Adakah “kebohongan yang baik”? (kebohongan putih/white lie)

Pertanyaan dari salah seorang anak sekolah minggu setelah mendengar cerita Rahab dan 2 Pengintai, dari Yosua 2. Kemudian, seorang anak bertanya:

apakah berbohong demi kebaikan itu diperbolehkan?

Jawab: Pertanyaan yang lebih penting adalah apa motivasimu untuk berbohong?

Kalau kau berkata jujur tapi motivasimu jahat, maka kejujuranmu itu pun adalah sesuatu yang salah. Gosip bisa jadi suatu pernyataan jujur yang tidak pada tempatnya. Seseorang dengan ‘jujur’ menceritakan kekurang temannya kepada yang lain hanya untuk menjadikannya bahan obrolan, itu adalah salah. Jujur menceritakan pelanggaran temannya kepada guru atas dorongan iri hati, itu adalah salah. Jadi, jangan kan berbohong, jujur pun kalau motivasinya tidak baik, itu akan menjadi salah.

Dalam khotbah Tuhan Yesus di bukit (Matius 5), Ia mengatakan: “Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,  … Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Perkataan orang percaya, harusnya menjadi perkataan yang bisa dipercaya, sehingga tanpa sumpah pun orang bisa memegang perkataan orang percaya. Jujur seharusnya menjadi sikap penting yang harus dimiliki orang percaya.

Namun, karena kita saat ini hidup ditengah-tengah dunia yang jatuh dalam dosa, seringkali kita dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Pada Perang Dunia 2, di Eropa terjadi banyak genosida orang-orang keturunan Yahudi oleh rezim Nazi. Orang-orang Yahudi diburu dari rumah ke rumah. Beberapa orang Jerman yang simpatik terhadap orang Yahudi mempertaruhkan nyawa mereka dengan menyediakan tempat persembunyian di rumah mereka. Kalau kamu berada dalam posisi sebagai orang Jerman itu, kemudian ada tentara datang untuk memeriksa tentara rumahmu, kemudian bertanya: “Apa kamu menyembunyikan orang Yahudi di rumahmu?” Apa kamu akan berbicara jujur? dengan konsekuensi orang-orang Yahudi di rumahmu akan dibunuh. Atau, berbohong? Dalam keadaan seperti itu, kita dihadapkan pada 2 pilihan sulit, tapi dari 2 pilihan itu, kita pilih pilihan yang ‘lebih baik’ (lesser evil). Dalam keadaan seperti itu, walau berbohong tidak baik, tapi itu jawaban yang lebih baik daripada berbicara jujur dan mengakibatkan orang terbunuh.

Tapi, jangan sampai juga kita menganggap bohong itu menjadi sesuai dengan enteng bisa dilakukan. Seorang anak yang bermain bola, tidak sengaja memecahkan kaca jendela. Ketika pemilih rumah menanyakan: “Apakah kamu memecahkan kaca jendela ini?” Kalau menjawab bohong, kamu bebas dari hukuman. Kalau jawab jujur, kamu pasti dihukum. Jawaban apa yang akan kau pilih? Untuk kasus ini, berbohong tidaklah dibenarkan, karena dengan berbohong berarti kamu lari dari tanggung jawab.

Perbuatan berbohong tidaklah benar. Kejujuran haruslah menjadi karakter penting yang harus dimiliki orang percaya. Tapi, yang juga penting adalah kita memastikan, apa motivasi kita dalam memberikan jawaban.

Bolehkan berdoa dengan mengutip “Doa Bapa Kami”?

lords-prayer_825_460_80_c1

Karena itu berdoalah demikian:
Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
(Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)
Mat 6:9-13

Mungkin orang Kristen kurang terbiasa dengan suatu doa yang dihapal, seolah kurang afdol kalau doa itu adalah sesuatu yang dihapal, seolah memberi kesan doa itu tidak berasal dari hati.

Doa Bapa Kami adalah suatu contoh doa yang Tuhan Yesus ajarkan langsung, dan di dalamnya terkandung prinsip penting bagaimana dan apa hal penting yang menjadi dasar doa kita.

  • Pada saat kita memanggil “Bapa kami yang di sorga“, adalah undangan Allah kepada kita untuk datang mendekat (lewat doa) seperti datang kepada seorang ayah, tapi juga dengan suatu sikap hormat yang melebihi dari pada yang kita bisa berikan kepada siapa pun di dunia ini.
  • Pada saat kita mengatakan “Dikuduskanlah nama-Mu“, adakah kita sungguh-sungguh memiliki hati yang ingin nama Tuhan dimuliakan?
  • Pada saat kita mengatakan “datanglah Kerajaan-Mu” Adakah kita sungguh-sungguh memiliki kerinduan kedatangan Tuhan?
  • Pada saat kita mengataakn “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Adakah kita sungguh-sungguh memiliki keinginan Tuhan menyatakan kehendak-Nya?
  • Pada saat kita meminta “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Adakah ia mau sungguh-sungguh menggantungkan hidupmu hari demi hari kepada-Nya?
  • Pada saat kita berkata “ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Adakah kita sudah sungguh-sungguh mengampuni?
  • Dan pada saat kita memohon “janganlan membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat”. Adakah kita sungguh-sungguh berusaha menjauhi pencobaan (atau jangan jangan kita dengan sengaja mencari pencobaan)

Tentu itu cuma penjelasan singkat dari Doa Bapa Kami. Ada banyak buku yang membahas tentang Doa Bapa Kami ini. Karena memang dalam doa yang singkat ini, terkandung suatu pengertian yang sangat dalam. Jadi, ini doa yang sangat baik, tapi seperti halnya doa lain. Doa tanpa disertai hati yang sesuai dengan perkataan doa, adalah sia-sia.

Jadi, hari ini, saat salah seorang anak sekolah minggu saya bertanya: Bolehkan saya berdoa dengan mengutip “Doa Bapa Kami“? Saya jawab: boleh! Asal, setiap kalimat yang diucapkan disertai dengan kesungguhan. Jangan sampai menganggap Doa Bapa Kami sebagai suatu mantra, atau suatu doa yang diucapkan hanya karena tidak tahu mau berdoa apa. Jika tidak siap untuk itu, doa sederhana yang sesuai dengan beban hati, itu lebih baik.

Tentu ini adalah sebuah tulisan dari hasil pembacaan kitab suci dan dan perenungan pribadi. Jika ada pemikiran lain atau tambahan, bisa meninggalkan komentar dibawah.

Hukum Kesembilan: Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

 

Pada suatu hari, Budi bangun kesiangan. Dia setelah sadar ia kesiangan untuk berangkat ke sekolah, ia hanya punya waktu 10 menit bangun dan bersiap diri untuk berangkat ke sekolah. Tidak sempat mandi atau sarapan, Budi hanya bisa menggunakan waktu itu untuk mengganti baju, cuci muka, mempersiapkan beberapa buku dan berangkat ke sekolah.

Di sekolah, Andi (teman Budi) melihat Budi tiba di sekolah dengan mata yang masih sepet-sepet, ia bertanya: “Bud, kamu pagi belon mandi ya?”. Budi malu mengakui itu sehingga tanpa berpikir panjang, Budi langsung menjawab: “… mandi kok! cuma tadi buru-buru …”.

LiesBudi telah berbohong dan itu salah! Tapi, secara spesifik hukum kesembilan bukanlah mengurusi kebohongan seperti itu. Untuk mengajarkan kepada anak, seringkali orang menyamakan saksi dusta dengan berbohong. Untuk memperkenalkan 10 perintah Allah itu memang tidak salah, namun jika mempelajari lebih jauh tentang hukum kesembilan ini, kita bisa menemukan bahwa pengertian yang terkandung dalam hukum kesembilan ini jauh lebih dalam.

Penjelasan daripada hukum ini dapat ditemui pada bagian lain dalam Alkitab.

“Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar. Janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang melakukan kejahatan, dan dalam memberikan kesaksian mengenai sesuatu perkara janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang membelokkan hukum. Juga janganlah memihak kepada orang miskin dalam perkaranya. (Kel 23:1-3)

Apabila seseorang berbuat dosa, yakni jika ia mendengar seorang mengutuki, dan ia dapat naik saksi karena ia melihat atau mengetahuinya, tetapi ia tidak mau memberi keterangan, maka ia harus menanggung kesalahannya sendiri.  (Im 5:1)

“Satu orang saksi saja tidak dapat menggugat seseorang mengenai perkara kesalahan apapun atau dosa apapun yang mungkin dilakukannya; baru atas keterangan dua atau tiga orang saksi perkara itu tidak disangsikan. Apabila seorang saksi jahat menggugat seseorang untuk menuduh dia mengenai suatu pelanggaran, maka kedua orang yang mempunyai perkara itu haruslah berdiri di hadapan TUHAN, di hadapan imam-imam dan hakim-hakim yang ada pada waktu itu. Maka hakim-hakim itu harus memeriksanya baik-baik, dan apabila ternyata, bahwa saksi itu seorang saksi dusta dan bahwa ia telah memberi tuduhan dusta terhadap saudaranya, maka kamu harus memperlakukannya sebagaimana ia bermaksud memperlakukan saudaranya. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu. Maka orang-orang lain akan mendengar dan menjadi takut, sehingga mereka tidak akan melakukan lagi perbuatan jahat seperti itu di tengah-tengahmu. (Ul 19:15-20)

Hukum kesembilan menggunakan kata saksi dusta, bukan bohong. Dalam bahasa Inggris pun digunakan kata false witness bukan lie. Dalam penjelasan lebih lanjut tentang taurat diatas, kita akan menemukan bahwa kata saksi/witness selalu terkait dengan perkara hukum atau keadilan. Kesaksian adalah sesuatu yang dipakai untuk menjadi salah satu sarana untuk menegakkan keadilan. Dengan kesaksian lebih dari dua orang, seseorang bisa diputuskan bersalah, dengan kesaksian lebih dari dua orang, seseorang bisa juga diputuskan tidak bersalah. Dengan demikian, kesaksian kita atau perkataan kita tentang orang lain adalah sesuatu yang serius, yang tidak boleh dianggap enteng. Oleh sebab itu ada hukuman yang serius yang diberikan kepada mereka yang memberikan kesaksian palsu.

Perintah tidak mengucapkan saksi dusta menuntut kita untuk memiliki hati yang mau menyatakan keadilan. Bahkan dalam Imamat 5:1 menyatakan bahwa tidak berdusta saja tidak cukup. Orang yang tahu tentang suatu kebenaran tapi ia tidak mengatakannya, ia pun bersalah. Walau tidak mudah, menyatakan keadilan, menyatakan kebenaran adalah menjadi bagian penting dalam menjalankan hukum kesembilan.

Di Yohanes 8, ada kisah dimana ada seorang perempuan yang tertangkap berzinah ditangkap, kemudian dibawa kepada Yesus untuk diadili. Yoh 8:6 menyatakan bahwa ahli Taurat dan orang Farisi yang membawa perempuan itu melakukan hal ini bukan untuk menyatakan keadilan, tapi untuk mencobai Yesus. Memberikan suatu kesaksian yang faktual tapi dengan motivasi yang salah pun, itu suatu pun adalah sesuatu yang tidak benar.

Setiap setiap orang yang menyatakan kebenaran, harus disertai dengan motivasi yang benar pula. Seorang pencuri yang tertangkap, kita tidak bisa cuma bilang: saya ampuni, jangan lakukan itu lagi! Jika ini adalah pencurian yang serius, melaporkan pencurian ini kepada pihak berwajib itu harus. Tapi, harus diingat bahwa tindakan itu harus didasarkan kepada hati yang mau menyatakan keadilan, bukan dendam. Hati yang mengampuni (pencuri itu) harus kita miliki, tapi itu tidak menghilangkan tindakan kita untuk menyatakan keadilan.

Hukum Kelima: Hormatilah Ayahmu dan Ibumu

Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. (Kel 20:12)

parentsBagi orang percaya, menghormati orang tua, bukan sekedar tradisi, etika atau norma sosial. Bagi orang percaya, menghormati orang tua adalah salah satu bagian dari perintah yang Tuhan berikan kepada manusia. Saat perintah ini diberikan dalam taurat, perintah ini disertai juga dengan janji: “supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN …”.

Satu hal penting yang kita perlu pahami dari janji ini adalah menghormati orang tua bukanlah tips untuk panjang umur. Perkataan “lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN” menunjuk pada penyertaan TUHAN. Seperti halnya janji TUHAN untuk “…memberikan negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu…” (Kel 33:3), poin pentingnya bukan pada susu dan madu-nya, tapi pada kelimpahan berkat yang TUHAN janjikan.

Hukum Taurat adalah hal yang sangat penting untuk orang Israel pahami dan lakukan. Musa, pada khotbah terakhir sebelum ia berpisah dengan Israel, Ia memberikan memberikan penekanan penting agar Israel boleh sungguh-sungguh hidup sebagai umat-Nya, supaya Israel pun boleh merasakan damai sejahtera ditempat yang TUHAN telah berikan sebagai orang merdeka.

Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. (Ul 6:1-7)

Dalam pembahasan mengenai hormat kepada orang tua, perintah hormat kepada orang tua selalu dikaitkan dengan perintah kepada orang tua untuk mengajar. Generasi orang-orang yang keluar dari Mesir sadar diri mereka adalah budak dan TUHAN membebaskan mereka keluar dari Mesir. Generasi ini mendapatkan kesempatan melihat kuasa TUHAN dinyatakan. Generasi ini mendapatkan kesempatan melihat tanda besar bahwa TUHAN yang membawa mereka keluar dari Mesir adalah TUHAN yang nyata dan berkuasa, berbeda dengan dewa-dewa yang mereka kenal di Mesir. Tapi, bagaimana dengan generasi berikutnya? Generasi anak-anak mereka, generasi cucu mereka pun tidak boleh sampai melupakan ini. Mereka harus senantiasa mengingat bahwa dulu mereka adalah bangsa budak; TUHAN telah memilih Israel menjadi umat-Nya; hanya oleh anugerah mereka dibebaskan; TUHAN yang Israel sembah adalah TUHAN semesta alam; dan tugas untuk menyaksikan ini diberikan kepada orang tua untuk diajarkan kepada anak-anaknya.

Dengan demikian, para orang tua harus sadar. Saat orang tua mengajar anak-anak mereka untuk menghormati orang tua, setiap mereka juga harus ingat bahwa hak untuk mendapatkan hormat dari anak disertai juga kewajiban untuk mengajarkan mereka untuk melakukan perintah Tuhan, dan mengajarkan mereka untuk memiliki rasa takut akan TUHAN.

Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Ef 6:1-4)

Dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, didalamnya terdapat nasihat terkait dengan kehidupan keluarga. Ef 6:1-4, adalah bagian nasihat kepada anak-anak dan orang tua. Tapi, pada bagian sebelumnya (Ef 5:22-27), rasul Paulus menuliskan nasihat bagi hidup dari pada ayah dan ibu (suami istri). Hidup orang tua sebagai suami istri harus menjadi hidup yang menjadi panutan bagi anak-anaknya.

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
(Eph 5:22-27)

Dalam hal relasi antara ayah dan ibu, harus bisa menjadi contoh yang baik. Seorang istri harus menjadi contoh hidup dalam kebertundukan kepada otoritas kepala keluarga. Disisi lain, seorang suami harus mengasihi istrinya, … bukan dengan sekedar kebaikan, kesetiaan dan cinta kasih … tapi dikatakan bahwa suami harus mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya. Seperti apakah Kristus mengasihi jemaat-Nya? Kristus mengasihi jemaat-Nya sampai Dia mengorbankan diri-Nya sendiri. Kristus menyucikan jemaat-Nya dengan air dan firman, supaya jemaat-Nya boleh dinyatakan kudus dihadapan Bapa. Sesungguhnya, hanya orang tua yang seperti ini, yang layak menuntut hormat dari anak-anaknya.

Hai para orang tua, ingatkanlah hal ini! Saat engkau mendengar perintah hormati ayah-ibumu bagi anak-anakmu, ingatlah bahwa dibaliknya ada tanggung jawab besar yang diemban para orang tua untuk hidup sungguh-sungguh menjadi panutan bagi anak-anaknya; tanggung jawab untuk mengajar jalan kebenaran kepada anak-anaknya; tanggung jawab untuk membimbing anak-anaknya untuk hidup kudus bagi TUHAN.

Anak-anak! bersyukur jikalau kalian memiliki orang tua yang mengajarkan kalian untuk taat beribadah, orang tua yang marah dengan perbuatan dosamu, orang tua yang mengajarkamu untuk takut kepada TUHAN. Sebagai orang muda, seringkali muncul pemikiran “saya benar, papa/mama salah”. Selisih pendapat akan selalu ada, tapi dalam keadaan demikian, ingat! hormatilah orang tua mu. Kadang engkau menemui pemikiran orang tua yang salah, kadang engkau menemui pemikiran saya salah (tapi tidak sadar salah), kadang engkau menemui tidak tahu mana yang benar, kadang engkau menemui orang tua yang benar tapi kita tidak suka dengan caranya menegur. Dalam keadaan itu, firman Tuhan mengingatkan hormatilah ayahmu dan ibumu. Dalam keadaan berselisih pendapat, engkau harus belajar memberi hormat kepada orang tua. Belajar menyatakan ketidaksependapatan dengan cara yang bijak, supaya jangan walaupun engkau benar, tapi karena sikapmu yang menjadi sandungan bagi ayah/ibumu. Orang tuamu tidak selalu benar, orang tuamu mungkin salah, tapi ingat engkaupun tidak selalu benar, engkaupun mungkin salah.

Hukum Keempat: Ingat dan Kuduskanlah Hari Sabat

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. (Kel 20:8-11)

Hukum ke-4 dari Taurat adalah perintah Allah kepada manusia untuk menguduskan hari sabat. Apa itu dikuduskan? dikuduskan berarti dikhususkan bagi Tuhan. Menguduskan hari sabat berarti memberikan satu hari khusus bagi Tuhan. Bagaimana caranya? Dengan mengarahkan hati pikiran kita kepada Tuhan.

Sebagai orang Kristen, kita harus mengerti bahwa apapun yang kita lakukan, itu kita lakukan bagi Tuhan. Apapun yang kita lakukan setiap hari tidak mungkin terlepas dari Tuhan sebagai alasan kita melakukan sesuatu. Tapi Tuhan memerintahkan ada satu hari khusus bagi Dia. Kita tidak melakukan pekerjaan, tapi pakai waktu untuk bisa bersekutu dengan Tuhan, memakai waktu untuk mengingat dan mengerti apa yang Tuhan mau bagi hidup kita. Dimana kita bisa melakukan itu? di gereja. Itu sebabnya orang Kristen pergi ke gereja.

Tetaplah ingat dan kuduskanlah hari Sabat, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau lembumu, atau keledaimu, atau hewanmu yang manapun, atau orang asing yang di tempat kediamanmu, supaya hambamu laki-laki dan hambamu perempuan berhenti seperti engkau juga. Sebab haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat. (Ul 5:12-15)

Hari sabat yang kita rayakan setiap minggu menjadi bayangan daripada sabat sejati yang akan kita terima sebagai orang percaya. Dengan demikian, satu hal penting yang perlu diingat, bahwa perintah untuk menguduskan hari sabat, bukan sekedar perintah, tapi adalah sebuah hak istimewa yang diterima oleh orang percaya. Kita percaya, satu kali, ada sabat sejati, dimana kita akan dipersekutukan dengan Allah dalam kekekalan. Saat ini, yang kita bisa lihat hanyalah bayangannya, yaitu sabat yang kita rayakan dalam ibadah minggu. Kita mendengar dan melihat Allah, lewat Firman-Nya, yang disampaikan lewat mimbar gereja.

Pergumulan orang percaya dalam dunia tidak akan pernah berhenti. Dalam pergaulan, dalam pekerjaan. Orang percaya yang terus rindu dipersekutukan dengan Allah, akan mendapati hari sabat ini adalah sebuah penghiburan. Sebuah harapan yang terus menerus diingatkan akan sabat sejati itu. Dari sinilah orang percaya mendapatkan kekuatan.

Jadi, tidak sepantasnya orang percaya melihat hari sabat, waktu ibadah sebagai suatu beban dan pengorbanan semata. Tapi orang percaya harus bisa melihat sabat adalah anugerah yang Tuhan berikan. Dalam penantian akan saat janji-Nya bagi orang percaya, Ia berkenan memberikan cicipan sabat sejati itu, persekutuan kekal dengan Allah, melalui persekutuan orang-orang kudus dan Firman-Nya.

Kis 16:31

“Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”  (Kis 16:31)

Paulus mengabarkan Injil di PenjaraDalam satu kelas sekolah minggu yang saya ajar hari ini, seorang bertanya: Apakah masuk ayat di Kis 16:31? Saya cukup mengerti mengapa ia menanyakan pertanyaan ini. Kalau saya bertobat, apakah itu berarti Tuhan (entah kapan) akan mendatangkan pertobatan ke seluruh anggota keluarga saya. Setidaknya, itulah yang saya percaya dulu. Sekarang, kalau saya pikir lagi tentang apa yang saya artikan tentang ayat tersebut, … rasanya jadi seperti ‘buy-one-get-one’, satu orang bertobat, anggota keluarga lain (otomatis) akan bertobat (entah kapan).

Memang kita melihat banyak kesaksian banyak keluarga yang bertobat, yang dimulai dari pertobatan satu orang. Saya percaya, pertobatan satu orang yang sungguh-sungguh akan membawa pertobatan kepada seluruh keluarga. Tapi hendaknya apa yang kita pahami tentang ayat itu kita harus pastikan, jangan sampai (mungkin secara tidak sengaja) sampai ada pengertian seperti ‘buy-one-get-one’.

Kadang orang mengutip Kis 16:31 hanya sebatas satu ayat sehingga kehilangan makna dari konteks peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.
(Kis 16:31-34)

Kalau dibaca lebih lengkap, maka kita melihat bahwa setelah Paulus mengatakan perkataan itu, langkah selanjutnya adalah berita injil diberitakan dan keluarga itu percaya. Anugerah keselamatan itu bukan sesuatu yang automatik diberikan lewat pertobatan satu orang, tapi lewat berita injil. Bahkan orang percaya yang sungguh-sungguh pun, belum tentu bisa memenangkan seisi rumahnya (baca kisah 1 Samuel 8:1-5).

Jadi, adakah Anda rindu keluarga Anda untuk dimenangkan? Beritakan injil! Lewat sikap hidup dan perkataan! Bagaimana caranya? Berdoalah! Kiranya Tuhan memberikan saudara hati dan kesungguhan untuk itu melakukan itu, hikmat, keberanian dan kesempatan untuk mengabarkan injil.

 

Hukum Kesembilan: Jangan Mengucapkan Saksi Dusta Tentang Sesamamu

Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
Kel 20:16

falsetestimony-mathcaddy.comBerbohong adalah salah satu mekanisme mental bertahan hidup manusia secara alami (akibat dosa). Manusia tidak usah diajari berbohong, ia akan berbohong. Karena status keberdosaan manusia, manusia terpisah dari Allah, sehingga mementingkan kepentingan diri. Segala naluri nya pun tertuju untuk mempertahankan diri. Ketika ada debu, dengan cepat mata memberikan refleks tutup mata. Pada saat tangan memengang sesuatu yang panas, secara refleks akan menarik tangan, ketika ada benda asing masuk ke saluran pernafasan, secara refleks kita bersin. Ketika kita melakukan kesalahan, kemudian orang bertanya, “apakah kau lakukan ini?”, maka manusia berpikir: kalau saya berkata jujur, maka saya akan kena hukum. Maka ada suatu dorongan naluriah manusia untuk mengatakan “tidak”. Tapi, kepada manusia Tuhan memberikan hati nurani, sesuatu suara yang menentang naluri tersebut, sehingga manusia tidak semata-mata hidup menuruti naluri biologisnya.

Suatu saat, ada seseorang mengendarai mobil dalam keadaan ngantuk, tidak sengaja orang ini menabrak mobil lain. Pemilik mobil yang ditabrak ini keluar dan marah. Respon yang umumnya orang pikirkan saat menghadapi keadaan ini umumnya adalah berpikir apa kira-kiranya alasan yang saya berikan yang bisa membenarkan saya? Walaupun sudah jelas-jelas ia salah, masih ia mencari alasan untuk membenarkan diri. Saya percaya, ini adalah pemikiran umum banyak orang.

Adam, melanggar perintah Allah dengan memakan buah yang dilarang. Saat Allah meminta pertanggungjawaban Adam, respon pertama Adam adalah menyalahkan Hawa. Saat Allah meminta pertanggungjawaban kepada Hawa, Hawa menyalahkan ular (wujud setan). Naluri untuk melepaskan diri dari kebenaran dengan pemikiran untuk mempertahankan diri, adalah sesuatu yang ada sejak manusia pertama jatuh dalam dosa.

Manusia dicipta menurut rupa dan gambar Allah. Allah kita adalah Allah sumber kebenaran, sehingga walaupun manusia telah jatuh dalam dosa, manusia masih memiliki sepercik sifat ini. Manusia masih diberikan hati nurani. Sesuatu yang menegur kita saat kita berbohong. Cuma manusia yang punya nurani seperti ini, makanya manusia dituntut hidup untuk menyatakan kebenaran-Nya. Oleh sebab itu, manusia harus hidup menyatakan yang benar. Kalau kita bersalah, kita harus berani mengatakan yang sebenarnya. Di hadapan Allah, maupun di hadapan manusia. Jikalau untuk itu, akhirnya ada hukuman yang harus kita tanggung, kita harus berani bayar harga untuk itu.

Jika dikaitkan dengan konteks jaman pada waktu itu adalah jangan sampai orang menggunakan kesaksian palsu untuk mendatangkan hukuman atas seseorang.

Pada zaman dulu, kesaksian orang itu yang berpengaruh. Atas kesaksian 2-3 orang, seseorang bisa kena hukuman mati. Nabot dihukum mati, karena ada orang upahan yang dibayar untuk bersaksi palsu. Oleh sebab itu, Allah memberikan suatu peringatan keras kepada manusia jangan bersaksi dusta. Kesaksian itu harus menyatakan kebenaran, bukan perkara yang palsu untuk kepentingan diri.

Tapi, perlu diperhatikan juga, perkataan jujur pun kalau disampaikan dengan tidak benar, atau dengan niatan yang tidak baik, itu pun salah. Seorang guru yang menemukan anak muridnya sangat bodoh, bukan berarti harus mengatakan kamu bodoh! Kalau memang ia sudah diajar, tapi murid itu tetap tidak bisa, mungkin memang fakta bahwa ia bodoh. Tapi, dengan mengatakan kamu bodoh! apakah itu perkataan yang bermanfaat bagi anak? Tidak! Perkataan seperti itu, akan menjadi perkataan yang menjatuhkan. Orang yang tahu ia bodoh melalui perkataan seperti itu tidak akan membuatnya menjadi giat belajar, tapi akan membuat dia percaya bahwa ia bodoh.

Kejujuran itu harus, tapi pastikan saat kita mengatakannya, kita katakan dengan tujuan membangun, kita kata tanpa ada suatu niatan yang tidak baik. Oleh sebab itu, hendaknya kita jaga perkataan kita. Hendaknya perkataan kita menjadi perkataan yang menjadi berkat untuk orang lain.

Atau mungkin kita mengatakan sesuatu yang (dianggap) benar, tapi kebenaran yang kita ketahui itu ternyata salah. Pada zaman era teknologi yang berkembang sangat cepat, kita begitu mudah untuk masuk kedalam perangkap ini.

Pada saat ini kita mengenal istilah hoax (berita bohong). Ada orang dengan tujuan tertentu, atau mungkin sekedar iseng, membuat suatu berita bohong, kemudian di sebar melalui media sosial. Orang yang menerima berita itu, menganggapnya sebagai suatu kebenaran. Padahal, saya akan katakan bahwa 60%-70% (asumsi pribadi) berita yang disebar lewat broadcast media sosial itu adalah hoax.

Sebagai pengguna media sosial, kita harus belajar berhati-hati dalam menyebarkan berita. Teliti dengan baik, berita yang akan kita sebar. Jika berita itu memang benar, maka pertimbangkan hal ini: apakah berita ini bermanfaat bagi orang lain? Jika itu bukan sesuatu yang bermanfaat, ada baiknya kita tidak ikut menyebar-nyerbarkan informasi seperti itu. Ikut menyebarkan berita-berita seperti ini, maka kita terlibat menyebarkan kebohongan.

Manusia dicipta menurut rupa dan gambar Allah. Allah kita adalah Allah sumber kebenaran. Oleh sebab itu, kepada menusia diberikan suatu hati nurani. Sesuatu yang menegur kita saat kita berbohong. Cuma manusia yang punya nurani seperti ini. Oleh sebab itu, manusia dituntut untuk menyatakan kebenaran. Jangan latih hati nurani untuk terbiasa dengan kebohongan.