Natal yang seharusnya

Dan apabila kamu tiba di negeri yang akan diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya, maka kamu harus pelihara ibadah ini. Dan apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini?
maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.” Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah.

Keluaran 12:25-27

Hari Raya Roti tidak beragiSelama 430 tahun, bangsa Israel tinggal di Mesir, dan sebagian besar dari waktu mereka di tanah Mesir, mereka menjadi budak. Selama mereka di Mesir, mereka tahu Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub, tapi di sepanjanga 430 tahun itu, belum ada pernyataan khusus Allah bagi bangsa Israel. Hingga genap waktuNya, Allah menyatakan diriNya kepada bangsa Israel. Melalui hambaNya, Musa, Ia menyatakan diriNya sebagai Allah mereka, membebaskan mereka dari perbudakan bangsa Mesir. Dan sebagaimana janjiNya kepada Abraham, juga mau menyatakan kegenapan janjiNya itu kepada keturunan Abraham, Israel.

Allah menunjukkan kuasaNya ditengah-tengah mereka, sehingga bukan saja orang Israel yang melihat kemahakuasaan Allah, tapi bangsa Mesir pun melihat dan mengakui Allah yang disembah bangsa Israel, adalah Allah yang berkuasa.

Tapi mengingat natur manusia yang begitu sering “lupa”, Tuhan mengajar bangsa Israel untuk terus mengingatkan ini kepada keturunan-keturunan mereka. Sehingga, pada saat mereka keluar dari Mesir, mereka menyembelih domba paskah dan mengadakan 7 hari makan roti yang tidak beragi. Hal ini dilakukan terus menerus dan diajarkan terus kepada keturunan mereka. Dan jika anak-anak mereka bertanya, Apakah arti ibadah ini? maka orang tua menjelaskan bahwa dulu, mereka adalah hamba, tapi oleh tangan Tuhan yang berkuasa, Ia memberikan tulah kepada bangsa Mesir dan menyelamatkan mereka.

Tuhan mau bangsa Israel mengingat keadaan mereka dulu, dan mengerti betapa keadaan mereka itu boleh hidup bebas (tidak lagi sebagai budak) adalah anugerah. Bahkan pada Kel 12:19 menyatakan kalau ada orang Israel mengabaikan ini, ia harus disingkirkan. Hal ini menunjukkan betapa besarnya Allah mau bangsa Israel mengerti ini. Ingat keadaan mereka dulu, ingat bahwa segala apa yang mereka terima saat ini (setelah mereka keluar dari Mesir dan tinggal di tanah Kanaan) adalah anugerah.

Jadi, dalam perayaan yang diadakan, bukanlah cuma sekedar ritual yang membedakan bahwa “kita orang Kristen” tapi yang terpenting adalah nilai apa yang harus kita tangkap dalam setiap hari raya. Jikalau kita memperingati suatu hari raya, tanpa menangkap nilainya, pada akhirnya akan menjadi kegiatan yang sia-sia.

Birth of ChristPada saat ini, orang Kristen tidak melakukan perayaan-perayaan dengan cara seperti yang tertulis dalam taurat. Saat ini Orang Kristen secara umum merayakan hari Paskah, dan Natal. Tapi adakah kita merayakan paskah seperti seharusnya? atau natal seperti seharusnya?

Desember ini, biasa kita sudah mulai bisa merasakan suasana natal. Memang kita tahu bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Tapi adalah kesepakatan bersama, orang Kristen menetapkan tanggal 25 Desember untuk mengingat saat dimana Yesus lahir ke dunia. Jadi kalau kita mau merayakan natal, adalah seharusnya pada suasana natal ini kita lebih banyak merenungkan dan mengingat Kristus yang lahir ke dunia. Betapa Ia yang kudus, mau turun ke dunia, meninggalkan segala kemuliaanNya untuk tinggal ditengah manusia yang berdosa. Bahkan lebih dari itu, Ia mau mati buat kita.

Kalau kita luput menangkap makna natal yang sebenarnya, jadinya sia-sia kita merayakan natal. Sayangnya dunia ini justru membuat kita lupa tentang Kristus. Saat yang seharusnya kita bisa pakai untuk mengingat anugerah Allah lewat Kristus, digantikan dengan sosok sinterklas. Dari mulai lagu-lagu natal, hiasan-hiasan natal, kegiatan-kegiatan natal. Dalam suasana natal, kita bisa merasakan suasana yang indah. Tapi ironi nya, justru semuanya itu membuat kita melupakan Kristus.

Maka oleh sebab itu, masuk suasana natal ini, semoga dengan tulisan ini saya bisa mengajak kembali kita merayakan natal dengan cara yang seharusnya. Natal itu adalah kita mengingat kelahiran Kristus (Chris-mast).  Bukan hari ulang tahun Yesus (seperti yang anak-anak sering pikirkan). Tapi ingat Ia, Yang Maha Kudus, mau menyatakan diriNya ditengah kita, dan menyatakan kasihNya — bukan dengan sekedar perkataan, atau perbuatan sedekah, tapi dengan nyawanya sendiri.

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s