Daniel Menghadapi Insepsi Budaya Babel

Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya. Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja. Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego. Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.

Dan 1:1-8

Daniel adalah salah satu pemuda Israel dalam pembuangan di Babel. Mereka didik agar suatu saat mereka bisa bekerja mengadi kepada kerajaan Babel. Tetapi agar mereka memiliki loyalitas kepada negara, mereka harus dirubah menjadi ”orang Babel”. ada 2 cara yang mereka terapkan kepada Daniel.

Cara 1: merubah nama

Nama adalah identitas. Sedikitnya ia akan membentuk pemikiran kita. ambil contoh, seseorang dipanggi ‘gembul’. Terus menerus orang itu dipanggil ‘gembul’ lama-lama ia akan menanamkan suatu pemikiran bahwa dirinya ‘gembul’. Atau misal ada anak yang jika dimarahi oleh orang tua, ia selalu dikatakan ‘bodoh’. Sedikit banyaknya, perkataan itu pasti akan ada yang menempel yang dalam benaknya, sehingga jika suatu saat itu menemui kesulitan, ia akan mudah menyerah karena ada perkataan “memang saya ini *bodoh*, tidak bisa melakukan ini”.

Aplikasi: Anak muda biasanya ‘gemar’ memberi nickname untuk diri sendiri. Hati-hatilah dengan ‘nickname’ yang kamu pakaikan untuk diri sendiri, karena secara tidak langsung, itu akan menjadi identitas yang cukup mempengaruhi pikiranmu. Contoh, nama-nama seperti: black devil, dark angel, lucifericious, manslayer, megadeath, dll. Apakah Anda merasa bangga jika Anda menggunakan nickname seperti itu? berhati-hatilah!

Cara 2: Menanamkan gaya hidup

Dengan membiasakan diri hidup sebagai bangsa bangsa Babel, lama kelamaan, ia akan menganggap dirinya sebagai orang Babel.

Contoh yang paling ‘dekat’ dengan kita adalah gaya hidup yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda kepada orang indonesia. Mereka sempat mengecap pendidikan Belanda, atau keluarganya pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan Belanda, diajarkan bahasa Belanda, dibiasakan mengenakan pakaian gaya Belanda, mendengarkan musik Belanda, makan makanan ala Belanda. Sehingga, sedikit banyaknya orang tersebut akan merasa dirinya orang belanda. Makanya, sampai saat ini mungkin kita masih bisa bisa lihat orang-orang tua yang mengalami masa penjajahan belanda yang masih memiliki ‘gaya’ belanda.

Aplikasi: Pada saat kalian masuk ke satu lingkungan atau grup pertemanan, ada kebiasaan-kebiasaan baru yang kalian temui. Misal, ada teman yang merokok, ada teman yang suka kumpulin film porno, ada teman yang suka kabur-kabur dari rumah, ada teman yang sering berbicara kasar. Pada saat, kalian masuk ke lingkungan tersebut, beranikah kalian keluar dari lingkungan tersebut? atau jikalau memang terpaksa harus tetap berada disana, beranikah kalian menolak segala hal buruk yang ditawarkan?

Babel berusaha membuat orang israel ‘melupakan’ bahwa dirinya adalah Israel, melupakan segala janji pemulihan Allah, melupakan Allah. Dan itulah yang dialami Daniel.

Karena hidup Daniel hidup benar, maka segala gaya hidup yang ditemui Daniel di Babel sangatlah mempersulit hidupnya. Ia punya begitu banyak alasan untuk mentolelir dirinya untuk melakukan itu, tapi Daniel sejak kecil diajar mengenai sejarah Israel dan percaya bahwa Allah Israel adalah Allah yang Esa, yang mencipta langit dan bumi. Menyadari bahwa segala yang terjadi pada bangsanya saat ini adalah akibat perbuatan bangsanya sendiri yang sudah berubah setia dari pada Allah Yehova. Daniel percaya akan janji pemulihan Allah bagi bangsanya. Dan Daniel juga percaya bahwa masa penghukuman ini adalah kesempatan untuk bangsa israel bertobat, dan pertobataan itu bukan sesuatu yang diharapkan terjadi pada orang lain dulu, tapi dari mereka sendiri. Oleh sebab itu, Daniel menetapkan diri untuk tidak dipengaruhi oleh gaya hidup Babel. Supaya jangan mereka melupakan janji Allah, jangan mereka melupakan Allah.

Hal ini bukan hal yang mudah, karena gaya hidup babel bukanlah gaya hidup yang ‘sengsara’, tapi gaya hidup yang enak. Misal kalian kelak bersekolah di suatu sekolah yang sangat bergengsi, disediakan asrama, diberikan uang beasiswa. Di asrama kalian bebas, bisa main sampai kapanpun, bisa main apapun. Kalau sampai kalian mengalami hal tersebut, masih maukah kalian mengingat baca alkitab? Berdoa? Menolak yang jahat? Ke gereja? Saya akan berdoa supaya kalian besar nanti, kalian bisa mengingat perkataan hari ini. Ingat, bahwa kalian adalah orang kristen. Tempat disini (dunia) hanyalah sementara, tempat kalian adalah nanti, di sorga. Dan, orang surga (orang kristen) tidak nonton film porno, orang sorga tidak nyontek, orang sorga berkata jujur, orang sorga tidak curang, orang sorga sadar bahwa waktu yang Tuhan berikan adalah sesuatu yang dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan. Dengan demikian, disaat kalian memperoleh kebebasan kalian senantiasa sadar untuk menggunakannya dengan penuh tanggungjawab dihadapan Tuhan.

Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.

1 Kor 6:9-11

Begitu beratnya tantangan yang dihadapi Daniel untuk bisa mempertahankan hidup kudus dihadapan Allah, selain menghadapi tantangan gaya hidup disekitarnya, Ia juga menghadapi orang-orang disekitarnya yang tidak suka dengan kesalehan Daniel, mereka berusaha menjatuhkannya.

Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya. Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan

Dan 6:4-5

Dalam keadaan sulit seperti itu, bagaimanakah Daniel menghadapinya? bagaimanakah ia bisa tetap menjaga kesalehannya? Adakah teman yang membantunya? Saat banyak orang memusuhinya, tidak ada orang yang bisa ia ajak bicara. Ia hanya berbicara kepada Tuhan lewat doa-doanya.

Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.

Dan 6:11

Pernahkan kalian mendapatkan kesulitan yang begitu membuat kita putus asa? Kesulitan yang begitu mengganggu hati pikiranmu tapi tidak ada seorangpun yang bisa diajak bicara? Kalau sampai kalian menemukan hal itu, pastikan kalian ingat apa yang kalian dengar hari ini: berdoalah kepada Tuhan, percaya kepada pimpinan Tuhan.

Pimpinan Tuhan dalam mengeluarkan kita dalam masalah seringkali tidak sesuai dengan yang kita harapkan, tapi satu hal yang harus selalu kita percaya, Tuhan tidak pernah merancangkan segala yang buruk bagi hidup kita. Walaupun pada saat ini tampak buruk, mintalah kekuatan untuk bisa bertahan sampai pada akhirnya, karena disanalah kita bisa melihat bahwa segala rancangan Allah adalah sempurna adanya.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Yer 29:11

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s