Hukum Kelima: Hormatilah Ayahmu dan Ibumu

Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. (Kel 20:12)

parentsBagi orang percaya, menghormati orang tua, bukan sekedar tradisi, etika atau norma sosial. Bagi orang percaya, menghormati orang tua adalah salah satu bagian dari perintah yang Tuhan berikan kepada manusia. Saat perintah ini diberikan dalam taurat, perintah ini disertai juga dengan janji: “supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN …”.

Satu hal penting yang kita perlu pahami dari janji ini adalah menghormati orang tua bukanlah tips untuk panjang umur. Perkataan “lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN” menunjuk pada penyertaan TUHAN. Seperti halnya janji TUHAN untuk “…memberikan negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu…” (Kel 33:3), poin pentingnya bukan pada susu dan madu-nya, tapi pada kelimpahan berkat yang TUHAN janjikan.

Hukum Taurat adalah hal yang sangat penting untuk orang Israel pahami dan lakukan. Musa, pada khotbah terakhir sebelum ia berpisah dengan Israel, Ia memberikan memberikan penekanan penting agar Israel boleh sungguh-sungguh hidup sebagai umat-Nya, supaya Israel pun boleh merasakan damai sejahtera ditempat yang TUHAN telah berikan sebagai orang merdeka.

Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. (Ul 6:1-7)

Dalam pembahasan mengenai hormat kepada orang tua, perintah hormat kepada orang tua selalu dikaitkan dengan perintah kepada orang tua untuk mengajar. Generasi orang-orang yang keluar dari Mesir sadar diri mereka adalah budak dan TUHAN membebaskan mereka keluar dari Mesir. Generasi ini mendapatkan kesempatan melihat kuasa TUHAN dinyatakan. Generasi ini mendapatkan kesempatan melihat tanda besar bahwa TUHAN yang membawa mereka keluar dari Mesir adalah TUHAN yang nyata dan berkuasa, berbeda dengan dewa-dewa yang mereka kenal di Mesir. Tapi, bagaimana dengan generasi berikutnya? Generasi anak-anak mereka, generasi cucu mereka pun tidak boleh sampai melupakan ini. Mereka harus senantiasa mengingat bahwa dulu mereka adalah bangsa budak; TUHAN telah memilih Israel menjadi umat-Nya; hanya oleh anugerah mereka dibebaskan; TUHAN yang Israel sembah adalah TUHAN semesta alam; dan tugas untuk menyaksikan ini diberikan kepada orang tua untuk diajarkan kepada anak-anaknya.

Dengan demikian, para orang tua harus sadar. Saat orang tua mengajar anak-anak mereka untuk menghormati orang tua, setiap mereka juga harus ingat bahwa hak untuk mendapatkan hormat dari anak disertai juga kewajiban untuk mengajarkan mereka untuk melakukan perintah Tuhan, dan mengajarkan mereka untuk memiliki rasa takut akan TUHAN.

Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Ef 6:1-4)

Dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, didalamnya terdapat nasihat terkait dengan kehidupan keluarga. Ef 6:1-4, adalah bagian nasihat kepada anak-anak dan orang tua. Tapi, pada bagian sebelumnya (Ef 5:22-27), rasul Paulus menuliskan nasihat bagi hidup dari pada ayah dan ibu (suami istri). Hidup orang tua sebagai suami istri harus menjadi hidup yang menjadi panutan bagi anak-anaknya.

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
(Eph 5:22-27)

Dalam hal relasi antara ayah dan ibu, harus bisa menjadi contoh yang baik. Seorang istri harus menjadi contoh hidup dalam kebertundukan kepada otoritas kepala keluarga. Disisi lain, seorang suami harus mengasihi istrinya, … bukan dengan sekedar kebaikan, kesetiaan dan cinta kasih … tapi dikatakan bahwa suami harus mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya. Seperti apakah Kristus mengasihi jemaat-Nya? Kristus mengasihi jemaat-Nya sampai Dia mengorbankan diri-Nya sendiri. Kristus menyucikan jemaat-Nya dengan air dan firman, supaya jemaat-Nya boleh dinyatakan kudus dihadapan Bapa. Sesungguhnya, hanya orang tua yang seperti ini, yang layak menuntut hormat dari anak-anaknya.

Hai para orang tua, ingatkanlah hal ini! Saat engkau mendengar perintah hormati ayah-ibumu bagi anak-anakmu, ingatlah bahwa dibaliknya ada tanggung jawab besar yang diemban para orang tua untuk hidup sungguh-sungguh menjadi panutan bagi anak-anaknya; tanggung jawab untuk mengajar jalan kebenaran kepada anak-anaknya; tanggung jawab untuk membimbing anak-anaknya untuk hidup kudus bagi TUHAN.

Anak-anak! bersyukur jikalau kalian memiliki orang tua yang mengajarkan kalian untuk taat beribadah, orang tua yang marah dengan perbuatan dosamu, orang tua yang mengajarkamu untuk takut kepada TUHAN. Sebagai orang muda, seringkali muncul pemikiran “saya benar, papa/mama salah”. Selisih pendapat akan selalu ada, tapi dalam keadaan demikian, ingat! hormatilah orang tua mu. Kadang engkau menemui pemikiran orang tua yang salah, kadang engkau menemui pemikiran saya salah (tapi tidak sadar salah), kadang engkau menemui tidak tahu mana yang benar, kadang engkau menemui orang tua yang benar tapi kita tidak suka dengan caranya menegur. Dalam keadaan itu, firman Tuhan mengingatkan hormatilah ayahmu dan ibumu. Dalam keadaan berselisih pendapat, engkau harus belajar memberi hormat kepada orang tua. Belajar menyatakan ketidaksependapatan dengan cara yang bijak, supaya jangan walaupun engkau benar, tapi karena sikapmu yang menjadi sandungan bagi ayah/ibumu. Orang tuamu tidak selalu benar, orang tuamu mungkin salah, tapi ingat engkaupun tidak selalu benar, engkaupun mungkin salah.

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s