Hukum Kesembilan: Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

 

Pada suatu hari, Budi bangun kesiangan. Dia setelah sadar ia kesiangan untuk berangkat ke sekolah, ia hanya punya waktu 10 menit bangun dan bersiap diri untuk berangkat ke sekolah. Tidak sempat mandi atau sarapan, Budi hanya bisa menggunakan waktu itu untuk mengganti baju, cuci muka, mempersiapkan beberapa buku dan berangkat ke sekolah.

Di sekolah, Andi (teman Budi) melihat Budi tiba di sekolah dengan mata yang masih sepet-sepet, ia bertanya: “Bud, kamu pagi belon mandi ya?”. Budi malu mengakui itu sehingga tanpa berpikir panjang, Budi langsung menjawab: “… mandi kok! cuma tadi buru-buru …”.

LiesBudi telah berbohong dan itu salah! Tapi, secara spesifik hukum kesembilan bukanlah mengurusi kebohongan seperti itu. Untuk mengajarkan kepada anak, seringkali orang menyamakan saksi dusta dengan berbohong. Untuk memperkenalkan 10 perintah Allah itu memang tidak salah, namun jika mempelajari lebih jauh tentang hukum kesembilan ini, kita bisa menemukan bahwa pengertian yang terkandung dalam hukum kesembilan ini jauh lebih dalam.

Penjelasan daripada hukum ini dapat ditemui pada bagian lain dalam Alkitab.

“Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar. Janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang melakukan kejahatan, dan dalam memberikan kesaksian mengenai sesuatu perkara janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang membelokkan hukum. Juga janganlah memihak kepada orang miskin dalam perkaranya. (Kel 23:1-3)

Apabila seseorang berbuat dosa, yakni jika ia mendengar seorang mengutuki, dan ia dapat naik saksi karena ia melihat atau mengetahuinya, tetapi ia tidak mau memberi keterangan, maka ia harus menanggung kesalahannya sendiri.  (Im 5:1)

“Satu orang saksi saja tidak dapat menggugat seseorang mengenai perkara kesalahan apapun atau dosa apapun yang mungkin dilakukannya; baru atas keterangan dua atau tiga orang saksi perkara itu tidak disangsikan. Apabila seorang saksi jahat menggugat seseorang untuk menuduh dia mengenai suatu pelanggaran, maka kedua orang yang mempunyai perkara itu haruslah berdiri di hadapan TUHAN, di hadapan imam-imam dan hakim-hakim yang ada pada waktu itu. Maka hakim-hakim itu harus memeriksanya baik-baik, dan apabila ternyata, bahwa saksi itu seorang saksi dusta dan bahwa ia telah memberi tuduhan dusta terhadap saudaranya, maka kamu harus memperlakukannya sebagaimana ia bermaksud memperlakukan saudaranya. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu. Maka orang-orang lain akan mendengar dan menjadi takut, sehingga mereka tidak akan melakukan lagi perbuatan jahat seperti itu di tengah-tengahmu. (Ul 19:15-20)

Hukum kesembilan menggunakan kata saksi dusta, bukan bohong. Dalam bahasa Inggris pun digunakan kata false witness bukan lie. Dalam penjelasan lebih lanjut tentang taurat diatas, kita akan menemukan bahwa kata saksi/witness selalu terkait dengan perkara hukum atau keadilan. Kesaksian adalah sesuatu yang dipakai untuk menjadi salah satu sarana untuk menegakkan keadilan. Dengan kesaksian lebih dari dua orang, seseorang bisa diputuskan bersalah, dengan kesaksian lebih dari dua orang, seseorang bisa juga diputuskan tidak bersalah. Dengan demikian, kesaksian kita atau perkataan kita tentang orang lain adalah sesuatu yang serius, yang tidak boleh dianggap enteng. Oleh sebab itu ada hukuman yang serius yang diberikan kepada mereka yang memberikan kesaksian palsu.

Perintah tidak mengucapkan saksi dusta menuntut kita untuk memiliki hati yang mau menyatakan keadilan. Bahkan dalam Imamat 5:1 menyatakan bahwa tidak berdusta saja tidak cukup. Orang yang tahu tentang suatu kebenaran tapi ia tidak mengatakannya, ia pun bersalah. Walau tidak mudah, menyatakan keadilan, menyatakan kebenaran adalah menjadi bagian penting dalam menjalankan hukum kesembilan.

Di Yohanes 8, ada kisah dimana ada seorang perempuan yang tertangkap berzinah ditangkap, kemudian dibawa kepada Yesus untuk diadili. Yoh 8:6 menyatakan bahwa ahli Taurat dan orang Farisi yang membawa perempuan itu melakukan hal ini bukan untuk menyatakan keadilan, tapi untuk mencobai Yesus. Memberikan suatu kesaksian yang faktual tapi dengan motivasi yang salah pun, itu suatu pun adalah sesuatu yang tidak benar.

Setiap setiap orang yang menyatakan kebenaran, harus disertai dengan motivasi yang benar pula. Seorang pencuri yang tertangkap, kita tidak bisa cuma bilang: saya ampuni, jangan lakukan itu lagi! Jika ini adalah pencurian yang serius, melaporkan pencurian ini kepada pihak berwajib itu harus. Tapi, harus diingat bahwa tindakan itu harus didasarkan kepada hati yang mau menyatakan keadilan, bukan dendam. Hati yang mengampuni (pencuri itu) harus kita miliki, tapi itu tidak menghilangkan tindakan kita untuk menyatakan keadilan.

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s