Hati untuk Datang Menghadap Hadirat-Nya

Allah berfirman kepada Yakub: “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu.” Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: “Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu. Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh.”  (Kej 35:1-3)

Setelah kisah panjang, Yakub yang lari dari rumah, tinggal di rumah Laban, dan kembali diperdamaikan dengan Esau; Allah mengingatkan Esau akan janjinya dulu (Kej 28).

Yakub mengerti, hanya ada satu Allah. Dan jika Allah yang Ia sembah adalah yang sejati, tidak mungkin ia datang menghadap untuk memberikan persembahan dengan sembarangan. Oleh sebab itu, ia memerintahkan kepada orang-orang yang ada di rumahnya untuk membuang semua dewa-dewa asing, mempersiapkan diri, bahkan berpakaian layak untuk menghadap hadirat-Nya.

Bahkan sebelum hukum Taurat diberikan pun, Yakub mengerti. Menghadap hadirat Allah, tidak boleh sembarangan. Itulah sebabnya mengapa ada pendeta-pendeta yang cukup keras kepada jemaatnya mengenai dress code dalam ibadah, atau menegur jemaat yang terlambat. Percayalah, itu dilakukan bukan sekedar karena karakter pribadi dari pada pendeta itu sendiri, tapi karena memang itu harus dilakukan.

Setiap orang yang datang beribadah harus diingatkan bahwa kedatangannya bukan sekedar rutinitas, jemaat harus sadar bahwa ia sedang menghadap hadirat Tuhan,  dan adalah kewajiban bagi hamba Tuhan untuk mendidik jemaat akan hal itu. Oleh sebab itu, harus menyiapkan hati sungguh-sungguh.

Yakub memerintahkan tukarlah pakaianmu. Dari perintah ini kita mengerti bahwa saat Yakub apa yang tampak secara fisik pun harus menyatakan sikap hormat kita kepada Allah. Kita tidak bisa berpakaian sembarangan ke gereja kemudian berkata “yang pentingkan Tuhan melihat hati”. Apa yang ada dalam hati, nyata dalam perbuatan. Jadi kalau sungguh-sungguh kita memiliki sikap hormat kepada Allah, pastilah kita tidak akan berpenampilan sembarangan saat kita datang beribadah kepada Allah.

Ibarat, seorang pemuda yang sedang berpacaran. Tidak mungkin ia berpakaian sembarangan karena berpikir “yang pentingkan hati” … Kalau ia sungguh-sungguh punya hati untuk pasangannya, pastilah ia berusaha memberikan yang terbaik, supaya bisa menyenangkan pasangannya. Lebih dari itu, seharusnya sikap kita ketika menghadap Allah.

Hati yang sungguh-sungguh tertuju kepada Allah, dan hormat. Itu yang diperlukan saat kita menghadap Allah. Penampilan luar tidak harus selalu mahal atau glamor, tapi kalau kita sungguh-sungguh punya hati untuk itu, maka sikap kita dan penampilan luar pun bisa dilihat.

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s