Mengalami Kasih Tuhan: Kehidupan Jemaat Mula-mula

Paulus Mengajar -- Jemaat Mula-mula

Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira 3000 jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.

Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Kis 2:42-47

Pada saat kegerakan hujan awal terjadi, Roh Kudus bekerja begitu rupa sehingga banyak orang beroleh anugerah; banyak orang boleh mengalami pertobatan yang sungguh. Kisahnya bisa kita baca di Kis 2:41-47.

42: Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

Apa ciri dari orang yang sungguh2 mengalami pertobatan? dari pembacaan ayat 42 kita melihat bahwa mereka selalu bersekutu (beribadah) dan berdoa, tekun mendengarkan pengajaran Firman Tuhan.

Kata tekun menunjukkan, bahwa jemaat melakukan semuanya itu bukan atas dasar ‘paksaan’, karena tidak mungkin ketekunan bisa dihasilkan dari suatu paksaan. Tapi, tekun itu bisa jika ada hati yang sungguh – rindu akan hadirat Tuhan.

44-45: … segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, da selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.

Peduli dengan sesama seiman, kepeduliannya ditunjukan dengan sikap nyata, yaitu rela korbankan harga milik pribadi untuk bisa menolong sesama.

Bagi kita (Anak Sekolah Minggu), bentuk kepedulian itu bisa dilakukan contohnya dengan meluangkan waktu kita untuk mendoakan orang lain, meluangkan waktu untuk mendengarkan masalah yang dihadapi teman kita, atau mungkin bisa menyisihkan sebagian uang jajan kita untuk bisa membantu teman kita yang mengalami kesulitan.

46: Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,

Sikap saling melayani sesama yang mereka lakukan dilakukan dengan sukacita. Jadi, kalau memang anak-anak mau belajar untuk melayani sesama, pastikan anak-anak bisa melakukan itu dengan sukacita. Kalau tidak, senantiasa berdoa kepada Tuhan, agar Ia memampukan kita untuk bisa belajar mengasihi sesama kita (teman), sehingga kita bisa melakuan semuanya itu dengan terpaksa. Dengan demikian, kalaupun orang yang kita layani (sengaja/tidak sengaja) mengecewakan kita atau menyakiti hati kita, kita tidak menyimpan kebencian kepadanya.

47: sambil memuji Allah.

Apakah yang menjadi dasar pelayanan/ibadah/perbuatan baik kita? Apakah karena berharap teman kita bisa membalas perbuatan baik kita? apakah ada sesuatu yang kamu harapkan bisa terima dari temanmu? Baca 1 Yoh 4:19

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. (1 Yoh 4:19)

Puji-pujian kita kepada Tuhan — yang sejati berasal dari hati yang mengasihi Allah. Anak-anak pikir: “bisakah kita sungguh-sungguh memuji seseorang jika kita membenci atau tidak menyukai atau bahkan tidak mengenal orang itu?” Tentu tidak! Kalaupun bisa, pastilah hanya kepura-puraan. Dengan demikian, jikalau di dalam jemaat awal ada pujian bagi Allah, kita bisa melihat bahwa mereka mengalami (secara pribadi) kasih Tuhan dalam hidup mereka.

48: mereka disukai semua orang

Bagaimanakah mereka bisa disukai semua orang? Baca Mat 22:36-40.

“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Mat 22:36-40 menceritakan jawaban Yesus atas pertanyaan orang Farisi yang bertanya tentang hukum yang terutama. Hukum pertama adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, …”. Sebelum Yesus mengatakan hukum ke-2 (mengasihi manusia), Perhatikan kata yang sama dengan itu. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa melakukan hukum ke-2 sama pentingnya dengan melakukan hukum ke-1. Kita setuju bahwa mengasihi Allah adalah yang terutama, tapi bukan berarti kita boleh mengabaikan kasih kita terhadap sesama. Dengan demikian, orang yang mengasihi Allah, ia juga mengasihi sesama.

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

1 Yoh 3:20-21

Dan, tindakan kasih kita terhadap sesama itulah yang menarik orang untuk bisa suka kepada kita. Tapi ingat, jangan dibalik! Jangan kita melakukan sesuatu agar kita disukai orang lain.

Jika orang bisa menyukai kita, maka terjadilah …

47: …tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Orang boleh datang kepada Tuhan. Namun, perlu juga dipahami, bahwa bukan karena orang suka kepada kita semata maka ia boleh datang kepada Tuhan, tapi itu semua karena anugerah Tuhan buat mereka, dan anugerah buat kita, boleh dipakaiNya untuk kita boleh menjadi alatNya.

Membawa jiwa datang kepada Tuhan, itulah yang menjadi salah satu sukacita kita bagi orang Kristen sekaligus juga salah satu tugas penting yang Tuhan berikan kepada kita.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Mat 28:19-20

Demikian, jikalau kita coba buat suatu rangkaian dari cara hidup jemaat mula-mula untuk kita ambil sebagai pelajaran adalah sebagai berikut:

Tekun dalam ibadah dan ada suatu kesenangan/kerinduan untuk selalu mendengarkan Firman. Ketekunan yang lahir dari suatu hati yang telah mengalami kasih Allah. Sehingga, lewat pengalaman kasih itu, mereka bisa membagikan kasih kepada sesamanya dalam bentuk kepedulian dan saling pertolongan dengan suatu dorongan yang murni. Mereka lakukan itu bukan saja kepada jemaat, tapi juga kepada orang-orang diluar jemaat, bukan saja dalam bentuk kepedulian jasmani, tapi juga secara rohani, sehingga banyak orang boleh mengenal Kristus, dan boleh percaya.

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s