Hukum Kesembilan: Jangan Mengucapkan Saksi Dusta Tentang Sesamamu

Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
Kel 20:16

falsetestimony-mathcaddy.comBerbohong adalah salah satu mekanisme mental bertahan hidup manusia secara alami (akibat dosa). Manusia tidak usah diajari berbohong, ia akan berbohong. Karena status keberdosaan manusia, manusia terpisah dari Allah, sehingga mementingkan kepentingan diri. Segala naluri nya pun tertuju untuk mempertahankan diri. Ketika ada debu, dengan cepat mata memberikan refleks tutup mata. Pada saat tangan memengang sesuatu yang panas, secara refleks akan menarik tangan, ketika ada benda asing masuk ke saluran pernafasan, secara refleks kita bersin. Ketika kita melakukan kesalahan, kemudian orang bertanya, “apakah kau lakukan ini?”, maka manusia berpikir: kalau saya berkata jujur, maka saya akan kena hukum. Maka ada suatu dorongan naluriah manusia untuk mengatakan “tidak”. Tapi, kepada manusia Tuhan memberikan hati nurani, sesuatu suara yang menentang naluri tersebut, sehingga manusia tidak semata-mata hidup menuruti naluri biologisnya.

Suatu saat, ada seseorang mengendarai mobil dalam keadaan ngantuk, tidak sengaja orang ini menabrak mobil lain. Pemilik mobil yang ditabrak ini keluar dan marah. Respon yang umumnya orang pikirkan saat menghadapi keadaan ini umumnya adalah berpikir apa kira-kiranya alasan yang saya berikan yang bisa membenarkan saya? Walaupun sudah jelas-jelas ia salah, masih ia mencari alasan untuk membenarkan diri. Saya percaya, ini adalah pemikiran umum banyak orang.

Adam, melanggar perintah Allah dengan memakan buah yang dilarang. Saat Allah meminta pertanggungjawaban Adam, respon pertama Adam adalah menyalahkan Hawa. Saat Allah meminta pertanggungjawaban kepada Hawa, Hawa menyalahkan ular (wujud setan). Naluri untuk melepaskan diri dari kebenaran dengan pemikiran untuk mempertahankan diri, adalah sesuatu yang ada sejak manusia pertama jatuh dalam dosa.

Manusia dicipta menurut rupa dan gambar Allah. Allah kita adalah Allah sumber kebenaran, sehingga walaupun manusia telah jatuh dalam dosa, manusia masih memiliki sepercik sifat ini. Manusia masih diberikan hati nurani. Sesuatu yang menegur kita saat kita berbohong. Cuma manusia yang punya nurani seperti ini, makanya manusia dituntut hidup untuk menyatakan kebenaran-Nya. Oleh sebab itu, manusia harus hidup menyatakan yang benar. Kalau kita bersalah, kita harus berani mengatakan yang sebenarnya. Di hadapan Allah, maupun di hadapan manusia. Jikalau untuk itu, akhirnya ada hukuman yang harus kita tanggung, kita harus berani bayar harga untuk itu.

Jika dikaitkan dengan konteks jaman pada waktu itu adalah jangan sampai orang menggunakan kesaksian palsu untuk mendatangkan hukuman atas seseorang.

Pada zaman dulu, kesaksian orang itu yang berpengaruh. Atas kesaksian 2-3 orang, seseorang bisa kena hukuman mati. Nabot dihukum mati, karena ada orang upahan yang dibayar untuk bersaksi palsu. Oleh sebab itu, Allah memberikan suatu peringatan keras kepada manusia jangan bersaksi dusta. Kesaksian itu harus menyatakan kebenaran, bukan perkara yang palsu untuk kepentingan diri.

Tapi, perlu diperhatikan juga, perkataan jujur pun kalau disampaikan dengan tidak benar, atau dengan niatan yang tidak baik, itu pun salah. Seorang guru yang menemukan anak muridnya sangat bodoh, bukan berarti harus mengatakan kamu bodoh! Kalau memang ia sudah diajar, tapi murid itu tetap tidak bisa, mungkin memang fakta bahwa ia bodoh. Tapi, dengan mengatakan kamu bodoh! apakah itu perkataan yang bermanfaat bagi anak? Tidak! Perkataan seperti itu, akan menjadi perkataan yang menjatuhkan. Orang yang tahu ia bodoh melalui perkataan seperti itu tidak akan membuatnya menjadi giat belajar, tapi akan membuat dia percaya bahwa ia bodoh.

Kejujuran itu harus, tapi pastikan saat kita mengatakannya, kita katakan dengan tujuan membangun, kita kata tanpa ada suatu niatan yang tidak baik. Oleh sebab itu, hendaknya kita jaga perkataan kita. Hendaknya perkataan kita menjadi perkataan yang menjadi berkat untuk orang lain.

Atau mungkin kita mengatakan sesuatu yang (dianggap) benar, tapi kebenaran yang kita ketahui itu ternyata salah. Pada zaman era teknologi yang berkembang sangat cepat, kita begitu mudah untuk masuk kedalam perangkap ini.

Pada saat ini kita mengenal istilah hoax (berita bohong). Ada orang dengan tujuan tertentu, atau mungkin sekedar iseng, membuat suatu berita bohong, kemudian di sebar melalui media sosial. Orang yang menerima berita itu, menganggapnya sebagai suatu kebenaran. Padahal, saya akan katakan bahwa 60%-70% (asumsi pribadi) berita yang disebar lewat broadcast media sosial itu adalah hoax.

Sebagai pengguna media sosial, kita harus belajar berhati-hati dalam menyebarkan berita. Teliti dengan baik, berita yang akan kita sebar. Jika berita itu memang benar, maka pertimbangkan hal ini: apakah berita ini bermanfaat bagi orang lain? Jika itu bukan sesuatu yang bermanfaat, ada baiknya kita tidak ikut menyebar-nyerbarkan informasi seperti itu. Ikut menyebarkan berita-berita seperti ini, maka kita terlibat menyebarkan kebohongan.

Manusia dicipta menurut rupa dan gambar Allah. Allah kita adalah Allah sumber kebenaran. Oleh sebab itu, kepada menusia diberikan suatu hati nurani. Sesuatu yang menegur kita saat kita berbohong. Cuma manusia yang punya nurani seperti ini. Oleh sebab itu, manusia dituntut untuk menyatakan kebenaran. Jangan latih hati nurani untuk terbiasa dengan kebohongan.

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s