan, sudah meninggalkan dia, dan, ini yang paling hebat… dia baru membunuh ratusan orang imam dan keluarganya di Nob… dan Saul masih merasa Allah ada di pihak dia?? Dosa telah benar-benar membutakan mata hati seseorang. Orang berdosa benar-benar tidak sadar kalau Allah sudah membuang dia! Betapa kontrasnya Saul dengan Daud. Saul mengatakan dengan mulutnya bahwa Allah masih menyertai dia.

Bagaimana dengan Daud? Daud memohon pimpinan Tuhan untuk keputusan yang akan dia ambil, dan Tuhan menjawab dia. Daud bertanya tentang kesetiaan orang Kehila. Apakah mungkin orang-orang yang baru saja ditolong oleh Daud ini menyerahkan Daud ke tangan Saul? Ternyata Allah menyatakan bahwa mereka akan menyerahkan Daud ke tangan Saul. Mereka akan membiarkan pahlawan mereka dibunuh untuk keselamatan pribadi mereka. Mereka tidak peduli kalau orang itu mempertaruhkan nyawanya untuk menolong mereka. Mereka hanya tahu kalimat: “yang penting selamat”. Orang-orang yang tidak pernah mengerti semangat berkorban bagi orang lain adalah orang-orang yang sepantasnya diberikan hukuman. Orang Kehila tega menyerahkan Daud demi keamanan mereka. Mereka seolah mengatakan, “daripada bermusuhan dengan Saul lebih baik serahkan saja orang yang baru menyelamatkan kita.”

Mengapa orang Kehila begitu kejam dan tidak tahu berterima kasih? David Tsumura di dalam commentary-nya mengatakan bahwa bagi orang Kehila, Saul lebih menakutkan daripada orang Filistin (NICOT hlm. 556). Orang-orang Filistin hanya menghancurkan hasil panen mereka di tempat-tempat pengirikan (ay. 1). Tetapi Saul membunuh para imam beserta istri dan anak-anak mereka hanya karena salah satu dari mereka pernah bercakap-cakap dengan Daud. Apakah yang akan dilakukan Saul kepada orang-orang Kehila yang baru saja diselamatkan Daud? Bukankah Saul akan menganggap Kehila bersekutu dengan Daud? Apa lagi alasan Daud membahayakan diri menolong mereka kalau bukan karena mereka adalah sekutu Daud? Satu-satunya cara untuk membuat Saul tidak lagi menciptakan teori konspirasi baru adalah dengan menyerahkan Daud. Inilah rencana orang Kehila. Tetapi Tuhan mengetahui rencana itu dan membebaskan Daud dengan memberi peringatan kepada dia. Daud bertanya kepada Tuhan dan Tuhan sekali lagi meluputkan Daud dengan memberikan petunjuk mengenai langkah apa yang harus dia lakukan.

Ayat 13 menyatakan bahwa Daud dan orang-orangnya pergi dengan spontan, seperti orang yang melarikan diri, dari Kehila. Mungkin ini dilakukan supaya Saul menyangka Daud dan pasukannya telah melarikan diri dari Kehila. Mungkin ini salah satu usaha untuk mencegah Saul merancang suatu teori konspirasi lalu membunuh orang-orang Kehila. Ayat 13 juga menyatakan bahwa Daud dan orang-orangnya – yang berjumlah 600 orang – pergi dengan berpencar. Jika di gua Adulam dikatakan pengikut Daud ada 400 orang, dari manakah 200 orang tambahan ini? Mungkin dari orang-orang di sekitar Kehila (atau bahkan mungkin sebagian orang Kehila sendiri) yang begitu terpukau dengan keberanian Daud dan pasukannya. Keberanian selalu menarik orang yang mempunyai semangat yang besar. Demikianlah bagian ini membukakan kepada kita penyertaan Tuhan kepada Daud bahkan dalam keadaan sebagai pelarian. Seorang yang dipilih Tuhan untuk mengerjakan sesuatu tidak harus menunggu jabatan resmi untuk dipakai oleh Tuhan. Daud belum naik takhta tetapi dia sudah mengerjakan pekerjaan bagi seorang raja Israel, yaitu menaklukkan orang Filistin (1Sam. 9:16). Bahkan dalam keadaan sebagai buronan pun dia tetap mengerjakan apa yang menjadi panggilannya ini. Kiranya kita diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk mempunyai hati yang rindu melayani. Meskipun tidak menjabat, tetap melayani. Meskipun dalam keadaan yang jauh dari ideal, tetap berfungsi bagi kerajaan Allah. Jangan tunggu sampai dipercayakan kedudukan sebagai hamba Tuhan baru mulai memberitakan Injil. Jangan tunggu terpilih jadi pengurus dan majelis baru mau mulai melayani. Layanilah Tuhan! Nyatakan panggilanmu di dalam ketaatan meskipun tidak ada kedudukan resmi di mata manusia.

Sumber: Reforming Heart: Kemenangan Daud atas Filistin

Mazmur 51

Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!
Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu!
Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.
Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.
Mazmur 51:16-19

Mazmur 51 adalah mazmur Daud yang merupakan seruan Daud memohon ampun kepada Tuhan, atas dosanya telah membunuh Uria dan perselingkuhannya dengan Betsheba.
Dalam penyesalannya, ia sadar bahwa Tuhan tidak mengkehendaki korban bakaran.

Setelah kita berdosa, kadang untuk meredakan rasa bersalah kita, kita terdorong berbuat baik atau mungkin memberikan persembahan untuk gereja.
Tapi belajar dari kisah ini, kita harus buang jauh-jauh pikiran itu.
Kita tidak bisa mengkompensasi perbuatan dosa kita dengan perbuatan baik.
Hanya dengan penyesalan dan pertobatan yang sungguh dan bersandar kepada anugerah Tuhan, maka kita beroleh damai.

Mazmur 119:10-16

Pernah mengalami kesulitan melepaskan diri dari ikatan-ikatan? kebiasaan dan tabiat buruk? pikiran-pikiran kotor? pikiran-pikiran jahat? Hal yang yang sudah begitu dalam dikehidupan kita, yang sia-sia, yang tidak berkenan dihadapan Tuhan.

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.

Sejak dari dulu, dosa tidak pernah berubah. Memikat, menarik, dan mengikat kita, membawa kita jauh dari hadirat-Nya. Tidak terkecuali bagi raja Daud. Ditengah berbagai ancaman yang ia hadapi karena banyak musuh-musuhnya, ia pun menghadapai berbagai hal yang menggodanya untuk melakukan sesuatu yang memuaskan keinginan manusianya, hal yang tidak berkenan dihadapan Tuhan.

Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.

Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.

Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

Dengan bibirku aku menceritakan segala hukum yang Kauucapkan.

Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta.

Firman Tuhan senantiasa menjadi kegemaran Daud. Itulah yang menjadi salah satu kunci yang membuat Daud bisa tetap iring dijalan Tuhan hingga akhirnya hidupnya. Selama masa hidupnya, ia tak luput dari kesalahan. Tapi, sejarah mencatatnya sebagai raja Israel yang paling dihormati.

Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu.

Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan.

Bukan saja menyukai Firman Tuhan, namun ia juga selalu memperhatikan setiap langkah keputusan yang ia ambil sesuai dengan Firman.

Apa yang harus saya lakukan?

Jika Anda mencari tips mudah untuk melepaskan diri dari berbagai ikatan, mungkin Anda akan kecewa. Berbagai ikatan dan kebiasaan buruk itu bagai virus. Tapi tidak ada tombol delete yang praktis kita bisa tekan untuk menghilangkan semuanya.

Gelas yang berisi air kotor, akan menjadi bersih jika kedalamnya terus menerus dituangi air bersih. Begitu juga dengan pikiran kita. Satu-satunya cara membersihkannya adalah dengan men-stop supply air kotor dan menggantinya dengan supply air bersih. Mulai tutup berbagai hal kotor/tidak baik masuk kedalam pikiran Anda, dan mulai isi dengan hal-hal positif. Dan hal positif yang sejati hanya kita temui dalam Firman Tuhan. Bukan sekali bukan dua kali … tapi terus menerus. Terus, hingga akhirnya seluruh gelas itu akan berganti dengan air bersih.