Bagaimana Seharusnya “Valentine”

Asal usul Valentine tidak tahu jelasnya seperti bagaimana. Orang biasa merayakan hari valentine dengan cara melakukan sesuatu yang kiranya bisa menunjukkan rasa sayangnya kepada pasangannya. Apakah memang demikian kita merayakan hari valentine?

14 Februari sendiri awalnya merupakan perayaan Lupercalia, suatu perayaan orang Romawi untuk menghormati dewa Kesuburan Februata Juno. Dalam perayaan itu, biasanya kaum pria mengambil undi untuk memilih wanita yang menjadi pasangannya. Jadi bisa bilang, memang pada masa itu, Februari merupakan bulannya cinta.

Paus merasa kurang setuju dengan perayaan semacam itu. Namun karena begitu kebudayaan itu sudah sangat tertanam dalam budaya masyarakat Roma saat itu, untuk menghapusnya sama sekali dirasa tidak mungkin. Dengan demikian, ia berusaha mengalihkannya kepada hal yang positif. Dicari sesuatu yang kiranya bisa menggantikannya. Dari sana, diambilah nama Santo Valentine. Seorang martir yang meninggal dan dikuburkan pada tanggal yang sama.

Memang, ada apa dengan St. Valentine?

Alkisah, saat itu kejayaan kekaisaran Romawi tengah berada di tengah ancaman keruntuhannya akibat kemerosotan aparatnya dan pemberontakan rakyat sipilnya. Di perbatasan wilayahnya yang masih liar, berbagai ancaman muncul dari bangsa Gaul, Hun, Slavia, Mongolia dan Turki. Mereka mengancam wilayah Eropa Utara dan Asia. Ternyata wilayah kekaisaran yang begitu luas dan meluas lewat penaklukan ini sudah memakan banyak korban, baik dari rakyat negeri jajahan maupun bangsa Romawi sendiri. Belakangan mereka tidak mampu lagi mengontrol dan mengurus wilayah yang luas ini.
Untuk mempertahankan kekaisarannya, Claudius II tak henti merekrut kaum pria Romawi yang diangap masih mampu bertempur, sebagai tentara yang siap diberangkatkan ke medan perang. Sang kaisar melihat tentara yang mempunyai ikatan kasih dan pernikahan bukanlah tentara yang bagus. Ikatan kasih dan batin dengan keluarga dan orang-orang yang dicintai hanya akan melembekkan daya tempur mereka. Oleh karena itu, ia melarang kaum pria Romawi menjalin hubungan cinta, bertunangan atau menikah.
Valentine, sang biarawan muda melihat derita mereka yang dirundung trauma cinta tak sampai ini. Diam-diam mereka berkumpul dan memperoleh siraman rohani dari Valentine. Sang biarawan bahkan memberi mereka sakramen pernikahan. Akhirnya aksi ini tercium oleh Kaisar. Valentine dipenjara. Oleh karena ia menentang aturan kaisar dan menolak mengakui dewa-dewa Romawi, dia dijatuhi hukuman mati.
Di penjara, dia bersahabat dengan seorang petugas penjara bernama Asterius. Petugas penjaga penjara ini memiliki seorang putri yang menderita kebutaan sejak lahir. Namanya Julia. Valentine berusaha mengobati kebutaannya. Sambil mengobati, Valentine mengajari sejarah dan agama. Dia menjelaskan dunia semesta sehingga Julia dapat merasakan makna dan kebijaksanannya lewat pelajaran itu.
Julia bertanya, “Apakah Tuhan sungguh mendengar doa kita?”
“Ya anakku. Dia mendengar setiap doa kita.”
“Apakah kau tahu apa yang aku doakan setiap pagi? Aku berdoa supaya aku dapat melihat. Aku ingin melihat dunia seperti yang sudah kau ajarkan kepadaku.”
“Tuhan melakukan apa yang terbaik untuk kita, jika kita percaya pada-Nya,”sambung Valentine.
“Oh, tentu. Aku sangat mempercayai-Nya,” kata Julia mantap. Lalu, mereka bersama-sama berlutut dan memanjatkan doa.
Beberapa minggu kemudian, Julia masih belum mengalami kesembuhan. Hingga tiba saat hukuman mati untuk Valentine. Valentine tidak sempat mengucapkan perpisahan dengan Julia, namun ia menuliskan ucapan dengan pesan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Tak lupa ditambahi kata-kata,”Dengan cinta dari Valentin-mu” (yang akhirnya menjadi ungkapan yang mendunia). Ia meninggal 14 Februari 269. Valentine dimakamkan di Gereja Praksedes Roma.
Keesokan harinya , Julia menerima surat ini. Saat membuka surat, ia dapat melihat huruf dan warna-warni yang baru pertama kali dilihatnya. Julia sembuh dari kebutaannya.

dikutip dari www.sabdaspace.org.

First Valentine

Pihak gereja memodifikasi kebiasaan perayaan Lupercalia ini. Dari pada mengundi pasangan, mereka mengundi nama-nama santo. Orang yang mengambil undi tersebut harus meneladani santo yang tertulis pada undian yang diambilnya. Mungkin memang demikianlah hari Valentine pertama kali dirayakan.

Tapi tetap bercampur dengan kebudayaan Lupercalia, akhirnya dalam perkembangannya justru unsur cinta kasih (pengaruh dari perayaan Lupercalia) itu lebih mendominasi hari Valentin, sehingga akhirnya orang cenderung menjadikan hari Valentine sebagai hari cinta kasih.

Haruskah Kita Merayakan Valentine?

Menurut saya, itu bukan suatu keharusan. Everyday is valentine. Kenapa harus tunggu Valentine untuk menyatakan cinta? Tapi, rasanya tidak salah kalau kita menggunakan momen yang agak istimewa ini untuk memberikan sesuatu yang istimewa buat orang-orang yang kita kasihi. Why not? tidak ada yang salah dengan itu bukan? (selama semuanya itu disampaikan dalam segala batas kewajaran).

Pesan Valentine

Dari pada memfokuskan diri pada cinta kasih manusia, eros. Cobalah kita mengingat Valentine itu sendiri. Ia bukanlah dewa. Valentine adalah seseorang biasa, tapi karena cintanya kepada Tuhan, hingga pun rela kehilangan nyawanya. Bagaimana dengan kamu? Will you be HIS Valentine? Will you be God’s Valentine?

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s