Jodoh: Meminta Tanda

ChooseSoal ‘jodoh’ adalah salah satu hal sensitif bagi kehidupan yang masih lajang.

Waktu belum nemu, berdoa untuk bisa menemukan. Sudah ketemu, bingung menentukan pilihan.

Seringkali kita berharap jodoh & jatuh cinta terjadi seperti cerita romantika di film, nyatanya akan selalu ada jalan dan pilihan-pilihan yang harus kita ambil menemukannya.

Dalam kondisi seperti itu, sering orang berdoa ‘minta tanda’. Bolehkah? Misal: “Tuhan, kalau dia si A adalah orangnya, biarlah terjadi ini dan itu…”

Pikirkan hal ini sebelum Anda meminta tanda: Bagaimana jika Tuhan memberi tanda A, tapi yang kau inginkan sebenarnya adalah B? atau bagaimana kita tahu bahwa kita meminta tanda dengan benar atau tidak? bagaimana kita tahu bahwa kita tidak mengsalahartikan tanda itu? Jadi, pastikan bahwa saat kamu meminta tanda bukan tanda yang sembarangan, dan pastikan kita bisa mentaati petunjuk yang Tuhan beri, walau itu bukan yang kita inginkan.

Sadarilah! saat seseorang jatuh cinta, emosi begitu banyak mengambil alih rasio kita, sehingga sering kali kita tidak bisa berpikir logis. Kalaupun Tuhan memberikan tanda, rasanya akan sulit untuk membedakan mana yang tanda dari Tuhan, mana yang merupakan gejolak emosi yang didorong rasa suka.

Jadi, menurut saya, lebih bijak kita berdoa minta pimpinan dan hikmat bijaksana dari Tuhan. Jangan minta tanda instan dari Tuhan (tanda sembarangan,  yang sering kali diminta orang yang sedang jatuh cinta).

I’m jealous to everyone who could love YOU more than I do …

Iman vs Keinginan

Sebut saja, ada suatu hal yang begitu kita yakin untuk kita lakukan. Baik itu dalam hal memilih pekerjaan, membeli suatu barang, pergi ke suatu tempat, memilih paca tr atau mungkin juga memutuskan pacar. Saat itu mungkin kita berdoa. Dan biasanya kita justru berdoa disaat waktunya sudah mepet. Sehingga kitapun merasa butuh jawaban Tuhan secepatnya.

Tentunya Tuhan tidak akan berbicara menggunakan loudspeaker dari surga dan menjawab dengan suaraNya yang lantang. Sesuatu yang diajarkan kepada kita sejak dulu adalah, Tuhan menjawab lewat tanda. Berbicara lewat orang-orang disekitar kita, lewat berbagai hal yang terjadi, lewat FirmatNya, lewat hati kita, sehingga kita boleh diyakinkan akan segala pertanyaan yang dalam pergumulan kita.

Saat kita boleh merasa diyakinkan akan suatu jawaban, bagaimana kita bisa tahu kalau itu sungguh adalah jawabanNya. Bagaimana ita tahu kalau itu bukan manifestasi kengininan kita yang begitu mempengaruhi perasaan kita sehingga mendorong nalar pikiran kita untuk berkata Ya! ?

Sungguhpun, saya menemukan suatu batasan tipis antara jawaban Tuhan dengan kengininan (hal serupa juga yang saya alami saat ini). Saya tidak ingin menjadi seseorang yang mudah menyerah, tapi saya pun tidak ingin memaksakan kehendak saya yang bukan menjadi rencanaNya.

Bila dihadapkan kepada situasi seperti ini, kadang pilihan sederhana pun menjadi sulit. But now, I choose go move on.

Saya akan berusaha menggapai apa yang saya yakini (atau mungkin apa yang saya ingini), tanpa melakukan suatu hal yang berlebihan. Dengan demikian saya memberi tempat kepadaNya untuk ikut campur tangan, memberi pimpinan dalam setiap keputusan. Bila sesuatu yang kurang beruntung terjadi yang menghalangi kita tuntuk terus maju, anggap saja sebagai stop dari Dia. Not this way! Be patient!

Saat Tuhan menjawab doamu, Ia menambah imanmu.
Saat Tuhan belum menjawab doamu, Ia menambahkan kesabaranmu.
Saat Tuhan menjawab TIDAK untuk doamu, Ia tawarkan yang TERBAIK.

Sesuatu yang dilakukan di “Jumat Agung”

Hah … Jumat Agung (lagi).

Bagi mereka yang “biasa-biasa saja”, Jumat Agung tak lebih dari hari libur biasa. Dari jauh hari sebelumnya telah direncanakan rencana long-weekend.

Bagi sebagian orang lagi, mungkin akan terjadi sebaliknya. Hari-hari ini akan menjadi hari-hari yang sibuk karena tugas yang dipercayakan kepadanya digereja tempat mereka beribadah.  Hah… that’s me. Yah … memang tidak sesibuk persiapan natal.

Rutinitas? Entahlah! (dan semoga tidaklah demikian) Hal besar terjadi dalam 3 hari ini, dan saya berusaha memperoleh berkat paskah itu. Ada masalah dalam benak pikiran saya: soal pekerjaan, relationship stuff, kekuatiran … just name it!

Tapi, saya juga sadar. There’s a much greater thing to thing about at this Great Friday. Bukti kasih-Nya, dan bukti kuasa-Nya. Kasihnya Dia buktikan, dengan mati diatas kayu salib, kuasa-Nya Dia buktikan lewat kebangkitan-Nya.

Di Doa Ibuku Namaku Disebut

Diwaktuku masih kecil gembira dan senang
Tiada duka kukenal, tak kunjung mengerang

Disore hari nan sepi ibuku bertelut
Sujud berdoa, kudengar namaku disebut
Di doa ibuku namaku disebut
Di doa ibuku dengar ada namaku disebut

Seringlah kini kukenang, dimasa yang berat
Dikala hidupku mendesak dan nyaris kusesat
Melintas gambar ibuku sewaktu bertelut
kembali sayup kudengar namaku disebut

Didoa ibuku namaku disebut
Didoa ibuku dengar ada namaku disebut

Jalan sendiri kutempuh tak ingin mendengar
teguran Tuhan yang lembut, supaya ku sadar
Tatkala tampaklah jelas, hidupku kemelut
doa ibuku terdengar namaku disebut

Didoa ibuku namaku disebut
didoa ibuku dengar ada namaku disebut

SuperMama Show, 24 Januari 2008. Tidak menyangka lagu ini bisa muncul. Walau memang cuma sepenggal saja, tapi cukup membuat banyak orang terharu.

Teringat sosok ibu yang diceritakan Billy Gilman dalam Woman In My Life. Sayang, saya pribadi kurang memiliki komunikasi yang cukup baik dengan ibu saya. Tapi, meskipun demikian, saya rasanya indah sekali memiliki seorang sosok ibu mau menyerah kepada Tuhan dalam doa.

Sayang, tadi lagu ini cuma dinyanyikan sepenggal. Jika bisa dinyanyikan full … saya percaya bisa membawa lebih banyak berkat buat banyak orang.