Apakah Doa Bisa Membawa Perubahan?

Jika ada orang bertanya: “Apakah doa bisa mempengaruhi pikiran Allah?” Saya akan menjawab “Tidak”. Kemudian, jika orang itu bertanya lagi: “Apakah doa bisa membawa perubahan?” Saya akan menjawab “Ya, tentu saja!”

Alkitab mengatakan bahwa ada ada hal yang Allah telah tetapkan dalam kekekalan. Hal-hal itu akan pasti akan terjadi. Jika Anda berdoa secara pribadi atau bersepakat bersama-sama dengan seluruh orang Kristen di seluruh dunia pun itu, itu tidak akan mengubah ketetapan Allah. Jika kita Kristus untuk tidak datang kembali, Ia tetap akan datang. Mungkin Anda akan bertanya, “Bukankah alkitab berkata bahwa jika dua orang dari padamu sepakat meminta apa pun juga permintaan mereka itu akan dikabulkan? (mengutip Mat 18:19-20). Ya, tapi ayat itu berbicara tentang disiplin gereja bukan permintaan doa. Jadi, kita harus mengambil semua ajaran alkitab tentang doa secara utuh dan bukan sembarang comot ayat yang dilepaskan dari konteksnya.

Ketetapan Allah tidak berubah karena Allah tidak berubah. Segala hal bisa berubah, dan semuanya itu berubah dalam kedaulatan-Nya yang Ia kerjakan lewat berbagai cara. Doa dari umat-Nya adalah salah satu cara Ia menyatakan pekerjaan-Nya ke dunia ini. Jadi, jika Anda bertanya apakah doa membawa perubahan, tanpa keraguan saya akan menjawab “Ya!”

Adalah mustahil untuk mengetahui seberapa besar intervensi Allah secara langsung dan seberapa besar Allah menyatakan pekerjaan-Nya lewat perantaraan manusia. Salah satu contoh favorit yang Calvin sering gunakan untuk menjelaskan ini diambil dari kitab Ayub. Orang Syeba dan Kasdim merampas keledai dan unta Ayub. Mengapa? Karena Setan mempengaruhi mereka untuk melakukan itu. Tapi kenapa? Karena Setan menerima ijin dari Allah untuk mencobai iman Ayub. Mengapa Allah menyetujui hal seperti itu terjadi? Ada 3 alasan: 1. Untuk membungkam fitnah Setan; 2. untuk menyatakan kebenaran Allah; 3. Untuk membenarkan Ayub melawan fitnah Setan.

Sebaliknya, motivasi Setan untuk mempengaruhi orang Syeba dan Kasdim adalah supaya Ayub mengutuki Allah. Tapi, kita bisa memperhatikan bahwa Setan tidak melakukan hal-hal yang supranatural untuk mencapai tujuannya. Setan menggunakan tangan manusia — orang Syeba dan Kasdim yang memang memiliki hati yang jahat — untuk merampas ternak Ayub. Mereka terlibat, tapi juga mereka tidak dipaksa.

Orang Syeba dan Kasdim bebas memilih, tapi buat mereka, dan sama halnya untuk kita, kebebasan selalu berarti kebebasan dalam suatu keterbatasan. Jangan sampai kita salah membedakan antara kebebasan manusia untuk memilih dan otonomi manusia (human autonomy). Pemahaman tentang kedaulatan Allah dengan otonomi manusia selalu bertentangan. Tapi, tidak ada pertentangan antara pemahaman tentang kedaulatan Allah dengan kebebasan manusia.

Jika Orang Syeba dan Kasdim berdoa: “Jangan bawa kami dalam pencobaan, tapi jauhkanlah kami dari yang jahat.” Saya yakin bahwa ternak Ayub akan tetap dirampas, tapi bukan oleh orang Syeba dan Kasdim. Allah bisa menjawab doa mereka, tapi juga bisa menggunakan perantara lain untuk merampas ternak Ayub. Manusia memiliki kebebasan, tapi kebebasan itu adalah kebebasan yang terbatas, dan dalam batasan itu,  doa kita bisa membawa perubahan.

Disadur dari R.C Sproul — Does Prayer Change Things?

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s