Pengajar x Perkataan yang Sia-sia

Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”  (Mat 12:33-37)

Bagi jemaat yang hidup hanya sebagai jemaat yang duduk manis setiap hari minggu (dan merasa biasa saja). Membaca ayat ini mungkin akan memunculkan pikiran menghakimi orang-orang di gereja yang aktif di pelayanan, tapi memiliki hidup yang tidak beres. Tapi, jika Anda adalah seorang pelayan dan diberikan kesempatan untuk terlibat dalam pelayanan mengajar atau konseling, membaca ayat ini seharusnya menjadi kengerian. Dari kehidupan yang jahat, perkataan baik pun bisa menjadi perkataan yang sia-sia.

Oleh sebab itu, perkataan: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Haruslah menjadi pengingat. Apakah kita adalah orang yang dengan sungguh-sungguh mau hidup sesuai dengan apa yang kita ajarkan? Jika tidak maka setiap perkataan kita akan menjadi perkataan yang sia-sia.

Seorang pengajar yang tidak belum pernah menang dalam pergumulan dalam hal yang ia ajarkan, sebagus apapun perkataannya, kuasanya tidak akan lebih lebih dari orang yang pernah menang dalam pergumulan yang sama, walaupun perkataannya sederhana.

Jadi, bagaimanakah posisi kita sebagai pelayan di hadapan Tuhan? Jika Anda menyadari bahwa Anda adalah pelayan yang dalam posisi demikian Anda harus bertobat.

Bagi kita yang melihat pelayan lain yang berada dalam kondisi itu, tidak selayaknya dengan mudah menggunakan ayat ini untuk menghakimi  orang lain, karena sikap itu adalah sikap yang menyatakan bahwa “saya benar, saya lebih baik dari dia …” (benarkah?) Jika kita melihat sesama pelayan dalam pekerjaan Tuhan memiliki suatu sikap hidup yang berbeda dengan apa yang kita ajarkan, selayaknya kita juga berpikir: apakah jika ada berada pada posisi dia, bisakah saya lebih baik dari apa yang dia lakukan sekarang?

Bagi orang yang belum pernah terlibat sungguh-sungguh dalam pelayanan, mungkin belum bisa sungguh-sungguh mengerti betapa banyak tantangan dan godaan yang dihadapi yang begitu kuat menarik kita kepada dosa. Oleh sebab itu, bagi yang melayani atau pun tidak/belum. Marilah saling mendoakan. Doakan sesama pelayan di gereja, pengajar, konselor di gereja. Supaya boleh sungguh-sungguh Tuhan pimpin hidupnya, sehingga mereka boleh menjalani hidup sesuai dengan apa yang mereka ajarkan.

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s