Saul Dipilih Menjadi Raja

“Besok kira-kira waktu ini Aku akan menyuruh kepadamu seorang laki-laki dari tanah Benyamin; engkau akan mengurapi dia menjadi raja atas umat-Ku Israel dan ia akan menyelamatkan umat-Ku dari tangan orang Filistin. Sebab Aku telah memperhatikan sengsara umat-Ku itu, karena teriakannya telah sampai kepada-Ku.” (1 Samuel 9:16)

saul__annointedTuhan memperhatikan sengsara umat-Nya karena penindasan orang Filistin. Itulah alasan Dia mengangkat Saul menjadi raja. Kembali kita melihat rencana Tuhan yang dinyatakan selalu mengandung aspek belas kasihan Tuhan. Ya, Dia mengangkat seorang raja untuk membangkitkan suatu dinasti hingga Sang Mesias nanti datang. Ya, Dia juga secara khusus mengizinkan Saul menjadi raja meskipun pada akhirnya dia akan menolak Tuhan, sehingga Israel boleh merasakan bahwa dipimpin oleh seorang raja yang bertipe seperti raja bangsa-bangsa lain sangat bertolak belakang dengan maksud Allah bagi Israel untuk digembalakan oleh raja pilihan Tuhan yang sejati.

Saul adalah tipikal raja dunia, bukan sang gembala yang berjiwa menggembalakan umat Tuhan. Tetapi aspek belas kasihan Tuhan kepada umat-Nya tetap tidak akan lenyap dari setiap hal yang Tuhan kerjakan. Mengapa Dia menebus manusia? Untuk menunjukkan kemuliaan-Nya dan belas kasihan-Nya kepada umat tebusan-Nya. Mengapa Dia menghukum orang-orang fasik? Untuk membalaskan kejahatan mereka yang memakan umat Tuhan seperti roti (Mzm. 53:5), sebab Tuhan mengasihani umat-Nya yang tertindas. Demikian juga dengan peralihan periode dari hakim-hakim kepada raja. Tuhan memanggil raja untuk menjadi alat keadilan-Nya dan pemimpin yang akan membebaskan umat-Nya karena Dia memperhatikan sengsara umat-Nya.

Dengan menyadari hal inilah Samuel melakukan beberapa hal kepada Saul. Yang pertama di dalam ayat 25. Samuel berbicara dengan Saul hingga semalaman. Tentunya Samuel ingin tahu seperti apakah sang raja yang dipilih Tuhan ini? Dia tahu betapa beratnya tugas yang akan Tuhan berikan kepada Saul demi kepentingan umat-Nya. Dia harus tahu seperti apakah orang ini, yang akan diurapinya sebentar lagi. Apakah sanggup menjalankan yang Tuhan percayakan? Mungkin juga dia memberikan beberapa nasihat kepada Saul untuk tetap setia kepada Tuhan.

1 Samuel 10:1 adalah peristiwa pengurapan Saul. Peristiwa yang begitu sederhana tetapi sangat mulia. sederhana karena tidak dilakukan di dalam sebuah perayaan besar yang melibatkan seluruh Israel. Mulia karena seorang agung bernama Samuel dan kata-kata yang diucapkannya kepada Saul. Samuel menyebut Israel sebagai umat Tuhan dan sebagai milik Tuhan sendiri. Tuhan ingin membebaskan Israel. Dengan demikian pemilihan atas Saul ini benar-benar sesuatu yang mulia. Tidak seorang pun memberikan hal yang jelek kepada yang dikasihinya. Demikian juga Tuhan memilih seorang raja yang akan sungguh-sungguh diberikan kuasa oleh Tuhan untuk menjalankan takhta Tuhan.

Saul diurapi supaya dia memimpin Israel untuk menaklukkan musuh-musuhnya. Pekerjaan yang sangat berat dan tidak mungkin dilakukan oleh seorang dari daerah yang kecil dan dari keluarga tanpa pengaruh apa-apa di Israel. Apakah makna pengurapan itu? Pengurapan mempunyai makna diperkenan Tuhan (Mzm. 45:8). Pengurapan juga menjadi tanda bahwa dia dikhususkan oleh Tuhan dan kuasa Roh Tuhan akan menyertai orang tersebut untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Baik imam besar maupun raja harus diurapi terlebih dulu sebelum melakukan tugasnya (Kel. 28:41 dan 1Sam. 9:16). Pengurapan memberikan tanda bahwa pekerjaan orang tersebut, baik imam besar maupun raja, adalah sangat mulia, kudus, dan berat, sehingga tanpa ada pencurahan kuasa dari Roh Kudus pekerjaan tersebut tidak akan terlaksana dengan baik. Pengurapan juga menandakan suatu periode yang khusus dalam kehidupan seseorang, yaitu periode dimulainya seseorang menjalani jabatan itu. Itu sebabnya pengurapan yang hanya secara simbolik tidak akan berguna, tetapi pengurapan yang diikuti dengan perubahan hati, itulah pengurapan yang sejati.

Kita lihat bahwa Tuhan mengubah hati Saul menjadi berani. Keberanian ini tadinya tidak ada di dalam diri Saul, tetapi akan menjadi terlihat di dalam 1 Samuel 11:6-8. Tetapi harap kita perhatikan baik-baik. Roh Kudus bekerja memberikan keberanian kepada Saul, memberikan kemampuan, dan juga memberikan karisma kepada Saul. Tetapi Roh Kudus tidak memberikan kasih setia yang kekal kepada Saul seperti yang diberikan kepada Daud dan kepada anaknya (2 Sam 7:15). Tuhan memperlengkapi orang-orang yang dipanggil-Nya untuk melaksanakan apa yang Tuhan percayakan. Tetapi tanpa adanya kasih setia Tuhan, segala hal yang memperlengkapi itu menjadi sia-sia. Sekarang banyak orang Kristen ingin tanda-tanda mujizat dan kesembuhan. Mereka begitu terpukau dengan segala tanda-tanda seperti itu. Ada juga yang mengharapkan Roh Tuhan memberikan fasih lidah, kemampuan khotbah, kemampuan menjadi pemimpin berkarisma, atau kepandaian serta kemampuan untuk mempunyai banyak pengetahuan, bahkan kuasa. Tetapi sebenarnya kasih setia Tuhanlah yang paling penting. Tanpa itu apakah gunanya semua pemberian Roh Kudus yang lain? Tanpa pekerjaan Roh Kudus yang membuat kita ditebus di dalam Kristus, apakah gunanya kesembuhan, kemampuan melakukan mujizat, atau kemampuan melayani dengan berkuasa, dan segala jenis keahlian lainnya? Dikasihi Tuhan jauh lebih berarti daripada dikagumi manusia!

Meskipun Saul bukanlah raja yang akan setia kepada Tuhan, Tuhan tetap berbelas kasihan kepada Israel, Tuhan memberikan segala hal yang diperlukan Saul untuk menjadi seorang raja yang disegani. Semua kelebihan yang Tuhan berikan kepada Saul adalah demi kepentingan umat-Nya, Israel. Tidak ada satu pun kelebihan yang Tuhan berikan kepada seseorang tanpa dimaksudkan untuk dinikmati oleh umat-Nya. Orang yang pintar, yang berjiwa seni tinggi, yang fasih berkhotbah, semua Tuhan bangkitkan demi kepentingan pertumbuhan rohani umat-Nya. Demikian juga Saul diberikan segala semarak dan keagungan demi kepentingan membebaskan Israel dari musuh-musuhnya. Salah satu tanda yang Tuhan izinkan ada pada Saul adalah kemampuan bernubuat (1Sam. 10:10-11). Harap dipahami bahwa nubuat yang dimaksudkan bukanlah bertingkah laku di luar kesadaran, atau trance, yang lebih mirip aktivitas perdukunan daripada pekerjaan Tuhan. Sekali lagi saya katakan, kehilangan kesadaran atau trance adalah kegiatan dukun, bukan pekerjaan Tuhan! Saul bernubuat bersama para nabi. Ini berarti dia memberikan khotbah dengan berani. Menyatakan kebenaran firman dan peringatan bagi umat Tuhan dengan berapi-api. Inilah pengertian bernubuat (lihat misalnya Yeh. 36:6). Maka orang-orang pun heran dan bertanya-tanya, “apakah Saul juga termasuk golongan nabi?” Ini merupakan pertanyaan pujian. Bukan nabi, tapi kok punya kualitas mirip nabi, ya?

Bagian bacaan kita pada hari ini mengingatkan kembali betapa besar kasih Tuhan bagi umat-Nya. Dia memanggil Saul menjadi raja, memberikan kuasa dan keberanian di dalam hatinya, dan bahkan memberikan kemampuan bernubuat seperti seorang nabi. Semua kualitas ini Tuhan berikan kepada Saul karena Dia mengasihi Israel. Meskipun Dia tahu Saul tidak sungguh-sungguh mau mengikut Tuhan, tetapi Dia tetap memberikan segala yang diperlukan Saul untuk menjadi raja yang berani dan berkuasa demi kepentingan seluruh Israel.

Mari kita merenungkan hal berikut:
1.  Apakah Tuhan memberikan kepada kita kemampuan-kemampuan tertentu? Mungkin ada di antara kita yang sangat fasih berbicara di depan umum. Mungkin ada yang mampu mengorganisir segala sesuatu dengan baik. Mungkin ada yang sangat pandai bermain musik. Mungkin ada yang mempunyai kepandaian berpikir lebih tinggi dari orang lain. Ingatlah bahwa semua kelebihan kita menjadi sia-sia kalau kasih setia Tuhan tidak Tuhan curahkan terlebih dahulu. Puji Tuhan karena kasih setia Tuhan melalui pengorbanan Kristus telah lebih dahulu menjadi milik kita. Biarlah kita tidak menjadi sombong karena segala kelebihan yang Tuhan berikan melainkan biarlah kita selalu rendah hati karena sadar bahwa Tuhan sudah memberikan kasih setia-Nya kepada kita yang tidak layak.

2.  Sudahkah segala kemampuan kita itu dipakai sedemikian rupa sehingga umat Tuhan dapat bertumbuh karenanya? Sudahkah kita pergunakan kelebihan kita untuk melayani Tuhan dan membangun sesama? Mengapa hanya pakai kelebihan itu untuk cari popularitas, pujian sia-sia, atau uang? Tuhan mengasihi umat-Nya dan kelebihan kita adalah salah satu pemberian Tuhan bagi gereja-Nya. Berikanlah kepada gereja Tuhan apa yang Tuhan mau berikan melalui kelebihan-kelebihan kita! (JP)

(Sumber: Reforming Heart – Saul Diurapi)

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s