I hate when I’m wrong…
yah … begitulah. Koreksi itu tidak enak. Hal itu bersifat naluriah, penyangkalan dan pembelaan diri adalah bagian dari insting bertahan hidup manusia. Tapi, sebuah bejana harus senantiasa mau dibentuk. Demikian juga kita olehNya.
National Reformed Evangelical Convention (NREC) 2007, diadakan di Wisma Kinasih, Bogor, 26-29 Desember 2007. Dihadiri oleh lebih dari 1300 orang dari berbagai wilayah di Indonesia. Sekitar 10% adalah peserta yang datang dari luar Indonesia.
What do I think about this?
Ini adalah NREC ke-4, tapi bagi saya sendiri ini adalah NREC pertama. How’s it like? … retreat tapi dalam format yang lebih formal. Full, dari awal sampai akhir semuanya kebaktian. Sama sekali hampir tidak ada waktu acara bebas, tapi mungkin memang demikianlah seharusnya yang disebut acara retreat, jadi bener-bener kerasa retreat.
Ada banyak hal yang saya dapat melalui retreat ini. Kata reform … sampai sekarang masih terngiang-ngiang. But, what do I think about it? … BAGUS!
Mungkin salah satu ciri khas (my definition of) reform adalah rasionalisasi iman. Dalam artian, bahwa iman adalah seharusnya merupakan sesuatu yang dimengerti, supaya percaya bukan sekedar percaya. Dimengerti bukan berarti harus bisa dijelaskan seluruhnya menggunakan ilmu pengetahuan, tapi seluruhnya bisa dijelaskan dan tidak terlepas dari alkitab.
Sketisism
Walau memang ada banyak hal yang saya dapat melalui kegiatan ini, tapi … sedikit skeptisisme muncul. Salah satu yang saya takutkan adalah kultus individu. Stephen Tong memang seorang yang memiliki karakter kuat. Karisma yang kuat, bukan karena kepandaiannya dalam speak, tapi karena ia mau konsekuen dalam melakukan Firman Tuhan. Kagum … saya rasa wajar, tapi kalau sampai hanya sebatas itu, rasanya sangat disayangkan. Jangan sampai selesainya KKR itu cuma inget Stephen Tong-nya, bukan FirmanNya.
Saya senang dengan cara orang-orang reform ini memberitakan Firman Tuhan, tapi saya ragu … jika orang seperti mama saya, seorang lulusan SMA 40 tahun lalu … apa bisa mengerti?!? Saya pun rasanya perlu perhatian penuh mengikuti penjelasan mereka yang sepenuhi berbagai kata-kata asing. Saya rasa, pemberitaan Firman Tuhan seperti ini lebih cocok bagi mereka yang punya tingkat intelegensia menengah keatas. Walau bisa senang pada saat mendengar Firman Tuhan, kalau tidak bisa dimengerti, jangan-jangan cuma sebatas kekaguman. Memang patut diakui, hanya mendengar mereka berbicara pun saya cukup kagum.
Conclusion
Ah, tapi … let just think posifively about this. Sekarang … lagi semangat reform. Setelah KKR ini, membaca dan menyelidiki alkitab menjadi lebih mengasyikan
. But the important thing is keeping this fire on, dan … inget Firman Tuhan, bukan Stephen Tong-nya.


