Ibadah yang ‘memuakkan’

10. Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora!
11. “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” firman TUHAN; “Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai.
12. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku?
13. Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan.
14. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya.
15. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.
Yesaya 1:10-15

Tuhan yang memanggil bangsa Israel menjadi umat-Nya, selama beratus-ratus tahun bersabar mendidik bangsa ini untuk memiliki hidup yang benar sebagai umat-Nya. Ibarat ayah yang sedang mendidik anaknya, seluruh tubuh anak ini pun sudah penuh luka karena didikan sang ayah, tapi tetap anak ini dengan kejahatannya, begitu juga dengan bangsa Israel yang hatinya selalu serong dari pada Tuhan. Sehingga kejahatan mereka sampai pada satu titik dimana bangsa itu disebut seperti “Sodom dan Gomora” (Yesaya 1:10)

Ibadah mereka menjadi sesuatu yang Tuhan benci (ayat 14), Tuhan memalingkan mendengar doa mereka (ayat 15). karena walaupun mereka beribadah, mereka masih mengerjakan kejahatan. Membaca Yesaya 1, menjadi perenungan buat saya. Adakan pelayanan yang kita kerjakan berkenan dihadapan Tuhan? Apakah Tuhan berkenan menerima doa-doa kita? Ataukan Tuhan begitu muak dengan segala doa dan persembahan kita karena Tuhan masih melihat kejahatan dan dosa dalam hidup?

Ada orang-orang yang sedang bergumul dengan dosa, tapi pergumulan itu tanpa kesungguhan untuk menjauhi dosa dan pencobaan, kemudian ia berlutut minta ampun kepada Tuhan. Pembacaan Yesaya 1 ini seharusnya membuat kita merenungkan: “Apakah saya sedang ke ge er dengan berpikir bahwa Tuhan berkenan menerima doa-doa dan ibadah saya? atau … jangan-jangan Dia sudah bosan dengan permintaan maaf saya, muak dengan doa-doa palsu karena tidak pernah disertai dengan tindakan, muak dengan permintaan maaf yang palsu karena tidak pernah disertai dengan kesungguhan menjauhi dosa. Apakah Ia sedang memalingkan wajah-Nya dari pada saya?”

Jangan sampai kita terlalu terlena dengan terus mengingat Tuhan yang Maha Kasih, Tuhan yang selalu menerima doa kita, Tuhan yang selalu mengampuni, tetapi melupakan Tuhan yang juga membenci dosa. Setiap hari kita berdoa, tapi tak pernah sungguh-sungguh mengarahkan hati untuk Tuhan, tak pernah membenci dosa, doa kita bisa jadi menjadi doa-doa yang memuakkan hati Tuhan.

Jadi, jika dalam doa kita berkata: “… ampunilah kami akan kesalahan kami … “ Hendaknya kita bersungguh-sungguh bergumul melawan tabiat perbuatan dosa dalam diri kita. Jika dalam doa kita berkata: “… janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, … “. Hendaknya kita juga bersungguh-sungguh menjauhkan diri dari pencobaan, bukannya terus membiarkan diri menyerah kepada keinginan-keinginan yang berdosa.

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s