VMM: Beyond All Limits

VMM, 26 November 2007 dengan pembicara Gilbert Lumoindong, mengangkat tema Beyond All Limits.

Ada banyak hal yang tidak terbatas yang Tuhan bisa lakukan bagi seorang pria. Namun, seringkali justru apa yang kita rasakan adalah hal yang sebaliknya. Kita telah banyak melayani, beribadah, berkorban, bekerja … tapi seolah semuanya tidak sia-sia. Akhirnya, kita bersungut kepada Tuhan, menyalahkan Tuhan atas segala hal yang terjadi.

Tapi, sungguh pun, mujizat Tuhan dimulai pada saat kita bersyukur. Mujizat Tuhan berhenti pada saat kita mulai bersungut kepada Tuhan. Oleh sebab itulah perlunya kita mengucap syukur dalam segala hal. Masalah yang kita hadapi adalah salah satu cara Tuhan membentuk kehidupan kita. Jika kita bisa belajar senantiasa bersyukur untuk segala hal tersebut, maka terus akan mengerjakan perkara yang baik dalam hidup kita. Tapi sebaliknya, jika kita bersungut dan berpaling daripada Tuhan, disanalah mujizat Tuhan berhenti.

Hal serupa dialami oleh bangsa Israel. Sekembalinya bangsa Israel sudah kembali dari pembuangan di Babel, kembali mereka diberi kesempatan untuk membina kehidupan mereka di Israel. Tapi, mereka melupakan Rumah Tuhan masih menjadi puing-puing, menghalangi berkat Tuhan turun atas Israel.

Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta alam. Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri. Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya, dan Aku memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunung-gunung, ke atas gandum, ke atas anggur, ke atas minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah, ke atas manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha.”

Hagai 1:9-11

Ada banyak hal yang menyebabkan seorang pria menjadi begitu terbatas.

Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN! (ayat 2)

Perkataan kita sering kali menjadi pedang bermata dua bagi kita sendiri. Seperti halnya perkataan yang diucapkan oleh bangsa Israel. Setiap perkataan (baik ataupun buruk), bila diucapkan dengan percaya, hal itu bisa menjadi kenyataan dalam hidup kita. Oleh sebab itu, jagalah perkatanmu. Seringkali ada banyak perkataan kita yang sia-sia, makian, kita mengatakan perkara yang buruk, mungkin dengan maksud sekedar iseng atau latah. Tapi, sedikit banyaknya hal itu akan menjadi kenyataan dalam hidup kita.

Mungkin ada banyak hal yang buruk yang kita alami, tapi lihat juga banyak hal baik yang Tuhan telah berikan kepada kita. Dengan demikian, kita bisa belajar bersyukur, jangan egois. Ada berkat yang kita peroleh, belajar juga untuk menyalurkan hal itu untuk orang lain, juga untuk pekerjaan Tuhan. Apa yang kau tabur, itu juga yang kau tuai. Apa yang kau tabur untuk perkara rohani, kau juga akan tuai dalam perkara rohani.

Perhatikan Rumah Tuhan. Sebagai mana dirumah Tuhan, akan ada selalu pujian, dan korban syukur. Demikian juga dalam hidup kita, jika kita mau belajar memperhatikan rumah Tuhan. Akan senantiasa ada pujian dan korban syukur bagi Tuhan.

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s