Wanita Memimpin Jemaat? Bolehkah?

Dalam sebuah percakapan singkat, seseorang mengatakan kepada saya: “wanita tidak boleh mengajar di mimbar, … itu tidak alkitabiah!” Saya sendiri tidak sependapat dengan aturan seperti itu. Menurut saya itu merupakan pembatasan yang tidak perlu. Tapi, kalau memang alkitab memberikan ketetapan seperti itu, saya harus taat. Oleh sebab itu, kali ini saya coba teliti lebih lanjut tentang topik ini.

Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat. Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang? (1 Kor 14:34-36)

Saya membaca diskusi sebuah topik Wanita sebaiknya berdiam diri dalam ibadah. Topik diskusi dibuka dengan pernyataan bahwa wanita tidak boleh mengajar di jemaat, dari sana masuklah berbagai pihak yang tidak sependapat. Sehingga, diskusi panas berlangsung sampai kurang lebih 2 tahun (dari post awal sampai post terakhir).

Saya harus akui memang Paulus dalam surat 1 Korintus berbicara jelas tentang hal itu, bahwa wanita tidak boleh memimpin jemaat. Sebagian orang ada yang menjelaskan bahwa perkataan Paulus itu terkait dengan kondisi sosial budaya di lingkungan jemaat Korintus saat itu, membuatnya harus secara khusus diberikan ketegasan, tapi tidak tepat untuk diterapkan kepada jemaat secara umum pada masa sekarang. Tapi saya mendapati hal itu pun kurang mendapat bukti dalam alkitab.

Barak & DeborahTapi, disisi lain, jika Tuhan tidak menghendaki  pemimpin wanita, mengapakah Ia membangkitkan Deborah sebagai hakim yang memimpin bangsa Israel? (Hak 4:4) Juga ada wanita-wanita lain seperti Miriam, dan Hulda. Miriam adalah seorang pemimpin; Hana dan Hulda adalah seorang nabiah (bandingkan dengan 1 Kor 14:36).

Dengan demikian, ini adalah pandangan saya: Dihadapan Allah, semua manusia diciptakan, sama. Tapi meskipun demikian, ada ordo yang ditetapkan, sesuai dengan kodrat yang manusia terima dari Pencipta. Bagi anak-anaknya, wanita akan selalu menjadi ibu, laki-laki akan selalu menjadi ayah. Wanita akan selalu menyusui anaknya, bukan laki-laki. Laki-laki harus selalu jadi kepala rumah tangga, bukan wanita. Saya percaya itu adalah sistem nilai yang berlaku secara umum di (hampir) semua kebudayaan.

Dalam keadaan wajar, memang yang menjadi pemimpin dalam jemaat haruslah laki-laki, tetapi tidak menutup kemungkinan Tuhan membangkitkan pemimpin yang adalah seorang perempuan. Saya harus mengakui, ada wanita yang Tuhan bangkitkan untuk mengajar, atau bahkan memimpin jemaat. Tapi itu adalah sebuah fenomena, tidak bisa menjadikan itu sebagai ketentuan umum.

Seorang penginjil mengabarkan injil ke suatu desa terpencil di daerah Irian. Setelah beberapa lama ia menginjili, akhirnya ia boleh mendapati beberapa orang percaya disana, sehingga boleh didirikan gereja. Setelah itu, ia membawa istri dan anaknya tinggal bersama di tempat itu. Tapi, setahun setelah ia membawa istri dan anaknya ke sana, penginjil ini meninggal, sehingga jemaat kehilangan seorang “gembala”. Dalam keadaan seperti itu, akhirnya istrinya menggantikan posisi suaminya sebagai gembala. Dalam keadaan seperti itu, apakah kita mengatakan bahwa “pendeta wanita” itu salah? Saya rasa tidak.

Ada kisah lain, saya mengenal seorang pendeta mendapatkan seorang istri yang punya banyak kelebihan dalam membaca dan mengerti Firman Tuhan. Akhirnya dalam jemaat yang mereka gembalakan, sang istri cukup banyak memberikan pelajaran alkitab bagi jemaatnya. Jikalau seseorang diberikan anugerah mengerti Firman begitu limpah, masakah ia harus berdiam diri saja, hanya karena aturan “wanita tidak boleh mengajar”? Saya rasa tidak.

Dengan demikian, buat saya,  yang menjadi pemimpin sewajarnya adalah laki-laki. Tapi, saya percaya pekerjaan Tuhan tidak terkurung pada ketentuan itu. Ada fenomena dimana Ia membangkitkan pemimpin wanita. Tapi, saya melihat itu sebagai fenomena, tidak menjadi ketentuan umum. Kalau memang ada pemimpin wanita, dan buah dari pelayanannya benar, maka tidak ada alasan untuk menolak itu.

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s